
William membawa makanan ringan tersebut ke depan televisi, dia menyalakan televisinya dan menonton acara yang ada di dalamnya sambil memakan makanannya. Karena terlalu bosan, dia memutuskan untuk mencari infomarsi dengan ponselnya. William mencari tempat ataupun toko yang pernah belum dia kunjungi sama sekali, satu persatu mulai terlihat di layar ponselnya. Berbagai tempat mulai terlihat dan William mengaturnya supaya tempat terbaik yang muncul duluan, dia mencatat semua tempat tersebut ke dalam ponselnya.
“Mungkin sesekali aku akan pergi ke tempat yang jauh dari rumah.. Tapi aku juga tidak bisa meminta hari libur terus menerus kepada paman Willy.. Mungkin aku hanya bisa pergi pada hari minggu.. Tapi tidak apa apa..”
Sesudah mencatat semua tempat yang dia lihat, William bangun dari sofanya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk buang air. Setelah itu dia kembali berjalan ke arah pintu keluar, dia membukanya dan berjalan keluar rumah. Jam sebelas dan hari mulai panas, William merasa kepanasan di luar rumah. Dia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah, dia bingung harus berbuat apa karena biasanya dia libur. Pada waktu liburan di tempat bibinya juga dia selalu membantu bibinya bekerja.
“Aku rindu dengan hutan yang ada di dekat rumahnya bibi.. Aku akan mengecek apakah bibi baik baik saja bersama paman..”
William membuka ponselnya dan mencoba mengirim pesan kepada bibinya.
“Apakah bibi dan paman baik baik saja di sana?”
Setelah mengirimkan pesan kepada bibinya, dirinya bangun dari sofanya dan berniat untuk membeli makan siang diluar. William sedang malas membuat makanan, dia ingin makan di luar, dia berjalan ke kamarnya untuk bersiap siap untuk keluar. Sesudah itu dia keluar dari kamarnya sambil membawa dompetnya dan pakaian yang menghalangi panas matahari, dia berjalan keluar rumah membawa ponselnya. Saat berada di luar rumah dia pun mulai kebingungan.
“Tapi makan di mana… Di tempat ibunya Melody boleh juga..”
William memutuskan untuk makan siang di tempat jualan ibunya Melody, dia berjalan ke sana di bawah sinar matahari. Dia berjalan dengan langkah yang besar agar tidak terlalu lama untuk sampai di sana, kadang dia juga meneduh sebentar di bawah pohon atau bangunan. Sampailah William di jalan raya, banyak mobil dan motor yang lewat di sana. Dia berhenti sebentar untuk meneduh kembali di bawah pohon, dia mengambil nafas terlebih dahulu. Saat sedang meneduh di bawah pohon, dia melihat beberapa anak anak yang sedang berjalan pulang dari sekolah mereka bersama ibunya.
“.. Mengingatkanku dengan Nia.. Dia bersama kakaknya.. Tapi kurasa kak Lia sedang tidur.. Dia pasti kelelahan karena perjalan jauh.. Kalau tidak salah tempat orang tuanya sangat jauh dari sini.. Butuh delapan jam untuk ke sana..”
Sesudah meneduh dan mengatur nafas, William mulai berjalan kembali ke arah tempat ibunya Melody berada. Dia berjalan dengan cepat agar sampai di sana tanpa harus berlama lama di bawah sinar matahari yang sedang panas panasnya, sampailah William di tempat ibunya Melody berjualan. Dia mlihat banyak pembeli yang berhenti di sana, dia memutuskan untuk ikut mengantri.
‘Syukurlah kalau pembelinya banyak.. Urusan dengan tempat ini kurasa belum terlalu merepotkan.. Melody bilang kalau permasalahannya baru dari omongan orang sekitar.. Belum dari pemilik tanahnya.’
Satu persatu pembeli mulai pergi dari tempat tersebut karena sudah mendapatkan apa yang mereka mau, William mulai mendekat menuju gilirannya. Dia di belakang satu pembeli yang sedang memesan, dan setelah itu pembeli tersebut selesai dengan pesanannya. Sekarang gilirannya untuk memesan makanan.
