
William hanya menurut dan duduk di kursi sambil menunggu masakannya selesai, dia melihat sekilas masakan buatannya Melody adalah bubur. Dia berdiri dan ingin mengambil air putih untuk dia minum, karena Melody ada di rumahnya maka dia mengambil satu gelas yang berada di lemari. William mengambil satu gelas lagi dan mencucinya, selesai menccuci dan mengeringkan gelas tersebut dia mengisi gelas tersebut dengan air putih dan meletakannya di meja makan untuk Melody. Dia tiba tiba teringat dengan buku yang pernah dibelinya sepulang bebrbicara pada Welody pada saat di taman dulu.
William berdiri lagi dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil buku tersbut, saat tiba di kamarnya dia mencari buku tersebut di lemarinya. Dia mengambilnya dan membawa buku tersebut kembali ke tempat duduknya, dia sampai di tempat duduknya dan sekilas Melody sedang menaruh makanan yang dimasaknya di atas piring. Dia menunggu Melody dan akhirnya selesai, Melody menaruh piring penuh dengan makanan di depan William. Banyak yang Melody taruh didepannya bahkan ada buah yang sudah dikupas olehnya.
“Makanlah.. Walaupun aku tidak tau bagaimana rasanya..” katanya.
“Lalu bagaimana denganmu? Apaka kamu belum sarapan?” tanyanya.
“Aku belum sih karena aku berniat makan di siang dan di rumah makan yang duku pernah kamu ajak aku kesana, mkananya enak dan murah.” Jawabnya.
“Huhh.. mending kamu makan aja sarapannya dan nanti siang barur pergi kesana. Kamu tidak punya energi nanti saat sedang berlatih.” Katanya.
“Eh benarkah..” katanya.
“Iya masih ada sisa kan. Makan saja… nanti siang akan kutraktir..” katanya sambil memakan makanannya.
“Ohh baiklah..” katanya sambil mengambil makanan yang tersisa dan menaruhnya di atas meja. Saat dia menaruh makannya dia melihat buku yang di taruh William tadi.
“Eh ini buka apa?.” Sambil memegang buku tersebut.
“Itu buku untukmu.. karena sudah membuatkan sarapan untuku ambil lah itu berguna untukmu.” Katanya.
“Ehh benarkah? tapi ini cuman sarapan biasa.” Jawabnya.
“Tidak apa apa.” katanya sambil mengunyah makanannya.
Melody membuka buku tersbut dan membaca isi dari buku itu, dia sangat senang karena buku yang dibacanya adalah buku masakan. Melody berterimakasih kepada William, dia mulai membacanya lagi satu persatu halaman dia buka. Karena William tidak mau makanannya Melody jadi dingin, dia menyuruh untuk menaruh buku tersebut dan mulai memakan makannya. Melody menaruh buku tersebut dan memakan makanannya, mereka makanannya secara bersama dalam satu meja. Setelah selesai memakan sarapannya, William mengambil piringnya Melody yang sudah selesai memakannya dan bergegas menucinya.
“Ahh biarkan aku yang memncucinya.” Kata Melody.
“Tidak perlu.. kamu baca aja buku itu.. keliahtannya kamu tertarik dengan buku itu.” Katanya sambil William membawa piring kotor ke tempat pencucian.
Dia mencuci piring piring kotor sedangkan melody membaca buku yang diberikannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencuci piring, William akhirnya selesai dengan piring kotornya dan meletakannya di atas meja untuk segera di keringkan dan langsung di taruh kedalam lemari kembali. Dia melirik ke Melody yang sedang membaca buku tersebut.
“Sudah selesai.. jadi kamu ingin belajar lagi atau memaca buku itu?” tanya William kepada Melody yang sedang serius membaca buku masak yang diberikan olehnya.
“Ahh maaf.. aku terlalu keasikan, hehe” jawabnya.
“Yasudah bawa aja bukunya dan kita segera berangkat ke sana.” Katanya.
Melody akhirnya membawa buku tersebut, Mereka keluar dari rumah William dan berjalan menuju ke Restoran Wiliam bekerja seperti dua hari kemarin.
“Oh karena hari ini adalah hari terkahir restoran akan di buka jadi kamu tidak bisa belajar lagi di sana.. apalagi restoran tersebut buka sampai malam dan istriahatnya tidak begitu lama.. namun jangan berkecil hari karena ada alat yang sudah tidak dipakai.. jadi kamu bisa bawa pulang.” Katanya sambil berjalan bersama Melody.
