The Noble

The Noble
Hari Perlombaan #2



❏ #The Noble


↳ Hari Perlombaan #2


Perjalanan hari sedikit sulit untuk mereka karena hujan deras yang menerjang semalaman membuat banyak tempat yang memiliki genangan air, tidak heran juga karena daerah mereka juga sedikit naik turun membuat genangan air mudah terbentuk.


Selama perjalanan William juga mengajak Melody untuk berputar ataupun dirinya mengorbangkan sepatunya agar bisa mendapat pijakan yang bagus untuk temannya tersebut, setelah perjalanan mereka yang sulit akhirnya sampai di depan kampus mereka.


Suhu di sana masih sama dinginnya dengan di daerah lingkungan mereka, William mengajak Melody untuk meneduh terlebih dahulu sebelum mereka masuk ke gedung.


“Sudah jam sembilan.. Kurasa kita sudah terlambat.. Mau bagaimana lagi karena hujan deras.. Kamu tidak apa apa?”


“Iya aku tidak apa apa, terima kasih karenamu.. Lalu kita harus bagaimana?”


“..Akan aku coba untuk menghubungi kak Dea..”


William mengambil ponselnya dan mencoba untuk memanggil kak Dea, setelah beberapa detik panggilan tersebut di terima. Dia bertanya kepada kak Dea apakah mereka sudah terlambat untuk menonton acaranya, namun kak Dea bilang kalau acara tertunda karena hujan dan membuat para juri terlambat datang. Kak Dea lalu menyuruhnya untuk datang ke gedung tahun ke dua agar mereka bisa bertemu dan berbicara lewat tatap muka, setelah itu William mematikan panggilan tersebut.


“Kita harus ke gedung tahun ke dua..”


“Belum terlambat?”


“Belum.. Karena hujan para juri juga terlambat dan ada beberapa yang belum datang, jadi kita ke sana saja dan bertemu kak Dea..”


“Oke kalau begitu..”


Mereka selesai berbicara dan setelah itu membuka kembali payungnya, William bersama Melody berjalan menuju ke gedung ke tahun ke dua untuk menemui kak Dea. Kali ini perjalanan mereka cukup mudah karena dilingkungan kampus cukup baik untuk menghadapi huna, setelah beberapa menit mereka berjalan akhirnya sampai di gedung dua yang berada di samping gedung mereka nanti. William menaruh payungnya diikuti oleh Melody lalu masuk ke dalam gedung tersebut.


“Di mana? Kak Dea tidak memberitahu ingin bertemu di mana, aku juga tidak tahu tentang gedung ini..”


“Apa kita berkeliling saja William?”


“Kurasa..”


Setelah itu mereka memutuskan untuk berkeliling di gedung tersebut, William sambil berjalan melihat ke kiri dan ke kanan siapa tahu menemukan orang yang di carinya. Dia melihat di lantai satu tepatnya di dapur sudah banyak orang yang bersiap siap, dia juga melihat ada juri yang sedang berbicara satu sama lain namun juga belum memulainya. William melihat ke sekeliling lagi dan akhirnya menemukan orang yang di carinya.


“Kak Dea..”


“Oh William.. Melody, sudah datang ya..”


“Iya kak..”


“Lalu bagaimana dengan lombanya kak Dea?”


“Itu, aku sedang menunggu temanku datang.. Lomba kali ini boleh berkelompok.. Sedangkan temanku juga belum datang, aku menunggu di sini untuk mencari temanku kalau dalam sepuluh menit lagi dia tidak datang maka aku akan gugur..”


“Lalu bagaimana?”


“Hm… Ah, bagaimana kalau kamu saja yang menggantikan temanku? Kamu kan pintar masak..”


“Aku? Tidak tidak..”


“Kumohon…”


“William? Bantu saja kak Dea..”


“… Baiklah kali ini saja..”


“Terima kasih..”


Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam dapur namun sebelum itu William memakai seragam memasaknya terlebih dahulu, akhirnya mereka berdua berdiri di posisinya masing masing. Karena sudah lengkap para juri mulai berbicara kepada orang orang yang ikut lomba dan memulai lombanya tersebut, karena William bingung maka dia menanyakannya kepada kak Dea.


“Kita buat apa?”


“…. Buat apa ya..”


“……. Aku pulang nih..”


“Tunggu… Bagaimana kue? Kamu kan pintar buat


kue..”


