
Lalu mereka berbicara panjang lebar dengan rasa penasaran dari kak Dea kapada kehidupannya William, mereka berbicara cukup lama dan kak Dea memutuskan untuk mengajak William pergi ke kantin kampus agar pembicaraan mereka menjadi nyaman. Karena William juga penasaran dengan kampus, memutuskan untuk mengikutinya. Mereka berjalan melewati beberapa gedung tinggi dari jurusan yang berbeda, William mengikuti seniornya tersebut dari belakang sambil melihat lihat daerah sekitar. Tidak begitu jauh dari tempat mereka bertemu dan terlihatlah sebuah kantin yang lumayan besar, William terkejut karena kampus tersebut memiliki kantin yang besar dan dia berpikir bahwa kantin tersebut lebih besar dari restoran tempat kerjanya.
“Wah.. besar ya kantinya.. bahkan tempat kerjaku tidak sebesar ini..” ucapnya saat melihat ke arah kantin berada.
“Iyaa emang besar.. kamu bekerja ya? Aku kira kamu itu orang kaya jadi tidak butuh bekerja lagi..” katanya.
“Aku suda bilang kak.. aku masuk ke sana karena beasiswa.. aku dari keluarga biasa.. kalau boleh tau makanan di sini murah murah kan? Hehe maaf aku tidak membawa uang yang banyak..” tanyanya
“Begitu yaa… aku cuman bercanda.. untuk makanan di sini tergolong murah.. jadi kamu bisa makan sepuasnya.. oh iya karena aku mengajakmu ke sini makan akan aku traktir untuk makan.. pasti kamu lelah kan berkeliling.. aku juga akan menjawab pertanyaanmu tentang kampus ini..” ucapnya.
“Ah tidak usah kak.. aku bisa membayarnya sendiri..” jawabnya.
“Tidak apa apa.. biar aku saja yang membayarnya.. lagian aku juga yang membawamu ke sini..” ucapnya sambil berjalan ke arah kantin.
William akhirnya berjalan mengikutinya dari belakang, sesampainya di sana dirinya terkejut karena melihat isi tempat tersebut nampak bagus dan terlihat mewah. Dia mengikut langkah dari kak Lia dan setelah itu kak Dea berhenti di sebuah meja kosong, dia bilang kepada dirinya untuk duduk terlebih dahulu sedangkan kak Dea memesankan makanan untuknya. William melihat sekitar dan masih banyak orang masih duduk dan makan di kantin tersebut, semuanya terlihat bahagia tanpa ada sesorang yang nampak murung.
“Yaa kurasa tidak buruk juga dan mungkin saja paman dulu masuk ke sini karena suasana yang tenang ini”
Sambil menunggu kak Dea membawa makanan, dia mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya. Dia membuka ponsel tersebut dan melihat apakah ada pesan yang masuk ke ponselnya. Tidak ada pesan yang masuk kedalam ponselnya, karena dia bingun ingin melakukan apa apa memutuskan untuk bermain game yang ada di ponselnya. Ketika dia sedang sibuk dengan ponselnya, tiba tiba kak Dea datang ke arahnya sambil membawa makanan, dia langsung mematikan ponselnya dan meletakannya di atas meja.
“Nih kubawakan makanan untukmu.. kalau kurang bilang saja..” ucapnya sambil menaruh makanan di depan William.
“Wah terima kasih kak.. dan makanannya terlihat enan..” jawabnya.
William langsung memakan makanan yang di berikan kepadanya, satu makanan telah dia habiskan dan lanjut untuk yang ke dua. Satu persatu makanannya yang di depannya habis satu persatu dan tidak ada sisa lagi makanan yang ada di depannya, setelah selesai memakannya dia melihat ke arah kak Dea. Tampak terkejut karena dirinya menghabiskan makanan tersebut dengan cepat.
“Kamu ini lapar ya..?” tanyanya.
“Ah maaf kak.. enak soalnya.. aku mau lagi kak, jadi tunggu di sini yaa..” jawabnya.
“Haha.. sepertinya kamu menyukai makanan di sini yaa… satu.. dua.. banyak.. haha..” ucapnya.
