
Mereka melanjutkan obrolan mereka sembari menunggu para pelayan datang membawa hidangan yang mereka pesan, salah satu senior mendatangi mereka. Dia mengajak kak Dea untuk berbicara sebentar, mereka berdua pergi menjauh dari tempat William dan berbicara di sudut ruangan. Mereka berbicara seolah ada yang harus mereka selesaikan, setelah beberapa menit kak Dea kembali ke tempatnya William.
“Sudah kak?”
“.. Iya sudah..”
“Kenapa kak Dea?”
“Kamu mau tahu?.. Kurasa tidak perlu..”
“Pasti dia punya perasaan dengan kak Dea kan?”
“.. Oh iya Melody.. Kamu melakukan apa setiap hari?”
“…. Tidak dijawab nih?”
Kak Dea tidak menjawab pertanyaannya William, dia hanya berbicara kepada Melody. Melody hanya menjawab semua pertanyaannya dengan keadaan tidak tahu ingin berbuat apa dan hanya melihat ke arah kak Dea, sementara itu William hanya duduk diam dan karena tidak tahu berbuat apa dirinya membuka ponselnya.
Dia mengambil gambar tempat tersebut dan mengirimkannya kepada Candy, dia juga bertanya di mana temannya tersebut berada. Namun Candy tidak membalas pesannya, William berpikir kalau Candy sedang sibuk dan setelah itu pesannya dibaca. Dia menunggu pesannya di balas namun tidak dibalas balas juga, dia menunggu lagi sambil membuka ramalan cuaca.
“Mendung.. Hujan.. Kuharap cuacanya berubah dan tidak turun hujan…”
William menunggu dengan bermain ponselnya, tidak berselang lama para pelayan datang membawa hidangan yang orang orang pesan. Semua orang langsung duduk di tempatnya dan menunggu semua makanan ditaruh di atas meja, kak Dea pergi meninggalkan mereka berdua menuju ke tempatnya kembali.
“Kalian berbicara apa?”
“Itu.. Kak Dea hanya bertanya dengan kehidupanku.”
“Benarkah?”
“Iya.. Kurasa?”
Mereka menunggu dan akhirnya semua makanan sudah berada di meja, para senior berdiri dan bilang kepada para mahasiswa baru untuk menikmati makanannya. Para mahasiswa baru mulai memakan hidangan yang mereka pesan dan William juga ingin memakan makanannya, saat ingin mengambil sendok dia melihat ada makanan lebih di samping makanannya.
Dia memang memesan makanan lebih namun untuk dibawa pulang dan yang ada di sampingnya bukan makanan yang dia pesan, William heran dan karena tidak mau ambil pusing dirinya memakan makanan yang dia pesan. Saat sedang menikmati makanan, ada seseorang yang berjalan mendekatinya.
“Enak bukan?”
“Candy? Kenapa kamu di sini? Pesanku juga tidak kamu jawab..”
“Oh hay Candy..”
“Hay Melody.. Silahkan dilanjutkan.. Hehe.. Aku sibuk tadi.. Untung saja kamu mengirim foto, kalau tidak aku harus mencarimu dan juga kamu pesan atas namaku..”
“Kamu sudah berjanji bukan.. Lalu makanan lebih ini punya siapa? Tidak ada orang di sampingku juga.. Dari tadi hanya ada aku dan Melody di sini..”
“Oh itu.. Itu pesananku.. Aku mau makan juga..”
“….”
Candy duduk di kursi yang ada di sampingnya William, dia dihimpit oleh dua wanita di samping kiri dan kanannya. Dia melanjutkan memakan hidangannya sambil melihat ke arah Candy, dia heran juga siapa yang memesan banyak makanan yang terlihat mahal dari pada orang orang pesan. Lalu dia menanyakannya kepada Candy.
“Memang makanan paling mahal di sini apa?”
“Hm.. Ada sih.. Cuman harganya naik turun, ada tapi aku lupa apa.. Bagiku tidak terlalu enak untuk lidahku, jadi aku lupa.”
“Lidahmu hanya untuk makanan manis.. Pantas kalau kamu lupa..”
“Itu kamu tahu..”
