
Ponselnya berbunyi, alarm pagi membuat William terbangun dari tidurnya. Dia bangun dan mengatur nafasnya, setelah dia sudah terbiasa dengan tubuhnya di pagi hari dia memutuskan untuk pergi ke dapur. Sesampainya di dapur dia mengambil segelas air untuk diminum, dia masih belum punya tenaga untuk melakukan aktivitas yang berat setelah bangun dari tidurnya. Karena merasa belum berenergi dia memutuskan untuk berjemur di bawah sinar matahari untuk sementara, dia pergi berjalan menuju pintu keluarnya namun saat sudah sampai di depan pintu dia lupa membawa kunci rumahnya. Dia berjalan kembali ke kamar dan mengambil kuncinya, sampailah dia kembali di depan pintu rumahnya. William membuka pintu tersebut dan berjalan ke luar rumah, dia melihat sekeliling rumahnya dan tidak melihat apapun di sana. Setelah mematiskan tidak ada apa apa dia mulai berjemur di bawah sinar matahari, lima belas menit berlalu dan dia sudah mulai kepanasan. Dia memutuskan untuk masuk ke rumah karena sudah mendapatkan sinar yang cukup untuk hari tersebut, dia berjalan masuk ke rumahnya dan menutup kembali pintunya.
“Huhh.. sungguh panas hari ini..” katanya.
Ketika dia ingin duduk di sofa yang selalu dia pakai, dia melihat sebuah kotak berada di atas meja tepat di depan sofa. William ingat bahwa kemarin sebelum berangkat ke tempat vestival, paman Willy mengantarkan Nia dan memberikan dirinya sebuah kotak. Kemarin dia mau membuka kotak tersebut namun karena tidak ada waktu makanya dia ingin membukanya setelah pulang dari Vestival, tetapi lelah yang ada di tubuhnya membuat dirinya melupakan kotak tersebut.
“Daripada penasaran mending aku buka saja..” katanya sambil membuka kotak tersebut.
Saat kotak tersebut dibuka dia melihat sebuah buku dan ada satu lembar kertas di atas buku tersebut, dia mengambil sebuah kertas tersebut dan nampaknya ada sebuah tulisan. William membaca tulisan tersebut dan nampaknya adalah sebuah pesan kepadanya, paman Willy berpesan untuk William membaca buku tersebut. Dia meletakan kertas tersebut dan mengambil buku yang berada di dalam kotak, William membalik sampul depan buku tersebut. Terlihat pada halaman depan tertulis kenangan, karena penasaran dengan isinya, William membalik halaman selanjutnya. Dia melihat sebuah foto dan ada empat orang sedang memakai seragam sekolah, ada keterangan di bawah foto tersebut. Keterangan menunjukan foto tersebut adalah kedua orangtuanya bersama paman dan bibinya saat mereka bersekolah bersama, dia membuka halaman kedua dan menemukan sebuah foto lagi yang menunjukan mereka bertiga sedang berada di kelas yang mungkin saja foto saat mereka berkuliah. William bingung kenapa paman Willy memberikan buku yang terdapat foto mereka bertiga.
“Tapi kenapa paman Willy memberikan buku ini? Seharusnya paman Willy menyimpan untuk dirinya sendiri, karena ini kenangan yang mungkin saja membuat dia ingin melihat kenangan tersebut nanti.” Katanya.
Karena tidak mau banyak memikirkan hal lain William membuka halaman yang ke tiga, terdapat foto lagi yang menujukan mereka sedang ada di kelas dan ada beberapa foto tentang mereka sedang mengerjakan tugas, lucunya ada foto paman nya William yang sedang tertidur di kelas dan sengaja difoto oleh paman Willy. William hanya tertawa melihat bagaimana pamannya pada waktu masih muda dan ternyata sama saja sepertinya, dia kira pamannya sangat teladan ternyata sama seperti dia.
“Ternyata paman dulu seperti ini ya.. kukira paman murid yang teladan, tapi ini bibi? Bibi waktu dulu cantik ya.” Katanya.
Dia membuka halaman ke empat dan foto lagi muncul yaitu foto kelulusan kuliah mereka, mereka bertiga lulus bersamaan dan beberapa foto perayaan mereka. Dia membalik halamannya lagi dan nampak foto ke tiga orang itu bersama lagi sedang berlibur yang entah William tidak ketaui tempatnya, hanya bertuliskan pantai saja. Dia membuka halamannya lagi dan ada foto mereka bertiga yang sedang bekerja, dia membuka halamannya lagi dan ada foto paman Willy yang sedang memasak. William melihat paman Willy memasak seperti familiar baginya, dengan latar foto tempat tersebut mirip dengan dapur restoran yang paman Willy sekarang punya.
