
Mereka yang saling penasaran memutuskan untuk saling berbicara, namun William masih merahasiakan ke kampus mana dia akan masuk. Cukup lama mereka berbicara satu sama lain tanpa ada yang sadar langit mulai gelap, tiba tiba hujan turun dan mereka berdua langsung berteduh di teras rumah William. Karena melihat temannya yang kedinginan, William mengajak Melody untuk masuk ke dalam rumah. Dia menyarankan untuk masuk ke dalam karena cuaca semakin dingin, dia tidak ingin temannya tersebut jatuh sakit. Melody mengangguk sambil menahan dirinya yang ke dinginan, William membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah disertai Melody berjalan di belakangnya.
“Tunggulah dan duduk saja di sofa, akan aku ambilkan handuk untukmu.” Ucapnya.
“Ah tidak usah.. aku berdiri saja di sini.” Jawabnya.
“Tidak apa apa.. akan aku ambilkan.. tunggu sebentar.” Ucapnya sambil berjalan ke arah kamarnya.
William berjalan menuju kamarnya untuk mengambil pakaian yang bersih dan kering serta handuk untuk Melody, sedangkan temannya menunggu di depan pintu sambil menahan rasa dingin. Sesampainya di kamar, William langsung mengambil semua yang dia butuhkan dan langsung berlari sambil membawa semuanya ke ruangan depan. Dia melihat Melody masih di depan pintu sambil menahan dingin, William langsung memberikannya handuk serta pakaian yang kering kepadanya.
“Ambilah.. dan juga maaf, aku tidak punya pakaian perempuan.. jadi pakai saja punyaku.. di sana kamar mandinya.. akan aku buatkan teh hangat untukmu.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
“Lalu bagaimana denganmu? Kamu juga kehujanan kan? Mending kamu mengganti pakaianmu terlebih dahulu daripada aku..” Ucapnya.
“Tidak apa apa.. aku bisa mengganti di kamarku.. dah ya, aku mau mengganti terlebih dahulu.. jika sudah selesai duduklah akan aku buatkan teh untukmu..” Ucapnya sambil berjalan ke arah kamarnya.
Sehabis mendengar perkataan William, Melody langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah dan sedangkan William mengganti pakaiannya di kamarnya. Sesampainya di kamar, William langsung melepaskan pakaiannya dan mengeringkannya dengan handuk kering. Dia mengambil beberapa pakaian untuknya dan langsung menggantinya, Sesudah mengganti pakaian William keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur. Belum ada Melody di sana, dia sudah bilang kepada temannya bahwa dia ingin membuatkan teh hangat untuknya. William langsung mengambil teh yang berada di lemari dan dua gelas, dia menyiapkan bahan bahan teh ke dalam gelas dan menuangkan air panas ke dalamnya. William membawa dua gelas teh hangat tersebut dan meletakannya di atas meja makan, dia menunggu Melody untuk keluar dari kamar mandinya.
“Ya kurasa hujan akan lama, akan aku kirim pesan kepada ibunya bahwa anaknya ada di sini..”
William beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil ponselnya, setelah mengambil ponsel dia membuka dan mencari kontak ibunya Melody. Setelah ketemu dia langsung mengirimkan pesan kepadanya.
“Maaf tante.. Melody ada di rumahku, karena dia kehujanan jadi aku suruh masuk.. aku tidak akan melakukan apapun.. jika tante ingin menjemput Melody datang saja.” Katanya di dalam pesan untuk ibunya Melody.
Ibunya Melody mendapat pesan tersebut dan langsung membalasnya.
“Ah tidak apa apa nak.. biarkan saja dia di sana.. hujannya cukup deras, jika tante menjemput Melody saat di perjalan juga akan basah lagi.. tante percaya sama kamu..” Balasan untuknya dari ibunya Melody.
“Baik tante.. jika sudah cerah maka akan aku antar kembali ke rumah.” Katanya.
