The Noble

The Noble
Episode 28



William membuka ponselnya dan mengecek keadaan cuaca di luar melalui ramalan cuaca, dia melihat ramalan cuaca menunjukan hujan akan terus turun sampai tiga jam mendatang dan yang berarti Melody akan di rumahnya sampai jam sebelas malam. Dia memberi tau kepada Melody tentang berita tersebut, Melody juga sudah mengirimkan pesan kepada ibunya bahwa dia akan pulang terlambat. Melody mendapatkan pesan dari ibunya bahwa dia akan menunggunya pulang, Melody mengirim pesan kembali ke ibunya.


“Apa kamu butuh sesuatu sambil menunggu hujan reda?” tanya William.


“Ah tidak apa apa..” Jawabnya.


“Kalau begitu akan aku ambilkan selimut untukmu, kurasa suhu semakin dingin..” Ucapnya sambil berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah kamarnya.


William mengambil selimut dari lemari yang berada di kamarnya, dia mengambil beberapa kaos kaki dan sarung tangan sekalian untuk di berikan kepada temannya. Dia membawa semuanya kembali ke ruangan mereka berada tadi, sesampainya di sana dia menyuruh Melody untuk duduk di sofa. Melody berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah sofa, dia duduk di sana dan William menghampirinya.


“Nih buat kamu.. adanya seperti ini.. gunakanlah.. aku akan melihat keluar sebentar” Ucapnya sambil memberikan barang barang yang diambilnya tadi.


“Terima kasih.. maaf karena merepotkan..” Kata Melody.


“Tidak apa apa..” Ucapnya sambil berjalan menuju pintu.


William membuka pintunya dan melihat sekitar, gelap dan air hujan yang masih jatuh dari langit. Dia menutupnya kembali dan berjalan ke arah dapur, dia mengambil sesuatu dari lemari pendinginnya dan meletakannya di atas meja. Benda yang diambilnya adalah sebuah susu, dia ingin memberikannya kepada Melody namun karena masih dingin dia menaruhnya terlebih dahulu di samping kompornya. William menyalakan kompornya dengan api yang kecil, dia berdiri di depan kompor menunggu susunya sudah tidak dingin sambil menghangatkan dirinya. Dia melihat ke arah Melody dan nampaknya Melody masih sibuk menggunakan ponselnya.


“Yaa kurasa ibunya khawatir juga..”


“Aku tidak punya siapa siapa, jadi tidak ada yang menghawatirkanku..”


Dia melihat ke botol susunya dan mencoba memegangnya, sudah cukup hangat dan dia mengambilnya. William mematikan kompornya dan membawa botol susunya untuk di berikan kepada Melody, dia berjalan mendekatinya dan memberikan sebotol susu tadi.


“Minumlah.. masih hangat.. aku tidak tau apa yang kamu suka dan ada hanya ini di rumahku..” Ucapnya sambil memberikan sebotol susu hangat.


“Ah tidak usah.. aku tidak apa apa.. buat kamu saja..” Jawabnya.


“Aku punya dua, satu untukmu.. hangatkan tubuhmu..” Katanya.


Melody menerima sebotol susu tersebut dan meminumnya secara perlahan, William juga ikut meminumnya sampai habis. Dia melihat ke arah Melody dan masih ada sisa setengah botol yang belum di minum.


“Mungkin dia tidak terlalu menyukainya?”


Dia membawa botol kosongnya ke arah dapur kembali dan ingin mencucinya, dia menyalakan kerannya dan mengisi penuh gelas kosong tersebut dengan air. William mencucinya dari dalam sampai luar, setelah itu dia mengeringkan botol tersebut dan menaruhnya di dalam lemari untuk di gunakan di lain hari.


“Hmm.. masih ada yang kurang ya? Apa mungkin besok saja sehabis pergi aku membelinya?”


Dia memeriksa apalagi yang kurang dari lemarinya, ada beberapa bahan masakan yang belum dia beli. William memeriksa lemari lain dan keadaannya masih baik, dia menutup lemarinya dan kembali duduk di kursinya. Dia mengambil ponselnya dan membukanya, dia melihat berita kembali dan nampaknya hujan sudah mulai reda. Mereka berdua saling diam tanpa ada obrolan selama satu jam.


