
Kak Lia hanya bilang iya dan segera William meninggalkan mereka berdua, dua jam berlalu dan William kembali ke dapur untuk menemui mereka berdua. Dia melihat beberapa kue yang sudah jadi di atas meja sedangkan kak Lia masih menjelaskan sesuatu kepada Melody sedangkan Melody mencatatnya. Dia berjalan medekati piring berisi kue di atasnya dan mencoba untuk memakannya satu, William mengambil satu dan memakannya.
“Wah ini enak, sepertinya pembelajarannya berhasil.” Pikirnya.
Ketika dia mau mengambil satu kue lagi dia melihat kearah kak Lia dan Melody, Kak lia memasang muka marah karena dia mengambil kue kuenya.
“Hey siapa yang suruh kamu memakan kue tersebut.” Katanya dengan nada marah.
“Hahaha maaf kak aku lapar.” Jawabnya.
“Kamu ini datang datang lagnsung makan, kembali tidak membawa apapun juga.” Katanya dengan nada yang masih marah.
“Haha nanti aku traktir deh, jadi kita makan siang aja dulu..” katanya sambil memasang muka takut.
“Baiklah.. Melody kita istriahat terlebih dahulu jadi simpan saja catatanmu dan kita makan.. tidak usah mengeluarkan uangmu.. ada william yang akan membayarnya.” Kata kak Lia.
Melody melihat kepada William, dia membirkan semangat kepadanya, sedangkan William melihat kearah kak Lia dan masih memsang wajah yang sama. Dia membalik badannya dan langsung berjalan keluar sambil dua orang di belakang mengikutinya. Mereka berdua mengikuti dari belakang sedangkan William berjalan di depan dengan perasaan yang bimbang. Dia ingin makan siang di tempat yang sama,
“Apakah kak Lia suka dengan tempat pilihanku?” pikirnya.
“Terima kasih William” kata Melody dari belakang menyusulnya.
“Ah tidak apa apa.” Jawabnya.
“Benarkah tidak apa apa?” kata kak Lia.
Mereka akhirnya datang ke tempat makan yang sama seperti dua hari yang lalu bersama Melody. William mengingat karena dulu tempat tersebut ramai memutuskan untuk menpercepat jalannya, ketika sampai di sana nampak tidak ada oarang sama sekali di depannya. Mereka langsung masuk ketempat tersebut, nampak sepi di dalamnya namun para pegawai rumah makan tersebut sedang bersiap.
“Tumben sepi apa tempat makannya belum buka.” Pikirnya.
Setelah mereka duduk dan mengambil buku dan melihat buku menu tersebut banyak langkah kaki yang datang ke tempat tersebut.
“Kuarasa kita tepat waktu untuk makan siang karena sudah banyak orang yang datang ke sini” ucap william.
Mereka bertiga memutuskan untuk makan terlebih dahulu, ketika sudah selesai mereka kembali ke restoran untuk melanjutkan apa yang mereka kerjakan dari pagi tadi. Kak Lia masih sibuk mengajari Melody cara membuat kue sedangkan Melody mendengarkan arahan dan mencatat perkataan kak Lia kedalam buku catatannya. Kak Lia mulai mempraktekan apa yang akan diajarkan kepada Melody. William yang dari tadi diam melihat mereka berdua melakukan sesuatu mulai terpikirkan untuk melatih skill memasaknya juga. Dia melihat bahan bahan yang ada di meja dapur dan memilih apa saja yang dia butuhkan, tidak begitu banyak bahan yang dia dapatkan dari atas meja karena bahan bahan yang ada bawaan dari Melody. Dia berencana untuk pergi ke mini market terdekat.
“Aku mau pergi ke mini market terdekat.. apa ada yang mau titip sesuatu?” tanyanya.
“Coffe Frapucinno satu.. sekalian coklat satu batang…” jawab kak Lia yang sedang membuat adonan kue.
“Melody.. kamu mau sesuatu? Atau ada yang kamu butuhkan..” tanyanya ke Melody.
William meninggalkan mereka berdua dan memutuskan untuk berjalan ke mini market terdekat. Dia pergi tanpa meninggalkan suara satupun dan menutup pintu belakang restoran secara perlahan. Setelah dia menutup pintu itu tiba tiba nenek Widia datang dan menyapanya. William kaget dengan datangnya nenek Widia karena dirinya tidak sadar akan kedatangan nenek paruh baya tersebut.
“Ah nenek.. nenek mengkagetkanku.. tapi kenapa nenek selalu muncul dari belakang.” Tanyanya.
“Maaf nenek tidak bermaksud seperti itu, hanya saja nenek tidak mau berisik karena nak Lia sedang mengajari nak Melody jadi nenek tidak mau mengganggu mereka berdua.” Katanya.
“Huffft.. oh iya nenek ada keperluan apa.. sepertinya ingin masuk ke dalam?” tanyanya kepada nenek Widia.
