The Noble

The Noble
Episode 17



William memutar badannya dan nampak seseorang yaitu kak Lia yang dari tadi mendengar perkataannya, karena dia tidak berbuat apa apa dia akhirnya lari ke meja bekas memasak kuenya tadi untuk bersih bersih. Dia hanya bisa fokus untuk membersihkan kotoran maupun sisa bahan yang ada di atas meja tanpa melihat kebelakang. Perasaan yang mencekam yang dia rasakan saat sedang membersihkan tempatnya. William memilih beberapa bahan yang masih bisa dipakai dan cukup untuk dibawa pulang atau diberikan kepada Melody. Karena dia sedang terburu buru memindahkan alat alatnya ada beberapa bahan yang tertinggal dan membuatnya kembali ke mejanya, saat dia berbalik dan mau kembali ke mejanya terlihat kak Lia yang sedang duduk di kursinya. Dia berhenti sebentar sambil mengumpulkan tekadnya dan memalingkan wajahnya, ketika tekadnya sudah cukup dia berjalan kembali mendekat ke arah kak Lia.


“Maaf kak… aku mau ambil alat itu.. tolong geser sedikit..” katanya.


“Hmm benarkah.. mungkin aku emang lahir di jaman yang salah...” jawabnya.


“Maaf perkataanku yang tadi kak.. aku hanya bercanda..” kata William sambil menundukan kepalanya.


“Pulang nanti kamu tunggu di sini.. biarkan Melody pulang duluan.. dengarkan..” kata kak Lia sambil memberikan alat yang tertinggal kepada William.


“Iyaa kak.. aku dengar..” katanya sambil mengambil alat tersebut.


William langsung berbalik dan berjalan menuju ke tempat cuci dan mencuci semua alatnya, dia membersihkan alat alat tersebut dengan cepat karena sebagian alat yang digunakannya tidak menggunakan listrik. Semua dia cuci bersih lalu dibersihkan dan ditaruh di lemari semula untuk besok jika digunakan kembali. Setelah menaruh semua peralatannya dia menemui Melody kembali sambil menemaninya menunggu kuenya selesai. Dia duduk di samping Melody dan berbicara lagi kepadanya.


“Melody.. dulu kamu pernah berkata jika sudah bisa membuat kue dan ingin menjual kue tersebut bukan? Lantas di mana kamu ingin menjualnya..” tanyanya.


“Oh iya dulu aku pernah berkata begitu.. mungkin akan kujual di warung ataupun akan kujual keliling dan bisa saja aku jual juga saat masuk kuliah nanti..” jawabnya.


“Begitu yaa.. tapi kenapa kamu tidak menaruh kuenya di restoran ini saja.. siapa tau ada yang ingin membelinya nanti..” kata William.


“Ah kurasa tidak akan laku di sini.. kurasa yang datang makan di sini semuanya orang orang kaya yang seleranya lebih tinggi..” jawabnya sambil melihat ke sekeliling dapur.


“Sepertinya kamu salah sangka karena restorannya terlihat bagus.. emang ada beberapa orang kelas atas yang makan kesini namun itu hanya beraku di hari sabtu dan minggu saja.. orang kelas atas hanya bisa memesan pada hari tersebut dan orang biasa bisa datang kapan saja.. Paman Willy mengatur peraturan seperti itu supaya semua kalangan bisa makan di sini..” kata William sambil menjelaskan banyak hal.


William menjelaskan beberapa hal tentang restoran tersebut kepada Melody yang masih awam dengan restoran tersebut, karena dirinya tidak pernah datang ke restoran manapun seumur hidupnya. Banyak hal yang mereka bicarakan membuat Melody lupa kalau kuenya sudah selesai dan berbunyi dari tadi, William yang sadar dengan suara oven menghiraukan suara tersebut dan melanjutkan cerita karena dia ingin Melody tau banyak hal tentang dunia apalagi temannya tersebut terlihat sangan penasaran dengan restoran ini. Karena sudah lama mereka berbicara dan William tidak mau kuenya terlalu dingin, dia memberi tau Melody kalau kuenya sudah selesai. Melody langsung mengambil sarung tangan dan membuka oven tersebut, dia mengeluarkan kuenya dan menaruhnya di atas meja. Dia sangat senang melihat kuenya yang terpanggang dengan bagus dan sempurna, William sadar akan potensi dari Melody dan membujuknya lagi untuk menjual kuenya di restoran tersebut.


“Tidak diragukan lagi dari Melody.. memang kamu cepat belajar ya.. jika kamu ingin menjualnya di tempat ini akan aku laporkan kepada paman Willy nanti supaya bisa mengaturnya.” Katanya.


“Hehe.. ini berkat kamu dan kak Lia.. iya kan kak Lia..” jawabnya sambil melihat ke arah belakang William.


William berbalik dan melihat ke belakang dan nampak kak Lia sudah ada dibelakangnya, dia tidak terkejut lagi karena sudah biasa melihat kak Lia yang bisa hilang dan datang tanpa ada orang yang sadar.


“Oh iyaa jelas.. tapi kalian tadi bilang ingin menjual kuenya Melody di restoran ini ya.. hmm.. bagaimana dengan kuenya Melody apakah sudah selesai..” tanyanya.


