
Pagi tiba dan William membuka matanya, dia melihat keskitar ruangan dan setelah itu bangun dari kasurnya. Dia langsung keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar mandi, dirinya buang air dan mencuci mukanya. Setelah itu William menuju ke pintu keluar dan membukanya, dia keluar dari rumah dan duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.
“.. Kurasa aku kurang tidur.. Aku bekerja satu minggu penuh.. Seharusnya kemarin aku libur, karena aku tidak tahu hari apa makan aku bekerja saja.. Apalagi tidak ada yang memberitahuku kemarin.. Jangan jangan kak Lia kemarin ikut mencuci piring karena aku masuk kerja? Makanya dia menjadi baik?.. Kurasa itu, huh.. Paman Willy juga tidak memberitahuku.. Apa aku minta hari libur hari ini untuk menggantikan kemarin? Tapi aku juga sudah berjanji kepada Candy.. Tapi, apakah dia bisa ke sini sendirian.. Jika tidak maka buat apa aku bekerja hari ini..”
William hanya menghela nafasnya sambil berpikir apakah dia masuk kerja atau tidak, dia tidak menemukan jawaban sama sekali. Akhirnya William memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya, dia duduk di sofanya sambil menyalakan televisinya. Dirinya menonton televisi sambil menunggu jam kerjanya datang karena dia bangun lebih awal dari alarmnya, William kurang tidur dan lama kelamaan dia tertidur. Bunyi alarm dari ponselnya membuatnya bangun kembali, dia langsung bangun dan mematikan alarm tersebut.
“… Tidur di pagi hari memang yang terbaik.. Tapi aku harus bangun, oh iya sudah jam.. Aku mandi terlebih dahulu.”
Dia langsung bangun dari sofanya dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil pakaiannya, setelah itu dia langsung mandi dan sarapan. William selesai dengan kegiatan pagi dan siap untuk berangkat ke tempat kerja, dirinya membawa semua kebutuhannya dan berjalan keluar dari rumahnya. Dia berangkat ke tempat kerjanya dengan badan yang segar walaupun dirinya kurang tidur, bagi William itu sudah biasa karena dirinya harus belajar mati matian untuk bertahan di sekolah lamanya.
“Aku harus membuat sesuatu nanti agar tidak terlihat mengantuk..”
Berjalan dengan santai sambil melewati lingkungan daerah rumahnya membuat dirinya bersemangat, dia juga lewat di depan rumahnya Melody dan tidak melihat orang satupun tapi lampu rumahnya masih menyala. William berpikir kalau mereka punya urusan di dalam rumah dan langsung pergi meninggalkan rumah tersebut, dia melanjutkan perjalanannya dan sampai di depan restoran. Belum ada pekerja yang datang di sana, dia memutuskan untuk masuk lewat pintu depan dan menuju ke dapur. Saat membuka pintu dapur dirinya melihat kak Lia sedang duduk di kursinya.
“Selamat pagi kak Lia..”
“Pagi.. Tumben kamu datang pagi.”
“Hehehe.. Aku tidak bisa tidur kak.. Lebih tepatnya aku kurang tidur..”
“Awas kalau mengantuk saat kerja..”
“Baik kak.. Oh iya kak.. Kemarin kenapa kak Lia tidak memberitahuku kalau hari itu aku libur?”
“Entahlah.. Bagus kalau kamu masuk.. Dapat tangan tambahan.. Apa? Mau protes? Aku saja satu minggu penuh bekerja.”
“Itu kan kak Lia.. Kasihan Nia juga.. Tidak bisa bermain bersama kakaknya.”
“Makanya cepat selesaikan rangancanmu..”
“Loh kak Lia tahu dari mana?”
“…”
Mereka hanya berdiam diri tanpa melanjutkan perkataan mereka, William bingung dan memutuskan untuk tidur sebentar di mejanya. Waktu berlalu dan William mulai mendengar banyak langkah kaki membuat dirinya bangun dari tidur, para pekerja sudah datang dan sudah berada diposisinya masing masing. Dia bangun dari posisinya dan langsung berdiri, Paman Willy membuka restorannya dan memberi tahu kepada para pekerja untuk mulai bekerja. Mereka semua mulai bekerja dan menerima pesanan terus menerus, William mulai membuat pesanan yang dikasih oleh kak Lia karena dirinya handal dalam membuat pesanan tersebut.
