The Noble

The Noble
Episode 46



William terbangun dari tidurnya, dia merasa tidak bisa tidur sama sekali.


“Apa aku tidak bisa tidur karena mendapat tugas untuk mengawasi Nia seharian?.. Jika terjadi kesalahan, aku merasakan akan dimarahi seminggu.. Huh.. Jam berapa sekarang.. Masih jam tujuh.. Lebih baik aku bangun saja.. Supaya nanti tidak mengantuk, aku akan memanaskan badanku di bawah sinar matahari.”


William bangund dari sofanya menuju pintu keluar, dia berjalan keluar dari rumahnya dan langsung duduk di samping bunga yang dia tanam sambil menikmati sinar matahari pagi merasuki badannya. Dirinya yang sedang menikmati sinar matahari di pagi hari tersebut, tiba tiba ada seseorang yang memanggilnya. Suara tersebut berasal dari Melody yang mendatanginya, dia terus memanggil William.


“William..”


“..Eh.. Iya Melody? Ada apa pagi pagi ke rumahku?”


“Ah maaf kalau mengganggu pagimu.. Aku mau membicarakan sesuatu kepadamu, lebih tepatnya aku ingin meminta saran kepadamu..”


“Kalau begitu masuklah.. Kita bicarakan di luar saja sambil menikmati sinar matahari di pagi hari..”


“..Eee.. Baiklah.. Aku masuk.”


Melody masuk ke dalam pekarangannya William, dia berjalan dengan perlahan mendekatinya. Dirinya langsung duduk di samping William.


“Begini.. Itu.. Aku mau minta saran..”


“…..”


“Ini.. Besok ibuku berulang tahun.. Jadi aku ke sini ingin meminta saran darimu, aku bingung ingin memberikan sesuatu kepada ibuku.. Apa kamu punya ide atau apapun itu?”


“..Besok ulang tahun tante!!!”


“Sttts.. Iya.. Apa kamu punya saran?”


“Eeee.. Kurasa apapun yang kamu berikan, ibumu akan menyukainya..”


“Tapi aku masih merasa itu bukan jawaban yang bisa aku pikirkan..”


“Hm.. Itu kita pikir nanti saja.. Kamu hari ini sedang beruntung.. Restoran sedang tutup, maka kamu bisa ke sana dan membuat kue untuk ibumu.. Hadiahnya terserah dirimu.. Hanya sebatas kue atau ingin kamu tambahkan.. Kita pikirkan nanti di sana, bagaimana?”


“Eh.. Restoran tutup ya? Terima kasih.. Aku juga ingin membuatkan ibuku kue ulang tahun, tapi aku tidak bisa membuatnya di rumah karena ibu nanti tahu..”


Mereka saling berbicara dengan ide kue ulang tahun mereka, satu persatu mereka lontarkan namun selalu di tolak oleh mereka berdua. Mereka berpikir untuk membuat kue ulang tahun seperti apa dengan di bawah sinar matahari yang semakin memanas, badan William sekarang mulai memanas. Dia mengajak Melody untuk meneduh di terasnya dan melanjutkan pembicaraan mereka, Melody mengikuti William ke teras rumahnya.


“Kalau begitu kita ke sana jam sembilan saja.. Aku juga nanti akan menjemput Nia pulang sekolah jam satu.. Lebih dekat kalau dari restoran..”


“Nia? Kamu menjaga Nia lagi..”


“Iya.. Ada alasannya kenapa restoran tutup, termasuk kak Lia yang menitipkan Nia kepadaku.. Lalu bagaimana denganmu? Apa ide kue ulang tahunmu tadi mau kamu buat?”


“Kurasa.. Baiklah yang tadi saja.. Nanti jam sembilan ya? Masih ada satu setengah jam.. Kalau begitu aku akan pulang membantu ibuku dan menyiapkan bahan bahannya secara rahasia.. Aku pulang duluan, terima kasih William..”


“Tidak masalah..”


Melody pergi meninggalkan William yang masih berdiri di terasnya, dia menunggu Melody menjauh dari rumahnya. Setelah Melody menghilang dari pandangannya, dirinya masuk ke dalam rumah. William langsung mengambil pakaiannya dan mandi, setelah itu dirinya sarapan. Sesudah sarapan dia langsung bersiap siap, dia duduk di sofa yang berada di depan televisi dan menonton suatu acara untuk menunggu jam sambil sambil meminum coffe panas yang dibuatnya. Waktu berlalu dan jam sembilan kurang William mematikan televisinya, dirinya langsung keluar dari rumahnya dan mengunci pintu rumahnya.


“Kurasa Melody akan menunggu di depan rumahnya.. Oh ini pesannya.. Aku akan ke sana..”


William mendapat pesan dari Melody untuk menjemputnya di depan rumah, dia tidak mau ibunya tahu kalau dirinya pergi sendirian dan ketahuan. William langsung berjalan menuju ke rumahnya Melody, sesampainya di sana dirinya melihat Melody sedang menunggunya di depan rumahnya sambil membawa tas. William juga melihat ibunya Melody di sampingnya.


“Pagi tante.. Pagi Melody..”


“Pagi nak William.. Katanya kamu mau pergi bersama Melody ya?”


“Iya tante..”


“Hati hati ya..”


