
Ibunya Melody berjualan makanan di pinggir jalan dekat rumah mereka, tepatnya di samping jalan dekat dengan toko permen. Mereka berdua berjalan menuju ke tempat ibunya Melody berjualan sambil berbicara tentang kuliah mereka yang akan mendatang, mereka berdua melewati berbagai toko dan rumah makan dan akhirnya sampai di mana jalan utama dari daerah tempat tinggal mereka.
“Masih lurus kan?”
“Iya.. dari sini sudah kelihatan.”
Mereka berhenti sebentar karena William melihat Melody yang tampak lelah, dia menawarkan Melody untuk duduk sebentar dan sedangkan dia bilang kepadanya ingin membeli minuman. Tempat istirahat mereka dekat dengan sebuah toko serba ada, William memutuskan masuk ke dalam dan membeli dua minuman. Setelah membeli dia keluar dari toko tersebut dan berjalan ke arah Melody yang sedang beristirahat, dia menawarkan minumannya kepada temannya. Melody menerimanya dan kedua orang tersebut meminum minuman tersebut, mereka habiskan satu botol penuh dan membuang botolnya ke tempat sampah. William bilang kepada Melody.
“Apa kamu masih sanggup berjalan? Atau kamu perlu waktu untuk istirahat.”
“Tidak apa apa.. aku juga ingin membantu ibuku, aku sudah terbiasa karena setiap hari selalu berjalan ke sini.”
“Baiklah kalau begitu.”
Mereka berdiri dan melanjutkan perjalanan mereka, William sengaja memperlambat langkahnya agar Melody tidak memaksakan dirinya. Dari kejauhan mereka sudah bisa melihat tempat ibunya Melody, karena sudah dekat tiba tiba Melody jadi semangat dan mempercepat langkahnya. William mengikuti dari belakang sambil melihat ke arah Melody.
‘Saat Melihat ibu semua orang pasti akan bersemangat dan rasa lelah akan hilang langsung, kekuatan entah muncul dari mana.’
Melody langsung berlari dan mendekati ibunya, ibunya yang tidak sadar pun di peluk olehnya dari belakang. William juga datang dan menemui ibu dari temannya tersebut dan dia ingin menyapanya, ibunya Melody terkejut karena seseoarang memeluknya dari belakang tanpa dia sadari. Dia melihat ke arah orang tersebut dan langsung tersenyum karena dia melihat Melody ada di sana, mereka saling tersenyum.
“Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu lagi pendaftaran?”
“Aku sudah selesai.. oh iya ibu, ternyata William juga mendaftar ke kampus yang sama.”
“Benarkah? Lalu kamu bertemu nak William di sana?”
“Itu William ada di belakang.”
“Selamat siang tante.”
“Oh nak William, maaf tante tida sadar ada nak William di sini.. jadi kata Melody tadi benar.”
Mereka saling berbicara satu sama lain, ibunya Melody menanyai tentang pendaftaran mereka. Karena sudah cukup siang, ibunya Melody menawarkan mereka berdua makan siang. Mereka berdua menerimanya dan dia langsung mengambilkan makanan untuk ke dua orang tersebut, dia mengambilkan makanan yang cukup banyak untuk mereka. Tidak lupa dia juga memberikan mereka sebotol minuman untuk mereka minum , mereka berdua menerimanya karena tidak enak jika menolaknya. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan dan duduk di sana sambil memakan makanannya. Mereka bertiga masih berbicara bersama sambil ke dua orang menikmati makanan mereka, setelah selesai William mengeluarkan dompetnya dan ingin mengambil uangnya.
“Nak William tidak usah.. jangan di bayar ya.”
“Kenapa tante? Aku kan makan.. seharusnya aku pembeli dan harus membayar?”
“Kamu tadi tidak bilang beli, tante yang memberikannya kepada kalian berdua.”
“Tapi tante..”
“Tidak apa apa.”
“Heheh.. tidak usah William.. kamu sudah banyak membantu ibuku dan aku juga.. jadi sekarang ibuku yang mentraktirmu.”
“Baiklah.”
“Tapi aku penasaran denganmu William.. kenapa kamu dari dulu tidak pernah memanggil ibuku dengan namanya?”
“… Nama ibumu juga Melody.. Aku jadi bingung. Jika aku memanggil namamu maka ibumu mungkin saja akan ikut menoleh.. Jadi begitulah.”
“Maaf ya karena kami punya nama yang sama.”
