
William tertidur pulas dan ada sebuah gerakan yang membuatnya bangun dari tidurnya, dia melihat jendela kamarnya terbuka dan lantas dia bangun dari kasurnya dengan pandangan yang masih buram. Dia membenarkan pandangannya terlebih dahulu dan setelah itu dia bisa melihat dengan jelas, William melihat Nia sedang memandang keluar jendela.
“Oh kak William.. Sudah bangun?”
“… Jam berapa sekarang?”
“Jam enam..”
“… Enam? Bukannya kamu harus sekolah!!!”
“Hehe.. Aku sudah bersiap siap kak.. Jadi tinggal berangkat..”
“Huh.. Baiklah kalau begitu, aku akan mencuci mukaku dan mengosok gigi terlebih dahulu.. Kamu tunggu saja di sofa..”
William berjalan menuju kamar mandinya, dia mencucinya mukanya dan tidak lupa mengosok giginya. Setelah itu dirinya keluar dari kamar mandinya dan lansung menuju dapur untuk mengambil segelas air untuk dia minum, dia meminum air tersebut dan rasa dari pasta giginya masih terasa.
“… Kurasa aku melakukan hal yang salah..”
Setelah merasakan pasta giginya, William langsung menaruh gelasnya dan menuju ke ruang depan. Dirinya menemui Nia dan menyuruhnya untuk berangkat ke sekolah, mereka berjalan keluar dari rumah dan William mengunci pintunya terlebih dahulu. Sesudah mengunci pintu mereka langsung berjalan menuju ke sekoahnya Nia, berjalan kaki ke sekolah Nia mungkin membuat William kelelahan namun kalau dia melakukannya di siang hari.
“Eeehh.. Kamu tidak dapat PR kan?”
“Tidak kak.. Tenang aja..”
“Kamu sudah sarapan?”
“Sudah kak.. Tadi aku membuat telur mata sapi.. Maaf kalau belum ijin kepada kak William kalau aku mengambil telur dari lemari pendingin..”
“Seharusnya aku yang minta maaf, aku yang harusnya membuat sarapan untuk Nia..”
Mereka berjalan ke sekolahnya Nia sambil bercerita satu sama lain dan tidak terasa sudah semakin dekat dengan tempat tujuan mereka, William bertanya kepada Nia jika dia mendapat pesan dari kakaknya atau tidak. Namun Nia hanya menggelengkan kepalanya, mereka akhirnya sampai di depan sekolah. Nia berpamitan kepada William terlebih dahulu sebelum masuk ke sekolahnya, William menunggu Nia masuk ke dalam sekolahnya sambil berdiri memandangnya dari kejauhan. Sesudah masuk ke dalam sekolah, dirinya langsung memutar balik badannya dan pulang ke rumahnya.
“Oh iya.. Hari ini.. Aku harus bekerja bukan.. Gawat.. Sudah jam segini.. Aku harus berlari..”
William berlari ke rumahnya dan setelah sampai di rumah dia langsung mengganti pakaiannya, setelah itu dia langsung berangkat ke tempat kerjanya. Dia berlari kembali dan tidak terasa sudah sampai di tempat kerjanya, sudah ada beberapa pekerja yang selesai dengan pekerjaannya di pagi hari. Untung saja hari ini William tidak bertugas untuk membersihkan tempat kerjanya jadi dia masih bisa tenang, William memutuskan untuk masuk ke dapur dan bersiap siap menunggu restorannya buka. Saat sampai di dapur, dia melihat kak Lia sedang berdiri di depan mejanya dan memandanginya.
“Itu.. Maaf kak.. Sepertinya aku tidak terlambat.”
“…”
William melihat ekspresi kak Lia langsung berjalan menuju ke posisinya, dia menunggu restorannya dibuka dan tidak lama paman Willy menyuruh para pekerja mulai bekerja. Seperti biasa William bekerja dengan keras dan penuh semangat, dia melakukan apapun yang bisa dia lakukan. Tidak lupa dia juga membantu orang lain dan mengerjakan pekerjaannya satu persatu, jam istirahat siang datang dan para pekerja mulai berhenti bekerja.
“William..”
“Eh.. Iya kak..”
