The Noble

The Noble
Episode 20



William langsung meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju ke mini market untuk membeli bahan yang kemarin dia beli, karena tidak mau membuat para pelanggan menunggu dia memutuskan untuk berlari ke sana. Sesampainya di sana dia langsung mengambil bahan bahan yang di butuhkannya dan langsung membayarnya di kasir, dia langsung berlari kembali ke restoran untuk membuat kuenya. Sampailah di restoran dengan nafas yang belum stabil, dia melihat dapur yang masih sibuk sedang menyiapkan makanan untuk para pelanggan. Dia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum kembali ketempatnya, setelah itu dia membawa bahannya ke atas mejanya, dia mengeluarkan bahan bahannya dan berjalan mengambil alat alat yang dibutuhkannya. Dia kembali ke mejanya dan mulai membuat makanan dari pesanan para pelanggan, dia mulai mencampur dan mengaduk adonannya. Setelah itu dia menaruhnya di oven dan langsung membuat tambahan kue tersebut, dia sangat fokus tanpa memikirkan sekelilingnya. Setelah selesai William langsung mengeluarkan kuenya dan menaruhnya di atas meja, lalu dia mulai menambahkan bahan bahan tambahan untuk kue tersebut. Kue yang sedang dibuatnya memiliki dua lapis, karena dia tidak mau membuang bahan bahannya yang belum tentu enak makanya dia hanya membuat dua lapis. Selesai dengan kuenya dia memberika sedikit kuenya kepada kak Lia, kak Lia yang melihat William memberikan contoh kuenya mengambilnya. Dia mencicipi kuenya dan terkejut karena rasa kuenya berbeda dengan yang kemarin.


“Sepertinya kamu bisa naik level yaa..” katanya.


“Maksudnya?” tanyanya.


“Tidak ada.. bawa ke depan.. oh iya masih ada sisanya kan?” tanyanya.


“Ah iyaa.. eh ada di mejaku ada satu.. aku membuat tiga tadi..” jawabnya.


William kembali ke mejanya dan memotong kuenya, karena tamu yang memesan tempat di atas lumayan banyak makanya dia membuat tiga kue yang sama. Dua untuk para pemesan dan satu untuk dirinya, selesai memotong sesuai pesanan dia membawanya ke depan dan memberikannya kepada pelayan untuk di antarkan ke para tamu yang di atas. Selesai dengan mengantarkannya dia kembali ketempatnya, sesampainya di sana dia melihat kue utuhnya tadi sudah terpotong. William melihat sekitar dan ternyata yang mengambil kuenya adalah kak Lia, karena dia penasaran kenapa kak Lia mengambil kuenya William mulai memotong kuenya dan mencoba memakannya.


“Hmm.. ternyata lebih enak dari kemarin ya.. haha aku tidak sadar.. ternyata kak Lia sadar yaa..” pikirnya sambil mengunyah kuenya.


Dia langsung memotong kuenya dan menyimpan beberapa kuenya untuk dibawah pulang, karena pekerjaannya sudah selesai dia kembali membantu nenek Widia untuk mencuci piringnya sedangkan kak Lia berputar untuk melihat tugas dari para koki lainnya. Saat sedang mencuci piring, paman Willy datang dari depan dan memanggil kak Lia, kak Lia langsung datang dan paman Willy mengajaknya ke depan.


“Yaa mungkin saja para tamu sudah selesai dengan makanan mereka dan ingin pulang makanya paman Willy membawa kak Lia.. haha tidak mungkin juga kan kue buatanku tidak cocok untuk lidah mereka.. hahaha tidak mungkin kan” pikirnya.


“Kamu kenapa nak William.. kenapa merenung begitu?” tanya nenek Widia.


“Ah.. tidak apa apa nek..” jawabnya.


William kembali mencuci piringnya bersama nenek Widia, tidak begitu lama kak Lia masuk kembali ke dapur dan berjalan mendekati William. Dia langsung berbicara kepadanya.


“William.. bersihkan tanganmu dan ke depan bersamaku..” katanya.


“Eh aku tidak membuat masalah kan?” tanyanya.


“Simpan pertanyaanmu dan cepat..” jawabnya.


William langsung membersihkan tangannya dan melihat baju kerjanya, tidak ada yang perlu di benarkan dan dia langsung berjalan ke depan bersama kak Lia. Mereka berdua langsung ke depan dan kak Lia mengajak William ke atas, perasaan William tidak enak karena kak Lia bilang hanya ke depan dan tidak ke atas. Dia hanya bisa mengikuti kak Lia ke atas dan menyiapkan hatinya, sesampainya di atas dia melihat banyak orang penting di sana yang sedang memakan kue buatannya. Kak Lia membawa dirinya ke salah satu tamu penting tersebut dan mengenalkannya kepada mereka.


“Permisi.. saya bawa koki yang membuat kue tersebut..” katanya kepada mereka.


“Jadi dia..” kata salah satu tamu tersebut.


“Ahh ternyata beneran William..” kata salah satu tamu.


