The Noble

The Noble
Episode 39



Mereka memutuskan untuk pulang untuk membuka isi dari kardus tersebut, William membawa kardus tersebut diikuti Nia yang berjalan di sampingnya. Mereka berdua saling bercerita tentang masa masa kakaknya Nia bekerja di sana karena dirinya tau bahwa William sudah ada di sana duluan sebelum kak Lia hadir, William bercerita banyak tentang kak Lia dalam perjalanan pulang mereka. Sampailah mereka di depan rumahnya William, mereka berdua melihat seseorang berdiri di depan rumahnya William. Melody berdiri di depannya sambil melihat ke arah rumahnya William, lantas mereka menemuinya.


“Melody..”


“Kak Melody?”


“.. Eh maaf.. Aku tidak tau kalau kamu keluar rumah..”


“Tidak apa apa… Terus kamu ada perlua apa?”


“Itu.. Soal kemarin.. Aku ingin membahasnya bersamamu..”


“Oh.. Kalau begitu masuk saja.. Kita bahas di dalam rumah.. Biar nyaman..”


“Iya kak Melody masuk saja..”


“Begitu ya.. Maaf merepotkan..”


“Tidak kok.. Oh iya sekalian aku mau mengembalikan piring dari ibumu..”


Mereka bertiga berjalan ke arah pintu rumah, William membuka pintunya dan mereka bertiga masuk ke dalam. William menyuruh Melody untuk duduk sambil menunggu dirinya menaruh sebuah kardus yang dibawanya, Nia menemani Melody duduk di sofa.


“Kak Melody ada apa ke rumahnya kak William?”


“Ada urusan sesuatu Nia, apa menyenangkan tinggal di rumahnya William?”


“Menyenangkan.. Aku bisa bermain bersama kak William dan melakukan yang tidak sering aku lakukan bersama kak Lia..”


“Baguslah kalau begitu.. Memang kak Lia ada urusan apa sampai meninggalkanmu bersama William?”


“Aku tidak tau.. Katanya kakak ingin pulang ke rumah sebentar untuk menemui ibu dan ayah.. Tapi dia tidak mengajakku..”


Mereka berdua saling berbicara satu sama lain sedangkan William menaruh kardusnya di kamarnya, setelah itu dia membuka kardus tesebut untuk melihat isisnya untuk sesaat karena dia sudah bilang ke Nia untuk membukanya bersama. Ada banyak barang di dalamnya dan salah satunya ada pakaian untuk Nia, dia melihat semua barangnya dan setelah selesai dia menutup kardus tersebut kembali seperti semula.


Dia keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang utama untuk menemui mereka berdua. William melihat mereka saling berbicara tapi tidak mau mengganggu mereka, dia memutuskan untuk mengambil segelas air terlebih dahulu untuk dia berikan kepada Melody.


“Ini untuk kamu Melody.. Untuk Nia sebentar yaa..”


“Ah tidak usah repot repot..”


“Tidak apa apa..”


Seberapa saat kemudian.


“Ini untuk Nia.. Adanya air putih..”


“Terima kasih kak..”


“Jadi bagaimana Melody soal yang kamu mau bicarakan?”


“Begini…”


Mereka berdua saling berbicara diantara Nia, mereka membahasnya dengan serius karena masalahnya cukup rumit dan harus berhati jika tidak mau ambil salah langkah. Nia hanya bisa mendengar mereka berbicara karena dirinya tidak tau sama sekali tentang bahasan mereka, dia hanya meminum air putihnya sambil pura pura mendengarnya.


William yang melihat itu memutuskan untuk pindah tempat bersama Melody ke ruang makan dan membahasnya di sana, dia menyuruh Nia untuk menonton televisi saja sambil menunggu urusan mereka selesai. Belasan menit berlalu dan bahasan mereka mulai menemui titik buntu di mana mereka saling bingung harus berbuat apa.


“.. Cukup sulit ya..”


“Mau bagaimana lagi.. Ibuku memang seperti itu.. Aku sudah membujuknya tapi begitulah..”


“Hm.. Kita cari solusinya bersama.. Tunggu… Itu mungkin berhasil..”


“Ah.. Akan aku beritahu besok jika itu terjadi.. Karna itu harus benar benar bisa ditangani..”


“Aku tidak tau tapi baiklah.. Aku akan pulang terlebih dahulu sambil membujuk ibuku lagi..”


“Oh iya.. Aku antar sampai depan..”