Mereka melanjutkan memakan hidangan mereka, sedikit demi sedikit mulai menghilang masuk ke dalam perut mereka. Setelah hidangan mulai habis, para mahasiswa mulai berbincang bincang dengan teman yang mereka kenal. Sedangkan para senior menunggu para mahasiswa baru yang belum selesai makan, Melody masih memakan hidangannya termasuk William yang tinggal sedikit. Namun hidangan Candy masih banyak dan dia berpikir kalau para senior akan menganggap Candy termasuk mahasiswa baru dan menunggunya, Willia ingin memanggil kak Dea namun kak Dea sudah berjalan ke arahnya.
“.. Nama kamu siapa?”
“Aku?”
“Iya.. Kamu datang terlambat dan memesan banyak makanan?”
“Itu.. Kak Dea..”
“Iya?”
“Ah, maaf.. Aku kira mahasiswa baru.. Karena kamu duduk di samping William.”
“Aku seharusnya meminta maaf karena ikut acara ini.. Seharusnya aku makan di bawah saja.”
“Tidak apa apa.. Aku akan pergi kalau begitu..”
“Kamu beneran Candy bukan? Melody.. Kamu melihatnya bukan?”
“Iya?”
“Aku memang Candy.. Memang mengapa?”
“Kamu bisa sopan juga ya?”
“Ihhh.. Kamu pikir aku siapa..”
William dan Melody tertawa, sementara itu kak Dea memberitahu kepada ketua pelaksana untuk memulai acara selanjutnya. Acara lalu di lanjutkan dan acara setelah itu adalah pesan pesan kepada para senior untuk mahasiswa baru agar tertib saat berkuliah di kampus dan menjaga daerah kampus, setelah itu motivasi dari senior kepada mahasiswa yang mengambil jurusan yang sama.
Mereka mengadakan acara tersebut dengan matang matang dan tidak ingin kacau, setelah semuanya selesai para senior berpidato untuk terakhir di malam tersebut.
“Itu saja untuk acara kali ini.. Kalian bebeas untuk berbuat apa namun tempat ini hanya kami pesan sampai jam sepuluh, sekarang masih jam sembilan jadi masih ada satu jam lagi.. Terima kasih untuk semuanya.. Silahkan nikmati waktu kalian..”
Para senior pergi bersama ke sudut ruangan dan entah apa yang mereka lakukan, sementara itu William bersama Melody menemani Candy yang sedang memakan makanannya.
“Bagaimana dengan urusanmu di sini?”
“Hm.. Kurasa baik baik saja? Kenapa?”
“Urusan apa ya kalau boleh aku tahu?”
“E.. Melody.. Apakah kamu tahu kalau café ini punya ibunya Candy?”
Melody terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“Melody?”
“Eh iya?”
“…”
“Benarkah? Jadi yang memiliki café ini ibumu?”
“Iya.. Aku ke sini karena juga ingin melihat laporan.. Dan William aku juga yang membawanya ke sini.. Kalau kamu lapar pesan saja.. Aku yang bayar, untuk ibumu.. Bawa pulang.. William juga dapat kok..”
“Telan dulu makananmu..”
“Ah aku tidak apa apa..”
Melihat Melody merasa ragu dan tidak enak, William berbisik kepada Candy. Dia ingin memesankaan ibunya Melody makanan secara rahasia, Candy mengangguk dan setelah itu dia berhenti memakan makanannya.
Candy membuka ponselnya dan mengetik sesuatu, setelah itu dia menaruh ponselnya dan melanjutkan mennyantap makanannya. William menikmati minumannya sambil menghabiskan waktunya di sana sembari berbicara kepada temannya, dia juga melihat lihat café tersebut dan tidak lupa juga mengambil gambar tempat tersebut.
“Candy.. Apa lantai paling atas di gunakan juga?”
“Hm.. Iya.. Tapi kurasa saat ini penuh dengan orang orang.. Karena pemandangannya bagus..”
“Apa boleh aku nanti naik dan melihat sebentar..”
“Naik saja.. Duduk pun boleh..”
“Terima kasih.. Aku ingin melihat apa saja yang bisa dilihat dari atas dan sebagus apa.. Aku butuh sesuatu.”
“Aku sampai bosan di atas..”
“… Kamu sering ke sini.. Kurasa kamu bisa bosan juga..”