Dia langsung mengenali suara tersebut dan langsung melihat ke arah suara tersebut, dan ternyata suara tersebut berasal dari temannya yaitu Candy.


“Jadi ini buatanmu William.. enak sekali.. aku ingin lagi…” katanya.


“Kamu mengenalinya nak?” tanya dari seorang tamu.


“Iya ibu.. aku pernah membicarakannya.. dan William teman sekelasku..” katanya.


“Oh jadi kamu William.. terima kasih karena sudah membuat kue ini untuk para teman saya..” katanya.


Mereka saling berbincang bincang dan akhirnya selesai dengan tenang, kak Lia berpamitan dengan mereka dan membawa William kembali ke dapur. Sesampainya di dapur kak Lia langsung menyuruhnya untuk kembali ke pekerjaannya, dia langsung melanjutkan untuk mencuci piring kotornya. Siang hari datang dan waktu tersebut adalah waktu istirahat, semua koki beristirahat dan restoran di tutup sementara. Sungguh hari yang sibuk karena banyak tamu penting yang datang kesana dan William juga terkejut karena salah tamunya adalah temannya, mereka beristirahat dan sedangkan kak Lia menemui William.


“Di mana kuemu tadi..” tanyanya.


“Eh.. ada di lemari pendingin kak.. emang buat apa..” jawabnya.


“Eh ini kue buatanmu kan William?” tanyanya.


“Ah iya kak..” jawabnya.


“Ini enak.. apakah masih ada lagi?” tanyanya.


“Masih sih kak.. cuman mau aku bawa pulang nanti.. kalau boleh ambil saja tapi sisakan tiga potong yaa.. masih ada satu potong jadi ambil saja..” jawabnya.


“Terima kasih..” katanya dan langsung mengambil satu potongan tersebut.


William langsung menyimpan sisa tiga potong kuenya ke dalam lemari pendingin dan langsung mengambil waktu istirahatnya di luar dapur, dia keluar dapur sambil membawa segelas air dan beberapa makanan sisa buatan dari para koki. Dia ingin menikmati waktu istirahatnya dengan tenang di luar terstoran dan sendirian, perlahan demi perlahan dia memakan makan siangnya. Satu persatu habis dan saat ingin kembali ke dalam dapur tiba tiba dia menerima pesan dari seseorang, dia membuka ponselnya dan pesan tersebut dari Melody.


“Halo William.. aku sudah ada di depan restoran.. tidak apa apa kan..” katanya.


“Iyaa tidak apa apa.. restorannya sedang istirahat selama satu jam.. jadi masuklah lewat depan saja..” jawabnya.


“Eh tidak apa apa nih? Tapi bukannya kamu bilang lewat belakang?” tanyanya.


“Tidak apa apa… lewat depan saja.. aku akan segera ke sana.” Katanya.


Melody masuk lewat depan restoran dan William berjalan ke dapur untuk menaruh piring kotornya, setelah menaruh piring kotonya dia berjalan ke depan dan menemui Melody. Saat sampai di depan ternyata kak Lia sedang berada di sana dan sedang mengobrol denan Melody, dia mengahampiri mereka dan menyapa Melody.


“Hai Melody.. kamu sedang berbicara pada kak Lia yaa.. oh ada paman Willy juga..” katanya.


“Ahh hai William.. iyaa, aku tadi masuk dan langsung diajak kak Lia untuk masuk..” jawabnya.


“Haha ternyata seperti itu.. lalu di mana ibumu?” tanyanya.


“Ibu? Aku tidak mengajak ibu.. ibu ada di rumah.. jadi aku datang sendirian.” katanya.


“Itu di belakangmu siapa?” tanyanya.


Melody langsung memutar tubuhnya dan melihat ke belakangnya, dia meliahat ibunya sudah berada di dalam restoran dan memakan pakaian yang bagus. Dia terkejut dan langsung menemui ibunya.


“Ehh ibu kenapa ada di sini?” tanyanya.


“Ibu menerima pesan dari William dan di suruh datang ke sini dan menyuruh ibu menggunakan baju bagus.” Jawabnya.


Mereka langsung melihat ke arah William, mereka berjalan mendekat kearahnya dan menanyakan apa yang sedang terjadi.


“A.. nak William ada apa yaa..” tanya ibunya Melody.


“Tidak ada apa apa tante.. tante silahkan duduk bersama Melody.. tunggu saja..” jawabnya dan langsung kembali ke dalam dapur.


“Oh jadi ini kenapa dia membuat satu lagi..” kata kak Lia.


“Kak Lia tau sesuatu?” tanya Melody.


“Entahlah.. dia emang susah untuk di tebak.. bukan begitu paman Willy?” jawabnya.


“Hahah.. maaf karena membuat kalian bingung.. William memang seperti ini, dia susah di tebak.. silahkan nyonya dan nak Melody untuk duduk terlebih dahulu.. biar saya antar saja ke meja kalian..” katanya sambil menuntun ibunya Melody dan Melody ke mejanya.