
Karena William tidak mempunyai banyak waktu dia hanya menyapanya dan langsung pergi dari tempat tersebut, dia berjalan dengan langkah yang besar menuju ke tempat kerjanya. Karena dia melangkah dengan cepat akhirnya dia sampai di tempat kerjanya, ada beberapa pekerja yang sudah datang dan sedang bersih bersih. Karena dia tidak mau menggangu pekerja lainnya, dia berjalan menuju ke dapur lewat jalur belakang. Sampailah dia di pintu belakang yang sudah jelas sudah terbuka, dia masuk ke dalam dan melihat nenek Widia dan kak Lia sedang membersihkan dapur. William lantas mengambil seragamnya dan mulai membantu mereka berdua membersihkan dapur, dia memulai dengan membuang sampah yang sudah di kumpulkan oleh kedua orang tersebut. Dia membawa sampahnya keluar dan meletakannya di tong sampah besar yang sudah di sediakan oleh paman Willy, dia kembali membawa tempat sampah yang kosong dan sesampainya di dapur dia menaruh alas tempat sampah dengan alas yang baru. Selesai dengan mengganti alasnya dia meletakan tempat sampah tersebut kembali ke tempatnya semua.
Selesai dengan satu pekerjaanya dia mencuci tangannya terlebih dahulu dan selanjutnya membantu yang ada ruang makan, selesai dengan mencuci tangannya dia berjalan ke depan dan tepat di meja manajer dan pelayan dia melihat paman Willy sudah di sana. Dia menyapanya dan langsung mengambil alat pembersih untuk meja dan kursi, dia mengambilnya dan mulai membersihkan meja dan kursinya. Karena restoran tersebut memilki dua lantai, petugas yang harus membersihkan tempat tersebut terbagi menjadi dua dan William yang menangani lantai pertama. Tidak sadar dengan waktu karena dia fokus dengan pekerjaannya dan akhirnya selesai dengan membersihkan semua meja dan kursi, dia kembali ke dapur untuk mencuci tangannya lagi dan bersiap siap karena restoran sudah akan di buka. Hari tersebut adalah hari Sabtu yang di mana lantai ke dua restoran tersebut di pesan oleh orang kalangan atas dan bawah adalah lantai untuk orang orang yang tidak memesan tempat, sambil menunggu restoran buka dia mengobrol dengan kak Lia yang berada di sampingnya.
“Kak.. hari ini siapa yang akan datang? Aku melihat paman Willy di depan meja pelayan.. biasanya paman Willy akan di dapur tapi hari ini ada di depan.. apakah tamu kali ini sangat penting?..” tanyanya.
“Hmm.. tanya saja paman Willy.. aku hanya tau sekilas.. mungkin dari salah satu keluarga dari temanmu..” jawabnya.
“Eh.. temanku? Hmm tapi siapa? Aku tidak pernah memberi tau kepada temanku soal restoran ini dan mereka tidak menanyakan di mana tempat kerjaku..” katanya.
“Kamu kira kalau mengenal mereka kamu juga bisa tau tentang keluarga mereka? Tidak bukan.. lebih baik kamu simpan tenagamu dan pertanyaanmu untuk nanti.. seperti katamu, paman Willy yang ada di depan jadi bersiaplah jangan membuat masalah.. kamu dengar..” katanya dengan nada tegas.
Suasana yang ada di sekitar kak Lia mulai tegang, karena William tidak mau menanyakan pertanyaan kepada kak Lia dia hanya bisa diam saja dan menunggu jam buka restoran tersebut. Tidak beberapa lama koki yang lainnya masuk ke dalam dapur, kak Lia yang melihat para koki yang telat tersebut memasang muka marah. Para koki yang datang terlambat melihat kak Lia langsung berlari dan mengganti pakaiannya, selesai mengganti pakaiannya mereka langsung berbaris di tempat masing masing sambil menunggu perintah dari kak Lia. Karena semua koki sudah datang kak Lia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke depan, dia ingin menemui paman Willy dan membuat laporan dengannya.
“Huft… untung aku tidak terlambat..” katanya.
“William.. kamu datang pagi sekali yaa.. karena kak Lia tidak memarahimu..” kata dari seorang pegawa di sana.
“Aku terbangun jam lima pagi kak Nindy dan aku tidak tau mau melakukan apapun.. jadinya aku menunggu.. tapi apa kak Nindy juga terlambat?” tanyanya.
“Wah kebetulan sekali ya.. aku sudah datang dari tadi kok.. aku dari tadi di sampingmu ketika kamu kembali ke sini.. bahkan sebelum kamu sampai di sini.. tugasku kan di atas jadi kamu tidak bertemu denganku..” jawabnya.
