The Noble

The Noble
#60



Mereka dalam perjalanan menuju ke tempat di mana William di jemput, Melody dan Candy sedang sibuk berbicara selama perjalanan sedangkan William hanya duduk terdiam dan menatap ke arah luar jendela mobil. Dia berada di samping kanan sedangkan Candy berada di samping kiri, Melody berada di tengah tengah mereka berdua. Karena merasa bosan dalam perjalanan dia mengambil ponselnya dan membukanya, ada pesan dari kak Dea.


“Maaf soal tadi… Aku tidak tahu kalau kamu banyak masalah, kamu terlihat diam saja.. Oh iya besok ada pengenalan dan besok semua mahasiswa baru akan berkeliling di dalam daerah kampus, kamu datang ya.”


“Tidak apa apa kak.. Jam berapa besok?”


“Jam delapan.. Jangan terlambat dan tidur cepat.. Selamat malam.”


“Terima kasih kak.. Selamat malam..”


William menutup pesannya dan membuka hal lainnya, banyak yang bisa dicari namun dirinya merasa sedang dalam keadaan tidak mau melakukan apa apa. Karena tidak ada yang menarik, dia menaruh ponselnya kembali dan melihat ke arah luar jendela mobil lagi sambil menunggu mereka sampai di tujuan.


“William.. Kenapa kamu diam saja?”


“Maaf Melody.. Aku sedang tidak ingin berbicara apa apa…”


“Ah.. Maaf kalau begitu…”


Candy ingin menegurnya juga namun melihat ke adaannya dia tidak jadi melakukannya, dia bilang kepada Melody untuk diam saja selama perjalanan agar William tidak terganggu. Akhirnya setelah beberapa menit mereka sudah mau sampai di tujuan mereka, William melihat ke arah teman temannya yang diam saja dari tadi. Dia merasa tidak enak juga membuat teman temannya merasa bersalah, lantas dirinya melontarkan sebuah kata.


“Maaf..”


Sontak kedua temannya menoleh ke arahnya.


“Tidak apa apa William.. Walaupun aku tidak tahu masalahmu apa, aku hanya ingin membuat temanku merasa baikan saja..”


“Kamu juga tadi di sana senang selepas masuk mobil berubah? Apa kamu tidak suka naik mobilku?”


“Tidak.. Bukan itu.. Hanya masalah pribadi.. Aku berterima kasih karena sudah dikasih tumpangan..”


Mereka akhirnya sampai di tujuan mereka, mobil berhenti dan William membuka pintu yang ada di sampingnya. Dia keluar dari mobil diikuti oleh Melody dari belakang, dia menghirup nafas yang panjang terlebih dahulu sebelum mengucapkan perpisahan kepada temannya. Candy tiba tiba melontarkan sebuah kata kepadanya.


“Kamu akan tersedak kalau begitu..”


“… Kurasa.. Tapi terima kasih karena sudah mau mengantar dan memulangkanku.. Aku kira akan diculik..”


“Aku juga berterima kasih Candy..”


“Sama sama Melody.. Kurasa William sudah seperti biasanya.. Tapi penampilanmu kali ini terlihat bagus sekali..”


“Kurasa juga begitu..”


“Apa? Apa tidak pernah melihat orang berpenampilan seperti ini?”


“Banyak sih.. Tapi kamu sejauh ini yang paling bagus.. Sudah malam, kalau begitu aku pulang dulu ya.. Sepertinya orang tuaku sedang menunggu di rumah.. Selamat malam kalian berdua..”


Candy menutup pintu mobilnya dan meminta sopirnya berjalan, dia meninggalkan mereka berdua di sana. William memulai langkahnya menuju ke arah rumahnya dan diikuti oleh Melody, dia berjalan dengan pelan sambil menikmati udara malam tersebut. Melody hanya diam saja berjalan di sampingnya, sudah beberapa langkah mereka lewati namun belum ada yang berbicara.


“.. Maaf kalau aku diam selama perjalanan..”


“Tidak apa apa.. Seharusnya aku juga diam saja tadi.. A.. William.. Sepertinya rumahmu sudah kelewatan?”


“Aku antar sekalian sampai depan rumahmu.. Aku tidak enak dengan ibumu..”


“..”