Mereka saling tertawa karena hanya sebuah nama yang sama, mereka berdua bercerita kepada William ketika Melody masih kecil dan orang orang memanggilnya namun ibunya yang datang. Kejadian seperti banyak terjadi diantara mereka semenjak kecil bahkan sampai sekarang, ibunya Melody memberikan nama yang sama kepada anaknya. Namun karena mereka sudah pindah dan mereka saling hidup sendiri, kejadian tersebut sudah jarang sekali terjadi. Melody masih ingat waktu vestival dan sebelum waktu acara kembang api dimulai, para panitia acara tersebut berterima kasih kepada orang yang bernama William.
“Aku sampai sekarang tidak tau, apakah itu bukan kamu?”
“Jika aku punya uang sebanyak itu maka aku tidak akan bekerja lagi.. Aku hanya duduk diam di rumah.”
“Banyak orang yang mempunyai nama yang sama, bahkan yang di sekitar kita. Jadi selalu berbuat baiklah, agar orang orang bisa tau kamu orang yang mana.”
“Baik ibu..”
“Terima kasih tante.”
“Oh iya, bagaimana dengan kampus kalian? Apakah kalian sudah berkeliling?”
“Belum bu.. Aku tidak sempat berkeliling, tapi kayaknya William sudah.”
“Benarkah nak William?”
“Walaupun belum semuanya, tapi aku sudah pergi ke kantin kampus tersebut. Bagus dan sangat mewah tempatnya tapi harganya masih murah.”
“Begitu ya, bagus kalau begitu.”
‘Ternyata ibunya Melody punya banyak reputasi di wilayah ini juga, memang orang baik tidak diragukan lagi.’
Sampailah di depan rumahnya William, ibunya Melody ingin meminta alat yang dibawa oleh William namun William menolaknya dan berjalan lagi untuk membawanya ke rumah mereka. Mereka berdua mengikuti William dan sampailah di rumahnya Melody, William meletakannya di depan pintu mereka dan dia beristirahat sebentar di sana. Ibunya Melody berterima kasih kepadanya dan membuka pintu rumahnya, dia memasukan alat alatnya ke dalam rumah sedangkan Melody menemani William di luar.
“Apa kamu butuh air? Akan aku ambilkan, tunggu sebentar.”
“..Tidak.. usah.. ah dia masuk ke dalam.”
William duduk di sebuah kursi yang berada di depan rumah dan menunggu Melody keluar dari rumahnya, dia mengambil ponselnya dan melihat apakah ada pesan yang dia terima. Banyak pesan yang masuk ke ponselnya termasuk pesan dari teman teman lamanya, dia menghiraukan pesan dari temannya dan melihat ke pesan yang lain. William mendapat pesan dari kak Dea, dia langsung membukanya ketika meliihat nama kak Dea.
“Kamu sudah pulang ya.. aku tadi mau mengajakmu berkeliling lagi bersama temanmu.”
“Maaf kak aku mungkin terlalu lelah dan nanti malam juga aku mungkin agak sibuk jadi aku pulang duluan bersama Melody.”
Setelah mengirimkan pesan kepada kak Dea, William menutup pesannya dan melanjutkan menikmati angin sorenya sambil duduk di kursi. Melody keluar dari rumah sambil membawa segelas air untuknya, dia memberikannya kepada William. William menerima segelas air itu dan berterima kasih kepadanya, setelah itu dia meminum habis satu gelas air tersebut dan memberikan gelas kosong kepada Melody.
“Aku akan pulang.”
“Kamu tidak ingin di sini sebentar saja? Mungkin ibuku masih ingin berbicara kepadamu.”
“Tidak usah, ibumu pasti kelelahan juga.. Biarkan ibumu beristirahat, lebih baik aku pulang. Aku juga masih punya beberapa hal yang belum aku selesaikan, termasuk menyiram bungaku.”
“Oh aku lupa kalau kemarin kita menanam bunga di rumahmu, aku lupa dan sebelum kamu pulang tunggu sebentar di sini ya.”
Melody berlari masuk ke dalam rumahnya dan William menunggunya untuk keluar kembali, tidak begitu lama Melody keluar sambil membawa payungnya William dan memberikannya kepada William.
“Terima kasih untuk payungnya kemarin, soal pakaiannya belum aku lipat dan setrika.. Jadi akan aku kembalikan besok.”
“Tidak apa apa, baiklah kalau begitu aku pulang dulu.”
William meninggalkan rumah tersebut dan berjalan pulang ke rumahnya, dia berjalan sambil membawa payungnya. Saat sampai di depan rumah, dia melihat ke arah bunganya. Masih kokoh berdiri, dia berniat untuk menyiram bunganya. Sebelum menyiram bunga yang dia tanam, dia masuk ke dalam rumahnya dan menaruh payungnya di rak payung. William keluar dari rumah dan berjalan mendekat ke arah alat penyiram yang ada di depan rumahnya, dia mengambilnya dan melihat alat tersebut sudah kosong tanpa ada airnya di dalam. Dia menyalakan mesin airnya dan mengisi penuh alat tersebut, setelah penuh dia mematikan mesinnya dan langsung membawa alat penyiram tersebut untuk digunakannya untuk menyiram bunganya.
