
❏ #The Noble
↳ Hari Vestival #4
Mereka berdua pergi bersama mengikuti Nia dari belakang, dia terus berjalan dan akhirnya berhenti setelah melewati beberapa tenda di sana. William melihat ke arah tendanya dan dia melihat kalau tenda tersebut seperti menjual ikan, lantas dia mendekati tenda tersebut dan menanyakan harganya. Penjaga tenda bilang kalau ikannya adalah hadiah dan bukan untuk di jual, jadi dia harus bermain terlebih dahulu di sana.
Setelah berbicara dia membayarnya dan mulai bermain, permainannya terbilang sangat susah bagi banyak orang karena menangkap ikan dengan jaring kertas yang sudah di sediakan. William mencobanya dan sebelum menangkap dia mencari ikan pertamanya yang bisa di tangkap dengan mudah, setelah mencari dirinya menemukan ikan yang dia kira bisa tangkap dengan mudah. Dia mencobanya dan sekali ayunan dirinya mendapatkan ikan tersebut, langsung saja dia menaruhnya ke dalam ember yang sudah di sediakan.
Namun jaring kertas yang dia gunakan sudah tidak bisa di pakai lagi, tapi dia masih punya dua jaring tersisa karena pemain diberikan tiga jaring. Sekarang dia mencari ikan lainnya yang mudah di tangkap lagi, William menemukannya lagi dan mulai memasang posisi menangkap ikan tersebut. Dia mengayunkan jaringnya dan sekali lagi ikannya tertangkap, dia cepat cepat memasukan ikan tersebut ke dalam embernya.
“Kamu sering memainkan permainan seperti ini?”
“Iya, dulu aku pernah di ajak orang tuaku ke Vestival.. Namun setiap kali mencobanya aku selalu gagal, ayahku berhasil dan mendapatkan ikannya.. Aku mencoba berulang kali hasilnya tetap sama, namun ikan yang ayah tangkap kita bawa pulang.. Selama ayah di rumah aku meminta bantuannya bagaimana caranya bisa menangkap ikannya dengan mudah, lalu ayah mengajariku.. Butuh waktu lama dan akhirnya aku paham bagaimana caranya, setiap ke Vestival aku selalu membawa ikan ke rumah.. Karena terlalu banyak ikan di rumah ayah membelikanku aquarium untuk menampung ikan yang aku tangkap.. Untung saja ikannya berjenis sama, ibu sampai memarahiku karena ikannya sudah terlalu banyak..”
“… Maaf, aku menanyakan hal tersebut..”
“Tidak apa apa.. Nia ikannya mau di bawa pulang?”
“Sepertinya kak Lia tidak mengijinkanku, bagaimana dengan kak Melody?”
“Aku sepertinya tidak tahu cara merawatnya..”
“Kalau begitu aku bawa pulang saja..”
Sekarang tinggal satu jaring lagi tersisa, William ingin bermain lagi namun dia memberikan jaring terakhirnya kepada Nia. Dia membisikan bagaimana caranya dan Nia langsung mencobanya, Nia mencari ikan yang dibisikan olehnya dan setelah sekian lama mencari dia melihatnya. Nia mencoba menangkap ikan tersebut namun gagal dan jaringnya langsung rusak, setelah itu William mendapatkan dua ikan tangkapannya sebagai hadiah memainkan permain tersebut.
Nia tersenyum melihat ikan yang dia bawa sekarang, setelah itu dia mengajak mereka untuk keliling lagi. Setiap tenda mereka lewati dan berhenti untuk melihat, ada beberapa tenda yang masih ramai termasuk tenda yang memberikan boneka untuk hadiahnya. William melihat mata Nia memandang sebuah boneka di sana, dia bilang ke Nia kalau ingin bermain juga. Mereka menunggu giliran mereka datang karena masih banyak orang yang ingin bermain juga, setelah beberapa orang selesai akhirnya gilirannya.
William membayarnya dan dia mendapatkan lima kali tembakan, dia harus menjatuhkan lima target untuk mendapatkan hadiahnya. Mungkin terlalu susah karena biasanya para pemain mendapatkan tujuh sampai sepuluh tembakan, namun karena ini kampus jadi memiliki aturan yang berbeda. Dia berpikir kalau mereka yang mendirikan tenda tidak bisa mengeluarkan uang yang banyak makanya hanya memberikan peraturan mereka sendiri, dia mencobanya dan satu target terjatuh. William mencoba lagi dan lima target jatuh semua, semua orang bersorak kepadanya.
