The Noble

The Noble
#59



William juga ingin mengajak Melody, namun dia merasa tidak enak dan takut pulang malam karena dirinya harus naik taksi untuk pulang. Candy berbicara kepadanya dan ingin mengantarnya pulang bersama William, awalnya Melody menolak namun Candy memaksa. Mereka mengahabiskan waktu mereka bersama sampai jam pesan tempat tersebut sisa sepuluh menit.


Setelah itu William bilang kepada Candy untuk pergi ke atas dan Candy pergi juga ke atas sambil mengajak Melody bersama, mereka pergi meninggalkan tempat tersebut secara bersama sama.


“William? Mau ke mana kamu?”


“Oh itu kak.. Ke atas.. Cuman sebentar..”


“Bersama temanmu?”


“Iya kak..”


“Oke kalau begitu..”


Mereka melanjutkan langkah kakinya menuju ke depan lift, William menekan tombol sambil menunggu lift untuk datang ke lantai mereka. Seseorang memanggil nama Candy dan serontak mereka bertiga menoleh ke arah suara tersebut, seorang pelayan langsung berlari ke arah mereka.


“Maaf nona.. Ini yang nona minta..”


“Terima kasih..”


Pelayan tersebut memberikan sesuatu dan pergi begitu saja setelah memberikan sesuatu kepada Candy, mereka berdua kebingungan dan William menanyakannya kepada temannya tersebut. Candy bilang kalau barang yang ada di tangannya adalah kue kecil, William langsung menghadap ke pintu lift yang sudah datang di depannya.


Lift terbuka dan mereka masuk ke dalam lift, William menekan tombol lantai dan pintu mulai tertutup. Lift naik ke atas dan tidak lama mereka sampai di lantai paling atas, pintu lift terbuka dan pemandangan di luar sudah bagus jika di lihat dari dala lift.


“Katanya kamu mau ke atas?”


Candy keluar dari lift diikuti William dan Melody, mereka berdua tampak terkejut dengan pemandangan yang ada di sana dan banyaknya orang orang di sana. Mereka mengikuti Candy dari belakang, dia berjalan menuju ke salah satu sudut dari tempat tersebut. Mereka berhenti dan seketika William melihat ke depan, dia melihat ada sebuah pembatas yang sedang menutupi jalan mereka. Candy membuka penghalang tersebut.


“Masuklah.. Lebih enak bukan kalau dapat tempat..”


“Tapi kenapa harus di tutup?”


“Aku yang meminta dari siang tadi..”


“…”


Mereka masuk dan duduk di kursi yang masih kosong, William dan Melody melihat pemandangan dari atas tempat tersebut. Tampak taman di belakang tempat tersebut dan terlihat sungai yang menyala dari sana, banyak hal yang bisa di lihat di sana, William langsung mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto di sana. Semua dia ambil tanpa ada yang tertinggal, sementara itu Candy sedang sibuk makan dan bermain dengan ponselnya.


“Bagaimana? Biasa saja bukan..”


“Iya bagimu..”


“Hehe.. Bagaimana Melody?”


“Ini indah.. Kamu selalu ke sini?”


“Iya.. Aku sampai bosan.”


Mereka berdua sedang melihat lihat dan sementara itu ada pelayan yang masuk ke tempat mereka, pelayan tersebut membawa minuman dan menaruhnya di atas meja. Setelah itu pelayan meninggalkan tempat tersebut dan Candy mengambil satu gelas minuman.


“Minumnlah..”


“Tapi..”


“Tidak apa apa..”


“Terima kasih..”


“William kamu minum juga?”


“Kamu tidak meracuniku bukan?”


“Mungkin..”


Mereka berdua menerima minuman tersebut dan duduk di kursi mereka, perlahan demi perlahan mereka minum minuman tersebut. Setelah itu Candy menanyakan sesuatu kepada William, dia menjawab satu persatu pertanyaan dari temannya tersebut. Karena Candy merupakan orang yang banyak ingin tahu, William menjawab semua pertanyaannya yang membuatnya penasaran walaupun tidak semua yang menyangkut kehidupan dari William.


