The Noble

The Noble
54



William membawa semua peralatan makan yang kotor menggunakan kereta dorong, dia membawanya ke dapur dan menaruhnya di tempat pencucian. Dirinya menaruh semua peralatan tersebut dan segera mencucinya, nenek Widia juga ikut membantunya. Sementara itu kak Lia menyuruh para pekerja lain untuk membersihkan area depan dan atas secepat mungkin, sedangkan dirinya ikut membantu William mencuci piring.


“Loh kak Lia.. Kenapa kak Lia mencuci?”


“Kenapa.. Baru lihat aku mencuci? Diam dan cuci saja..”


“Baik..”


Mereka bertiga mencuci semua peraralatan kotor secara bersamaan, semua peralatan mereka cuci dan beberapa pekerja selesai dengan pekerjaan mereka. Satu persatu berpamitan pulang kepada kak Lia dan meninggalkan restoran, William pun juga ingin pulang ke rumahnya. Dirinya ijin pamit kepada kak Lia dan dia mengijinkannya, William berjalan keluar dari restoran melalui pintu belakang dan berhenti sebentar di depan restoran. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengecek daftar kebutuhannya, setelah itu dia memutuskan untuk mampir sebentar ke mini market terdekat. William melihat mini marketnya dan masuk ke dalamnya.


“Apa kau lebihkan barang barangnya? Biar tidak beli lagi untuk waktu dekat, tapi uang di dompetku mulai menipis..”


William keliling memutari mini market tersebut untuk melihat lihat barang yang ada di sana, satu persatu barang yang ada didaftar belanjaannya dia ambil. Dia memilih barang barangnya secara berhati hati dan melihat harga dari barang tersebut agar dirinya tidak terlalu boros, semua barang sudah dia dapatkan. William membawa barangnya ke kasir untuk membayarnya, satu persatu barang sudah dihitung dan tampaknya kebutuhan dirinya kali ini melebihi biasanya.


‘Tidak apalah.. Besok akan aku ambil di atm..’


William membayar semua barangnya dan keluar dari mini market, dia mengambil satu minuman yang dia beli dan membukanya di depan tempat tersebut. Dia langsung meminum minuman tersebut sampai setengahnya.


“..Memang harus berhemat..”


William menaruh kembali minumannya di kantungnya dan berjalan menuju ke rumahnya, dia melewati restoran dan melihat kak Lia ada di depannya. Dia berniat berhenti sebentar dan menyapanya.


“Kenapa kak Lia belum pulang?”


“Kenapa juga kamu belum pulang? Kemana kamu?”


“Hehe.. Aku beli barang barang sehari hari kak..”


“Oh begitu.. Pulang sana.”


“Baik kak..”


William akhirnya pulang menuju ke rumahnya dan meninggalkan kak Lia di sana, dia bingung kenapa kak Lia menunggu di depan restoran. Karena biasanya dia hanya beristirahat sebentar di sana tapi kali ini William merasa kak Lia menunggu sesuatu di depan sana, dia tidak mau ambil pusing dan akhirnya memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya. Dirinya melewati depan rumahnya Melody dan kali ini tidak ada yang duduk di depan rumahnya, lantas dia melewati rumah tersebut. William sampai di depan rumahnya dan seperti biasa dia melihat sekeliling rumahnya tersebut sebelum masuk ke dalam rumah.


“Hm.. Tidak ada sesuatu.. Mulai dingin.”


William membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah, dia menyalakan lampu terlebih dahulu dan menaruh barang barangnya di atas meja. Setelah itu dia melepas sepatunya dan berjalan ke arah kamar mandi, dia keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan meuju ke kamarnya utuk mengambil pakaian bersih. Sesudah itu dia pergi ke kamar mandi untuk mandi karena hari ini bekerja keras dan meneteskan keringat, William mandi dan dirinya kedinginan. Dia langsung keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dan langsung mengambil semlimutnya yang ada di kamarnya, dia membawa selimut tersebut ke ruang depan dan setelah itu langsung duduk di sana.


“Lama lama mulai dingin.. Aku juga kenapa harus mandi, besok kan bisa..”


