
❏ #The Noble
↳ Hari perlombaan #8
Tidak lama para pelanggan mulai berdatangan, satu persatu pelanggan mendapat makanannya dan Melody ikut membantu ibunya. Sedangkan William memakan makan siangnya, setelah itu dia ikut membantu ibunya Melody melayani para pelanggan. Tidak butuh waktu lama dan para pelanggan mulai menghilang dari tempat tersebut, seperti biasa dia memberikan uang makannya kepada Melody secara diam diam.
“Tante.. Saya pulang dulu..”
“Oh iya hati hati nak..”
“Pulang dulu Melody.”
“Istirahat lah..”
William selesai dengan urusannya di sana, setelah itu dia berjalan pulang menuju ke rumahnya. Namun saat di tengah perjalanan dia berhenti terlebih dahulu di sebuah toko dan membeli air minum, dia minum terlebih dahulu karena lelah berjalan sejauh itu dari kampus menuju ke rumahnya. Dia melanjutkan perjalanannya menuju ke rumahnya, setelah sampai di langsung masuk ke dalam rumahnya dan beristirahat.
Dia bangun jam dua belas dan bersiap siap untuk berangkat bekerja, karena merasa lelah William memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mandi dia melihat jamnya sudah menunjukan pukul dua belas lewat tiga puluh menit, dia langsung saja memakai sepatunya dan keluar dari rumah. Karena tiidak mau terlambat dia langsung berlari namun sebelum itu dirinya mengunci pintu rumahnya, karena berlari dia sampai di sana lebih awal dan bias bersiap siap.
Sesampainya di sana dia melihat ada beberapa pekerja yang sedang bersih bersih di luar restoran, William pergi lewat pintu belakang karena tidak mau mengganggu para pekerja di sana. Dia lewat jalan belakang dengan hati hati karena banyak kardus di sana yang tersusun rapi entah dari mana, setelah berhati hati dia sampai di pintu belakang dan masuk ke dalam dapur. William sampai di dalam dan melihat banyak pekerja yang sedang beristirahat sambil makan siang, ada beberapa juga yang sedang berbicara satu sama lainnya.
William mengganti pakaiannya dan pergi menuju ke posisinya, setelah itu dia menunggu jam istirahatnya selesai. Namun karena masih lama dia mulai bosan dengan menunggu, tapi tidak banyak yang bisa dilakukannya untuk menunggu waktu.
“Baru datang?”
“Iya kak..”
“Bagaimana kuliahmu hari ini?”
“Baik baik aja kak..”
“Hari ini masih lomba bukan? Kamu ikut?”
“Tidak kak.. Aku cuman lihat.. Lelah jika ikut..”
“Baguslah kalau begitu dan kerja sana..”
Jam istirahat selesai dan para pekerja kembali ke tempat masing masingnya, paman Willy membuka restorannya para pelanggan mulai masuk ke dalam. Semua bekerja kembali sampai sore hari, saat sore hari pesanan mulai menurun. Tidak banyak orang yang datang ke sana karena restoran tersebut tidak buka sampai malam sekali, hanya orang orang yang banyak memesan makanan bisa sanggup duduk di sana sampai restoran itu tutup.
Tiba tiba datang seseorang dari belakang dan memeluk William saat dia sedang beristirahat sejenak sambil minum air, dia langsung saja menoleh ke arah seseorang tersebut. Ternyata yang memeluknya ada Nia adik dari kak Lia, dia datang ke sini karena merasa bosan di rumah. Mereka merasa senang kembali karena sudah lama tidak bertemu, namun kak Lia langsung menegurnya untuk kembali bekerja dan sementara itu kak Lia menyuruh Nia untuk bermain di lantai atas terlebih dahulu.
Jam sudah menunjukan jam tujuh malam dan para pelanggan sudah pulang, restoran sudah bisa di tutup dan para pekerja mulai bersih bersih. Setelah itu mereka pulang ke rumahnya termasuk William juga, namun kak Lia mencegahnya dan menyuruhnya untuk naik ke atas karena masih ada beberapa hal yang ingin dibahas bersamanya.