“A… Hampir mirip dengan William..”


“Manusia tidak akan puas, jika kamu iri dengan kehidupanku maka orang sepertiku juga iri juga dengan kehidupanmu.. Apalagi kedua orang tuamu masih hidup..”


“Maaf..”


“Tidak apa apa.. Aku berterima kasih kepadamu karena sudah mau berteman denganku..”


“Aku juga, terima kasih Candy..”


“… Lain kali akan aku traktir lagi…”


Karena tidak mau membuat orang bercerita sedih lagi, satu persatu mereka mulai mengubah alur pembicaraan mereka. Melody sedang sibuk berbicara kepada Candy, lalu William meraih ponselnya yang ada di saku dan membukanya. Ada sebuah pesan yang masuk lantas dia membaca pesan tersebut.


“William.. Yang lain sudah pulang, apa kamu sudah pulang?”


“Aku masih di atas kak? Mungkin aku pulang agak malam..”


“Oh kamu di atas? Aku akan ke sana kalau begitu..”


William melihat tangkapan fotonya, dia menyaring semua foto yang bisa membantu idenya. Dia memikirkan letak dan ukuran dari tempat kerjanya dan dibandingkan dengan tempat tersebut, dia menarik ke simpulan kalau café milik Candy dapat menampung lima puluh orang di lantai paling atas.


William membandingkannya dengan ukuran dari tempat kerjanya, hasil yang dia dapat adalah tiga puluh orang jika dia atas hanya diisi oleh meja dan kursi. Dia harus memikirkannya di rumah dengan matang matang.


“Kamu kenapa William? Dari tadi melihat gambar tersebut..”


“Aku hanya berpikir sebentar..”


William mendapat pesan dari kak Dea lagi.


“Kamu di mana? Aku tidak bisa menemukanmu..”


“Aku di ujung kak..”


“Ujung ya?... Itukah kamu?”


“Iya kak..”


Kak Dea menemukan tempatnya William dan berjalan menuju ke arahnya, sementara itu William masih sibuk dengan ponselnya dan masih memikirkannya. Kak Dea masuk dan menyapa orang orang yang ada di sana.


“Halo.. Maaf kalau mengganggu.. Melody bagaimana dengan acara malam ini? Aku ingin tahu pendapatmu..”


“Bagus sekali kak.. Aku tidak pernah ke acara seperti ini dan terima kasih dengan makanannya..”


“Sama sama.. Bagaimana dengan William?”


“…”


“Kurasa dia sibuk.. Apa kalian tidak pulang?”


“Oh ia sudah malam…”


“Akan aku antar bersama William..”


Melody menepuk pundak William dan dia langsung tersadar, dia bilang kepadanya kalu ingin pulang. Setelah itu mereka bangun dari tempat duduk dan berjalan menuju ke arah lift, sudah ada orang yang mengantri untuk menggunakan lift tersebut. Mereka menunggu lift untuk naik ke lantai tersebut, setelah itu pintu terbuka dan orang orang masuk ke dalam.


William dan lainnya tidak bisa berbicara karena ada orang lain yang ada di lift tersebut, tidak butuh lama untuk mereka sampai di lantai bawah. Pintu terbuka dan semua orang keluar dari lift, William dan lainnya berjalan ke arah luar café tersebut.


“Kalau begitu aku duluan ya.. Hati hati..”


“Hati hati kak Dea..”


Candy mengambil ponselnya dan memanggil sopirnya, mereka menunggu sebentar dan sebuah mobil berhenti di depan mereka. Seseorang keluar dari mobil dan membuka pintunya, Candy menyuruh William dan Melody untuk masuk ke dalam bersama. Mereka bertiga masuk dan Candy menyuruh sopirnya untuk bergerak, mobil pun bergerak menuju ke arah tujuan yang di sebut oleh Candy kepada sopirnya.