The Noble

The Noble
Episode 6



Mereka saling bertukar kue, William beranjak keluar dari dapur dan membawa kuenya untuk diberikan kepada nenek Widia. Ketika dia sampai di depan kamarnya, nenek Widia tidak ada lalu ia meletakan kue tersebut di meja yang ada di depan kamarnya dan berjalan masuk kembali ke dapur. Melody yang sedang belajar membuat kue terlihat bahagia, William melihat temannya tersebut dari jauh.


“Demi ibunya dia rela belajar dengan tekun untuk membuat kue”


William memutuskan untuk mendekat ke Melody dan menanyakan kenapa ia berpikiran untuk membuat kue dan bukan hal lain.


“Itu hanya yang ada di dalam kepalaku.. aku bisa saja bekerja namun ibu menyuruhku untuk belajar saja.. ibu ingin aku bahagia dan melanjutkan keinginanku.. begitulah… oh iya William bagaimana dengamu?” kata Melody.


William yang mendengar cerita dari Melody membuat dirinya bercerita juga tentang hidupnya yang lumayan susah dijelaskan untuk diceritakan. Mereka saling bertukar cerita dan sampai membuat mereka lupa dengan waktu. Siang tiba dan tidak ada yang sadar waktu berlalu dengan cepat, mereka memutuskan untuk beristirahat dan William menyarangkan melody untuk makan siang terlebih dahulu. Melody menyetujuinya dan bertanya kepada William, makan siang apa yang harus dibeli di sekitar tempat tersebut.


“Adakah tempat yang enak di sekitar sini.. aku akan mentraktirmu karena sudah membantuku.” Tanya melody.


“Ada di depan sana.. tidak perlu, kamu yang sering membantuku seharusnya aku yang mentraktirmu..” jawabnya.


Mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di tempat yang William sarankan, mereka setuju untuk mentraktir secara bergantian. Tempat tersebut tidak begitu jauh dari restoran, hanya beberapa puluh langkah jauh untuk mereka sampai di sana. Ketika sampai di sana sudah banyak orang yang sedang mengantri di sana, dari berbagai kalangan datang ke sana untuk makan siang. Tempat tersebut memang buka hanya pada waktu siang hari sampai sore saja. Walaupun tidak begitu banyak menu, tempat tersebut ramai dan banyak yang rela mengantri untuk makan di sana. Bagi William tempat tersebut sangat sederhana dan terasa nyaman, harga di sana juga cukup murah namun dengan porsi makanan yang banyak yang membuatnya jadi terkenal dan ramai sejak dulu. Melody penasaran bagaimana rasa dari makanannya sambil mereka menunggu untuk gilirannya, ponsel William tiba tiba bergetar lalu ia mengambilnya dari saku.


“Hey William.. apa kamu mau pergi ke pantai? Teman teman yang lain mengajak bermain ke pantai.. ayolah kawan ke sini.. kita sudah lama tidak bermain bersama..” pesan yang dia terima dari salah satu temannya.


“Maaf Leo.. aku tidak bisa, aku harus bekerja” jawabnya.


Leo merupakan teman William yang sering mengajaknya pergi ke manapun dia mau, dari pantai sampai pegunungan. Namun dirinya tidak bisa pergi begitu jauh dari rumahnya, banyak hal yang harus ia kerjakan. Leo anak dari ketua petinggi pemerintahan yang sedang naik tahun ini, tidak begitu banyak yang bisa mendekatinya dikarenakan takut kepadanya. Tampak garang dan badan yang besar, dia mengintimidasi setiap orang yang ada didekatnya. Namun sebenarnya dia anak yang baik hati dan selalu mendengarkan semua perkataan dari teman temannya.


“Ada apa William? Ada hal yang penting ya? Mukamu kenapa begitu?” suara Melody datang dari depannya.


“Ah. Tidak apa apa.. hanya pesan dari Leo , bukanlah hal yang penting..” jawabnya.


“Leo yaa.. pasti kamu di ajak lagi untuk pergi.. apa kamu akan pergi?” tanya melody.


“Tidak.. aku banyak urusan.. masih harus membantumu belajar membuat kue.. sepertinya giliran kita masuk..” jawabnya sambil berjalan masuk.


“Oh iya William terimakasih hari ini.. karena sudah membantuku.. akan kubayar kebaikanmu lain kali.. dah yaa rumahku sudah sampai..” jawabnya berjalan masuk kedalam wilayah rumahnya.


“Tidak perlu.. aku hanya membantu temanku yang sama sama dalam keadaan yang susah.”


William berjalan pulang kerumahnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya Melody. Dia memikirkan perkataan Melody tentang masa depannya yang ingin dilakukannya. Dirinya berpikir bisa saja melanjutkan kuliah walaupun tidak harus yang ke kampus Elite, lebih memilih untuk masuk ke kampus yang biasa saja yang tidak terlalu jauh dari rumahnya maupun dengan beasiswa yang di dapat dari sekolah Newxville pada kelusannya. Dia tidak mau masuk kekumpulan Elite lagi dan ingin hidup normal seperti pemuda pemuda lainnya. William memutuskan untuk menyiapkan persiapannya agar bisa masuk kuliah dalam pikirnya, namun ada beberapa yang harus dia lakukan terlebih dahulu yaitu mencari informasi tentang kampus yang ada didekatnya. Akhirnya dia sampai di depan rumahnya dan membuka pintunya, namun sebelum masuk dia melihat sekitar rumahnya dan ada beberapa sampah yang berserakan mungkin karena tertiup angin.