“Terima kasih nak William.” Jawabnya.
William membawa ponselnya ke meja makan untuk berjaga jaga jika ada sesuatu yang tidak di inginkan, sesampainya di sana dia melihat Melody yang sedang duduk di kursi meja makan. Dia bilang kepadanya bahwa ibunya sudah tau tentang keberadaannya, Melody terlihat tenang dan William memandang kepadanya.
“Aaaa.. kurasa bajuku kebesaran ya?” Ucapnya.
“Haha.. iya, ini terlalu besar untuku.. tapi tidak apa apa.. jadi hangat..” Katanya.
“Oh iya, itu diminum teh hangatnya.. aku tau kamu masih ke dinginan, jadi diminum biar tubuhmu hangat.. aku juga mau membuat makan malam untukku, karena kamu ada di sini jadi sekalian saja.” Ucapnya sambil berjalan ke depan lemari pendingin.
“Terima kasih.. tapi tidak apa apa kok, aku bisa makan di rumah nanti.. aku tidak mau merepotkanmu..” Katanya.
“Tidak apa.. kamu dulu pernah membuatkanku sarapan, jadi aku mau membalasnya.. jadi duduk saja.” Ucapnya sambil memilih bahan bahan yang ada di dalam lemari pendingin.
William mengeluarkan beberapa bahan masakan dan menaruhnya di atas meja makan, dia meminta saran kepada temannya tersebut untuk memasak menu apa. Melody hanya bilang jika dia akan makan apapun yang William masak, William yang mendengar perkataan tersebut langsung berpikir untuk memasak makanan yang pernah dia buat bersama kak Lia dulu. Dia langsung memasak makanan tersebut sambil mengobrol bersama Melody.
“Oh iya William.. apakah kamu selalu sendiri di rumah?” Tanyanya.
“Iya.. aku selalu sendirian.. semejak aku ditingal oleh ke dua oran tuaku, aku di asuh oleh paman Willy..” Jawabnya sambil memasak makanan.
“Maaf jika aku menanyakan pertanyaan itu.. aku tidak bermaksud..” Katanya.
“Ah tidak apa.. semua orang yang mengenalku juga sudah tau cerita itu.. oh iya bagaimana dengan keseharianmu?” Tanyanya.
“Aku masih membantu ibu.. ibu masih berjualan dan setiap hari aku selalu membeli kebutuhan ibu dan membantunya berjualan..” Jawabnya.
“Iya? Emang kenapa kamu tanya?” Tanya Melody balik.
“Tidak ada.. mungkin saja besok aku akan membeli sarapan yang dibuat ibumu..” Jawabnya.
Mereka saling membahas kehidupan sehari hari, sambil mengobrol William selesai juga dengan masakannya. Dia mengambil piring bersih yang ada di lemari dan menaruh masakannya di atasnya, lalu dia membawa dan menaruhnya di meja. Melody terkeju karena masakan William baunya enak, William hanya bisa tersenyum dan menyuruh Melody untuk memakannya.
“Wah.. enak sekali.. kamu pintar semua hal ya..” Katanya setelah memakan satu suap.
“Ya begitulah.. walaupun begitu aku masih harus belajar banyak.. apalagi jika tidak naik tingkat maka aku akan dimarahi oleh kak Lia..” Ucapnya sambil memakan masakannya.
“Oh iya dulu kak Lia pernah memberi tahuku bahwa pekerjaanmu di sana tidak tetap dan kamu bisa semuanya.. lalu bagaimana kak Lia? Aku hanya pernah melihat dia mengajariku membuat kue saja..” Tanyanya.
“Kak Lia sangat pemilih, tidak ada yang boleh mengganggunya jika dia sedang memasak kecuali ada keadaan yang genting.. apalagi waktu kamu dan ibumu datang ke restoran, kak Lia sedang marah karena ada yang membuat masalah.” Jawabnya.
