The Noble

The Noble
Episode 38



William mendengar suara seseorang dari kuping kirinya, dia bangun dari tidurnya dan melihat suara siapa yang memanggilnya tersebut. Nia berbisik kepada William namun dirinya terbangun oleh bisikan tersebut, dia langsung bangun dari sofa dan menanyakan jam kepada Nia.


Jam lima pagi Nia bangun dari tidurnya dan langsung membangunkan William, Nia bercerita kalau dirinyalah yang membangunkan kakaknya setiap hari. Kak Lia selalu tidur malam dan karena tidur malam tersebut membuatnya susah bangun di pagi hari, jadi dia meminta Nia untuk membangunkannya.


“… Ada apa Nia?...”


“Tidak apa apa kak… Aku kira kak William bangun jam segini..”


“… Biasanya sih jam segini.. Karna hari ini hari libur makanya aku mau tidur lebih lama.. Kalau Nia tidak membutuhkan apa apa, tonton saja televisinya.. Aku mau lanjut tidur.. Bangunkan jika butuh sesuatu..”


“Baik kak..”


William pergi ke sofa yang berada di sebelahnya dan melanjutkan tidunya, sedangkan Nia menyalakan televisi dan menyaksikan apa yang ada di dalamnya. Sekali lagi suara Nia membangunkannya, Nia membangunkan William untuk bersiap siap.


“… H..mm…. Kamu butuh sesuatu..”


“Ini sudah jam tujuh kak… Apa kakak tidak ada kegiatan lain?”


“… Jam tujuh?... Baiklah aku bangun… Mari kita sarapan.. Kamu pasti lapar..”


“Hehe..”


William bangun dari sofa dan langsung berjalan ke arah kamar mandi, dia ingin mencuci mukanya terlebih dahulu agar tidak mengantuk lagi. Setelah itu dia berjalan ke arah dapurnya dan membuka lemari pendinginnya, karena tidak tau makanan apa yang disukai oleh Nia maka dia bertanya kepadanya.


“Kamu mau sarapan apa Nia?”


“.. Hm.. Apa ya.. Aku mau roti lapis..”


“… Kakak sama adik ternyata sama ya.. Jangan jangan kamu juga terlahir sebagai ninja?”


“Ninja?”


“Ah bukan apa apa..”


‘Bagaimana Nia tau kalau aku punya bahan bahan roti lapis.. Apa kak Lia mengajarkan tekniknya kepadanya’


William mengambil roti dan isi yang dia beli, dia menaruh semua bahan yang dia inginkan termasuk punyanya Nia. Setelah selesai membuat roti lapis, William memberikan dua buah roti lapis tersebut kepada Nia yang masih menonton televisi. Dia juga ikut membawa roti lapisnya dan memakannya bersama Nia sambil menonton teleisi, mereka perlahan memakan roti lapisnya dan kedua orang tersebut tidak sadar bahwa roti lapis mereka sudah habis. Mereka saling bertatapan.


“… Pfttt… Kenapa kamu tertawa..”


“Kak William juga kenapa tertawa.. Hahaha..”


“Hahaha.. Kalau sudah selesai Nia mau melakukan apa di pagi hari kalau hari libur?”


“Hm… Kemungkinan aku akan main sama teman teman.. Tapi karena di sini cuman ada kak William makan aku akan bermain sama kak William saja..”


William bangun dari tempat duduknya sambil membawa dua piring kotornya, dia membawanya ke tempat cuci piring. Saat sampai di sana dia melihat banyak piring kotor yanng belum di cuci dari makan malam semalam. William memutuskan untuk mencuci semua piring kotornya, setelah itu dia meletakan kembali piring tersebut ke lemari. Saat dia membuka lemari, dia melihat ada sebuah gelas yang berbeda, lantas dia mengambilnya.


“Ini.. Dari siapa.. Aku lupa.. Mungkin akan aku kasih ke Nia saja.. Dia bakal menyukainya.”


