The Noble

The Noble
Episode 48



William kembali ke ruang depan sambil membawa mainan yang dia janjikan kepada Nia untuk dimainkan, dia lalu menaruhnya di atas meja. Setelah menaruh maianan tersebut, William bergegas ke dapur untuk mengambil dua gelas air putih dan dibawanya ke ruang depan. Dirinya menaruh gelas tersebut di atas meja di samping mainan yang dibawanya.


“Sudah.. Apa Nia siap?”


“Wah.. Siap kak..”


“Oke kalau begitu, sambil menunggu panggilan Melody kita memainkan ini terlebih dahulu.. Kamu pasti bisa memainkannya kan?”


“..Eee.. Akan Nia coba.”


Mereka duduk di sofa dan mulai mempersiapkan mainan tersebut, mereka menaruh semua peralatannya dan siap untuk memainkannya. William menjalankan permain tersebut, mereka bermain bersama dan saling bergantian. Mereka berdua bersenang senang bersama sambil menunggu panggilan dari Melody, Nia tampak senang dan marah karena kesal kalah terus terhadap William. William juga tidak bisa mengalah ke Nia karena kemauan Nia sendiri.


‘Mungkin aku akan sengaja mengalah.. Tapi mungkin juga Nia akan sadar.. Ah.. Aku akan mengalah dengan pura pura mendapat panggilan dan menjalankannya dengan salah..'


“Begitu ya.. Hm.. Kalau begitu ini akan kujalan.. Eh sebentar, kayaknya ada suara tadi..”


William menoleh ke arah ponselnya sambil menjalankan permainannya, Nia tanpa sadar juga ikut menoleh. Setelah William melihat ponselnya dan tidak ada apapun melanjutkan permainan mereka, sesuai dengan rencana William. Pergerakannya membuatnya mengalami banyak masalah dan Nia bisa bebas melakukan apapun, namun hasil akhir William yang menang juga.


“… Kak William menang terus..”


“Aaa.. Ya begitulah.”


“Apa karena kak William sudah dewasa? Nia ingin cepat dewasa juga..”


“Bukan dewasa atau apapun itu.. Masalahnya otak kita lebih banyak bekerja kita melakukan apa yang kita sukai, contohnya permainan.. Dan dewasa tidak selamanya enak.. Suatu saat Nia akan merasakan beratnya menjadi dewasa..”


“Hm.. Aku hanya ingin cepat dewasa agar bisa membantu kak Lia.. Nia kasihan kepada kak Lia..”


“Begitu ya.. Cepat tumbuh ya..”


“Ayo main lagi kak..”


Mereka melanjutkan permainan mereka, tanpa sadar mereka sudah bermain sampai jam sembilan malam. Ponsel William berdering dan dirinya bergegas mengambil ponselnya, dia mendapat panggilan dari Melody dan langsung mengangkatnya.


“Halo..”


“Iya Melody..”


“Persiapannya sudah selesai.. Kamu bisa ke sini.. Aku ingin merayakannya nanti tengah malam tapi Nia ada jadi jam segini saja.. Aku akan menunggumu di depan rumahku..”


“Oke.. Aku dan Nia akan ke sana sekarang..”


William menutup panggilan tersebut dan menyuruh Nia untuk bersiap siap. Mereka berhenti bermain dan berdiri dari tempat duduk mereka, William mengambil keperluannya dan kembali lagi ke ruangan depan. Setelah semuanya selesai dan melihat Nia sudah bersiap siap, William mengajak Nia keluar dari rumah. Mereka mengunci pintunya dan langsung berjalan ke arah rumahnya Melody, suhu di luar waktu tersebut sangat dingin. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk tidak kedinginan, William juga menggandeng tangan Nia agar tangannya tidak kedinginan. Mereka berjalan bersama dan mereka sampai di depan rumahnya Melody, Melody sudah berdiri di depan pintu menunggu kedatangan mereka.


“William.. Ke sini.. Nia juga..”


“Oke..”


William dan Nia mendekat ke arah Melody berada, mereka berjalan berhati hati tanpa harus membuat banyak suara.


“Apa kalian sudah siap? Aku bilang aku akan keluar sebentar untuk menghirup udara.. Ibu ada di dapur, jadi kalian masuk dan tunggu saja di dalam.. Nanti aku akan membuat alasan ada tamu di rumah.. Ayo masuk..”