“William.. Kamu urus untuk dessertnya.. Aku menyerahkannya kepadamu.”
“Baik kak..”
William semangat karena diberi tugas dan dipercayai oleh kak Lia, dia langsung mengambil pesanannya dan membacanya. Setelah tahu dirinya langsung pergi mengambil bahan bahannya, dia membawa semua kebutuhannya dan menaruh di meja. William pergi mengambil alatnya dan setelah itu langsung membuatnya, satu persatu mulai terselesaikan dan pesanan terus meneruh datang. Hari tersebut sangat sibuk untuk para pekerja di sana karena hari senin di mana banyak orang akan banyak datang di sana. William selesai dengan pesanannya dan ingin mengambil pesanan lagi, dia mendapat pesanan yang tidak biasa.
“Sesuai janji.. Huh, ini pasti Candy.. Kurasa dia bisa ke sini sendiri.. Nanti akan aku cek..”
Dia langsung mengambil bahannya dan membuatnya, tidak lama dan akhirnya selesai. William menaruh pesanannya dan meminta untuk pelayan mengantarnya, sebelum pelayan membawanya dia ingin menyampaikan pesan kepada yang memesan hidangan tersebut.
“Habiskan tanpa sisa.. Terima kasih.”
“Itu.. Kak Lia, apa aku boleh keluar sebentar.. Ada Candy di depan..”
“Candy? Temanmu itu? Nanti saja.. Aku ingin berbicara kepadamu terlebih dahulu..”
Mereka berdua berbicara panjang lebar dan menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit, setelah selesai William langsung pergi ke depan untuk menemui temannya tersebut. Dia melihat ke sekeliling dan akhirnya menemukan di mana letak Candy duduk, William langsung berjalan ke arahnya.
“Sepertinya kamu berhasil.. Kamu sendirian bukan..”
“Iya.. Kuenya enak tadi.. Aku mau yang lain..”
“Hey.. Ini jam istirahat.. Nanti kalau sudah buka, kalau sudah selesai makan keluar saja.. Atau tungu di mana gitu.. Tempatnya mau dibersihkan..”
“Tidak apa apa.. Nak Candy tunggu di dalam saja..”
“Paman Willy.. Terima kasih..”
“William istirahat bersama Candy saja di sini.. Biar paman yang membuat pesanan untuk Candy.. Sebentar ya.”
Mereka menunggu paman Willy untuk membuat pesanannya Candy, sementara itu kak Lia datang menemui William dan memberikan makan siang untuknya. Dia menerima makanan tersebut dan langsung memakannya, Candy melihat ke arah William yang sedang makan dan dia berpikir kalau Candy ingin ikut makan juga.
Dia langsung memberikan setengah makanannya kepada Candy, dia melihat Candy senang menerima makanannya. Mereka makan siang secara bersama sama, setelah selesai makan mereka melanjutkan pembicaraan mereka.
“Tapi kamu ke sini naik apa? Taksi?”
“Iya.. Aku naik taksi dua kali karena takut ketahuan.”
“Oh iya, bagaimana kamu kabur?”
“Aku lewat jendela kamarku.”
“Bukannya kamarmu di lantai dua?”
“Ada tangga darurat di luar kamarku.. Walaupun aku harus berhati hati untuk menggunakannya karena berbunyi..”
“Hebat juga kamu ya.. Ya walaupun kurasa orang tuamu tahu kamu sekarang ada di mana..”
“Eh.. Benarkah?”
“Kamu tidak lihat paman Willy mendatangimu tadi? Dia pasti sudah tahu dan menerima pesan dari orang tuamu, makanya dia membuatkan pesananmu..”
“… Tapi aku harus bagaimana?”
“Kamu tinggal makan, selesai terus pulang.. Kurasa tidak apa apa.. Kamu tidak punya jadwal lainnya kan?”
“Iya.. Aku tidak punya..”