The Noble

The Noble
Hari perlombaan #3



❏ #The Noble


↳ Hari perlombaan #3


William menjelaskan kepada mereka semua kalau resep dari tempat kerjanya sangat dijaga ketat agar apalagi resep baru, termasuk kue yang baru saja dia buat adalah resep yang belum lama dia temukan. Dia juga menjelaskan kalau resep masakan di sana bisa diberitahu ke publik kalau sudah mendapatkan ijin dari pemilik tempat kerja tersebut, ada juga umur dari resep tersebut jika lebih dari lima tahun maka bisa ditampilkan secara umum di restorannya.


“Begitu ya? Maaf aku bertanya soal itu..”


“Tidak apa apa.. Itu wajar di manapun..”


“Aku baru tahu.. Terima kasih informasinya..”


“Sama sama kak.. Oh iya kak Dea pesan apa tadi?”


“Hm.. Apa ya? Aku lupa..”


Tidak beberapa lama makanan yang di pesan oleh kak Dea diantar oleh pelayan, setelah itu menaruhnya di atas meja dan kak Dea menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu termasuk temannya. William melihat hidangan yang ada di depan matanya langsung dia makan, satu persatu dia habiskan tanpa sisa dan karena tidak ada yang bisa di makan lagi dirinya pun menunggu mereka makan sambil meminum minumannya.


Karena masih merasa bosan dia mengeluarkan buku catatannya dan membacanya, William menambahkan beberapa kata di dalamnya dan masih dalam keadaan kasar. Dia selalu menulis ide yang didapatkannya ke dalam buku catatannya entah di manapun dirinya berada, lalu saat di rumah dia akan menyempurnakan tulisannya dan merangkainya menjadi sebuah maha karya dikemudian hari.


Setelah menunggu beberapa menit orang yang duduk bersamanya selesai dengan makanan mereka, seperti biasa kedua orang yang baru kenal Willian merasa kebingungan dengan tingkah lakunya. Lantas kak Dea memanggilnya namun dia tidak sadar dan masih melanjutkan tulisannya, karena merasa tidak enak mereka berbicara secara perlahan lahan agar tidak mengganggunya.


“William..”


“.. Iya Melody?”


“Sudah siang.. Apa kamu mau pulang?”


“Jam berapa ini?”


“Sebelas..”


“…”


“Kamu dari tadi diam, memang kamu nulis apa..”


“Tidak ada kak.. Oh iya bagaimana dengan


lombanya?”


“Aku sudah cek tadi ke bawah… Kita masuk ke babak final, hanya lima tim yang masuk..”


“Kalau begitu besok aku lihat dari luar ya?”


“Kenapa?”


“Kan teman kak Dea ada di sini..”


“Oh iya aku lupa.. Maaf ya Vivi..”


“Lupain aja terus..”


“Hehe.. Besok deh kita satu tim.. Terima kasih ya


William..”


“Kalau begitu aku pulang ya kak.. Mau kerja nanti..”


“Hati hati.”


“Kamu akan kerja hari ini?”


“Iya.. Bagaimana denganmu?”


“Mungkin aku membantu ibuku sampai sore..”


“Begitu ya..”


“.. Aku belum lihat Amelia dari pagi, apa kamu lihat?”


“Tidak? Kurasa dia tidak masuk..”


Setelah itu mereka sampai di depan pintu gerbang kampus, mereka melihat sekitar terlebih dahulu untuk tahu apakah masih ada genangan air atu tidak. Karena tidak ada mereka melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke tempat masing masing, selama perjalanan William masih menemukan genangan air namun tidak sedalam waktu berangkat tadi. Dia dengan mudah melewatinya bersama temannya, karena mudah perjalanan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama dan akhirnya sampai di jalan utama rumah mereka.


“Maaf hari ini aku tidak membantu ibumu..”


“Tidak apa apa.. Kamu setiap hari datang, aku tidak enak..”


“Mungkin besok.. Nia akan ke sini juga, aku


berencana ingin mengajaknya ke vestival di kampus.. Cuaman dia pulang agak siang.. Kurasa aku ambil sore hari saja.. Bagaimana denganmu?”


“Hm.. Aku harus membantu ibu, aku tidak tahu..”


“Kalau begitu aku pulang dulu ya, salam untuk ibumu..”


“Hati hati..”


Dia melanjutkan perjalanannya pulang sementara Melody pergi ke tempat ibunya berjualan, akhirnya William sampai di depan rumahnya dan melihat kalau daerah sekitar rumahnya masih basah. Dia menebak kalau daerah rumahnya masih gerimis tadi, karena merasa lelah dia langsung saja membuka pintunya dan setelah itu masuk ke dalam rumah.


Sebelum istirahat dirinya membuka sepatu dan mencuci kakinya, setelah itu dia pergi ke sofa yang ada di ruangan depannya dan duduk di sana. Saat duduk dia tidak sadar kalau masih mengenakan tasnya, lalu William menurunkan tasnya dan langsung memasang posisi tidur.


Alarm ponselnya berbunyi dan dirinya terbangun dari tidurnya yang sebentar itu, William merasa rasa lelahnya sudah menghilang walaupun belum semuanya karena dia bekerja keras tadi pagi membantu kak Dea. Dia merasa lebih lelah jika bekerja di tempat baru dan dilihat banyak orang, sebab itu dia selalu bekerja di tempat kerjanya sekarang dan tidak mau pindah ke manapun.


William bangun dari sofanya dan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dan buang air, setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


“.. Mendung lagi ya? Kurasa sudah saatnya musim hujan.. Aku harus membawa jas hujan kalau begitu..”


William selesai mengganti pakaiannya dan langsung pergi ke ruang depan lagi untuk mengambil ponselnya, setelah itu dia berjalan keluar rumah dan menggunci pintunya. Dia melihat ke arah bunganya masih baik baik, dirinya berpikiran untuk pergi ke pemakaman orang tuanya pada hari minggu nanti. Setelah mengamati terlalu lama dia sadar kalau harus bekerja, dia langsung saja berjalan menuju ke tempat kerjanya.


Jalan menuju ke tempat kerjanya baik baik saja tanpa ada genangan air sekalipun, dia ingat saat pindah pertama kali ke daerah tersebut karena perairan di sana sangat baik. William tidak pernah melihat banjir sama sekali di lingkungan rumahnya walaupun diterjang hujan yang terus menerus turun, karena merasa haus dan lapar dia mulai mempercepat jalannya.


Sampailah dia di sana dan restoran masih tertutup karena jam istirahat, setelah itu dia masuk ke dalam dan melihat para pekerja sedang bersih bersih. Langsung saja William masuk ke dalam dapur ke dapur, saat masuk dia melihat ada beberapa pekerja yang sedang beristirahat dan sedang makan siang bersama.


Dia menghiraukan mereka karena tidak mau mengganggu dan langsung saja pergi mengenakan seragamnya, setelah itu dia pergi mengambil air minum dan meminumnya. Rasa haus langsung menghilang dan membuatnya merasa kembali segar lagi, tiba tiba ada seseorang dari belakang menepuk pundaknya.


“… Dari mana kamu..”


“Kak Lia? Itu kak.. Ada lomba di kampus..”


“Kamu ikut?”


“Tidak kak, aku hanya membantu senior saja tadi..”


“.. Yakin..”


─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─