
William menerima makanan yang diberikan kak Lia kepadanya, dia langsung memakan makanan tersebut setelah meletakannya di atas meja. Setelah memberikan makanan tersebut kak Lia meninggalkan William menuju ke dapur kembali, William melanjutkan istirahatnya sebentar dan setelah itu dia membersihkan meja yang sudah digunakan para pelanggan. Jam istirahatnya tersisa banyak maka dari itu dirinya berniat untuk membersihkan semua meja yang terlihat kotor, dia membawa piring kotornya ke dapur dan ingin mengambil peralatannya.
“Kamu mau apa?”
“Itu kak.. Aku mau membersihkan meja..”
“Oh.. Baguslah…”
William meletakan piringnya di tempat cuci dan setelah itu dia mengambil peralatannya, dia menuju ke depan sambil membawa peralatannya. Dia mulai membersihkan satu persatu meja yang ada, para pekerja lain sibuk mengambil piring dan gelas kotor. Sedangkan William membersihkan meja yang terlihat ada serpihan makanan yang terbuang ataupun alas meja yang nampak basah ia ganti, satu persatu meja menjadi bersih seperti semula. Setelah selesai dengan meja terakhir, dia melihat ke arah jam.
“Sebentar lagi mau dibuka.. Pas sekali.. Sepertinya sudah.”
William membawa peralatannya kembali ke belakang dan meletakannya di tempatnya, setelah itu dia kembali ke tempatnya dan menunggu restoran kembali dibuka. Para pelanggan mulai masuk dan semua pekerja mulai bekerja kembali, mereka bekerja keras dan tidak terasa sebentar lagi restoran akan di tutup. Hanya tersisa beberapa pelanggan lagi yang masih memakan hidangan mereka. Para pekerja yang selesai dengan pekerjaannya mulai bersih bersih, William juga mengambil piring piring kotornya dan membawanya ke belakang.
“Jangan pulang dulu.. Tunggu di sini..”
“E.. Baik kak..”
William menerima arahan dari kak Lia untuk tidak pulang terlebih dahulu, dia menurutinya dan kembali ke depan untuk bersih bersih. Karena ruangan depan sudah banyak orang yang membersihkannya, dia berniat untuk bersih bersih di depan restoran. William mengambil sapu dan berjalan ke depan lewat pintu belakang, dia mulai menyapu halaman depan restoran yang tampak kotor dan satu persatu kotoran mulai terkumpul. Dia membuang sampah tersebut ke dalam bak sampah dan mulai membersihkan dirinya sendiri, sesudah itu dia kembali ke dapur untuk meletakan sapunya dan mencuci tangannya. William melihat nenek Widia sedang mencuci piringnya dan dia mendekatinya berniat membantunya.
“Aku tolong nek..”
“Ah.. Tidak usah nak.. Ini pekerjaan nenek.. Kamu istirahat saja, nenek lihat kamu bekerja keras hari ini..”
“Tidak apa apa nek.. Dari pada aku cuman diam..”
William membantu nenek Widia mencuci alat alat makan yang kotor dan satu persatu menjadi bersih, tidak lupa dia mengembalikan alat alat kembali ke tempatnya. Sesudah itu nenek Widia selesai dengan pekerjaannya dan kembali ke rumahnya, William melihat satu persatu pekerja pulang ke rumahnya. Dia hanya menunggu karena perintah dari kak Lia, dia hanya duduk dan mengawasi sekitar. Dia melihat ada yang tidak rapi, segera dirinya berdiri dan merapikannya. William duduk kembali ke kursinya dan tiba tiba di sampingnya sudah ada kak Lia.
“… Kak, aku minta tolong untuk datang secara normal..”
“…”
“Ah tidak.. Jadi, kak Lia menyuruhku menunggu untuk apa?”
“Tidak jadi.. Kamu pulang lah..”
“..E… Baiklah..”
William kebingungan karena tingkah laku dari kak Lia, walaupun dirinya sudah terbiasa namun dia merasa tidak biasa. Dia tidak mau ambil pusing dan langsung saja berjalan pulang ke rumahnya, di jalan dia mulai memikirkan rancangannya kembali sambil melihat daerah sekitar rumahnya yang bisa jadi inspirasi buatnya. Satu persatu bayangannya mulai terwujud dan karena dia merasa lelah, William mulai menghentikan pikirannya.