“Tidak ada.. nenek hanya mau melihat mereka berdua tapi nenek hanya mau lihat dari jauh..” jawabnya.
William memutuskan meninggalkan tempat tersebut setelah berbicara beberapa kata kepada nenek Widia. Dia berjalan ke mini market yang jaraknya dekat di seberang apotik. Karena keperluannya sedikit dan sepertinya kak Lia kehausan dia memutuskan untuk buru buru ke mini market dan memberi keperluannya dan titipannya. Dia mencari beberapa bahan dan ketika sampai di rak yang berisikan minuman dia mengambil barang titipannya kak Lia yaitu Coffe Frapucinno, dia juga kehausan jadi dia mengambil satu lagi untuk dirinya. Sebelum dia meninggalkan rak tersebut dia teringat bahwa Melody juga di sana.
“Aku belikan juga untuk Melody.. karena dia tidak ingin sesuatu mungkin saja dia sungkan terhadapku.. apa aku membeli 3 minuman yang sama?”
Dia memutuskan untuk mengambil 3 minuman yang sama dan berjalan ke kasir untuk membayarnya. Setelah membayar dan keluar dari mini market tersebut dia berjalan kembali kerestoran. Namun sebelum menjauh dari mini market tersebut dia mau membeli beberapa obat untuk dirinya sekalian di depan mini market ada apotik. Dia berjalan ke apotik dan membeli beberapa obat. Setelah beberapa obat dia dapatkan dia kembali ke restoran dengan langkah yang besar.
“Lebih baik aku mempercepat langkahku.”
Dikarenakan dekat dan dia berjalan dengan cepat tidak terasa pintu belakang dapur terlihat. Nenek Widia masih berada di sana dan melihat mereka berdua dari kejauhan. William menghampiri nenek Widia dan menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya. Mereka berdua berbincang bincang membahas apa saja yang nenek Widia lihat dan apa saja yang menurut nenek Widia penasaran. Dia menjawab pertanyaannya William satu persatu dan seketika William tersadar sudah beberapa lama dia ada di sana sedangkan dia berpikir di awal tadi kak Lia mungkin saja kehausan. Dia meninggalkan nenek Widia dan masuk ke dalam dapur.
“Oh iya aku lupa.. ini buat nenek.. aku beli beberapa mungkin saja nenek kekurangan..” katanya sambil memberikan beberapa obat kepada nenek Widia.
Dia langsung masuk kedalam tanpa menunggu nenek Widia menjawabnya. Walaupun dia merasa bersalah karena terlalu lama namun kak Lia masih sibuk mengajari Melody. Dia meletakkan pesanannya kak Lia diatas meja dan mengambil bahan keperluannya dan membawanya, karena bahan yang ada cuman beberapa dia memutuskan membuat kue yang belum pernah dia buat. William berpikiran untuk bereksperiment kepada kuenya, karena dia selalu membuat kue dari intruksi buku jadi dia memutuskan untuk membuat sesuatu yang berbeda. Dia mengeluarkan bahannya satu persatu dan mengambil alat yang dibutuhkannya.
“Kurasa dengan bahan segini sudah cukup.. aku juga tidak bisa mebuang bahan berharga hanya untuk eksperiment saja.”
William mulai membuat kue buatannya dan mencoba beberapa hal baru yang belum dia lakukan, dari menambah bahan tambahan yang tidak ada di buku maupun bahan lain yang seharusnya ini menjadi itu. Dia merasa penasaran degan hasil eksperimentnya nanti akan jadi seperti apa dan mulai mengaduk bahan bahannya. Setelah bahan bahannya jadi dia mengambil cetakannya yang berada di rak khusus cetakan kue, dia tidak ingin mengambil cetakan yang dikeluarkannya tadi untuk pembelajaran Melody. Sesampainya di depan rak tersebut dia memutuskan untuk mengambil cetakan yang sederhana. Setelah mengambil cetakan dan kembali ke tempat memasaknya tadi, dia melihat kak Lia sedang berada di depan adonan yang dibuatnya tadi. Dia buru buru untuk mengamankan adonannya dari kak Lia.
“Ini milikku kak.. jangan diambil..” kata William sambil mengambil adonanannya.
“Emang kamu buat apa.. kalau jadi aku minta yaa..” jawabnya sambil tersenyum.
“Bahaya.. kalau kak Lia sedang tersenyum dan dengan keadaan penasaran tidak ada yang bisa menghentikan perasaan penasarannya tersebut.. jika ada yang berani maka dunia ini akan hancur”
“Ehh… tapi belum tentu ini enak kak.. lagian aku juga coba coba hehe..” kata William.
“Sedikit aja kok yaa.. yaa dikit aja..” katanya sambil tersenyum.
“.. Eeehh.. baiklah.. jangan marah kalau tidak enak ya..” kata William dengan perasaan yang tidak enak.