
❏ #The Noble
↳ Pengenalan kampus #2
Mereka berdua menunggu kak Dea sambil berbicara satu sama lain, tidak lama kak Dea kembali membawa minuman untuk mereka. Dia memberikannya kepada mereka, William dan Melody langsung meminum air tersebut. Sesudah meminum air kak Dea memberi tahu kepada mereka berdua tentang kegiatan hari ini, satu persatu dia jelaskan tanpa ada yang terlewatkan.
“Apa cuman kami yang diberi tahu?”
“Tidak juga, itu ada papan pengumuman.. Tapi karena ramai jadi aku beritahu saja kalian di sini..”
“Ya… Kurasa tidak masalah.. Kalau begitu siapa saja yang datang kak?”
“Banyak yang datang.. Para dosen akan datang, nanti juga akan perkelompok.. Kalian satu kelas bukan?”
“Aku tidak tahu kak..”
“Aku juga tidak tahu.. Di mana kita bisa melihatnya?”
“… Aku pergi dulu kalau begitu untuk mencari kelas kalian.. Kalian tunggu saja di sini, kalau di panggil datang saja.”
Setelah memberitahu kak Dea pergi meninggalkan mereka berdua, William hanya duduk diam sambil menunggu acaranya di mulai. Karena bosan dia mengambil ponselnya dan membukanya, dia mencari sesuatu di internet yang bisa membuatnya tidak bosan. Beberapa menit dia mencari namun tidak ada yang menarik baginya, William menaruh ponselnya di saku dan melihat ke sekeliling tempanya. Saat sedang melihat sekeliling dia tidak sengaja melihat Melody sedang menutup matanya, karena bingung dia menanyakannya kepadanya.
“Kamu kenapa Melody?”
“.. Mungkin aku mengantuk.. Aku kurang tidur karena mempersiapkan untuk hari ini..”
“Tidurlah kalau begitu, akan aku bangunkan kalau sudah di mulai.. Kursinya juga panjang.”
“Terima kasih..”
Melody memasang posisi tidur di kursi tersebut, William merasa kasihan dengan temannya tersebut. Karena dia harus sedia setiap saat, dirinya harus waspada dengan keadaan sekitar. Dia melihat ke sekelilingnya lagi memastikan tidak ada orang yang mendekat ke arah mereka dan mengganggu temannya yang lagi tertidur, setengah jam mereka menunggu dan William melihat ke arah kerumunan mulai berdiri dan melihat ke satu arah.
Dia berdiri dan melihat ke arah yang dipandang banyak orang, yang dia lihat adalah beberapa orang membawa kertas yang sepertinya para senior mereka, beberapa senior mulai memanggil nama nama mereka. Lantas William langsung membangunkan Melody.
“Melody.. Bangunlah, sepertinya akan di mulai..”
“… Sudah di mulai?”
“Aku rasa.. Senior sudah memanggil nama nama orang.. Lebih baik kita mendekat agar terdengar..”
“Baiklah kalau begitu..”
Melody bangun dari kursi tersebut dan berjalan bersama dengan dirinya untuk mendekat ke arah kerumunan orang, dia masih bingung dengan kelas mereka. Mereka berdua mendekat dan sekarang terdengar dengan suara senior mereka, karena tidak tahu senior mana yang mengurus kelas dia lantas William menanyakannya kepada mahasiswa baru lainnya.
“Permisi..”
“Eh.. Iya?”
“Apa kamu tahu di mana kelas baking dan pastry art?”
“Ah.. Kebetulan itu di sini..”
“Begitu ya, terima kasih..”
“Sama sama, kalau boleh tahu nama kamu siapa?”
“Ah maaf, namaku William.. Kalau begitu namamu siapa?”
“Aku Am..”
“William…”
“Permisi, ada yang memanggilku.. Terima kasih.”
William dan Melody paham lalu kak Dea pergi meninggalkan mereka berdua lagi karena ada urusan, mereka berdua menunggu di sana sambil menunggu nama mereka di panggil.
“William, tadi siapa yang kamu tanya?”
“… A, Aku tidak tahu.. Kak Dea memanggilku jadi aku tidak sempat tahu.. Mungkin jika bertemu lagi akan aku tanyakan..”
“Begitu ya, untung saja di sini banyak pohon.. Jadi tidak terlalu panas..”
