
Sebuah lagu terputar, William langsung bangun dari tidurnya dan membuatnya kaget. Dirinya langsung mencari sumber suara tersebut, suara tersebut berasal dari ponselnya. Dia melihat ada sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya, William langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
“…Iyaa...”
“Bisakah kamu ke sini nanti..”
“…Siapa ya…”
“Kubunuh nanti…”
“…Oh kak Lia.. Maaf, aku baru bangun tidur.. Ada apa ka Lia?”
“Jaga Nia hari ini, aku ada urusan dengan paman Willy untuk keluar kota nanti.. Restoran juga akan libur sehari.. Aku minta tolong jaga Nia.”
“…Eh… Aku kok baru dikasih tahu!!”
“Memangnya kamu siapa? Tidak diajak juga.. Bukan urusanmu juga.. Pokoknya nanti kamu ke sini.. Kalau bisa antarkan Nia sekalian..”
“Hhh.. Baik kak.. Aku akan berangkat ke sana jam… Jam berapa sekarang?.. Jam dua.. Haha.. Jam dua.. Oke kak, aku berangkat ke sana jam lima.."
“Oke..”
William masih terkejut karena dibangunkan jam dua pagi, dirinya masih mengantuk dan masih ingin tidur. Lalu dirinya mengatur alarm paginya jam setengah lima untuk bangun dan bersiap siap terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempatnya kak Lia, dia melanjutkan tidurnya kembali. Suara datang kembali namun William tahu kalau suara tersebu dari alarmnya, dirinya bangun dari tidurnya dan merasa segar kembali daripada jam dua tadi. William bangun dari kasurnya dan membuka jendelanya, dia merasa bersemangat karena hari ini libur bekerja. Saat membuka jendelanya dan menghirup nafas, saat itulah udara dingin masuk ke kamarnya dan merasuki tubuhnya.
“…Dingin sekali..”
William langsung menutup jendelnyanya dan langsung kembali ke tempat tidurnya, dia lansung merasa ke dinginan dan ingin menetap di bawah selimutnya. Tapi di sisi lain diar merasa takut dimarahi oleh kak Lia karena dirinya sudah menerima perintah darinya, William keluar dari selimutnya dan membawa selimut tersebut menuju ke ruangan depan. Saat sampai di ruangan depan, dia langsung duduk di sofa sambil menyelimuti dirinya. Dia masih merasa ke dinginan, lantas William langsung berdiri dari sofanya dan berjalan menuju dapurnya untuk membuat sesuatu yang panas untuk dirinya minum. Dia membuat coffe panas untuknya dan membawanya ke sofa kembali.
“…Masih ada tiga puluh menit sebelum jam lima.. Apa akan cukup… Huh.. Akan aku paksakan..”
William menyalakan televisinya sambil meminum coffe panasnya, dia menunggu badannya bisa beradaptasi dengan dingin sambil menunggu jam lima. Lama kelamaan tubuhnya mulai beradaptasi, William merasa sudah bisa beraktivitas sekarang. Dirinya bangun dari sofa tersebut dan berjalan ke arah pintu keluar dan membuka pintunya, dia keluar dari rumahnya dan suhunya masih dingin. William masih sanggup menahan suhu dingin tersebut, dia berniat untuk olahraga kecil terlebih dahulu untuk membuat badannya panas sambil menunggu waktu juga. Setelah sepuluh menit berlalu dirinya selesai dengan olahraga kecilnya, dia masuk ke dalam rumah kembali. Saat sampai di dalam rumah dia melihat jam sudah menunjukan jam lima kurang lima menit, dirinya langsung lari ke kamarnya.
“…Kurasa aku tidak butuh mandi sekarang.. Nanti saja.. Aku akan ambil itu saja..”
William mengambil ponsel dan dompetnya, setelah itu dia langsung berlari menuju ke luar rumah. Sebelum itu dirinya berhenti terlebih dahulu untuk mematikan televisinya, sesudah itu dia langsung keluar rumah dan menguncinya. William langsung berjalan menuju ke rumahnya kak Lia, tidak jauh dan tidak dekat juga dari rumahnya. Rumahnya kak Lia masih satu arah dari tempat ibunya Melody berjualan dan dia berniat untuk lewat dan menyapa ibunya Melody jika beliau ada di sana.