William mengantar Melody sampai di depan rumahnya, ibunya sedang duduk di depan teras sambil menikmati malam tersebut. Melody berpamitan dengan William dan masuk ke dalam dan ibunya menyapa kepadanya.


“Terima kasih karena sudah mengantar Melody..”


“Tidak apa apa tante.. Saya pulang dulu kalau begitu..”


“Hati hati..”


“Apa aku cemburu? Kurasa tidak… Terus mengapa? Pantai… Iya.. Leo pernah mengajakku ke pantai, tapi bukan itu.. Apa karena aku tidak bisa naik menjadi orang yang lebih baik..”


“Kamu sudah baik dari awal aku bertemu denganmu.. Kenapa kamu memikirkannya..”


“Melody? Kenapa kamu di sini…”


“Kurasa aku tahu kenapa kamu sedih.. Soal Nixie bukan..”


“Mungkin.. Aku tidak merasa cemburu ataupun itu, aku hanya merasa gagal saja..”


“Tidak.. Kamu tidak gagal.. Kamu selalu baik kepada orang orang dan kamu selalu membuat orang bahagia, tidak ada satupun orang yang sedih karenamu.. Jadi kuatlah..”


“… Begitu ya.. Terima kasih, tapi kenapa kamu ada di sini.. Seharusnya kamu sudah istirahat di rumah saja..”


“Aku tidak enak melihatmu, aku ingin berbicara kepadamu namun ibu bilang kamu sudah pulang dulu.. Aku mengejarmu dan ingin membuatmu mengatakan masalahmu.. Aku tahu kamu menyukai Nixie dari dulu, namun kamu harus tetap kuat.. Kamu pasti bisa, kurasa aku sudah mengucapkan banyak hal.. Aku pulang dulu ya..”


Melody memutar badannya dan berjalan berlawanan.


“Tunggu Melody..”


Melody berhenti dan berbalik.


“Iya?”


“Terima kasih… Terima kasih karena sudah membuatku tenang kembali.. Hati hati..”


“Hehe.. Tidak apa apa.. Sampai jumpa..”


Melody berjalan ke arah rumahnya dan William juga berjalan ke arah rumahnya, dia sampai di depan rumahnya dan setelah itu dia membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah. Dia melepas sepatunya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mencuci kakinya dan menggosok giginya, sesudah itu dia mengambil air minum dan membawanya ke kamar. William menaruh segelas air tersebut di meja dan dia membuka lemarinya, dia mencari dokumen lamanya. Setelah itu dia membukanya dan membaca dokumen tersebut.


“Ayah dan ibu.. Apa harus sekarang? Mungkin akan aku lakukan jika dalam keadaan darurat saja.. Terima kasih Ayah dan Ibu..”


William menyimpan dokumen tersebut kembali ke tempatnya dan mengunci lemari kembali, dia berjalan ke mejanya dan meraih segelas air.Dia meminum air tersebut dan duduk di kasurnya, William mengambil ponselnya dan membukanya. Banyak pesan yang masuk ke dalam group yang dibuat bersama teman temannya, karena dia penasaran William pun membukanya. Dia menarik ke atas dan pesan yang membuat group tersebut rame karena pesan dari Candy.


“Lihat ini William.. Kalian tidak akan percaya.. Tampan bukan..”


“Dari mana kamu mendapatkannya Candy?”


“Di café biasanya.. William dan Melody ke sana.. Aku diam diam mengambil gambarnya..”


“Wah William ternyata bisa seperti itu.. Itu lebih baik dari bisanya.. William keluar kamu..”


“Kurasa dia sudah tidur..”


“Oh ini William? Terlihat berbeda?”


“Bagaimana denganmu Fauna? Bagus bukan..”


“.. Hm, kurasa..”


“Oh iya di mana Nixie?”


“Kulihat tadi dia online… Itu fotonya sudah dia lihat, kurasa dia sibuk dengan liburannya..”


“Kamu mengambil fotoku.. Dan mengirimnya di sini.. Awas saja kamu ya…”


“Oh ini dia orangnya.. Hehe Maaf ya…”


William langsung mematikan ponselnya dan memasang posisi tidur, dia tidak mau ambil pusing malam itu dan memilih untuk tidur agar besok bisa bangun pagi dan bersiap siap dengan kuliahnya.