The Noble

The Noble
Episode 35



William bangun dari tidrunya sebelum alarmnya berbunyi, dia terbangun karena merasa lapar. Dia bangun dari kasurnya dan merapikannya, karena rasa lapar dirinya tidak ingin berbuat apa apa di pagi hari selain makan. William membuka pintunya dan berjalan ke arah dapur, dia membuka lemari pendinginnya dan tidak ada roti lapis yang masih tersisa. Dia lupa untuk membuatnya kemarin karena dirinya tidur lebih awal, bahan bahan untuk membuat roti lapis pun tidak ada dan hanya ada telur yang ada di lemari pendinginnya. William memutuskan untuk sarapan dengan telur, dia mengambilnya dan menaruhnya di dekat kompornya.


“… Nanti akan aku beli.. Lebih baik aku membuat catatan terlebih dahulu..”


William mengambil ponselnya yang berada di kamarnya, alarmnya berbunyi dan dirinya meraih ponsel tersebut untuk mematikannya. Setelah itu dia membawa ponselnya ke ruang makan, William menaruh ponselnya di atas meja dan dia bersiap siap untuk membuat sarapannya. Setelah selesai dia memakan sarapannya dan sesudah itu dia meraih ponselnya untuk membuat sebuah catatan.


“Sarapan… Inii.. Beli ini… Jangan lupa ini.. Kurasa sudah cukup.”


William meletakan ponselnya dan membawa piring kotornya untuk dia cuci, dirinya memikirkan apa yang akan terjadi hari ini karena hari ini Restoran tempat kerjanya akan mendapatkan pesanan.


“Paman Willy juga tidak memberitauku jika ada pesanan kali ini? Apakah tamunya biasa saja? Entahlah..”


Dia melanjutkan mencuci piringnya dan setelah itu menaruhnya di lemari kembali, dirinya mengambil ponselnya dan membuka untuk mengetahui cuaca hari ini karena dia rasa tadi malam cukup dingin.


Perkiraan cuaca memperlihatkan bahwa hari ini akan hujan pada siang hari, William langsung bangun dari tidurnya dan mencari payungnya berada. Setelah menemukan payungnya, dia meletakannya di atas meja makan karean dia tidak ingin lupa untuk membawanya.


“Lalu apa yang harus aku lakukan lagi… Jam.. Masih lama.. Kurasa aku akan bersantai terlebih dahulu, dan juga tadi malam aku mendengar suara hujan.. Pasti bungannya sudah tersiram sendiri..”


William berjalan ke arah sofanya dan mencoba untuk menyalakan televisinya, dia mencari saluran yang bisa membuatnya nyaman di pagi hari. Dia mencarinya satu persatu dan tidak ada hal yang menyenangkan baginya, dia rasa hanya saluran berita yang bagus di dalam televisi.


William menonton berita yang lewat di depannya dan menyimaknya dengan seksama, dirinya bisa tau apa yang ada di luar sana tanpa harus pergi keluar rumah. Terlebih lagi bagus untukknya karena suatu saat dia ingin membuka bisninsnya sendiri, makanya dia harus mempersiapkannya dari awal.


“… Begitu ya… Oh aku lupa jam berapa sekarang… Jam enam?”


William langsung mematikan televisinya dan bergegas untuk mandi dan mengganti pakaiannya, sesudah semua selesai dia langsung pergi keluar dari rumahnya. Dia mengunci pintunya dan langsung pergi ke tempat kerjanya dengan langkah kaki yang besar, sampailah dia di depan tempat kerjanya.


William langsung masuk ke dalam restoran lewat pintu depan yang sudah terbuka, dia langsung berjalan ke arah dapur untuk melihat ke sana. Sudah ada kak Lia dan kak Nindy yang sudah bersiap siap, dia menyapa mereka dan bersiap siap juga dengan pekerjaannya.


“Selamat pagi.”


“Pagi…”


“Pagi William.. Iya kamu tumben tidak datang lebih awal?”


“Maaf.. Aku bangun pagi tapi aku tidak tau mau berbuat apa, jadi aku menonton televisi sambil menunggu jam berangkat bekerja.. Tapi malah terlambat..”


“Hm..”


“Begitu ya.. Tapi tidak apa apa, kamu yang ke tiga yang datang ke sini.. Jadi masih bisa dibilang kamu tidak terlambat datang.”


“Besok akan kusuhakan.”


“….”