“Hehe.. maaf ya kak.. ini yang terakhir kali, uang yan kubawa tinggal sedikit.. selamat makan..” ucapnya.
“Kalau kurang bilang saja..” katanya.
William melanjutkan makan makanannya satu persatu, semuanya habis di makannya. Setelah dia selesai memakan makanannya, mereka melanjutkan pembicaraan mereka tadi yang sempat tertunda. Tanpa sadar mereka sudah menghabiskan waktu bersama dan siang hari datang tanpa mereka sadari, mereka menyudahi pembicaraan mereka dan memutuskan pergi dari tempat tersebut. William ingin kembali pulang dan mempersiapkan apa saja yang dia butuhkan sambil di antar oleh kak Dea ke depan pintu gerbang, sesampainya di depan pintu gerbang mereka saling mengucapkan perpisahan.
“Hati hati di jalan ya.. dan sampai jumpa besok lagi.. aku akan menunggumu di sini.. oh iya ini nomor ponselku.. kirim pesan atau panggi aku jika sudah sampai di depan.. aku akan mengantarmu lagi..” ucapnya sambil memperlihatkan nomornya.
“Iya kak.. sampai jumpa..” ucapnya sambil meninggalkan tempat tersebut.
William berjalan meninggalkan tempat tersebut dan kembali berjalan ke arah rumahnya yang tadi pagi dia lewati, dia kembali berjalan kerumahnya dan saat di depan rumah makan masakan laut dia memutuskan untuk berhenti dan membeli beberapa untuk paman Willy. Setelah membelinya dia berjalan lagi dan berhenti di toko bunga untuk membeli beberapa bunga untuk makam ibu dan ayahnya dan tidak lupa juga untuk dia tanam di rumahnya, setelah itu dia berjalan kembali ke rumahnya. Cukup memakan waktu karena dia membawa makanan dan bunga yan dibelinya tersebut, sampailah dia di depan rumahnya. William menaruh bunga yang ingin dia tanam di depan terasnya, dia membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah. Dia menaruh beberapa barang yang tidak perlu dibawa lagi, setelah semuanya selesai dia kembali keluar rumah sambil membawa bunga dan makanan untuk paman Willy. Karena cukup lelah dengan perjalanannya tadi dia memutuskan untuk mencari taksi, karena jalan raya lumayan jauh dia memutuskan untuk mencarinya lewat ponselnya.
“Oh iya aku cek terlebih dahulu sebelum taksinya datang..”
Tidak begitu lama taksi datang di depannya, dia masuk dan mobil tersebut melaju ke arah restoran tempat kerjanya. Sesampainya di restoran tersebut dia meminta untuk sopir taksi tersebut menunggu sebentar karena dia ingin menaikinya lagi, sopir tersebut menunggu William dan sedangkan William berjalan ke restoran lewat pintu belakang. Tanpa dia sadar bahwa restoran dalam waktu istirahat, dan beberapa pekerja sedang beritirahat di dapur sambil memakan makan siangnya. Kak Lia melihat William yang datang pun hanya tersenyum dan dia langsung pergi menjauh dari situ dan langsung mencari paman Willy karena dia tau kalau kak Lia tersenyum akan ada hal yang berbahaya terjadi. Dia berjalan ke depan dan akhirnya bertemu dengan paman Willy, mereka berbincang bincang dan William memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Ini untuk paman.. ah.. dan kasih kak Lia.. kurasa dia sedang marah..” ucapnya.
“Terima kasih.. iya emang dia lagi marah.. ada pekerja yang membuat kesalahan dan harus membuat makanan dua kali.. ya begitulah..” jawabnya sambil menerima makanan.
“Baiklah paman.. aku pergi terlebih dahulu..” katanya.
“Kamu mau kemana?.. bunga itu.. jadi begitu ya.. hati hati ya di jalan.. apa paman antar saja?” tanyanya.
“Tidak usah paman.. ada taksi menunggu di depan.. aku pergi dulu..” jawabnya sambil berjalan keluar dari tempat tersebut.