Kak Dea mendengarkan perintahnya dan langsung pergi mengambil bahan bahannya, sementara itu William mengambil alat alat yang mereka butuhkan. Setelah beberapa menit mereka kembali ke tempat mereka masing masing dan menaruhnya di atas meja, dia mulai menyuruh kak Dea untuk berbuat ini dan itu untuk membantunya di sana. Seperti biasa William sangat fokus untuk membuat sebuah maha karya yang bisa di makan tersebut dan kak Dea hanya bisa melakukan apa yang diminta, lima puluh menit berlalu dan tinggal sepuluh menit sebelum lomba tersebut selesai.


“Sudah jadi.. Tinggal di taruh dan dihias…”


“Wah… Terlihat enak..”


“Jangan di makan..”


“Tapi bagaimana kamu tahu kalau kue ini enak kalau tidak mencobanya?”


“Jika kamu percaya pada buatanmu makan kamu tidak butuh untuk mencobanya..”


Setelah sepuluh menit berlalu dan mereka selesai dengan kuenya, satu persatu para peserta mulai di panggil dan membawa hidangan mereka. William menunggu gilirannya sambil melihat lihat masakan buatan peserta lain, hanya dirinya membuat hidangan pencuci mulut di sana. Akhirnya giliran mereka untuk maju dan menunjukan hasil masakan mereka kepada para juri di sana, kak Dea menaruh piring yang berisi kue tersebut ke setiap juri dan hanya ada lima juri di sana.


“Silahkan di nikmati..”


“Terlihat bagus, apa rasanya juga sama seperti penampilannya? Nama kue ini apa?”


“.. Itu..”


“Flower Rock..”


“Flower Rock? Bisa di jelaskan?”


“Iya.. Ide hidangan ini saya dapat dari sebuah bunga yang hidup di atas sebuh batu, pemandangan yang langka dan takjub membuat saya ingin membuatnya menjadi sebuah hidangan.. Maka dari itu di hidangan ini ada sebuah bungan mekar dan dasar dari hidangan ini berbentuk seperti batu..”


“Menarik.. Terima kasih, kalau begitu kita coba..”


Para juri mulai mengambil alat makan mereka dan mulai memakan satu potong kue tersebut, mereka semua hanya terdiam dan memakan suapan ke dua. Setelah itu para juri selesai dengan hidangan mereka berdua dan menyuruh peserta selanjutnya untuk maju, William bersama kak Dea meninggalkan tempat tersebut dan menemui Melody yang ada di luar ruangan.


“Bagaimana William.. Para juri hanya diam..”


“Memang kenapa?”


“Kamu tidak lihat para juri diam? Bagaimana kalau kuenya tidak enak..”


“Memang kalian membuat kue apa?”


“Oh itu Flower Rock..”


“Sepertinya aku pernah mendengar nama kue tersebut?... Oh iya, bukannya itu ada di menu tempat kerjamu..”


“Iya..”


“?Eh.. Jadi itu bukan pertama kali kamu buat?”


“Mana ada kue pertama kali aku buat tampak enak?”


“Ada.. Dulu itu rasa mint?”


Mereka membahas kue tersebut sampai di mana para juri selesai dengan penilaian para peserta lomba, tidak lama temannya kak Dea datang dan menemuinya. Dia meminta maaf karena datang terlambat dan menanyainya tentang lombanya, kak Dea menjelaskannya dan dirinya menunjuk ke arah William.


Temannya kak Dea tidak percaya kepadanya namun sebagai permintaan maaf dirinya mengajak mereka ke atas dan mentraktir mereka, mereka berempat naik ke atas dan sesampainya di atas langsung duduk di kursi yang kosong. Kak Dea memesankan makanan dan minuman untuk William berserta Melody, setelah itu mereka duduk kembali bersama dan membahasnya kembali tentang lomba tersebut.


“Tapi beneran? Bukannya kamu yang membuatnya Dea?”


“Bukan aku.. Aku hanya pembantu di sana, yang membuat William..”


“Yakin?”


“Apa mukaku terlihat pembohong?”


“Iya..”


“… Ih.”


Lalu kak Dea menjelaskannya kepada temannya dan perlahan mulai percaya dengan yang tejadi, setelah itu mereka mulai membahas bagaimana William membuat kue tersebut namun dia tidak mau. Dia bilang untuk bertanya kepada kak Dea bagaimana cara dirinya membuat kue tersebut karena itu sebuah rahasia bagi tempat kerjanya namun kak Dea tidak paham satu pun.


─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─