William bingung dengan respon kak Lia, dia berjalan ke arah meja kerjanya dan menunggu restoran di buka sambil memasang posisi siap. Karena dia masih penasaran dengan respon kak Lia, William mendekat ke arah meja kak Nindy dan bertanya kepadanya.


“Kak Nindy.. Kenapa kak Lia hari ini tampak tenang?”


“Hm… Entahlah.. Aku juga tidak tau.. Kamu tanya aja sendiri.”


“Tidak terima kasih.. Hari biasa saja aku takut, apalagi kalau kak Lia seperti itu..”


William kembali ke posisinya sambil menunggu para pekerja lainnya datang, dia menunggu dan bukalah restorannya. Seperti biasa pekerjaannya sangat berat namun membuatnya semangat dan senang, dia bekerja seharian dengan kondisi kak Lia yang biasanya seperti hari harinya. William kagum kepada kak Lia karena saat sedang bekerja dia menyingkirkan emosi atau pikiran di luar pekerjaan dan hanya fokus ke pekerjaannya saja, dia bekerja seharian dan hari telah berlalu dan William selesai dengan pekerjaannya.


“Terima kasih kak Nindy karena sudah membantuku hari ini..”


“Hehe.. Tidak apa apa.. Aku juga dapat bantuanmu tadi.. Aku pulang dulu ya..”


Kak Nindy meninggalkan tempat tersebut dan William merapikan pakaiannya dan bersiap siap untuk pulang, dia keluar dari tempat tersebut lewat pintu belakang. Dia berjalan menuju ke depan restoran dan saat dia sampai di depan restoran, dia melihat kak Lia sedang diam sambil menatap langit.


William ingin menyapanya namun melihat kondisi kak Lia, dia memutuskan untuk pergi ke mini market dekat dengan tempat tersebut untuk membeli kebutuhannya yang dia catat waktu pagi hari tadi. William pergi ke mini market tanpa sepengetahuan dari kak Lia, dia membeli semua yang dibutuhkannya. Saat dia dalam perjalanan pulang dan lewat di depan tempat kerjanya, dia melihat kak Lia masih ada di sana.


“… Aku takut tapi mau bagaimana lagi..”


William memutuskan untuk menemui kak Lia dan menyapanya, dia ingin juga bertanya kenapa hari ini dia seperti itu walaupun harus bersiap siap kena marah. Dia mendekatinya dan menyapanya, kak Lia menoleh ke arahnya.


“.. Itu kak.. Kenapa kak Lia tidak pulang ke rumah? Hari sudah malam dan semakin dingin..”


“.. Aku pulang nanti.. Kamu pulang duluan saja..”


“.. Apakah ada masalah? Kalau boleh kak Lia bercerita kepadaku..”


“Entahlah.. Hanya keluarga memintaku kembali ke rumah.. Pasti hal itu yang mereka ingin bahas..”


‘Hal itu? Memang apa?’


“Bagaimana dengan Nia kak.. Dia pasti menunggumu pulang..”


“.. Baiklah aku akan pulang.. Kamu hati hati di jalan..”


Kak Lia meninggalkannya dan William melanjutkan perjalanannya tanpa bertanya kepada kak Lia, dia berjalan pulang ke arah rumahnya. Ketika melewati depan rumahnya Melody, William melihat ibunya Melody berada di depan seperti menunggu seseorang. Dia langsung menemuinya dan bertanya kepadanya.


“Tante.. Kenapa tante di depan rumah.. Apakah menunggu seseorang?”


“Oh nak William.. Itu.. Tante menunggu Melody pulang.. Katanya dia ingin pulang tapi dari tadi belum sampai..”


“.. Akan aku coba cari.. Tante masuk saja..”


“Terima kasih nak.. Jika bertemu hubungi tante ya.”


William langsung bergerak dari tempat tersebut untuk mencari temannya, tanpa memikirkan barang bawaannya dan tubuh lelahnya. Dia pun mencari Melody dari tempat yang biasa mereka cari, dari taman maupun tempat vestival. Tidak ada tanda tanda keberadaan dari temannya tersebut, dia mencoba untuk menghubunginya namun tidak diterima.


William memutuskan untuk mencarinya lebih jauh lagi, dia berpikiran pergi ke tempat ibunya berjualan dan dia pergi ke sana untuk memastikannya. Saat sampai di sana, dia melihat seseorang. Lalu William mendekati seseorang tersebut.