“Sudah kak.. tolong dinilai..” jawabnya sambil memberikan kuenya.


Kak Lia mencicipi kue tersebut dan menilai semua yang bisa dia nilai, selesai mengunyah satu dia mengambil satu lagi dan memakan kue tersebut. Karena kak Lia mengambil terus menerus William pun ikut mengambil kue tersebut dan memulai memakannya, tiba tiba pikirannya kosong dan seketika kembali kesemula. Rasa enak dari kue tersebut membuat orang yang memakannya menjadi beripikir jernih, dia kaget karena sedetik yang lalu di hamparan ruang kosong dan sedetik kemudia kembali seperti semula. William tau kenapa kak Lia memakan kue tersebut terus menerus, melihat Melody yang kebingungan William menjelaskan apa yang terjadi.


“Melody.. apakah kamu sudah mencicipi kue ini?” tanyanya.


“Coba saja.. kamu akan tau kenapa kak Lia memakan kuemu terus menerus..” kata William.


Melody pun memakan kuenya sendiri dan dia sadar kenapa kuenya terus menerus di makan, karena harus ada yang perlu dibuktikan dia memakan kuenya lagi. Melody tiba tiba terdiam dan tidak mengucapkan sepatah kata.


“Yaa kurasa paman Willy akan suka jika kita menaruh kuenya Melody disetiap meja..” kata William.


“Kuemu juga William.. paman juga akan setuju.. kue kalian berdua enak kok..” kata kak Lia.


“Ah kurasa kueku tidak seenak punyanya Melody.. kenapa kueku juga ikut..” tanyanya.


“Enak tidak selamanya akan di cari orang orang.. kuemu rasanya emang tidak seenak punyanya Melody.. namun rasa unik di kuemu lebih dari kuenya Melody..” kata kak Lia sambil memakan kuenya William.


William hanya bisa menyetujui saran dari kak Lia dan seketika dia mengambil beberapa kuenya Melody dan membawanya keluar dari dapur. Di sana hanya ada mereka berdua saja yang di mana Melody masih di keadaan diam, William tidak enak ingin menanyakan kepada Melody kenapa dia diam saja setelah memakan kuenya sendiri. Dia menunggu Melody bangun dari diamnya, karena hari mulai sore mau tidak mau dia membangunkan Melody dan akhirnya dirinya sadar.


“Melody.. kamu kenapa? Kok dari tadi diam?” tanyanya.


“D…iamm..? aku dari tadi diam?.. lalu di mana kak Lia?” tanyanya balik.


“Iya dari tadi kamu terdiam.. aku tidak tega membangunkanmu.. jadi aku menunggumu.. karena sudah sore mari kita pulang.. kak Lia sudah dari tadi pergi entah kemana..” jawabnya.


“Eh.. sudah sore? Emang berapa lama aku terdiam?” tanyanya.


“Entahlah.. aku tidak menghitung.. tapi sebenarnya kamu kenapa..” tanya William.


“Ahh.. kurasa karena kuenya mirip dengan kue ibuku dulu.. mungkin karena rasanya sama aku terbawa dengan masa laluku..” katanya sambil melihat kuenya.


Karena hari sudah mulai sore akhirnya mereka menyudahi pembelajaran mereka dan mulai membersihkan sisa sisa maupun alat alat yang mereka gunakan. Setelah membersihkannya, mereka menata alat yang mereka sudah cuci dan keringkan ke tempat mereka berasal. Mereka berdua keluar dari dapur melalui pintu belakang dan William mengunci dapur tersebut. Mereka berpamitan dengan nenek Widia dan langsung pulang kerumah, waktu di perjalan pulang mereka saling bercerita tentang masalah masing masing.


“Terima kasih William karena sudah mau membantuku.. walaupun singkat aku bisa belajar membuat kue.. sekarang aku bisa menabung untuk membeli alat alatnya dan bahan bahannya..” kata Melody.


“Hmm.. apakah kamu lupa.. kalau paman Willy memberikan alat alat yang sudah tidak terpakai untukmu.. walaupun alat alatnya sudah lama namun masih bisa digunakan.. jadi kamu hanya perlu membeli bahan bahannya saja..” Kata William.


“Eh.. benarkah… mungkin aku lupa.. aku juga ingin berterima kasih kepada paman Willy.” katanya.


“Aku pulang duluan ya.. rumahmu sudah kelihatan.. sampai jumpa lagi…” kata William sambil berjalan duluan.


Melody sampai di depan rumahnya dan langsung masuk kedalam, sedangkan William masih berjalan beberapa meter lagi untuk sampai di rumahnya. Sesampainya dia di depan rumahnya, dia mengecek sekelilingnya apakah ada sampah yang berserakan. Karena tidak ada apapun di depan rumahnya dia langsung membuka pintunya, dia masuk menyalakan beberapa lampu ruangan dan duduk di sofanya. Dia mencoba untuk tidur namun sebelum itu dia mengatur alarm untuk bangun nanti malam, William akhirnya tidur di sofa yang sering dia gunakan tidur.