
Alarm berbunyi membangunkan William, dirinya bangun dari tidurnya dan meraih ponselnya untuk mematikan alarm tersebut. Dia langsung mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali ke tempat semula, William bangun dari kasurnya dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Dia membukanya sambil menghirup udara segar pada pagi hari, hanya beberapa tarikan nafas dan dirinya menutup kembali jendela tersebut.
“Kuharap hari ini menyenangkan.. Baiklah kalau begitu mari bersiap siap.. Oh jangan lupa menyiram bunga terlebih dahulu..”
William berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya, dia berjalan melewati ruangan tamu dan membuka pintunya yang masih terkunci. Lalu dia mengambil kunci yang berada di meja deka pintu dan meraihnya, dia membuka pintu tersebut. Pintu terbuka dan dia melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya, lalu William mengambil alat penyiramnya tapi sebelum itu dirinya mengisi alat tersebut dengan ari terlebih dahulu. Setelah terisi penuh, dirinya membawa alat tersebut menuju tanaman bunganya. Dia menyiramnya perlahan demi perlahan.
“Jika bungamu sudah tumbuh maka akan kuberikan kepada ibuku..”
Setelah menyiram bunganya, William memutuskan untuk melihat ke arah jalan di depan rumahnya. Tidak ada orang karena dirinya bangun jam setengah enam pagi, lantas dia kembali ke dalam rumahnya untuk mempersiapkan dirinya sebelum pergi ke tempat kerjanya. William membuka pintunya dan masuk ke dalam, dia menaruh kuncinya kembali ke atas meja tempatnya berada. Sebelum itu William mengambil pakaiannya yang berada di kamarnya dan membawanya ke kamar mandi, dirinya mandi terlebih dahulu dengan suhu yang lumayan dingin.
“… Emang semua orang bisa mandi sepagi ini?”
Setelah mandi William mengambil gelas yang berada di lemarinya, dia mengambil coffe yang ada di lemari pendinginnya. Dia memanaskan coffe tersebut telebih dahulu sebelum diminum, dirinya duduk di kursi sambil melihat ke arah coffenya. Sambil menunggu coffenya panas, William mengambil roti lapisnya yang masih tersisa di lemari pendinginnya. Dia meletakkannya dekat dengan kompornya untuk memanaskannya juga sebelum dia makan, dia menunggu lagi sambil melihat ke arah makanannya dan minumannya. Setelah semuanya menjadi hangat, William mengambil makanan dan minumannya dan menaruhnya di atas meja.
“Yaa mau bagaimana.. Lebih baik nanti sepulang kerja aku mempersiapkan sarapan seperti ini lagi untuk besok hari dari pada membelinya yang sudah jadi.. Menghemat waktu dan uang bukan.. Aku tinggal beli roti dan isinya.”
William menuangkan coffenya ke dalam gelas, setelah itu dia mengambil roti lapisnya dan memakannya. Sudah tidak ada roti lapis yang tersisa di dalam lemari pendinginnya dan hanya tersisa dua yang sedang dia makan, dia makan roti lapisnya secara perlahan dan sesekali meminum coffenya.
“Memang coffe dan roti lapis yang terbaik pada pagi hari.. Kurasa tiga pas untukku.. Nanti akan aku buat tiga untuk besok.”
Setelah memakan semua roti lapisnya dan menghabiskan coffenya, dirinya siap untuk bekerja. William mencuci semua peralatannya yang dia gunakan dan mengeringkannya, dia meletakan peralatan makannya kembali ke tempat semula. Setelah itu dia berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil keperluannya, sesudah mengambil keperluanya dia berjalan ke depan pintu rumahnya. Dia membuka pintunya dan tidak lupa mengambil kuncinya, dia berjalan keluar rumah. Sebelum dia berangkat bekerja, dia mengunci pintu rumahnya tersebut.
“…Dingin…”
William berjalan meninggalkan rumahnya menuju ke tempat kerjanya, dia berjalan melewati rumah rumah tetangganya dan sampailah di depan rumah temannya. Seperti biasa ada ibu dari temannya tersebut, William menyapanya sebentar sebelum dia berjalan kembali ke tempat kerjanya. Tidak terasa dia sudah sampai di depan restoran, kali ini dia masuk lewat pintu depan karena hari ini dirinya mendapatkan tugas untuk membersihkan lantai dua.
“Hm.. Belum ada yang datang ya? Pintunya masih dikunci..”
William mengambil kunci restoran tersebut yang selalu dia bawa, dia membuka pintu depannya dan terbukalah pintu tersebut. Dia langsung masuk dan berjalan ke arah ruangan yang menyimpan alat alat pembersih, dia mengambilnya beberapa dan membawanya ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua dia terkejut karena lantai dua sudah rapi dari pada hari hari biasa, William mengeceknya sekali lagi dan sudah bersi. Dirinya bingung, lantas dia membersihkan yang masih tertinggal.