“Permisi..”


“Iya.. Oh William.. Apa yang kamu lakukan di sini?”


“… Melody.. Seharusnya aku yang bertanya kamu di sini.. Ibumu mencarimu dari tadi..”


“Eh.. Benarkah? Hpku mati ternyata… Maaf..”


“Memang apa yang kamu lakukan di sini?”


“Itu.. Tadi aku sempat mendengarkan seseorang berbicara tentang tempat jualannya ibuku.. Katanya mau dilaporkan karena tidak memenuhi peraturan jalan ini.. Makanya aku pergi ke sini setelah mengantar ibu pulang dan melihat lihat apakah pernyataan orang tadi betul..”


“… Huhhhh.. Itu kamu pikirkan besok saja, akan aku bantu nanti.. Ibumu menghawatirkanmu.. Lebih baik kamu pulang dulu..”


“Eh iya.. Baiklah aku duluan ya..”


Melody meninggalkan tempat tersebut dan William masih berdiri diam di sana, dia bingung harus berbuat apa karena dirinya juga tidak tau apa apa dengan tempat tersebut. Dia ingin meminta paman Willy untuk membantunya tapi dia berpikir itu akan merepotkannya, dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Sampailah dia di depan rumahnya, dia melihat ada sebuat box di depan pintu rumahnya.


William melihat box tersebut dan melihat namanya, ternyata box tersebut pemberian dari kak Lia. Tiba tiba dirinya mendapat panggilan dari seseorang, dia melihat ke ponselnya dan mengankat panggilan tersebut. Saat dia terima panggilan tersebut, panggilan tersebut langsung terputus. William bingung dan melihat siapa yang memanggilnya, kak Lia yang memanggilnya.


Dia ingin menanyakan kepadanya kenapa dia memanggilnya, saat ingin mengirim pesan dirinya melihat kak Lia mengirimkan pesan kepadanya terlebih dahulu dan William membaca pesan tersebut.


“Maaf William atas tadi pagi, aku ada urusan.. Isi boxnya kamu lihat sendiri.. Oh iya karena aku akan mengambil hari libur, jadi selama tiga hari aku tidak akan ada di tempat kerja.. Paman Willy yang akan mengatur kalian.. Aku sudah mengirimkan pesan kepada yang lain tapi khusus kamu aku kirim lewat surat karena aku sedang sibuk menyiapkan sesuatu.. Besok aku akan pergi maka aku akan menitipkan Nia kepadamu, aku sudah bilang kepada paman Willy kalau besok kamu bisa mengambil hari libur tapi jika kamu ingin bekerja maka bekerjalah.. Besok Nia masih sekolah jadi pulangnya jam satu siang, jadi kamu ambil setengah hari saja jika ingin bekerja.. Jadi selama tiga hari Nia akan kutitipkan kepadamu, aku Pulang kemungkinan selasa pagi.. Hanya kamu yang bisa aku percaya dan paman Willy juga sibuk jadi aku tidak bisa menitipkan Nia kepadanya.. Jemput Nia besok jam satu di sekolahnya, aku sudah bilang kepada Nia dan dia sangat senang ingin bermain bersamamu lagi.. Jadi jaga Nia selama tiga hari..”


“… Yaa mau gimana lagi.. Baiklah kak.. Semangat dan cepat selesaikan kesibukanmu.”


William menaruh ponselnya ke dalam kantungnya kembali sambil meraih kunci rumahnya, dia membuka rumahnya dan berjalan masuk sambil membawa box tersebut. Dia menaruhnya di samping sofa dan ingin menutup pintunya terlebih dahulu, setelah itu dia membuka box tersebut.


Box tersebut berisi pakaiannya Nia dan ada beberapa makanan, William mengambil semunya dan mengosongkan box tersebut. Dia menaruh pakaiannya Nia di kamarnya dan kembali ke sofanya untuk melihat makanan yang dia terima, sebelum itu William menaruh barang belanjaannya di tempatnya masing masing.


“Kak Lia sepertinya sedang dikondisi tidak baik.. Sampai menitipkan Nia juga..”


Dia melihat barang yang diberikan kepadanya dan setelah melihatnya, dia menaruh semuanya ditempat seharusnya. William lelah dan ingin tidur, dia berjalan ke arah kamarnya. Setelah masuk ke kamarnya dan melihat kasur, dia langsung memasang posisi tidur. William tertidur lelap sampai pagi membangunkannya.