
Mobil melanjutkan perjalanannya dan mereka sampai di tikungan terakhir, William melihat sebuah tempat mewah dan penuh lampu dari dalam mobil. Sekali lagi dirinya membenarkan penampilannya, Candy heran dengan perilaku temannya tersebut karena selama ini William tidak pernah peduli dengan penampilannya. Candy selalu menggoda dirinya karena tidak peduli dengan penampilannya dan ingin memberikan beberapa pakaian untuknya, namun William tidak menerima pakaian tersebut. Mereka sampai di depan café tersebut dan berhenti di depannya.
“.. Serius? Ini berapa lantai?”
“Hm.. Kurasa ada lima lantai.. Cuman yang dipakai cuman empat lantai.. Memang kamu tidak pernah melihat tempat yang seperti ini?”
“Lihat mataku.. Apakah mataku mengatakan kalau pernah ke tempat seperti ini..”
“Hehe.. Kalau begitu kita turun di sini saja.. Pak supir tolong parkir di tempat yang biasanya.”
Mereka berdua turun dari mobil dan mobil tersebut langsung pergi meninggalkan mereka, Candy mengajak William untuk masuk namun dirinya ingin di luar terlebih dahulu karena dia ingin menanyakan sesuatu kepada seseorang yang menunggunya di dalam. Candy ikut menunggu di luar, sementara itu William membuka ponselnya dan menanyakan sesuatu kepada kak Dea.
“Kak.. Aku sudah sampai.. Tapi kakak di lantai berapa?”
“Oh udah sampai ya.. Akan aku ke sana..”
Setelah William mendapatkan pesan dari kak Dea, dirinya bilang kepada temannya kalau ada seseorang yang akan menemputnya. Karena Candy merasa haus, dirinya bilang kepada William kalau dia ingin masuk dan minum. Dia bingung harus berbuat apa, lalu dia membiarkan Candy untuk masuk duluan dan dirinya menunggu kak Dea di luar. Candy meninggalkan dirinya di luar sementara William melihat lihat daerah tempat tersebut karena dia mendapat ide secara tiba tiba untuk berkas berkas yang sedang dia buat. Dari kejauhan ada seseorang mendekatinya.
“William..”
“Halo kak Dea..”
“Ayo masuk.. Yang lainnya sudah datang.. Masih ada beberapa yang belum datang tapi kamu masuk duluan saja.. Kamu sendirian?”
“Baik kak.. Ah, tadi aku bersama temanku.. Dia sudah masuk duluan..”
“Begitu ya.. Kurasa temanmu sudah sering ke sini.. Kalau begitu ayo.”
Kak Dea mengajak William masuk ke dalam, dia berjalan duluan sementar William mengikutinya dari belakang. Mereka masuk ke dalam dan pemandangan yang sangat megah dan mewah yang dilihat oleh William, dia terdiam di tempat dan kak Dea langsung menariknya.
“Kenapa kamu diam? Ayo ke lantai dua..”
William di tarik menuju ke lantai dua, mereka naik ke lantai dua tidak melalui tangga namun menggunakan Lift. Mereka menaiki Lift tersebut dan sampai di lantai dua, William dan kak Dea keluar dan di sana sudah banyak orang. Lalu dirinya bertanya kepada kak Dea, kak Dea menjawab sembari mengajak William ke tempat duduknya. Mereka sampai di tempat perkumpulan dan banyak orang di sana, kak Dea menyuruh William untuk duduk terlebih dahulu.
‘E.. Aku harus berbuat apa? Kurasa aku akan diam saja di sini.. Oh iya aku akan menanyakan Candy saja.’
“William?”
“Melody? Kamu di sini juga?”
“Iya.. Kak Dea mengirim undangan.. Tapi penampilanmu? Kamu berbeda sekali..”
“Sengaja.. Aku tidak mau mengecewakan kak Dea.. Oh iya kamu ke sini naik apa?”
“Aku naik taksi tadi.. Kamu naik apa?”
“.. Aku bersama Candy ke sini.. Karena aku tidak tahu tempat ini maka aku menanyakannya, dia tahu lalu juga ingin ikut ke sini..”
“Lalu di mana dia?”