“Masih bagus, kurasa ilmu dari ibu masih ada. Oh iya aku harus bertanya kepada Fauna tentang bunga ini lebih mendalam.”
Setelah menyiram bunganya, William mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Dia membukanya dan mencari nama Fauna, setelah ketemu dia langsung mengirim pesan kepadanya.
“Fauna.. aku ingin bertanya dengan bunga yang kemarin, oh iya aku lupa mengirim foto bunga yang aku tanam seperti apa.. tunggu sebentar.”
William membuka kamera ponselnya dan langsung memotretnya, dia kembali mengirim pesan kepada Fauna dan mengirim fotonya.
“Bagaimana? Bagus bukan.. Terima kasih juga atas bantuanmu.”
Sepuluh detik setelah dia mengirim pesannya, Fauna membalas pesannya.
“Oh bagus ya.. ternyata William bisa merawat bunga, kukira kamu hanya bisa diam saja.. Oh iya kamu beli bunganya ada di mana?”
“… Huh… Aku membelinya di dekat rumahku, ada toko bunga yang lumayan menjual banyak bunga.”
“Bolehkah aku ke sana dan melihat toko bunganya?”
“Akan kukirimkan lokasi toko bunganya nanti.”
“Terima kasih.”
William mematikan ponselnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia langsung menutup pintunya dan duduk di sofanya. Dia ingin tidur karena lelah, William kembali membuka ponselnya dan mengaktifkan alaramnya dan dia tertidur di sofanya.
Malam tiba dan jam menunjukan pukul tujuh malam, William bangun dari tidurnya karena alarm ponselnya. Dia bangun dari tidur dan mematikan alarm tersebut, William bangun dari sofanya dan berjalan ke arah tombol lampu rumahnya dan menghidupkan semua lampu yang dia butuhkan. Setelah itu dia berjalan ke arah pintu keluar untuk melihat sekitar rumahnya, melihat ke arah kiri dan kanan. Karena dia rasa cukup aman, dia masuk kembali ke rumahnya untuk bersiap siap mandi. William berjalan ke arah kamarnya dan mengambil pakaian dan berjalan lagi ke arah kamar mandi, dia mandi dan setelah itu dia duduk di kursi ruang makan. Dia berpikir sejenak sambil mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul penuh, setelah menunggu lama dia memutuskan untuk membuat makan malamnya.
“Karena aku bingung, mending aku buat makanan instant saja untuk malam ini.”
Dia berjalan ke arah lemarinya dan mengambil makanan instant, William mengambil panci dan mengisinya dengan air lalu menaruhnya di atas kompor. Dia menunggu airnya mendidih, sebelum airnya mendidih dia sudah membuka bungkus makanan instant dan mengambil sebuah piring. Sembari menunggu airnya mendidih, dia berniat mengambil ponselnya. William mengambil ponselnya dan melihat ada pesan yang masuk, pesan dari kak Dea lalu dia membukanya dan membacanya.
“Selamat William, kamu lolos ujiannya dan kamu berhasil masuk ke dalam kampus ini.. Seharusnya pengumumannya besok sih, tapi aku sudah tau jadi aku memberitaukannya kepadamu.. Nomor antrianmu paling belakang tapi aku menaruhnya di depan saat memberikannya kepada para dosen.. Jadi traktir untukku yaa.”
“Terima kasih kak.. kamu ini memang.. baiklah, makanan kantin ya.”
“Eh.. aku kira makanan dari tempat kerjamu.”
“Mahal..”
William menaruh ponselnya dan mengecek air yang dia panaskan, sudah mendidih dan dia langsung memasukan makanan instantnya dan mengaduknya. Setelah jadi dia menaruh bumbunya di atas piring dan mencampurnya dengan makanannya tadi, dia membawa makanannya dan menaruhnya di atas meja. Sebelum memakannya, dia mengambil segelas air. Dia menaruh airnya di samping piringnya, dia berdoa terlebih dahulu dan setelah itu dia memakannya. Setelah memakan semua makannya, dia melanjutkan pekerjaannya tadi pagi yang belum selesai. Tanpa sadar sudah jam sebelas malam dan pekerjaannya selesai, dia mengambil ponselnya dan berjalan menuju ke kamarnya. Dia langsung terjatuh di kasurnya dan tidur sampai pagi hari membangunkannya.