“Apakah hari ini ada pemesanan? Tapi kenapa paman Willy tidak memberi tauku?”
Setelah membersihkan lantai dua, dia kembali ke bawah sambil membawa peralatannya. William melatakan peralatannya kembali ke tempat semula, sesudah membalikan semuanya dia berjalan ke arah dapur. Dia masuk ke dapur dan melihat kak Lia yang sedang bersih bersih mejanya, William berjalan menuju ke posisinya dan menunggu orang lain datang.
“..Pagi lagi kamu ya.. Emang ada apa di depan..”
William terkejut karena kak Lia berbica kepadanya tanpa dia menoleh ke arahnya seolah olah dia tau ada dirinya di sana, dia duduk di kursinya sambil menunggu orang lain datang. Sambil menunggu para pekerja lain, dia sesekali melihat ke arah kak Lia yang sedang membersihkan mejanya. Sekali lagi dia mengajak William berbicara seolah dia tau jika dirinya sedang melihatnya, William hanya menjawab semua katanya.
“Selamat pagi..”
Seseorang berbisik kepada William dari belakangnya tanpa dia sadari, seperti biasa kak Nindy datang tanpa dirinya sadar seperti kak Lia. William tidak terkejut lagi karena sudah terbiasa seperti itu, mereka berdua berbicara sambil menunggu para pekerja lain datang. Satu jam berlalu dan semuanya sudah datang termasuk paman Willy, hari ini paman Willy turun tangan yang menandakan bahwa ada tamu yang penting.
‘Siapa ya? Aku penasaran.. Apakah aku tanya saja kepada kak Lia? Kurasa kak Lia juga tidak tau..’
Lima menit berlalu dan Restoran dibuka, orang orang masuk secara perlahan dan mengisi satu persatu meja yang ada. Pesanan mulai datang ke dapur dan paman Willy mengatur dapurnya, William mendapatkan kue seperti biasa dan kak Lia juga memerintahkannya untuk membuat lebih untu jaga jaga jika ada yang memesan lagi. Setelah semuanya selesai, paman Willy membawa makanannya beserta kak Lia untuk naik ke lantai dua. Pekerja lain masih sibuk dengan makanan yang mereka buat.
“William tolong bantu aku mempersiapkan ini..”
Kak Nindy meminta bantuan kepada William karena pekerjaannya sudah selesai, dia lalu membantunya satu persatu dan para pekerja lain juga meminta bantuannya. Dirinya membantu semua pekerja yang ada di sana sambil menunggu kembalinya kak Lia dan paman Willy, tidak begitu lama mereka berdua kembali ke dapur. Kak Lia memerintahkan semua pekerjanya untuk bekerja keras karena para pelanggan banyak yang datang.
“Yaaa.. Aku menunggu hari ini datang..”
“William.. tanganmu yang bekerja, bukan mulutmu..”
“…”
William mengatakan perkataan tersebut dengan terang terangan tanpa sadar, karena malu dia melanjutkan pekerjaannya kembali tanpa ada seseorang yang berbicara di dapur. Satu hari penuh dengan kerja keras, malam tiba dan restoran sudah tidak menerima para pelanggan lagi. Para pekerja belum boleh pulang karena masih ada beberapa pelanggan yang masih menikmati makanan mereka termasuk paman Willy yang berjaga di depan meja para pelayan, para pekerja lain menunggu jam pulang mereka sambil membersihkan meja kerja mereka.
“Aku menunggu hari ini datang.. Pfttt….”
William tiba tiba malu karena kak Nindy berbicara seperti itu di depan semua orang karena bicaranya tadi siang, semua orang tertawa sambil membersihkan meja mereka sedangkan William hanya bisa diam mematung. Paman Willy masuk ke dapur dan memberi tau kepada para pekerja untuk pulang karena sudah tidak ada pelanggan, para pekerja pulang termasuk William. Dia meletakan semuanya dan berjalan ke arah luar restoran, dirinya berhenti di depan restoran sebentar sambil menikmati udara dingin malam hari.
“… Hufff…… Aku lelah.. Aku menunggu jam ini datang… Kamu kenapa William?”
“…. Tidak ada.. Aku pulang duluan..”
William merasa malu sambil berjalan pulang ke rumahnya, sesampainya dirinya langsung masuk dan mengunci pintunya. Dia langsung mencuci kaki dan tangannya, setelah itu dia berjalan ke arah kamarnya. Dia membuka ponselnya dan melihat sekilah, ada pesan balasan yang dia kirim kemarin. Karena dia masih merasa malu, William memutuskan untuk tidur lebih awal dari biasanya.