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan Melody menyuruh mereka berdua untuk duduk terlebih dahulu sedangkan Melody menghampiri ibunya. Meody berbicara kepada ibunya kalau ada tamu di rumahnya dan ingin bertemu dengan ibunya, ibunya Melody langsung berhenti melakukan kegiatannya dan berjalan menuju ke ruangan depan. Sedangkan Melody sembunyi sembunyi mengambil kue ulang tahunnya dan membawanya ke ruangan depan.


“Eh.. Nak William dan Nia.. Ada apa malam malam ke sini? Aku kira tamunya siapa..”


“Halo tante.. Selamat malam.. Nia salam juga kepada tante.. Kita ke sini karena disuruh Melody..”


Saat ibunya Melody akan pergi untuk memanggilkan Melody, dari belakang Melody berjalan mendekat sambil membawa kuenya dan mengejutkan ibunya dari belakang.


“Selamat ulang tahun ibu.. Sebenarnya aku ingin merayakannya besok, tapi sekarang saja.. Hehe..”


“Selamat ulang tahun tante..”


“Selamat ulang tahun tante.. Wah kue yang tadi..”


“Eeehhh.. Ibu terkejut loh, ibu kira ada apa.. Kenapa juga kamu beli kue?”


“Ah.. Tenang saja tante.. Tadi siang Melody yang membuatnya..”


“Oh.. Jadi kalian pergi tadi ya..”


“Iya ibu.. Hehehe.. Tiup dulu lilinnya..”


Ibunya Melody meniup lilin yang ada di atas kuenya dan langsung berdoa, mereka bertiga juga ikut berdoa dan setelah itu ibunya Melody mengambil kue tersebut dan menaruhnya di atas meja. Ibunya Melody menyuruh mereka bertiga untuk duduk terlebih dahulu sembari dirinya pergi mengambil pisau untuk membagi kue tersebut. Mereka berdua langsug melihat ke arah Nia yang dari tadi memandangi kue tersebut.


“Kamu lapar atau ingin memakan kue itu..”


“Hehe.. Maaf kak William.. Kuenya terlihat enak..”


“Jika Candy suka manisan kayaknya kamu suka kue.. Sepertinya kita mendapatkan teman yang aneh lagi Melody..”


“Kurasa tidak apa apa.. Pasti Nia juga ingin makan kuenya juga, aku juga sih..”


“Kita tunggu tante saja..”


Ibunya Melody kembali ke tempat mereka sambil membawa beberapa piring dan pisau, setelah itu dia menaruh piringnya di depan semua orang dan mulai memotong kuenya. Ibunya Melody membaginya secara rata dan menaruh kuenya di atas piring yang tadi dia bawa, setelah itu dia menyuruh semua orang untuk memakan kue tersebut bersama sama. Nia langsung mengambil kuenya dan memakan kue tersebut, mereka bertiga tertawa karena tingkah laku Nia.


“Pelan pelan saja Nia.. Kalau kurang ambil saja punya kak William..”


“Sepertinya nak Nia suka kue ya..”


“Hehe..”


Mereka melanjutkan memakan kue tersebut satu persatu dan William hanya memakan satu potong kue karena potongan kue lain dia berikan kepada Nia, setelah itu mereka saling bercerita satu sama lain. Jam sepuluh dan mereka selesai dengan pembicaraan mereka, William ingin mengajak Nia pulang ke rumahnya karena sudah malam dan suhunya juga akan merendah. William bilang kepada Melody dan ibunya untuk pulang sekarang, mereka berdua mengantar William dan Nia ke luar rumah. Sebelum William pulang, dirinya mengeluarkan kue buatannya yang dibuat tadi siang secara rahasia. Dia memberikan kue tersebut kepada ibunya Melody.


“Ini untuk tante..”


“Wah kue lagi.. Ini buatan nak William?”


“Iya tante..”


“Kapan kamu membuatnya William?”


“Tadi siang.. Cuman aku merahasiakannya.”


“Pantas aku merasa aneh tadi siang.. Aku mencium bau kue dan aku mengiranya bau dari kueku..”


“Haha.. Kalau begitu saya pulang duluan tante, Melody juga.. Selamat malam..”


“Malam William”


William dan Nia berjalan menuju rumahnya William, sesampainya di rumah mereka lansung duduk di sofa dan membicarakan tentang apa yang terjadi di rumahnya Melody. Namun lama kelamaan Nia mengantuk dan dia inign tidur bersama William, William membawanya ke kamarnya dan tidur bersama untuk malam tersebut.