Karena menang dia menunjuk ke sebuah boneka yang terpampang sebagai hadiahnya, setelah mendapatkan hadiah William memberikannya kepada Nia. Nia langsung saja bahagia setelah menerima boneka tersebut, karena jam sudah menunjukan jam tujuh malam mereka kembali ke tempat paman Willy dan ibunya Melody berada. Mereka sampai di sana dan paman Willy sedang mengobrol dengan ibunya Melody, Nia berlari ke arah mereka dan menunjukan boneka beruangnya.
“Wah boneka beruang, apa Nia membelinya?”
“Tidak, ini pemberian dari kak William karena menang permainan tadi..”
“Kamu tidak menghabiskan hadiahnya kan William?”
“Tidak paman, tenang saja.. Mereka masih mahasiswa di sini, jadi tidak mungkin bisa membeli banyak hadiah..”
“Oh nak Melody tidak tahu? William saat kecil ke Vestival saat pulang selalu membawa hadiah dari sana ke rumahnya, dia selalu membawa entah itu ikan atau barang lainnya.. Dan kebanyakan dia memberikannya kepada anak paman, dulu bahkan dia pernah membawa pulang dua belas boneka dari satu tenda di Vestival..”
“Kamu bisa apa saja ya?”
“Apa? Kamu mau belajar.. Oh iya, bagaimana kabarnya kak Windy paman? Sudah lama tidak melihatnya..”
“Dia masih kuliah di luar kota, sudah mau lulus.. Katanya kalau sudah lulus dia akan pulang, dia juga merindukanmu..”
Mereka berbincang bersama membahas masa kecilnya William, tidak terasa sudah jam delapan dan sebentar lagi acara penutupan akan di mulai. Para panitia Vestival mulai berkeliling sambil berteriak kalau kembang apinya akan dinyalakan sebentar lagi, namun karena tidak ada tempat maka para pengunjung hanya bisa melihatnya dari jalan utama kampus tersebut.
Setelah menunggu kembang api mulai di nyalakan, satu persatu mulai naik dan menghiasi langit malam di tempat tersebut. Mereka menikmati suasa di sana dan setelah itu para pengunjung mulai pulang satu persatu karena acaranya sudah selesai, William dan lainnya juga ikut pulang. Paman Willy mengantar mereka pulang dan naik ke mobilnya, sampailah mereka di depan rumahnya William. Dia dan Nia keluar dari mobil tersebut, sementara paman Willy akan mengantarkan Melody dan ibunya pulang.
“Paman akan mengantarkan Melody dan ibunya pulang.. Kalian masuk saja dan istirahat, Nia juga jangan tidur malam malam..”
“Baik paman..”
“Hati hati paman dan titip salam untuk bibi..”
“Kalau begitu duluan ya William..”
“Iya Melody..”
Paman Willy pergi meninggalkan tersebut dan setelah itu William dan Nia masuk ke dalam rumah, Nia masih memeluk bonekanya. Sementara itu dia menaruh ikan tangkapannya di sebuah toples karena saat ini William belum mempunya tempat yang layak untuk ikannya, dia menaruh ikannya dan setelah itu menyuruh Nia untuk mencuci kakinya.
Untung saja mereka sudah makan malam di acara tadi, setelah itu mereka bermain bersama dengan permaian papan yang William miliki di rumahnya. Mereka bermain sampai larut malam, Nia sudah mulai mengantuk dan dia menyuruhnya tidur di kamarnya. Nia ingin tidur bersamanya namun masih ada urusan yang harus dia lakukan.
“Nanti aku tidur di sini.. Masih ada urusan, Nia tidur dulu.. Sementara itu biar bonekanya yang menemani Nia."
“Baik kak, selamat malam..”
“Malam Nia..”
Setelah itu William keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke meja makan, dia mengecek ponselnya membaca pesan yang dia dapatkan hari itu. Dia membalas semuanya dan setelah itu memeriksa pekerjaannya, dirinya mengerjakan pekerjaannya namun karena sudah malam dia tidak bisa menyelesaikannya. Dia menutup ponselnya dan kembali ke kamarnya untuk tidur, dia tidur di sampingnya Nia yang masih tertidur pulas.
─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─