“Jam sembilan yaa.. aku tidak tau mau berbuat apa.. aku akan menanyakan sesuatu kepada paman Willy saja..”


Dia mengirim pesan kepada paman Willy untuk membahas pekerjaannya, mereka saling diam sampai jam sepuluh datang. William bernjak dari kursinya dan berjalan ke arah pintu keluar, dia membukanya dan melihat hujan sudah mulai reda. Dia kembali ke dalam dan memberi tau kepada Melody.


“Kurasa hujan sudah mulai reda.. apakah kamu mau pulang?” Tanynya.


Melody berdiri dari sofa dan berjalan ke arah William, dia keluar dari rumah dan melihat keadaan sekitar. Hujan sudah reda dan dia bisa pulang ke rumahnya, Melody ingin pulang ke rumahnya. William berjalan ke arah ruangan peralatan dan mengambil dua payung, dia kembali ke Melody dan memberikan payung kepadanya.


“Satu buatmu.. aku meminjamkannya.. aku juga sudah bilang kepada ibumu kalau aku akan mengantmu pulang ke rumah..” Ucapnya sambil memberikan sebuah payung.


“Terima kasih..” Jawabnya.


William keluar dari rumahnya sambil melebarkan payungnya, Melody juga melakukan hal yang sama. William menutup pintunya dan berjalan bersama Melody, mereka saling berjalan bersama menuju rumahnya Melody.


“Terima kasih William karena sudah memberikanku tempat bertedu..” Ucapnya sambil berjalan berasama William.


“Tidak apa apa.. aku sudah banyak menerima bantuan ibumu..” Balasnya.


Tidak begitu lama akhirnya mereka sampai di depan rumahnya Melody, Melody mengucapkan terima kasih kembali dan berjalan masuk ke rumahnya. William segera meninggalkan tempat tersebut dan berjalan kembali ke rumahnya.


“Besok akan sibuk.. aku juga belum bertanya kepada kak Dea tentang ujiannya.. apakah jika aku bertanya itu merupakan kecurangan?”


William sampai di depan rumahnya dan berjalan masuk ke rumahnya, dia menutup payungnya terlebih dahulu dan meletakannya di luar. Dia masuk ke dalam rumah dan langsung mengambil ponselnya, dia mencari kontak kak Dea dan setelah ketemu dia langsung mengirim pesan kepadanya.


“Kak Dea masih sadar?” Pesannya.


Lima menit berlalu dan belum ada balasan dari kak Dea, dia bingung harus berbuat apa. Karena belum mendapakan balasan pesan, dia memutuskan untuk mengunci pintu rumahnya terlebihd ahulu. Setelah itu dia mengecek beberapa peralatan dan mematikan beberapa lampu ruangan, Sesudah itu dia membawa ponselnya ke kamarnya. Saat sampai di kamarnya, William mendapatkan pesan. William membuka pesannya dan berasal dari kak Dea.


“William ya? Wah aku tidak mengira akan mendapatkan pesan darimu..” Katanya.


“Maaf kak jika malam malam begini mengganggumu..” Kata William.


“Tidak apa apa.. aku tadi sibuk untuk mempersiapkan untuk besok..” Katanya.


“Kakak mengurus anak anak baru?” Katanya.


“Iyaa.. besok mungkin saja aku tidak bisa bertemu denganmu.. jadi kamu jalan jalan sendiri ya.. maafkan aku.” Katanya.


“Tidak apa apa kak.. aku ingin bertanya tentang ujiannya.. apakah boleh..” Tanyanya.


“Ujiannya ya? Kalau kamu lulusan dari sekolah itu pasti kamu baik baik saja.. dan lalu jurusan apa yang ingin kamu masuki besok?” Katanya.


“Begitu yaa.. aku masuk ke jurusan yang sama dengan kakak.. karena aku sudah bekerja di restoran jadi aku ingin mendapatkan ilmu yang lain..” Katanya.


“Oh iya aku lupa.. lain kali ajak aku ke restoranmu..” Katanya.


“Baiklah.. tapi bawa uang lebih..” Katanya.


Mereka saling mengirimkan pesan satu sama lain sampai tengah malam dan William tertidur di kasurnya.