“Seperti biasa tante..”
“…Eh nak William.. Kamu ke sini ya.. Duduk saja dulu.. Tante ambilkan..”
“Baik tante..”
William mengambil satu kursi yang sudah di sediakan dan duduk di kursi tersebut, dia menunggu ibunya Melody mengambilkan pesanannya. Tidak butuh lama untuk makanannya datang, ibunya Melody memberikan pesanannnya kepada William.
“Ini nak William.. Dimakan ya..”
“Melody sedang pergi.. Katanya pergi ke perpustakaan yang ada di kota dan sekalian membeli sesuatu.. Tante tinggal dulu ya.. Masih ada pelanggan..”
“Baik tante..”
William mulai memakan makanannya perlahan lahan dengan lahap, seperti biasa makanan yang di buat ibunya Melody tidak pernah mengecewakan. William mulai melahap semuanya sampai habis tanpa ada sisa, setelah makanannya habis dia langsung memesan kembali untuk piring ke duanya. William membawa piringnya menuju ibunya Melody dan memesan lagi.
“Tante.. Aku pesan lagi.. Hehehe..”
“Oh.. Kamu lapar ya.. Sebentar ya.. Kamu duduk saja.. Nanti tante antarkan..”
William kembali ke tempat duduknya sambil menunggu pesanan makanannya datang kembali, dia menunggu sambil melihat lihat sekitar tempat tersebut. Banyak orang yang berlalu lalang di sana, William melihat kalau tempat jualanan ibunya Melody tidak menutupi jalan tersebut. Dia bingung kenapa ada orang yang ingin ibunya Melody pergi dari situ, dia melihat sekali lagi daerah sekitarnya. Tidak ada satupun yang janggal dan tidak ada satupun yang menutupi toko maupun tempat jualan orang lain, ada banyak orang juga yang berjualan di dekat ibunya Melody.
‘Apakah karena jualannya ibu Melody lebih laku dari pada orang lain? Itu karena beliau baik dan makanannya enak, makanya banyak yang beli.. Aku juga belum pernah beli jualanan orang lain di jalan ini selain ibunya Melody.. Apakah aku harus mencobanya.. Di samping tempat ini ada yang berjualan jus buah.. Apa aku beli untuk ku bawa pulang.. Nanti saja kupikirkan..’
“Ini nak William.. Maaf ya terlalu lama.. Masih ada pelanggan tadi..”
“Tidak apa apa tante.. Malah bagus kalau banyak pelanggan..”
“Terima kasih nak..”
William mulai memakan kembali piring keduanya, dia habiskan dengan cepat. Setelah makanannya habis dia mengeluarkan uang dari dompetnya, dia membawa kembali piring tersebut bersama uang dan memeberikannya kepada ibunya Melody. Ibunya Melody menerima uang tersebut dan dirinya masih sibuk melayani para pelanggan, William memutuskan untuk membeli jus buah yang ada di samping untuk di bawa pulang.
“Buk tolong jus jambu satu ya..”
“Baik..”
William menunggu pesannya selesai, setelah selesai dia mengambil pesanannya dan membayarnya. Dirinya ingin pulang namun sebelum itu dia berpamitan kepada ibunya Melody, beliau masih sempat sempatnya menoleh ke arahnya selagi melayani para pelanggan. Karena sudah berpamitan dia pulang ke rumahnya, dia melewati jalan yang sama dengan perilaku yang sama karena masih panas. Sesampainya di depan rumah dia langsung berlari menuju pintunya, dia langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam. William langsung menyalakan kipas anginnya.
“Wuh… Panas sekali.. Karna masih musim panas maka cuacanya masih panas.. Kurasa sebentar lagi dingin.. Aku butuh selimut baru… Aku lupa kalau meninggalkan selimutku di rumah bibi.. Mungkin hari minggu aku akan membelinya..”
William meraih jus jambunya dan langsung meminumnya di samping kipas angin, rasa segar dengan hembusan angin membuatnya tenang. Namun keadaan tersebut membuatnya mengantuk apalagi dia makan sampai dua piring, William duduk di sofanya dan perlahan mulai menutup matanya.