
❏ #The Noble
↳ Pengenalan kampus #5
William menaruh ponselnya di meja dan tidak lupa untuk mengatur alarmnya, dia ingin besok hari bangun pagi dan melakukan olah raga sebentar agar staminanya tidak terlalu lemah. Dia langsung tidur terlelap setelah menaruh ponselnya, tiba tiba dirinya bangun dan melihat ke arah ruangannya. William melihat ibunya berada di kamarnya dan sedang merapikan bajunya, lantas dia memanggil ibunya.
“Ibu?”
“Iya nak? Udah bangun..”
“Ini beneran ibu?”
“Ibumu kan cuman satu, apa kamu belum sadar dari
tidur? Cuci muka dulu..”
Dia bangun dari kasurnya, setelah itu dirinya keluar dari kamar dan melihat jalan yang berbeda. William melihat kalau rumah yang dia rasakan sekarang adalah rumahnya dulu, dia masih ingat dengan tata letaknya dan menuju ke depan untuk melihat hal yang lainnya.
“Udah bangun nak? Sini sarapan sama ayah..”
“Ayah? Ini beneran ayah?”
“Kamu baru bangun? Iya ini ayah.. Apa ayah sudah terlihat tua sehingga kamu melupakan ayah? Bagaimana dengan ibu?”
“Sama yah, William bangun juga menanyakan kalau aku ibunya.. Kurasa kita sudah semakin tua..”
“Hahaha, kenyataan ya.. Tapi tidak apa apa, dia masih ingat dengan orang tuanya..”
“Ini beneran?”
Tiba tiba ada suara yang berbunyi entah dari mana, pandagan William tiba tiba menghitam dan dia langsung bangun dari tidurnya. Dia melihat ke sekitar ruangannya dan yang dirinya lihat adalah kamarnya, William menghela nafas karena dirinya mimpi tentang orang tuanya. Dia langsung mematikan alarm ponselnya dan bangun dari kasurnya, dirinya berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang depan. Dia melihat rumahnya yang sekarang dan tidak ada orang tuanya sama sekali, dirinya memutuskan untuk mencuci mukanya terlebih dahulu.
“Mimpi lagi.. Ibu dan ayah..”
Setelah mencuci muka William berjalan ke arah pintu rumahnya, dia membuka pintunya dan berjalan keluar. Saat diluar dia melihat bahwa diluar sedang hujan, dia tidak sadar karena terlalu memikirkan mimpinya. William ingin berolah raga pagi hari ini namun karena hujan dirinya hanya melihat turunnya hujan dari depan pintu rumahnya, dia melihat ke arah bunganya dan ternyata sudah mekar.
“Sudah mekar, apa mimpi semalam pertanda untukku.. Baguslah kalau begitu, akan kupetik dan kutaruh di makam ibu dan ayah…”
Setelah beberapa menit memandang hujan dirinya merasa bosan, William memutuskan untuk masuk ke rumahnya dan berolah raga saja di dalam. Dia mencari tempat yang pas dan setelah itu dia melakukan olah raga yang bisa dilakukannya di dalam rumahnya, tidak butuh waktu yang banyak karena olah raga yang bisa dipilih hanya sedikir. Setelah itu dia mengambil air minum di dapurnya dan meletakannya di atas meja.
“Aku lupa membawa ponselku..”
William berjalan ke kamarnya dan mengambil ponselnya, setelah itu dia membawa ponselnya ke depan dan sekaligus membawa air minumnya ke ruangan depan. Dirinya duduk di sofanya dan sambil meminum airnya, setelah menaruh gelas William membuka ponselnya dan melihatnya. Tidak banyak pesan yang masuk ke ponselnya selain laporan harian dari paman Willy untuknya dan harus dia kerjakan, setelah membacanya dia langsung mengurus laporannya.
“Semakin mengurang.. Apa paman Willy membaginya karena aku sudah tidak bisa datang pagi lagi?..”
Laporannya sudah William kerjakan sampai selesai, setelah itu dia membaca pesan yang lainnya yang masuk ke ponselnya. Hanya ada pesan dari grup teman sekolahnya saja yang masih ada, lantas dia membukanya dan membacanya satu persatu. Teman temannya ternyata membahas tentang liburan mereka dan kampus mana yang mereka masuki, William tidak mau mengungkapkan di mana kampusnya berada dan namanya.
“Candy.. Oh iya kemarin aku kan ingin memberitahu dia.. Candy, tolong jangan kirim fotoku lagi ke grup.. Jika maih akan aku kasih cabai di dalam kuemu nanti..”
Tidak ada yang bisa dia kerjakan lagi dan William memutuskan untuk menanyakan sesuatu kepada kak Dea tentang kampusnya, setelah mengirim pesan kepada kak Dea dia mendapatkan pesan dari temannya.