“Jika panas berdiri atau duduk di belakang bayanganku saja..”
“Tidak usah, aku kuat kok..”
“Lebih baik dari pada kamu pingsan nanti..”
“Terima kasih kalau begitu..”
Melody duduk di belakang William agar tidak terlalu panas, dia meminum airnya kembali sambil duduk. Banyak orang juga duduk di sana sambil menunggu nama mereka di panggil, sementara itu William berdiri dan mendengarkan nama dia dan temannya di panggil. Satu persatu para mahasiswa baru mulai di panggil dan berbaris, setelah beberapa nama di panggil akhirnya nama Melody di sebut. Dia langsung memberi tahu kepada temannya, Melody bangun dari duduknya.
“Kalau begitu aku duluan ya.. Terima kasih William..”
“Sama sama, pergilah..”
Melody pergi meninggalkan William dan berjalan ke arah belakang senior, setelah beberapa lama nama William juga di sebut. Dia terkejut karena jurusannya dengan Melody sama dengannya, lantas dia langsung bergegas menyusulnya. Dirinya sampai di tempat berbaris dan melihat Melody sedang sendirian, lantas dia menemuinya dan sekalian berbaris.
“Sendirian kamu?”
“William? Aku berpikir kalau kamu mengambil jurusan lain, ternyata sama ya..”
“Tentu saja, siapa yang mengajarimu membuat kue? Kalau aku tidak mengawasimu siapa?”
“Chef William hehe..”
Setelah itu mereka berbicara lagi sambil menunggu mahasiswa baru di sebut namanya semua, tidak lama semua mahasiswa baru sudah mendapatkan posisinya. Sesudah itu para senior mulai membawa mereka berjalan ke suatu arah, para mahasiswa baru mengikutinya dari belakang.
Mereka melewati beberapa gedung dan para mahasiswa jurusan lain mulai belok dan masuk ke gedung yang berbeda, setelah itu senior yang memimpinnya mulai mengajak para mahasiswa baru untuk pergi ke gedung yang berbeda. William melihat gedung putih dan di depannya ada sebuah patung garpu dan pisau, dia langsung menebakknya kalau gedung khusus jurusan memasak.
“Silahkan para mahasiswa masuk, kita masuk ke gedung ini untuk membiasakan kalian terlebih dahulu.. Hati hati..”
Satu persatu mahasiswa baru masuk ke dalam gedung tersebut, giliran William dan Melody yang masuk ke dalam gedung tersebut. Pertama yang dia lihat adalah tempat para orang menunggu seperti di restoran pada umumnya, setelah itu mereka masuk ke dalam lagi dan ternyata sebuah gedung yang berisi tempat orang duduk dan memakan hidangan mereka.
Mereka masuk lagi dan melihah sebuah kaca, William melihat dari luar kaca adalah pamandangan sebuha dapur yang besar dan banyak Chef yang sedang bekerja. Dia melihat kalau Chef tersebut nampak muda dan menebaknya kalau orang orang di sana adalah para mahasiswa.
“Ini dapur kelas kita.. Banyak orang yang bisa muat masuk ke sini dan membuat hidangan sesuka hati mereka, namun kalian harus berhati hati dalam mengolahnya.. Ada yang tahu siapa mereka?”
Banyak orang yang menjawab kalau mereka cuman Chef saja, ada juga yang bilang Head Chef dan lain lainnya. Hanya William yang menjawab berbeda.
“Mereka belum menjadi Chef, mereka hanya mahasiswa yang belajar di sini..”
“Oh.. Kita mendapat jawaban yang berbeda.. Iya benar seperti katamu, mereka belum menjadi chef karena masih mahasiswa di sini dan mereka semua belum bekerja di restoran asli.. Mereka bekerja di dapur ini untuk mendapatkan pengetahuan, kamu tahu betul ya? Apa kamu pernah melihat chef yang asli?”
“Oh.. Itu, aku bekerja di sebuah restoran.”
“Wah.. Kamu baru lulus sekolah dan sudah bekerja tapi sudah tahu sesuatu seperti ini?”
“Aku sudah bekerja di restoran saat umur lima belas tahun.”
“Hebat ya kamu, ada yang sudah bekerja di restoran juga saat bersekolah selain dia?”
─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─