Melody meminta ijin kepada ibunya dan setelah itu dia pergi mendekati William, dia berbisik kepadanya karena sudah mau merahasiakan rencana mereka. Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkan rumahnya Melody menuju ke arah restoran, saat perjalanan mereka saling membicarakan ide ide yang tadi mereka pikirkan. Sekaligus William menanyakan persiapan Melody untuk masuk kuliah.


“Bagaimana dengan persiapan kuliahmu?”


“Kurasa baik baik saja.. Bagaimana denganmu William? Kamu belum masuk sudah dekat dengan perempuan di sana.. Apalagi senior.. Hehehe”


“Kamu ini tidak bisa diajak bercanda ya..”


Mereka berdua sampai di depan restoran, restoran tersebut masih tertutup rapi dari depan. Karena William tidak ingin kalau harus menutupnya lagi nanti, dia memilih untuk lewat belakang. Dia mengajak Melody lewat jalur belakang, rumah nenek Widia pun tertutup rapat.


‘Apa nenek Widia ikut juga dengan urusannya paman Willy? Kenapa kosong..'


“Ada apa denganmu William?.. Kenapa kamu berhenti?”


“Ah.. Bukan apa apa.. Ayo kita masuk.”


William menghiraukan rumah kosong tersebut dan masuk ke dalam restoran, dia langsung menyalakan lampunya. Masih tertata rapi dan bersih, dia berpikir kalau tadi pagi nenek Widia membersihkannya terlebih dahulu. Mereka langsung bersiap siap membuat kue ulang tahun untuk ibunya Melody, William mengambil alatnya dan Melody


mengeluarkan bahan bahannya dari tasnya. Sesudah semua selesai mereka langsung membuatnya, percobaan pertama menurut Melody itu gagal. Dia ingin membuat lagi seperti yang Melody inginkan.


“Fokus dan berusahalah.. Bayangkan.. Membuat kue termasuk sebuha seni, jadi bayangkan bagaimana itu terbentuk dan rasanya terjadi..”


“Baik.”


Melody menutup matanya dan fokus dengan pikirannya kali ini, dia menghirup nafas penuh. Setelah semua bayangannya tercapai, dirinya langsung membuat kue kembali. William diberitahu untuk tidak membantunya namun dirinya juga ingin membantu Melody, dia langsung mencari ide lagi. Karena merasa hanya melihat saja, William ingin membuat kue juga untuk ibunya Melody.


‘Hm.. Apa ya.. Kurasa itu saja..’


William langsung pergi ke ruangan bahan bahan tersedia dan mengambil beberapa, sebelum membawanya dia menulis apa saja yang diambil ke kertas yang ada di belakang pintu ruangan tersebut jadi orang lain tahu apa saja bahan yang menghilang dari tempat tersebut. Setelah itu dia langsung membuat kue, dia melakukannya jauh dari tempatnya Melody agar dia tidak terganggu. William membuat kuenya dan sekali coba berhasil dan tanpa Melody ketahui, dia langsung mendinginkan kue tersebut secara rahasia dan setelah itu memasukannya ke wadah yang sudah dia sediakan. Setelah itu dia menyembunyikan kue tersebut dan mendekati Melody kembali.


“Apa sudah berhasil?”


“..Hm.. Sedikit lagi..”


“Baiklah.. Hm kurasa sudah jam dua belas lewat.. Aku tinggal sebentar ya.. Aku mau menjemput Nia terlebih dahulu..”


Tidak ada respon sama sekali dari Melody, William rasa dia sedang fokus sekali membuat kuenya. Willam langsung keluar dari tempat itu secara perlahan lahan, dia meninggalkan Melody di sana dan menuju ke sekolahnya Nia untuk menjempunya. Karena jaraknya dekat dia tidak memakan taksi kali ini, sesampainya di sana Nia sudah ada di depan sekolah menunggu dirinya datang dan lantas William berlari mendekatinya.


“Apa aku terlambat?”


“Kak William.. Tidak kok.. Aku baru saja keluar dari sekolah..”


“Huh.. Untung saja.. Ayo kita pergi ke restoran..”


“Kenapa ke sana kak? Bukannya hari ini libur ya?”


“Ada Melody di sana sedang membuat kue.. Aku tinggal untuk menjemputmu..”


“Wahh kue.. Aku mau..”


“Baiklah kalau begitu kita ke sana..”


Mereka berdua berjalan ke restoran sambil bergandengan tangan, tidak lama akhirnya mereka sampai di restoran. William mengajak Nia masuk dari belakang dan saat masuk mereka melihat Melody masih menhias kue buatannya, William menyuruh Nia untuk berjalan secara hati hati supaya tidak mengganggu Melody. Mereka berjalan secara berhati hati mendekati Melody, lalu William menanyakan kepada Melody.


“Bagaimana..”


“Baik baik saja.. Hampir selesai.. Dan selesai.. Huft..”


“Wah kuenya terlihat enak..”


“Ehh.. Ada Nia.. Kamu baru sampai?”


“Iya kak Melody.. Hehe.. Kuenya enak ya?”


“Hehe.. Tapi maaf, ini untuk ibuku.. Tapi ada kok kue tadi.. Itu.. Untukmu..”


“Beneran kak?”


“Iya makanlah bersama William.. Aku akan membungkusnya terlebih dahulu..”


Nia langsung mendekati kue tersebut, William mengambil pisau dan membagi kue tersebut. Nia mengambil satu dan memakannya, dia sangat senang saat memakan kue tersebut dan William juga ikut memakannya. Mereka berdua sangat senang saat memakan kue tersebut karena rasanya enak.