“Begitu yaa.. tapi kak Lia hebat ya.. masih muda sudah bisa bertanggung jawab satu dapur penuh.. apalagi dia cantik dan elegan.” Katanya.
“Muda? Cantik? Elegan? Yaa kamu saja belum pernah melihat dia marah.. oh iya, pas kamu datang bersama ibumu waktu itu ada Candy dan orang tuanya datang ke sana..” Katanya.
“Eh.. kurasa aku tidak mau membuat kak Lia marah.. oh iya? Wah aku tidak tau kalau Candy ada di sana.. tapi kenapa dia ada di sana?” Tanyanya.
“Lantai ke dua sudah dipesan oleh orang tuanya, mereka mengundang para klienya ke sana untuk makan siang.. Candy di ajak orang tuanya.. aku tidak ingin orang tau kalau aku bekerja di sana, tapi apa boleh buat.. aku dipanggil untuk datang ke sana..” Jawabnya.
“Hm.. Oh iya William, memang harga memesan tempat di restoran berapa?” Tanyanya.
“Kamu ingin tau? Mungkin kamu tidak percaya dan pingsan..” Jawabnya.
“Hehhhh.. aku ingin tau..” Katanya.
“Sama seperti membayar uang bulanan waktu sekolah.. segitulah..” Jawabnya.
“…. Kamu bercanda ya? Masa segitu…” Katanya sambil terkejut.
“Kan sudah kubilang kamu tidak akan percaya.. harga segitu normal kok untuk Restoran.. apalagi paman Willy itu mantan kepala koki di Restoran BBB yang terkenal itu, dan juga lantai dua sangat mewah.. jika kamu naik ke lantai dua juga kamu akan percaya harganya segitu.. makanannya pun berbeda, hanya kak Lia dan paman Willy lah yang memasak untuk orang orang yang memesan tempat.. dan aku kemarin di suruh membuat juga jadi nilai tambah untuk bulananku..” Ucapnya.
Melody terheran dengan tempat kerjanya William, karena menurutnya harga yang ada di sana sangat tinggi untuknya. Lalu dia menanyakan beberapa pertanyaan mengenai restoran termasuk harga dari makanan yang ada di sana, William menjawab semua pertanyaan Melody dan membuat Melody semakin terkejut.
“… Waktu itu kamu bilang mau mentraktir aku dan ibuku kan.. apa tidak apa apa jika kamu mengeluarkan uang sebesar itu..” Tanyanya.
“Oh waktu itu… tidak apa apa.. lagian juga itu nilai tambahku, aku gunakan untuk mentraktirmu dan ibumu.. aku juga sudah biasa kok mengguanakan nilai tambah untuk mentraktir para pekerja lain.. jadi kami saling bertukar nilai tambah jika ada yang mendapatkannya.” Jawabnya.
Mereka berdua melanjutkan memakan masakannya William sampai habis sambil berbicara satu sama lain, setelah selesai William mengambil piring kotornya Melody dan membawanya untuk di cuci. Melody bangun dari tempat duduknya dan bilang kepadanya bahwa dia juga ingin membantunya, William mencuci piring kotor dan peralatan yang kotor sedangkan Melody mengelapnya.
Tidak terasa sudah jam delapan malan dan hujan masih turun, mereka selesai dengan pekerjaan mereka. William menaruh peralatannya kembali ke tempatnya, setelah itu mereka duduk kembali ke kursi masing masing sambil meminum teh hangat tadi.
“Sepertinya hujan masih turun.. apakah kamu tidak apa apa? Aku punya jas hujan jika kamu mau pakai untuk kembali ke rumah..” Ucapnya.
“Aku akan menunggu hujannya reda saja..” Katanya.
“Kalau begitu kamu hubungi ibumu terlebih dahulu.. aku tadi sudah menghubungi ibumu jadi kurasa kamu perlu juga..” Katanya.
“Oh iya aku lupa.. baiklah akan kuhubungi ibuku sebentar.” Katanya sambil mengambil ponselnya.