“Paman Willy juga tidak memberi tahuku kalau hari ini libur..”
William sampai di jalan raya, dirinya melanjutkan perjalanannya dan sampailah di tempat ibunya Melody berjualan. Ternyata belum ada orang, dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Perjalanannya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit dengan berjalan, lumayan melelahkan jika dilakukan namun karena masih pagi William tidak merasa lelah. Dua puluh menit berlalu dan dia sampai di gang rumahnya kak Lia, dirinya mengeluarkan ponselnya dan berniat mengirimkan pesan kepada kak Lia kalau dia sudah dekat.
Pesannya langsung dibalas.
“Datang saja.. Aku tidak ada di rumah.. Di rumah adanya Nia sendirian, aku sudah pergi dari jam empat tadi.”
‘Kalau begitu mending aku berangkat jam enam saja tadi… Sekolah Nia juga masuknya jam tujuh..’
“Baik kak..”
William menyimpan ponselnya dan melanjutkan perjalanannya, dirinya sampai di depan rumahnya kak Lia. Hanya berbeda beberap detik dan seseorang keluar dari rumah tersebut.
“Kak William..”
“Oh.. Nia.. Apa kamu mau berangkat sekolah?”
“Hm.. Nanti saja kak.. Sambil menunggu kita bermain saja kak.. Aku sudah jago loh..”
“Benarkah? Mari kita lihat..”
William masuk ke dalam rumahnya kak Lia dan Nia sudah mempersiapkan mainan yang William berikan dulu kepadanya di atas meja, mereka langsung duduk dan bersiap bermain bersama. Sekitar tiga puluh menit mereka bermain dan William selalu menang dari Nia, dia merasa tidak tega namun sekali dia mengalah Nia akan marah kepadanya. William menyuruh Nia untuk berhenti bermain karena sebentar lagi jam enam, dia juga menyuruh Nia untuk bersiap siap berangkat ke sekolah. Nia langsung berhenti bermain dan langsung pergi untuk bersiap siap, William duduk di kursi dan mengeluarkan ponselnya.
“Sambil menunggu aku mau ngapain..”
“Aku juga malas bermain ponsel sekarang..”
Lima menit berlalu Nia keluar dari kamarnya, dia sudah selesai dengan persiapannya dan memakai seragamnya. William berpikir kalau Nia sudah mandi dari sebelum dia datang dan dirinya merasa takjub karena Nia bisa menahan rasa dingin tersebut, mereka berdua berjalan keluar dari rumah. Setelah itu mereka berdua langsung berangkat menuju ke sokolah Nia, sekolahnya tidak jauh dari rumah tersebut. Mereka berjalan bersama sama dan saling bersenang senang dalam perjalanan mereka, sampailah mereka di sekolahnya Nia. Nia berpamitan kepada William terlebih dahulu sebelum dirinya masuk ke sekolah.
“Dah kak William.. Aku sekolah dulu.. Tunggu jam satu ya..”
“Oke..”
Nia masuk ke dalam sekolahnya dan William masih berdiri di depan sekolah, lalu dia kebingungan karena tidak tahu ingin berbuat apa. Dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja dan menunggu siang untuk menjemput Nia pulang, William menghela nafasnya karena perjalanannya sangat jauh. Tidak ingin kecapekan dia langsung mencari taksi untuk mengantarkannya pulang, tidak lama taksi pun datang dan dirinya langsung masuk ke dalam taksi tersebut. Dia pulang naik taksi, sampailah dirinya di depan rumahnya. William membayar sopir taksi tersebut dan keluar dari mobilnya, dia langsung berjalan menuju pintunya dan membukanya. Dia masuk ke dalam rumahnya dan lansung tidur di sofanya.
“..Capek..”
Sebelum tidur dirinya mengatur alarmnya untuk bangun di jam sembilan nanti, setelah itu dia langsung tertidur di sofanya.