“Oh iyaa aku lupa.. kakak ini juga sama seperti kak Lia..” katanya.
“Maksudnya?” tanyanya.
Kak Nindy merupakan koki yang bekerja di restorannya William dan sama sama bekerja di sana di saat yang sama dengan William yaitu empat tahun yang lalu, sama seperti William dia juga bekerja dibawah bimbingan dari kak Lia sedangkan yang lain di bawah bimbingan paman Willy. Selama ini hanya William dan kak Nindy yang ada di bawah bimbingannya kak Lia, karena kak Lia tidak mau membawa pekerja lain yang kemampuan mereka kurang di matanya. Karena dua menit lagi restoran akan di buka mereka menyimpan kata kata mereka dan bersiap untuk fokus bekerja, dua menit berlalu dan kak Lia kembali bersama paman Willy ke dapur. Kak Lia langsung memerintahkan semua koki untuk membuat pesanan yang dia terima, William langsung membawa bahan bahan yang sudah di persiapkan oleh kak Lia tadi pagi ke tempat para koki yang membutuhkan bahan. Dia juga membawa alat alat yang dibutuhkan oleh para koki, tugas dia hari ini adalah pembantu para koki.
Mereka mulai memasak pesanan para tamu yang datang ke restoran tersebut termasuk paman Willy juga memasak, kak Lia juga ikut memasak karena pesanan hari ini sungguh banyak. Satu persatu masakan sudah jadi dan kak Lia mencicipi masakan tersebut, jika sudah pas maka akan siap di hidangkan ke tamu jika belum makan akan di ulangi atau di perbaiki. Pesanan satu persatu masuk kembali dari orang yang datang ke sana, karena banyak pesanan yang masuk kak Lia menyuruh William untuk mengambil beberapa pesanan. William menerima perintah tersebut dan mulai memasaknya, satu persatu selesai dan dia menaruh di atas meja makanan yang sudah jadi. Kak Lia mencicipi masakan tersebut dan menyerahkannya kepada pelayan untuk dibawa, dia diberi jempol oleh kak Lia jika masakannya pas. William melihat pujian dari kak Lia tersebut mulai bersemangat dan langsung membuat pesanan yang selanjutnya.
“Aku tidak boleh mengecewakan para pelanggan..” pikirnya.
Waktu berlalu dan siang hari tiba. Para tamu sudah selesai dengan makanannya dan meminta untuk makanan penutup, karena tugasnya sudah selesai William berganti tugas untuk membersihkan piring kotor yang sudah selesai di pakai. Dia membersihkan piring kotor tersebut bersama nenek Widia dan satu orang lagi yang bekerja sebagai pencuci juga. Karena sudah terbiasa tugasnya selesai dan dia beristirahat sejenak, dia melihat kak Lia dan kak Nindy sedang membuat makanan penutup dengan sangat fokus. William yang melihat pekerjaan kedua orang tersebut merasa kagum dan ingin bisa bersama mereka, kak Lia yang melihat William sedang menatapnya langsung menyuruhnya untuk mengambil pesanan dari tamu yang di depan. William langsung bangun dan berjalan ke depan mengambil pesanan, sesampainya di depan untuk mengambil pesanan dia melihat temannya turun dari tangga. Dia mengenal wajahnya dan langsung mengambil pesanan dan berjalan menjauh dari tempat tersebut, namun seseorang tersebut melihat wajahnya dan mengikutinya.
“Eh bukannya itu William… hey William.. aku di sini..” katanya sambil berteriak.
William menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam dapur dan meletakan pesananya ke tempatnya, dia mengatur pesanan yang di terimanya dan menaruh ke tempat masing masing. Dia membaca dan membutuhkan makanan yang manis, dia kebingungan dengan pesanan tersebut. Karena tidak mau membuang waktu dia menaruh pesanan tersebut ke tempatnya kak Lia yang sedang membuat masakan.
“Ini kak ada pesanan.. karena bingung dengan pesanannya aku taruh sini yaa..” katanya.
“Hm.. bawa sini.. Hmm.. ini.. huh.. baiklah.. kamu bisa mengurusnya ini.. kerjakan saja..” jawabnya.
“Tapi aku tidak mengerti kak.. maksudnya apa? Aku takut salah membuatnya..” katanya.
“Buat saja kue seperti kemarin, namun sekarang buat yang yang besar dan basah, bukan kue yang kecil dan kering. Kamu bisa bukan” katanya.
“Baiklah.. tapi aku harus membeli bahannya..” katanya.
“Pergilah cepat.. di sini sangat sibuk.. dan jangan ganggu orang lain..” katanya memasang muka serius.