Mereka keluar dari rumahnya William, mereka berpamitan satu sama lain dan William berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia menutup pintunya dan setelah itu dia teringat sesuatu, dia lupa untuk mengembalikan piring ibunya Melody. Dia ingin memberikannya kepada Melody tapi dirinya merasa tidak pantas kalau tidak dikembalikan ke rumah mereka, William memutuskan untuk mengembalikan piringnya nanti sore karena dirinya masih ada urusan yang ingin dia lakukan. Dia berjalan mendekat ke arah Nia dan menyuruhnya untuk bangun.


“Ayo Nia.. Kita buka kardus tadi.. Kamu ingin melihat isinya juga kan?”


“Ayooo.. Aku ingin melihatnya..”


“Aku taruh di kamar..”


Mereka berdua berjalan ke arah kamar dan sesampainya di sana William mengambil kardusnya, dia bilang ingin membukanya di ruang depan saja. William membawa kardus tersebut di ikuti oleh Nia, William menaruh kardus tersebut di meja. Dia menyuruh Nia untuk membuka kardus tersebut yang masih tersegel karena William menutup kardus tersebut kembali, saat dibuka Nia tampak terkejut gembira karena isinya ada barang barang bagus. Ada beberapa pakaian untuknya dan beberapa makanan di dalamnya, mereka mengeluarkan semua isinya dan William menyingkirkan makanannya terlebih dahulu ke sisi lain.


“Bagaimana dengan pakaiannya? Muat kan..”


“Iya muat.. Bagus tidak kak..”


“Bagus kok.. Besok kita bilang terima kasih kepada paman Willy karena beliau yang memberikannya.”


“Paman Willy ya.. Oke, besok aku ingin mengucapkan terima kasih kepada paman Willy..”


“Kamu suka hadiahnya?”


“Iya kak.. Aku suka..”


“Kalau begitu sisa makanan.. Tapi makanannya manis semua.. Kurasa ini untukmu semua.”


“Eh benarkah? Hehe makasih paman Willy..”


“Kamu ambil beberap saja.. Akan aku simpan untuk kamu makan nanti.. Jadi kamu tinggal mengambilnya di lemari.”


“Baik kak..”


Nia memakai pakaian yang diberikan oleh paman Willy sambil memakana makanan yang diberikan oleh paman Willy juga, mereka memakan makanan tersebut sambil menonton acara televisi. Tidak terasa sudah jam dua dan mereka mulai lapar, Nia bilang ingin memakan roti lapis buatannya William lagi. Namun William kali ini ingin membuat isinya yang berbeda, dia kali ini mengisi roti lapisnya dengan sosis dan telur mati sapi. Dia mengambil sosis dan telur yang ada di lemari pendinginnya dan memasakanya, setelah itu dia menaruhnya di tengah roti lapis. William membawa roti lapis tersebut untuk mereka makan sambil menonton telvisi.


“Nih.. Kali ini berbeda..”


“Wah.. Terima kasih kak William..”


Mereka memakan roti lapis mereka sambil menonton televisi, mereka memakannya secara perlahan sambil menikmati acara yang ada di dalam televisi. Sesudah habis mereka kembali memakan makanan mereka yang masih tersisa tadi, tanpa sadar sudah jam empat sore dan tidak ada dari mereka yang tau. Ponselnya William berbunyi dan dia mengambil ponselnya, ketika dia buka dan melihat jamnya sudah jam empat. Dia bangun dari tidurnya dan mengecek ke luar rumahnya untuk mengecek, sesudah itu dia kembali masuk dan berbicara kepada Nia.


“Nia.. Ini sudah sore.. Kamu mau apa?”


“Hm.. Aku ingin bermain tapi sudah sore..”


“.. Kalau begitu besok saja.. Besok hari terakhir Nia ada di sini.. Jadi besok kita akan bermain.. Bagaimana.”


“Eh beneran kah kak?”


“Iya.. Kakak bakal bawa kamu pergi ke tempat bermain seharian.. Kalau begitu kama mandi saja dulu..”


“Baik kak.”


Nia berjalan ke arah kamarnya William untuk mengambil pakaiannya, setelah itu dia mandi. Sementara William melihat ponselnya, pesan dari paman Willy dan dia membacanya. Dia membalas pesan tersebut sambil berterima kasih tentang hadiahnya, setelah itu dia bermain dengan ponselnya. Nia selesai dengan mandinya dan selanjutnya giliran dirinya, William mandi dan setelah itu mereka berdua bermain bersama sampai malam tiba. Tanpa sadar mereka mulai mengantuk dan mereka berdua tertidur di sofa yang ada di depan televisi sampai pagi tiba.