Karena dirinya tidak tahu mau berbuat apa, dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang kemarin. William berjalan ke kamarnya untuk mengambil berkas berkasnya dan membawanya kembali ke ruang depan, dia melatakan berka berkasnya dan sebelum duduk dirinya menuju ke dapur untuk membuat minuman yang bisa menghangatkan badannya. Setelah itu dia membawa minuman tersebut ke ruang depan dan menaruhnya di atas meja, William mengeluarkan cemilan yang dia beli dari tas belanjaannya dan membukanya.


William memakan cemilannya dan meminum minumannya, setelah itu dia langusng melanjutkan mengurus berkas berkasnya. Dirinya mengerjakan berkas berkas tersebut sampai tengah malam, karena merasa lelah dia berhenti dan menutup berkas berkasnya. William membawa berkas berkasnya ke kamarnya dan meletakannya di dalam lemari, dia kembali ke ruang depan untuk membersihkan mejanya dan sekalian membawa selimutnya kembali. Setelah sampai di kamar dirinya langsung memasang posisi tidur dan menggunakan selimutnya, dia melihat ponselnya sekali lagi dan mengecek sebelum dirinya tidur.


“Candy lagi ya? Karena tadi sibuk jadi tidak sempat membalas pesan.. Hm.. Dia mau ke sini besok? Oh sendirian?.. Apa kamu yakin sendirian?”


Pesannya langsung dibalas oleh Candy.


“Iya.. Yakin.. Aku akan ke sana sendirian.. Jadi kamu buatkan aku kue yang kamu kirim kemarin..”


“Tidak mungkin kamu ke sini sendirian.. Aku yakin itu.. Kamu saja pernah keluar dari rumah secara diam diam dan selalu ketahuan terus menerus.. Tapi kalau bisa akan aku buatkan untukmu..”


“Janji yaa…”


“Iya iya..”


William melihat pesan yang lainnya dan membalasnya, dari pesan tentang pekerjaannya sampai ke teman temannya. Dia ingin melihat pesan grupnya yang sudah lama tidak dirinya lihat, William membukanya dan tampak ratusan pesan yang masuk. Dia membacanya satu persatu sampai di pesan yang baru.


“Mereka ingin liburan bersama sebelum masuk kuliah ya? … Yah mau bagaimana lagi, aku harus menghemat dan di sana pasti ada Nixie dan tunangannya.. Aku tidak mau membuka halaman yang lama kembali karena aku sudah hafal isinya.. Tapi ini Candy.. Dia selalu menaruh namaku di atas… Awas kamu ya.. Besok kalau datang akan aku buatkan satu untukmu dan rasanya kamu akan tau sendiri.. Hehehe..”


“Dari Melody.. Kurasa Melody juga tidak bisa ikut.. Fauna juga katanya sibuk karena membantu ibunya, sepertinya hanya beberapa orang saja.. Mungkin saja dibatalkan..”


“Mending kamu tidur sana.. Mengganggu malam tidurku saja Candy..”


“Siapa yang mengganggu.. Kamu yang mengganggu..”


“.. Aku mau tanya.. Kamu masuk ke kampus mana?”


“Aku? Aku di Andforth University.. Oh iya kamu masuk ke mana? Masa William tidak kuliah.”


‘Andforth? Entahlah.. Aku tidak tahu mana lagi itu.. Yang pasti Elite.’


“Andforth itu di mana? Aku tidak pernah mendengarnya? Aku? Kamu ingin tahu? Tidak usah ya.. Hehe.”


“Itu ada di kota sebelah.. Ihhh.. Kamu di mana? Apa bersama Melody? Aku tanya Melody nih?”


“Entahlah.. Aku tidur dulu.. dahh.”


William mengatur alarmnya setelah itu menaruh ponselnya di atas meja, dirinya memikirkan sebentar tentang rancangannya yang belum sempurna. Satu persatu mulai terbentuk dan dia ingin mencatatnya di ponselnya, William mearih ponselnya dan membukanya. Dia langsung mencatatnya, kembali memikirkannya dan setelah itu mencatatnya. Jam satu malam dan suhu semakin menurun, William memutuskan untuk tidur dan melanjutkannya besok di pagi hari.