“.. Kurasa ada di bawah.. Dia ada urusan..”
William dan Melody mengobrol bersama dan tidak lama kak Dea kembali sambil membawa minuman untuk William, dia menerimanya dan menaruhnya di meja. Kak Dea ikut mengobrol dengan mereka, para orang yang datang semakin banyak dan acara akan di mulai. Seseorang mendatangi tempat mereka dan lagnsung menyeret kak Dea pergi, acara tersebut di mulai. Para senior di sana memperkenalkan diri mereka, satu persatu mereka menyampaikan pesan kepada mahasiswa baru. Setelah itu mereka juga ingin para mahasiswa untuk memperkenalkan diri mereka juga, salah satu senior menunjuk orang.
“Iya kamu.. Tolong perkenalkan diri..”
“Oh saya? Nama saya….”
“Halo.. Nama saya William.. Pesan saya, selamat berjuang bersama.. Terima kasih..”
“Singkat sekali ya pesanmu.. Baiklah kalau begitu.. Selanjutnya..”
Banyak orang yang melihat ke arah William dan ada beberapa yang berbisik kepada teman yang di sampingnya.
“Lihat dia.. Dia tampan.. Apa kamu akan mendekatinya?”
William mendengar bisikan tersebut, dia tidak mau ambil pusing dan duduk kembali. Sementara itu Melody yang duduk di sampingnya menggoda dirinya.
“Sepertinya kamu sudah dapat fans..”
“Diam..”
“Hehe..”
Satu persatu saling memperkenalkan dirinya dan sampai di mahasiswa terakhir, sesudah perkenalan para senior mulai mengambil gelasnya dan menyuruh para mahasiswa baru untuk mengangkat gelas mereka untuk bersulan. Untung saja minuman yang ada di sana tidak mengandung akohol karena William tahu bagaimana minuman yang tercampur akohol, dia melihat ke arah Melody dan dia ragu untuk meminumnya.
“Minum saja.. Tidak ada akohol di dalamnya..”
“Benarkah?”
William langsung meminumnya dan setelah itu Melody mengikutinya, para pelayan datang ke tempat mereka dan memberikan buku menu kepada semua mahasiswa baru. Para senior ingin para mahasiswa baru untuk memilih makanan untuk mereka sendiri, semua mahasiswa baru terkejut dan langsung membuka menunya. Kak Dea datang menemui mereka berdua.
“Pesan saja.. Tapi jangan banyak banyak..”
“Dana kampus memang sebanyak ini?”
“Tidak banyak.. Namun para senior menabung untuk acara seperti ini.. Mereka juga meminta kepara dosen untuk menyumbang juga.. Tiap tahun ada di sini terus jadi para dosen bisa memantau..”
“Begitu ya..”
Satu persatu pesanan mulai di catat oleh para pelayan, William memanggil salah satu pelayan untuk mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya pesan ini.. Melody bagaimana denganmu?”
“E.. Aku tidak tahu.. Aku sama seperti William..”
“Baik sudah saya catat.. Ada lagi?”
“Oh iya.. Maaf.. Saya pesan ini untuk di bawa pulang.. Atas nama William dan yang bernama Candy yang membayarnya.. Terima kasih..”
Pelayan terkejut, setelah itu dia mencatanya dan pergi meninggalkan mereka. Satu persatu para mahasiswa baru saling berkenalan, sementara itu William bersama Melody dan kak Dea duduk di pojokan sambil mengobrol. Banyak orang yang ingin mengajak mereka bertiga bekenalan namun semuanya tampak ragu dengan penampilan William yang tampak anak orang kaya, kak Dea pun mengejeknya.
“Tuh.. Banyak yang ingin berkenalan dengan kalian.. Sepertinya karena penampilan William..”
“Aku anak dari keluarga biasa.. Ini hanya pakaian lama yang tidak pernah aku pakai.. Bagaimana denganmu Melody?”
“.. Aku ingin berkenalan juga sih.. Tapi seperti di sekolah lama.. Aku juga ragu.. Ibu bilang untuk mencari teman yang mau menerima diriku seperti ini..”
“Tenang saja.. Kak Dea akan melindungi dirimu..”