The Noble

The Noble
Hari perlombaan #7



❏ #The Noble


↳ Hari perlombaan #7


Setelah semua sudah diumumkan oleh para juri dan mendapatkan hadiah mereka, kak Dea dan kak Vivi keluar dari ruangan tersebut. Mereka berdua menemui William dan lainnya, setelah itu kak Dea mengajak mereka bertiga untuk naik ke atas untuk merayakan kemenangan mereka, mereka setuju dan langsung mengikuti kak Dea. Sesampainya di atas mereka melihat kalau tempat tersebut penuh dengan mahasiswa, kak Dea bingung harus berbuat apa.


“Ke gedung tahun pertama saja kak.. Mungkin karena besok ada vestival makanya banyak mahasiswa yang bersitirahat setelah memasang tenda ataupun persiapa lainnya..”


“Kurasa memang itu.. Baiklah kalau begitu..”


Mereka turun ke lantai dasar dan saat sampai mereka bertemu dengan chef Gus, dia memuji kak Dea dan kak Vivi karena sudah berjuang dalam perlombaan. Dia juga menanyakan sesuatu kepada William.


“Oh William.. Kemarin kamu yang membantu Dea bukan? Kenapa hari ini tidak membantunya, maaf Vivi bukan bermaksud kalau kamu kurang..”


“Tidak apa Chef.”


“Waktu itu kak Vivi terlambat, jadinya dia tidak bisa membantu kak Dea… Kak Dea meminta tolong kepadaku, jadi aku ikut saja.. Hari ini kak Vivi datang, jadi dia yang membantu..”


“Oh.. Waktu itu kue buatan kalian yang paling enak, hari ini juga.. Seperti kemarin tapi masih di bawahnya.. Kamu memberitahu ke Dea ya? Dia payah dalam membuat kue dan Vivi juga tidak sebagus itu dalam kue..”


“Ah.. Itu kak Dea sendiri Chef.. Aku tidak mengajarinya sama sekali..”


“Begitu ya.. Lanjutkan kegiatan kalian, maaf mengganggu..”


Setelah itu mereka berjalan menjauh dari gedung tersebut, mereka berjalan menuju ke gedung tahun pertama yang ada di sampingnya. Sesampainya di sana mereka langsung naik ke lantai atas, saat di atas ternyata juga banyak orang di sana. Namun masih ada tempat untuk mereka duduk, setelah duduk kak Dea pergi untuk memesan makanan untuk mereka.


“Tapi hebat kak Dea dan kak Vivi bisa juara tiga..”


“Oh itu karena Dea tidak mau kalah dari orang lain..”


“Soal makananya tadi.. Bisa ajarkan kepada aku kak..”


“Kamu Amelia ya.. Bisa saja, tapi aku tidak bisa mengajari orang lain dengan bagus..”


“Sayang sekali..”


Kak Dea kembali ke tempat mereka dan duduk di kursinya, dia langsung saja membahas lombanya dengan muka penuh bahagia dan sombongnya. Semua tertawa karena tingkah lakunya, sembari menunggu pesanannya datang merekapun bercerita tentang lomba tersebut lebih jauh lagi. Kak Dea bercerita kalau dulu dia juga pernah membantu seniornya waktu masih di tahun pertama seperti William dan sekarang kejadian tersebuk terjadi kembali, namun sejak saat itu dia sudah jarang bertemu dengan senior yang meminta bantuan darinya.


“Jadi William… Jangan tinggalkan aku ya… Huhu, nanti aku sedih..”


“Kalau kak Dea seperti ini paling satu minggu aku sudah pindah kampus..”


“Ih.. Kamu nih, jangan begitu..”


“Sudahlah Dea, di manapun kamu berada itu membuat orang terganggu.. Termasuk waktu itu..”


“Kamu juga Vivi.. Tapi waktu itu? Waktu kapan?”


“Itu saat pesta pembukaan perusahaan orang tuamu yang ke dua..”


“… Tunggu, jadi kak Dea ini anak orang kaya?”


“Oh kamu baru tahu? Mungkin kalian baru tahu? Dea ini anak dari orang tua yang memiliki perusahaan bernama DDD, Tiga D.. Mungkin karena orang tuanya huruf pertamanya D hehe…”


“He… Aku anak biasa, jangan percaya sama Vivi.. Dia yang anak orang kaya.. Ibunya punya hotel di luar negri.. Ayahnya memiliki perusahaan juga di luar negri.. Jadi dia kaya..”


Mereka bertiga terdiam karena baru sadar dengan informasi yang mereka dapat dari ke dua seniornya, hanya terdiam sambil memangan satu sama lain. Kak Dea dan kak Vivi juga terdiam karena karena mereka bertiga terdiam di sana, lantas mereka membangunkan ilusi dari mereka.