“Yahh semua bisa terjadi dengan cepat.. aku tidak bisa menghentikan waktu ataupun memperlambatnya”


Dia membersihkan sampah yang berserakan di pekarangan rumahnya dan membuangnya ke tempat sampah yang tersedia di depan rumahnya, sebelum membuang sampah tersebut dia melihat selembaran yang ikut ke dalam sampah yang dipungutnya tadi. William membuka selembaran tersebut dan ternyata berisikan tentang mahasiswa baru yang bisa di terima masuk dan beberapa persyaratan, dia membuang sampahnya dan menyisakan selembaran kertas tersebut dan membawanya ke dalam rumah. William membaca selembaran tersebut sambil duduk di sofa, karena ada yang harus di catat dia mengambil buku catatannya dan menulis apa saja yang dibutuhkannya. Dari buku baru maupun alat tulis, namun dia berpikir sekalian untuk membeli peralatan untuk dirumahnya yang sekarang semakin usang karena tidak diganti dengan kurun waktu yang lama. Dia akhirnya memutuskan mandi terlebih dahulu sebelum memikirkan hal lainnya. Setelah mandi dia merasa mengantuk karena lelah dari pembelajaran bersama Melody, sambil mengingat apa yang dibutuhkannya dia lama kelamaan terlelap di sofa tersebut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\= TIME SKIP \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sore menjelang malam dirinya terbangun dari tidurnya, dia bangun dari sofa dan berjalan ke pintu rumahnya dan membukanya, karena suasana mulai gelap dia menutup pintu tersebut dan menyalakan lampu rumahnya dan berjalan menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam. Sebelum dia menyiapkan makan malamnya tiba tiba ponselnya berbunyi dan pesan masuk ke ponselnya.


“William.. aku akan ke tempat kerjamu besok.. bolehkan?” pesan yang dia dapat.


Siapa lagi kalau bukan Candy yang hanya dia kenal untuk mengirimkan pesan pada waktu yang tidak tertebak. Dia membalasnya,


“iya.. aku akan mengirimkan alatmatnya besok pagi.”


Dia melanjutkan untuk menyiapkan bahan untuk makan malamnya dan mulai memasak. Tidak butuh banyak makanan untuk makan malamnya, dari makanan yang ringan hingga berat dia buat. William selesai dengan memasaknya dan ingin segara memakan masakannya tersebut. Dia membawa makanannya ke meja makan dan mulai memakannya, perlahan demi perlahan dan dengan tenang dia melahap semua makannya. Tidak berasa makanannya sudah habis, karena tidak ada yang bisa dia pikirkan untuk melakukan apa akhirnya dia mencuci semua piring dan gelasnya yang kotor. Ketika sedang mencuci piring dan gelasnya yang kotor dia teringat belum mencuci pakainnya dalam 2 hari ini, dia mempercepat membersihkan peralatannya dan lalu berlari ke kamarnya untuk mengambil pakaian kotornya dan mulai berlari lagi untuk kekamar mandi dan mencuci semua paikainnya yang kotor.


William tidak memiliki mesin cuci atau yang lainnya dan hanya bisa mencucinya secara manual, namun dia tidak pernah mengeluh ataupun berpikiran untuk membeli mesin cuci karena dia nyaman mencuci dengan kedua tangannya dan mesin cuci juga termasuk barang mahal. Walaupun dia memiliki uang yang lebih dia masih mau menyimpannya dengan aman dan tidak memakainya selain untuk kebutuhannya sehari hari. Tidak banyak pakaian yang kotor sehingga sedikit waktu yang dia butuhkan untuk mencuci semuanya, dia membilas pakaiannya dan mengeringkannya di teras rumahnya. Sedikit memalukan untuk mencuci dimalam hari, selain itu seharusnya dia mencucinya di pagi hari sehingga cepat kering. Dia takut jika terjadi hujan dan semua pakainnya basah dan bau terkena hujan.


William segera mencari ponselnya dan memeriksa apakah hari ini dan besok hari akan hujan atau tidak diramalan cuaca. Ternyata tidak hujan walaupun hanya berangin, dia lelah karena berlari ke sana ke sini dan memutuskan untuk duduk di sofa dan membuka ponselnya untuk melakukan hal lainnya seperti membaca novel kesukannya yaitu The Noble. Dia membca cerita dari lanjutan yang terakhir dia baca, karena terlalu banyak cerita yang dia baca lama kelamaan dia mengantuk. Sebelum tidur dia sudah mengunci pintu rumahnya dan mencuci kakinya, tidak lupa meminum air terlebih dahulu. Setelah itu dia memeriksa ponselnya kembali lagi apakah ada hal yang penting masuk ke emailnya ataupun pesan lainnya, tidak ada yang masuk dia memutuskan untuk tidur sekarang. Sebelum tidur dia memastikan semua hal dalam kaeadan mati dan setelah itu dia berjalan ke kamarnya. William menutup jendelnya dan dan langsung tertidur di kasurnya yang nyaman.