“Kamu tadi mengantar Nia ke sekolahnya bukan?”
“Eh iya.. Ada apa kak?”
“… Terima kasih sudah menjaga Nia.. Nih makanlah.”
William medapat makan siang buatannya kak Lia, dia langsung bersemangat kembali dan memakan makan siangnya. Semua dia habiskan dan setelah itu dia mencuci semua peralatan yang kotor bersama nenek Widia, jam kerja mereka kembali dan para pekerja mulai bekerja. William kembali ke tempatnya dan bekerja sampai restoran tutup, jam tujuh dan restoran tutup. Para pekerja mulai pulang ke rumahnya masing masing, William juga ingin pulang ke rumahnya namun dia mendapat pesan dari paman Willy dan menyuruhnya ke lantai paling atas. Dirinya lansung naik tangga menuju ke lantai atas, saat sudah di sana dia melihat ada paman Willy dan kak Lia yang sedang duduk bersama. William mendekati mereka.
“Permisi.. Paman Willy mencariku?”
“Duduk William..”
“…”
William duduk di kursi samping paman Willy, setelah duduk paman Willy dan kak Lia langsung membicarakan sesuatu. William mendengarkan perkataan mereka dan menyatatnya di otaknya, perkataan yang dirinya tangkap adalah lantas atas akan digunakan. Kak Lia mengeluarkan idenya William yang ingin mengubah lantai atas dan paman Willy menyetujuinya namun untuk apa tempat tersebut belum diputuskan, lantas paman Willy bertanya kepada William.
“Kalau William ingin mengubah lantai atas untuk apa?”
“Itu.. Aku dulu sempat berpikir untuk membuat lantai atas untuk menambah para pelanggan.. Namun kurasa itu juga akan menambah beban para pekerja.. Aku berpikiran sesuatu, di sekitar sini tidak ada caffe.. Jadi pikiranku hanya bisa mengubahnya menjadi caffe, mungkin akan banyak orang muda yang datang ke sini apalagi malam hari.. Siang sampai sore restoran dan malamnya caffe..”
“Bagus juga idemu..”
“Terima kasih kak Lia.. Tapi itu cuman masih ide.. Kuserahkan kepada paman Willy..”
“Harus diperhitungkan matang matang.. Sudah cukup untuk hari ini.. Kalian berdua pulang lah..”
Mereka berdua berpamitan kepada paman Willy dan turun ke lantai dasar, William berpamitan juga kepada kak Lia dan langsung pulang menuju ke rumahnya. Di saat perjalanan pulang Willia juga kepikiran sesuatu, hal hal yang dibutuhkan untuk membuka lnatai atas membutuhkan banyak usaha dan uang. Itulah kenapa pikirannya membuatnya kebingungan dan kadang membuatnya berhenti di tengah jalan, William sangat senang bisa bekerja di caffe rancangannya dan bisa menikmati lagi malam harinya yang terasa membosankan di rumahnya.
“… Entahlah.. Paman Willy yang memutuskan..”
William memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya dari pada berpikir tanpa hasil dan tidak sampai sampai di rumahnya, dirinya sampai di rumahnya dan langsung masuk ke dalamnya. William duduk di sofanya dan melanjutkan pikirannya tadi yang sempat tertunda, dia juga memikirkan hal lainnya yang bisa dia lakukan untuk membantu paman Willy. William juga harus mencari para pekerja baru jika ingin membuka lantai atas tersebut namun dirinya tidak tahu harus mencari di mana karena itu keahlian dari paman Willy, dia ingin mencarinya di tempat para orang mencari pekerjaan tapi dirinya juga takut mendapat pekerja yang biasa saja.
“Para pekerja yang bekerja di restoran saja pilihan dari paman Willy, jadi sudah jelas saja mereka pekerja yang melebihi standar.. Tapi aku penasaran, bagaimana paman Willy bisa mencari pekerja yang bagus dengan cepat.. Apakah paman Willy punya koneksi? Atau jangan jangan paman Willy mantan dektetif, atau mantan anggota rahasia pemerintahan?... Kurasa tidak.. Kalau begitu hari libur aku akan mempersiapkannya dan akan kuberikan kepada paman Willy jika rancanganku sudah selesai..”