“Kalian kenapa diam?”


“.. Ya bagaimana, aku baru tahu kalau kalian berdua anak orang kaya..”


“Loh bukannya kamu juga? Kamu kan lulusan dari Newxville..”


“Aku kan sudah bilang kalau dari keluarga biasa saja..”


“.. Kukira waktu itu kamu bercanda..”


“Iya termasuk Melody.. Tapi lupakan..”


“Wah…”


Tidak lama makanan mereka datang, pembicaraan mereka terhenti dan makan terlebih dahulu sebelum melanjutkannya. Setelah selesai mereka pun melanjutkan pembicaraannya, namun tidak semua bisa dijelaskan oleh William di sana kepada mereka semua dan lalu dia berbisik kepada Melody.


“Sepertinya kita selalu dikelilingi orang kaya..”


“Aku rasa juga begitu..”


“Apa jangan jangan Amelia juga anak orang kaya?”


“Kamu tanyakan saja..”


William mengeluarkan buku catatannya dan menunjukan apa saja yang dia catat saat melihat perlombaan tadi kepada kak Dea dan kak Vivi, mereka terlihat penasaran dengan buku catatannya dan melihat catatan tersebut. Setelah itu William diam diam menanyakan sesuatu kepada teman barunya.


“Amelia.. Apa kamu juga anak orang kaya?”


“Ah.. Tidak kok, orang tuaku hanya memiliki restoran kecil..”


“….”


Dia selesai dengan pertanyaannya dan berbicara kembali ke Melody, William bilang kalau teman barunya juga anak orang kaya. Mereka berdua terdiam menatap langit dan sedangkan yang lainnya kebingungan dengan tingkah laku ke dua orang itu, walaupun begitu mereka langsung sadar karena sudah mengalami hal yang seperti itu sebelumnya. Setelah itu mereka melanjutkan pembicaraan tentang lombanya kembali karena kak Dea menanyakan apa yang ditulis oleh William di buku catatannya.


“Tapi kamu hebat bisa menulis semuanya..”


“Itu tidak sepenuhnya benar, ada yang tidak aku catat.. Karena ada bahan yang digunakan belum pernah aku lihat sama sekali.. Jadi masih ada kekuarangannya..”


“Oh iya, kamu ini kan pintar tentang hal kue ataupun sejenisnya.. Tapi bisa sebagus ini..”


“Iya.. Aku juga heran, kalau kamu bisa sebagus ini kenapa tidak ambil jurusan yang universal?”


“Ada alasan tentunya.. Aku menyukai hal tersebut dan ada beberapa hal lainnya.. Termasuk memberi makan seseorang..”


“..?”


Tidak terasa mereka berbicara dan matahari sudah berada di atas mereka, jam menunjukan pukul sebelas. Melody ijin pulang karena harus membantu ibunya berjualan termasuk William juga yang harus bekerja, Amelia juga harus pulang ke rumahnya. Mereka bangun dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan para seniornya, sesampainya di bawah mereka berpisah. Amelia pergi karena masih ada urusan, sedangkan Melody dan William berjalan menuju ke pintu gerbang kampus tersebut.


“Bagaimana Melody?”


“Apa? Oh lomba tadi ya? Terlihat menyenangkan..”


“Seharusnya kamu ikut..”


“Aku kan tidak sepintar mereka..”


“Namanya belajar..”


Mereka akhirnya sampai di jalan utama rumah mereka, seperti biasa William mampir terlebih dahulu di tempat ibunya Melody berjualan. Walaupun sudah makan namun dia selalu lapar jika harus berjalan sejauh itu, terlihat sepi di tempat ibunya Melody berjualan. Lantas mereka langsung menghampirinya dan menanyakan sesuatu.


“Ibu..”


“Nak, sudah pulang.. Oh ada nak William juga.. Mau makan?”


“Iya tante, seperti biasa.. Tapi kenapa sepi tante?”


“Tadi ramai.. Sekarang sepi, mungkin sudah makan di tempat lain.. Tunggu ya.”


Sambil menunggu ibunya Melody menyiapkan makanan untuknya, William menanyakan sesuatu kepada Melody. Dia menannyakan apakah ibunya lelah berjualan di sini atau tidak, dia ingin menawarkan pekerjaan di tempat kerjanya jika ibunya mau. Melody tidak tahu karena tidak pernah menanyakannya, namun dia rasa ibunya baik baik saja dan berterima kasih kepada William karena perhatian dengan ibunya.


“Ini.. Makan sampai habis ya..”


“Terima kasih tante..”


─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─