“Melody.. Hm, kamu ingin berangkat bersama lagi.. Baiklah, tunggu hujannya selesai dulu kalau begitu.. Ini masih jam enam..”
“Oh pesannya kak Dea dibalas..”
“Ada banyak acara nanti, jangan terlambat.. Acaranya ada di kelas masing masing, kamu sudah tahu kan di mana kelasmu? Nanti langsung saja masuk ke kelas dan duduk, para seniormu nanti akan ke sana dan memberi arahan.. Kasih tahu kepada temanmu juga.. Udah itu aja, yang lainnya kamu tunggu saja nanti.. Kalau mau aku bocorkan, traktir aku di restoran tempatmu bekerja.. Hehe..”
William selesai dengan pesannya, dia mendengar hujan sudah mulai berhenti. Dia bangun dari sofanya dan berjalan ke arah pintu rumahnya, dia keluar dari rumah dan melihat kalau sekarang gerimis dan sudah bukan hujan lagi.
Dia melihat ke langit dan sudah tidak terlalu hitam lagi, dia masuk ke dalam rumahnya lagi dan bersiap siap untuk berangkat ke kampusnya. Karena belum sarapan dia membuat sarapannya terlebih dahulu, setelah itu William makan dan mandi. Selesai mandi dan berpakaian dia meliahat ke arah jam.
“Sudah jam tujuh.. Di mana ponselku, oh itu..”
William mengambil ponselnya dan melihatnya, dia mendapat pesan dari temannya yang sudah ada di depan rumahnya. Dia langsung pergi ke kamarnya dan mengambil tasnya, tidak lupa untuk memakai sepatunya. Setelah itu dia keluar dari rumah dan melihat temannya yang berada di depan rumahnya sambil memakai payung, William sekali lagi melihat ke arah langit dan ternyata masih gerimis.
Dia masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil payungnya, dirinya keluar dari rumah dan setelah itu membuka payungnya. Dia memakai payungnya sambil berjalan ke arah Melody berada.
“Apa tidak apa apa gerimis seperti ini? Atau kamu mau menunggu dulu..”
“Tidak apa apa..”
“Aku lihat kamu sudah persiapan ya, memakai pakaian hangat dan beberapa hal lainnya.”
“Iya, aku mengecek ramalan cuaca tadi.. Kalau begitu ayo kita berangkat.”
William lupa mengunci pintunya, dia berjalan kembali ke arah pintu rumahnya dan menguncinya. Setelah itu dia berjalan kembali ke tempat temannya, mereka berjalan bersama menuju ke jalan raya. Mereka banyak membicarakan sesuatu selama perjalanan mereka, tidak luput juga dari grup obrolan mereka dan Melody membahas fotonya yang dikirim Candy.
Mereka bercanda satu sama lain tentang yang dibahas di grup mereka, tidak lama mereka berbicara akhirnya sampai di jalan raya.
“Banyak airnya, kurasa belum sepenuhnya surut.. Apa tadi malam hujan deras?”
“Aku tidak tahu.. Aku tidur terlelap tadi malam..”
“Aku juga…”
“Kamu tidak apa apa?”
“Oh.. Tidak apa apa, kita lanjutkan saja.. Hati hati..”
Dia mengajak Melody untuk melanjutkan perjalanan, mereka berdua berhati hati dalam melangkah karena jalannya masih banyak genangan air karena hujan deras. Kadang William meraih tangan Melody untuk menariknya agar tidak berjalan di jalan yang terkena genangan air, setalah perjalanan menantang tersebut mereka sampai di depan kampus.
Mereka masuk ke dalam dan melihat banyak orang juga yang berkumpul dan memakai payung di sana, banyak orang melihat ke papan pengumuman. Bagusnya adalah papan pengumuman lebar dan bisa dilihat banyak orang.
“Ayo kita lihat juga William..”
“Tidak usah, kak Dea bilang kita harus ke kelas dan menunggu.. Sisanya akan dijelaskan oleh senior, apalagi kak Dea minta traktir di restoran tempat kerjaku jika ingin informasi yang lebih lengkap..”
“Begitu ya.. Hm, memang enak sih makanan di restoran tempat kerjamu.. Aku ingin makan di sana lagi..”
“Kalau begitu datang saja..”
“Eh, aku tidak punya banyak uang..”
“Kalau mau datang saja di jam makan siang.. Kak Lia memasak untuk para pekerja biasanya atau cuman untuk beberapa orang, nanti aku bilang untukmu juga..”
“Tidak usah, lain kali saja aku mengajak ibuku lagi..”
“Kalau begitu kita ke kelas saja dan membahasnya di sana..”
─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─