“Ehh tidak usah.. aku sudah cukup mendapat bantuan dari kamu.. jadi tidak perlu juga alatnya.” Katanya.
“Eh benaran kah? baiklah aku akan berterimakasih kepada paman Willy nanti.. tapi apakah paman Willy ada di sana?” tanyanya.
“Tidak ada kurasa, dia cukup sibuk.. mungkin besok karena restoran tersebut buka. Di sana paling ada beberapa pekerja untuk membersihkan tempatnya sbelum besok dibuka.” Jawabnya.
“Apa tidak apa apa aku kesana? apalagi di sana banyak orang.” tanyanya.
“Tidak apa apa, lagian orang di sana baik baik kok.. katanya juga kak Lia di sana.. jadi tidak ada yang berani mengganggumu di sana.. dan sekalian minta kak Lia mengajarimu caranya membuat kue yang lebih baik, kemarin kan dia mau mengajarimu.” Jawabnya.
“Ahh iya kak Lia mau mengajari katanya.” Katanya.
Mereka mengobrol tentang banyak hal termasuk kemarin saat ada di vestival, karena terlalu banyak mengobrol jadi mereka tidak tau kalau sudah samai di tempatnya. Ada beberapa pekerja yang datang dan sedang membersihkan sekeliling restoran dan di dalamnya.
“Beneran tidak apa apa William?” tanyanya.
“Tidak usah khawatir.. lagian mereka hanya membersihkan yang ada di depan dan kita ada di dapur.. kak Lia juga ada di dapur.. jadi tidak ada yang berani ke dapur.” Jawabnya dengan memastikan Melody.
Mereka berjalan melewati restoran tersebut dan mengambil jalan yang sama seperti dua hari yang lalu yaitu jalur belakang. Ketika sampai di belakang Restoran nampaknya pintu belakang sudah terbuka, William berpikiran kalau kak Lia sudah sampai duluan. Mereka masuk dan melihat nenek Widia yang sedang membersihkan piring dan gelas yang mungkin saja kotor, merek menyapanya dan berbicara kepadanya. William bertanya kepada nenek Widia di mana kak Lia.
“Nak Lia ada urusan jadinya dia pergi sebentar dan dia titip pesan kepada kalian untuk belajar sendiri terlebih dahulu dan nanti dia yang akan menilai.. alat alatnya juga sudah disiapkan tadi.” Katanya.
Karena sudah mendapat tugas dari kak Lia, mereka meninggalkan nenek Widia dan mulai berlatih dengan membuat kue yang mudah terlebih dahulu. Melody membuka buku catatannya sedangkan William mengambil semua bahan yang dibutuhkan.
“Ini bahannya.. jadi kita mau belajar apa hari ini?” Tanyanya.
“Hmm apa yaa.. aku juga bingung. Bagaimana dengan resep yang ada di buku masak tadi?.” Tanyanya.
“Oh iya bukunya.” Katanya.
Melody membuka buku tersebut dan melihat lihat, dia membuka bagian kue di bagian belakang dan ada banyak menu yang bisa dibuat. Melody yang sedang melihat seketika kak Lia datang dari belakang mereka.
“Wah kalian sudah sampai yaa. Dari kapan?” tanyanya.
“Ah kak Lia.. baru aja.” Jawab mereka berdua.
“Lalu Melody.. Kelihatannya tadi kamu sedang seirus.. kamu sedang melihat apa?” tannyanya.
“Ini kak buku memasak..” jawabnya.
Kak Lia meminjam buku tersebu dan melihat isinya, dia melihat sekilas dan mengembalikan buku tersebut kepada Melody. Dia memberitau mereka berdua tentang persiapan pembelajaran mereka. Lima menit berlalu dan mereka berdua selesai dengan berbagai persiapan, kak Lia menjelaskan kepada Melody sedangkan William menerima perintah dari kak Lia untuk membuat kue sendirian tanpa ada yang membantunya.
Tiba tiba William mendapat pesan, dia membuka ponselnya dan membaca pesan tersebut. Pesan dari paman Willy menyuruh William untuk menemuinya, dia meminta ijin kepada kak Lia untuk meninggalkan mereka berdua sebentar.
“Oh iya kak.. aku ada urusan dengan paman Willy.. jadi aku pergi sebentar... Aku akan kemabali nanti.” Katanya.