“Sudah duduk di sini.. Nia juga duduk di sini..”
“Ada apa ya kak?”
“Banyak yang harus kita bahas.. Karena paman Willy sudah mendapatkan beberapa kandidat pekerja baru jadi kita tinggal bahas yang lainnya dan paman Willy menyerahkannya kepadaku.. Kamu bantu juga..”
“Apa saja kak.. Nia mau permen?”
“Mau..”
“Soal menu.. Sisanya sudah aku urus sih, aku sudah lihat berkasmu.. Apa itu bisa terjual banyak?”
“.. Kalau aku lihat di cafénya Candy terjual banyak kak, pertanyaanku apakah banyak anak muda di daerah sini?”
“Aku lihat banyak.. Tapi apa mereka mau ke sini itu kita harus promosi…”
Pembahasan mereka cukup panjang dan paman Willy naik ke atas untuk menemui mereka, dia duduk dan ikut membahasnya bersama mereka. Dia kenal banyak anak muda di daerah tersebut dan bisa saja meminta bantuan kepada mereka jika mau, namun dia masih agak ragu dengan para pekerja barunya dan ingin menyiapkan pengganti jika ada yang lebih baik. Paman Willy ingin meminta pendapat dari William untuk para pekerja baru, dia meminta daftar para pekerja baru dari paman Willy dan membacanya.
“Bagaimana dengan Melody? Kurasa dia bisa bekerja di sini dan bagus juga untuknya..”
“Melody ya? Bagus juga saranmu..”
“Bagaimana dengan paman?”
“Nak Melody pintar juga kalau paman lihat.. Tapi apa dia mau?”
“Nanti aku tanyakan, kalau begitu aku bawa daftarnya pulang ya paman.. Mau aku baca lebih jauh di rumah..”
“Bawa saja..”
“Nia.. Aku pulang dulu ya.. Kak Lia juga..”
“Hati hati kak William!!!”
William pergi ke bawah untuk mengganti pakaiannya dan setelah itu keluar dari restoran, dia berjalan pulang menuju ke rumahnya dan saat melewati rumahnya Melody dia berhenti sebentar. Tapi saat itu tidak ada orang di depan rumahnya, dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada temannya. Melody langsung keluar rumah saat menerima pesan dari William dan langsung menemuinya.
“Ada apa William?”
“Oh itu.. Ada café baru kan di tempat kerjaku dan itu sudah jadi.. Tinggal mencari pekerjanya, nah kamu mau tidak bekerja di sana kalau sedang butuh pekerjaan?”
“Eh? Beneran? Aku mau.. Tapi harus minta ijin dulu
kepada ibu..”
“Pergilah kalau mau.. Ibu tidak apa apa..”
“Eh ibu?”
“Malam tante..”
“Malam nak William.. Jadi ada tempat baru ya..”
“Iya tante.. Cafenya di buka di jam yang sama dengan restoran namun tutupnya jam sepuluh malam, sedangkan restoran di bawahnya tetap tutup jam tujuh malam.. Jadi kami sedang butuh pekerja baru untuk berada di café dari pagi sampai malam, tapi akan kami bagi dua grup pekerja.. Kami mencari yang ahli dan saya lihat Melody bisa bekerja di café tersebut..”
“Bagaimana Melody? Mau?”
“Kalau ibu..”
“Ibu tidak apa apa.. Itu terserah kamu.. Tempatnya kan ibu juga tahu di mana, jadi ibu tidak usah khawatir lagi.. Nak William juga di sana jadi ibu bisa titip kamu ke dia hehehe.. Iya kan nak William.”
“Ih ibu..”
“Apa nak William juga bekerja di café? Pagi harus kuliah bukan?”
“Saya inginnya juga pindah ke café, cuman tidak boleh hehe.. Tapi saya tetap membantu di café setelah restoran tutup..”
“Kamu bekerja keras ya..”
─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─