Setelah selesai dengan piringnya, William berjalan menuju sofa untuk mengambil ponselnya. Nia masih menonton televisi jadi dia tidak mau mengganggunya, William mengambil ponselnya dan membuka ponsel tersebut untuk mengirim pesan kepada seseorang. Saat dia ingin mengirim pesan, dia melihat ada banyak pesan yang masuk ke pesannya. Dia membukanya satu persatu dan membalasnya, setelah itu dia ingin mengirim pesan kepada paman Willy untuk masalah pekerjaannya namun dia menerima pesan terlebih dahulu dari paman Willy tentang pekerjaannya.


“Kamu menjaga Nia bukan? Maka pekerjaanmu akan paman kerjakan atau paman berikan kepada orang lain.. Jadi bersenang senanglah.. Jangan lupa barang yang ingin paman berikan kemarin belum kamu ambil.. Ambilah nanti siang.”


William teringat tentang barang yang ingin paman berikan kepadanya kemarin, dia lupa karena terlalu sibuk memikirkan cara menjaga Nia. Dia memutuskan untuk mengambil barangnya nanti siang, dia juga ingin mengajak Nia ke sana. Setelah itu dia kembali duduk di sofa sambil menonton televisi bersama Nia, berjam jam mereka lewati dan jam sudah menunjukan pukul sepuluh. Nia selesai dengan menonton televisinya dan berbisik kepada William.


“Kak hari ini kita mau melakukan apa?”


“Kakak mau ke tempat kerja untuk mengambil sesuatu, kamu mau ikut?”


“Tempat kerjanya kak Lia ya.. Mau..”


“Oke.. Mari berangkat..”


Mereka bersiap siap untuk berangkat ke tempat kerjanya William, setelah selesai bersiap siap mereka langsung berjalan keluar rumah. Tidak lupa untuk mengunci pintu terlebih dahulu, setelah itu mereka langsung berjalan ke arah tempat kerjanya William. Mereka saling bercanda di perjalan dan membuat mereka tidak sadar kalau tempat tujuan mereka sudah di depan mata, Restoran masih buka dan ada banyak pelanggan yang datang ke sana. William bingung karena dia ke sana di waktu restoran masih sibuk sibuknya, dia memutuskan untuk mengambil jalan belakang dan menunggu restoran tutup di rumah tunggu.


“Ayo Nia kita lewat belakang.. Restoran masih ramai.. Nanti saja menunggu istirahat..”


“Baik kak..”


Mereka berjalan ke arah belakang restoran, mereka sampai dan tempat tunggunya kosong tidak ada siapa pun. William menyuruh Nia untuk menunggu di rumah tersebut, sementara dia masuk ke dalam restoran. William merasa gugup karena dirinya masuk ke tempat kerja dan tidak bekerja di waktu tersebut, namun tidak ada satu orang pun yang sadar kalau dirinya sudah berada di dapur.


Para pekerja sangat fokus untuk pekerjaan mereka sendiri tanpa terganggu dengan orang lain ataupun sekitar, dia langsung berjalan menuju ke ruangannya paman Willy untuk menemuinya. Saat sudah berada di depan ruangannya, dia membuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Tidak ada satu pun orang di dalamnya, namun ada sebuah surat di atas mejanya paman Willy. Dia melihatnya dan ada nama William di atasnya, dia membuka surat tersebut.


“Paman mungkin masih bekerja, jadi ambilah barangnya.. Itu di lemari.”


William langsung mencari barangnya yang berada di lemari, dia melihatnya dan langsung membuka lemari tersebut. Ada sebuah kardus di dalamnya, dia membawanya keluar dari ruangan dan berjalan ke arah dapur lagi. Sekali lagi tidak ada yang sadar dengan keberadaannya William lagi bahkan kali ini dia membawa sebuah kotak kardus yang ukurannya lumayan, dia membawa kardus tersebut keluar dari restoran dan membawanya ke rumah tunggu di mana Nia menunggu.


Sesampainya di sana, dia melihat Nia bermain dengan mainan yang ada di rumah tunggu yang memang di sediakan oleh paman Willy jika ada tamu yang membawa anaknya, William memanggil Nia untuk mendekat.


“Iya kak.. Aku datang..”


“Ayo pulang..”


“Baik kak William.. Tapi apa yang kakak bawa?”


“Entahlah.. Paman Willy yang memberikannya.. Nanti kita buka di rumah saja..”


“Oke kak..”