“Ternyata paman Willy berasal dari sini dan kembali ke sini.. mungkin saja kenapa paman Willy pergi dari Restoran BBB untuk mengenang masa lalunya?” katanya.
Dia membalik halamannya lagi dan ada foto bibinya yang sedang melayani tamu, nampaknya tamu yang dia layani adalah seseorang yang terkenal karena tampak dari pakaiannya yang mahal dan mungkin saja tempat tersebut ada di Restoran yang sekarang. Dia membalik halamannya lagi dan ada sebuah foto di mana mereka sedang pergi kesuatu tempat, Dia membalik lagi dan ada sebuah foto di mana paman Willy sedang berbicara dengan seorang wanita.
“Kurasa ini istrinya paman Willy, karena rambut mereka nampak sama.” Katanya.
Dia membalik lagi dan ada foto paman dan bibinya yang sedang menikmati waktu bersama, dia merasa paman Willy sibuk dengan istrinya waktu itu. Dia membalik lagi dan ternyata ada foto di mana paman Willy dan istrinya menikah, nampak bahagia dan banyak tamu yang datang ke pernikahan tersebut. Dia membalik lagi dan selanjutnya adalah pernikahan paman dan bibi, mereka berdua juga tampak muda dan berkarisma. Berbeda dengan sekarang, paman dan bibi sudah mulai menua. Dia membuka lagi dan ada beberapa foto bayi, mungkin saja anak dari paman Willy dan pamannya. Dia membuka lagi dan ada sebuah foto bayi lagi, dia membaca keterangannya bernama William.
“Oh ini fotoku waktu kecil ya, aku pernah melihatnya saat di rumah paman.” Katanya.
Dia membalik lagi dan ada foto kedua orang tuanya, ada pesan dibawahnya yang menunjukan kasih sayang mereka kepadanya. William terdiam dan berdoa untuk kedua orang tuanya yang sudah lama meninggalkannya, dia membalik lagi dan ada sebuah catatan.
William selesai membuka semua halamannya dan memutuskan untuk menaruh buku tersebut di kamarnya. Setelah dia meletakan buku tersebut dan saat ingin meninggalkan kamarnya, ponselnya tiba tiba berbunyi. Dia membukanya dan tampak pesan dari Melody, William membacanya.
“Aku sudah ada di depan rumah William.. aku siap untuk belajar membuat kue hari ini.” Pesannya.
“Eh pagi sekali.. apa dia tidak capek karena kemarin. Baiklah aku belum melakukan apapun, jadi aku akan siap siap mungkin akan lama kamu masuk aja ke dalam rumahku dan menunnggu.” Balas pesannya kepada Melody.
“Ehh masuk kerumahmu? benarkah.” Tanyanya.
“Iya tidak apa apa.. aku akan membuka pintunya sebentar.” Jawabnya.
Dia berjalan ke depan pintu rumahnya dan membuka pintu tersebut, William melambaikan tangannya kepada Melody. Melody melihat lambaiannya William dan mulai mendekat, saat sedang mendekat dia tampak terlihat gugup. Sampai di depan pintun William mengajak Melody untuk masuk ke dalam rumahnya, Melody melihat sekeliling dalam rumahnya William.
“Jadi ini rumahmu ya.. aku baru pertama kali masuk ke sini.. yang pernah masuk ke sini ibuku.. dulu dia bercerita bahwa rumahmu sangat bagus.. kukira rumahmu itu mewah penuh dengan barang barang mahal, ternyata sama yaa..” kata Melody.
“Kamu kira aku punya uang berapa? kalau aku punya uang sebanyak itu aku tidak akan bekerja. aku akan mandi dulu dan aku mau membuat sarapan.” Jawabnya.
“Oh kamu belum sarapan ya.. bagaimana kalau aku yang membuat sarapannya selagi menunggumu.” Katanya.
“Yaa boleh saja sih.. tapi ya terserah kamu.. bahan bahannya ada di lemari es.. ambil seseukamu” katanya sambil pergi kekamarnya.
William pergi kekamarnya untuk mengambil pakaian bersih, saat berjalan kembali kedapur dia melihat Melody yang sedang membuka lemari es dan melihat isinya. Dia mengabaikan Melody dan langsung masuk kekamar mandi dan mandi. Saat sedang mandi dia mendengar suara orang yang sedang memasak, Dia melanjutkan mandinya. William keluar dari kamar mandi dan melihat Melody masih memasak.
“Kamu beneran membuat sarapan ya, kukira kamu hanya penasaran dengan bahan yang kupunya.” Katanya.
“Ehh william.. haha iya aku membuat sarapan.. dari pada aku tidak berbuat apa apa disni, dan ini mau selesai jadi kamu duduk saja terlebih dahulu.” Katanya menyuruh William.