“Tapi, tadi kak Lia ingin apa? Tidak mungkin menyuruhku menunggu tapi tidak ada urusan apapun.. Apa jangan jangan kak Lia sedang menilai para pekerja? Makanya dia menyuruh pekerja untuk menunggu para pelanggan hilang dulu dan melakukan rapat kecil dengan bawahannya.. Kuharap nilaiku bagus..”
William melanjutkan perjalannya kembali setelah dia berhenti dan berbicara sendiri, dia sampai di depan rumahnya Melody dan melihat ibunya duduk di depan rumahnya. Dia ingin berhenti sebentar dan menyapanya.
“Selamat malam tante..”
“Malam William.. Kamu baru pulang?”
“Tante sedang menunggu Melody..”
“Emang Melody ada di mana tante?”
“Di dalam.. Katanya ingin menyiapkan sesuatu..”
“Melody sudah sembuh?”
“Sudah.. Tadi siang..”
“Kalau begitu saya pulang terlebih dahulu tante.. Titip salam untuk Melody.”
“Hati hati nak.”
William melanjutkan perjalanannya dan sampai di depan rumahnya, dia mengecek sekitar dan tidak menemukan apapun. Dia juga mengecek bunga yang dia tanam dan terlihat sudah ada tanda tanda akan mekar, dirinya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah karean suhu di luar sudah mulai menurun. William membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah, seperti biasa dia langsung mencuci kakinya dan setelah itu dia langsung berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil rancangannya kemarin yang belum selesai.
Dia langsung menaruhnya di atas meja dan tidak lupa untuk membuat secangkir cofe terlebih dahulu untuk menemaninya, setelah itu dia mulai mengerjakannya kembali. Lama kelamaan dia mulai lelah dan menghentikan pekerjaannya, dia menutup rancangannya dan beristirahat sebentar. William meraih ponselnya dan membukanya, banyak pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Dirinya membaca pesan satu persatu dan membalasnya termasuk dari temannya.
“Maaf ya William.. Kemarin aku sakit jadi tidak bisa keluar..”
“Tidak apa apa.. Kamu sudah sembuh bukan? Jaga kesehatan… Selanjutnya, dari Candy… Seperti biasa, dia hanya mengirimkan sebuah foto.. Oh iya.. Aku memotret kue buatanku.. Hehe.. Akan kukirimkan kepadanya.. Selanjutnya.. Hm. Dari siapa ini? Aku tidak kenal.. tapi kenapa dia tahu namaku?.. Halo ini siapa?.. Sudah semua.. Lebih baik aku tidur..”
William menutup ponselnya dan membawa berkas berkas rancangannya kembali ke kamarnya, dia meletakan rancangannya di dalam lemari dan meletakan ponselnya di meja yang berada di samping kasurnya. Setelah itu dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk menggosok giginya terlebih dahulu sebelum tidur, sesudah itu dirinya kembali ke kamarnya dan langsung memasang posisi tidur. Tapi sebelum itu dirinya mengecek alarmnya kembali dan ada pesan masuk ke dalam ponselnya.
“Siapa.. Oh Candy.. Pfft, dia marah marah.. Kalau kamu ingin datang saja.. Makanya jangan pamer makanan terus..”
“Pokoknya aku ingin kue itu.. Berikan kepadaku..”
“Maaf tapi sudah habis…”
“Aku tahu itu buatanmu.. Buat lagi untukku.. Aku akan ke sana..”
“Kalau begitu aku ijin masuk.. Hehehe..”
“Aku akan tanya pada paman Willy untuk menyuruhmu masuk.. Awas saja..”
“Kenapa kamu tidak belajar saja membuat sendiri.. Orang tuamu kan punya perusahaannya bukan? Jadi mereka bisa mengajarimu atau menyuruh pekerjanya untuk mengajarimu..”
“Sudah pernah dan aku tidak tahu..”
“Ternyata otakmu hanya untuk bidang akademis saja ya.. Untuk dunia luar kamu sangat payah..”
“Apa kamu bilang..”