The Noble

The Noble
Hari perlombaan #4



❏ #The Noble


↳ Hari perlombaan #4


Mereka membicarakan kegiatan yang dilakukan oleh William saat sudah masuk ke dalam kampusnya, setelah beberapa lama kak Lia mulai menanyakan hal lainnya karena bosan dengan ceritanya. Saat sedang menanyakan hal lain tiba tiba paman Willy masuk ke dalam dapur dan mengumumkan kalau restoran akan di buka dalam sepuluh menit lagi, para pekerja yang mendengar perkataan tersebut langsung membersihkan semuanya dan kembali ke tempat posisi masing masing.


“Kita bahas nanti.. Jangan pulang dulu nanti, kita ke atas..”


“Baik kak.. Memang sudah jadi?”


“Kamu lihat saja..”


William menunggu jam kerjanya kembali sambil melihat ke sekelilingnya, tidak banyak yang berbeda ketika dia tidak bekerja di sana pada waktu pagi hari. Tidak lama akhirnya restoran di buka, para pelanggan mulai masuk dan duduk di kursinya. Pelayan mulai mengambil pesanan dari pelanggan dan menaruhnya ke dalam dapur, para pekerja mulai mengambil pesanannya termasuk William juga yang disuruh oleh kak Lia.


“Urus seperti biasa..”


“Baik kak..”


Dia mengambil pesanannya dan mulai berjalan menuju ke ruangan bahan, William mengambil semua kebutuhannya dan membawanya kembali ke tempatnya. Dia mula membuat pesanannya satu persatu dan jadi, setelah itu dirinya menaruh hidangannya ke meja depan untuk di ambil oleh para pelayan. Seperti biasa dia bekerja dengan semangat dan mendapat pengalaman baru, setiap detiknya dia nikmati di sana sambil tersenyum.


Setelah beberapa pesanan di ambil ternyata sudah tidak ada yang bisa dia buat lagi, lantas William kembali menjadi pencuci piring membantu nenek Widia. Mereka langsung membagi tugasnya seperti satu jiwa namun dalam dua badan, tidak beberapa lama kak Lia memanggilnya dan dia meninggalkan nenek Widia. Dia langsung berjalan menuju kak Lia dan mengambil pesanannya, William kembali ke tempatnya dan membuatnya.


“William…”


“Iya kak, belum jadi.. Tunggu..”


“Kalau sudah ke sini..”


“Baik kak..”


William langsung kembali fokus bekerja dan menghiraukan sekelilingnya, setelah jadi dia membawa pesanannya dan menemui kak Lia. Dia bertanya kenapa dipanggil saat sedang membuat pesanan pelanggan, kak Lia memanggil untuk mengetahui apakah dia sedang fokus atau tidak. Lalu kak Lia menyuruhnya mengambil pesanan lagi dan William kembali ke tempatnya sambil membawa kertas pesanan, setelah itu dia mulai lagi membuat pesanan dari pelanggan.


Dia selesai dengan pesanannya dan menaruh hidangannya lagi di meja pelayan, William ingin mengambil pesanan yang lain namun kak Lia menyuruhnya untuk pergi keluar untuk memeriksa mesin yang ada di depan. Dia langsung saja pergi ke depan dan saat di luar dirinya melihat masih banyak orang yang mengantri, dia secara perlahan mendekat ke mesinnya dan mulai memeriksanya. Masih bagus dan tidak ada kerusakan walaupun sedikit kotor, lalu dia membersihkannya. Setelah itu William kembali ke dalam dan melaporkannya kepada kak Lia.


“Sudah kak, cuman kotor.. Sudah aku bersihkan..”


“Oke.. Nih ambil, dari temanmu..”


“Temanku?”


William mengambil kertas pesanannya dan isinya hanya pesanan kue saja, dia langsung paham dengan “teman” yang dimaksud oleh kak Lia. Dia bergegas kembali ke posisinya dan mulai membuatnya, setelah jadi dia menaruhnya di atas meja namun kak Lia menyuruhnya untuk mengantarkannya sendiri. Karena sudah di perintah maka William mengantarkannya ke pelanggan, saat sampai di sana dan sesuai dugaan siapa yang memesan adalah Candy.


“Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu harus masuk kuliah?”


“Hehe.. Kuliahku di mulai besok senin.. Karena harus pergi jauh dari sini untuk ke kota sebelah maka aku mau makan kue butanmu.. Mungkin kita akan jarang bertemu..”


“Kita memang jarang bertemu..”


“Hehe.. Itu pesananku?”


“Iya..”


Dia menaruh hidangannya di atas meja dan setelah itu duduk di kursi yang ada di depannya Candy, William melihat temannya bahagia saat memakan kue buatannya itu. Walaupun mereka tidak terlalu dekat karena jarang sekali bisa keluar bersama terus menerus namun dia merasa sedih harus berpisah dengan temannya tersebut, karena kekonyolan hanya bisa dia dapatkan dari Candy.


“Enak ya..”


“.. Itu kak, aku tidak sadar.. Hehe..”


“Sudah tidak ada lagi.. Kamu kerjakan yang lainnya, sudah ada yang menggantikan pekerjaanmu.. Kamu bantu nenek Widia saja..”


“Baik kak..”


Dia berjalan menemui nenek Widia dan membantunya mencuci piring, semakin banyak pelanggan semakin banyak alat makan yang harus di cuci. Walaupun persediaan alat makan di tempat kerjanya sangat banyak namun William sadar harus memperbarui dan menyediakan cadangan untuk ke depannya, dia bekerja sampai restoran itu tutup.


Pelanggan terakhir selesai dengan makanannya dan keluar dari restoran tersebut, paman Willy menutup restorannya dan para pekerja sudah bisa istirahat di sana.


Sebelum pulang para pekerja harus membersihkan tempat tersebut, namun paman Willy jam istirahat sebelum bersih bersih. William pergi ke depan untuk melihat mesinnya lagi, dia mendapat kunci dari paman Willy untuk membuka mesinnya.


Dia membuka mesinnya dan melihat hasilnya, banyak uang di sana dan dia mulai mengeluarkan semua uangnya termasuk kembaliannya. Dia berpikir kalau mesin seperti ini seperti mesin minuman yang ada di stasiun namun bekerja dengan baik di restoran, setelah itu dia membawa uangnya dan mengantarkannya ke ruangan paman Willy.


“Paman.. Ini.. Oh iya, di mana kertas untuk mesinnya?”


“Oh William, terima kasih.. Itu ambillah..”


William meletakan uangnya di atas meja paman Willy dan pergi mengambil kertas untuk mesin, setelah itu dia keluar dari ruangan tersebut dan pergi keluar lagi. Dia membuka kembali mesinnya dan mengganti kertasnya, setelah itu dia kembali ke dalam untuk membantu bersih bersih juga. Untung saja bersih bersih untuk alat makan sudah selesai, maka hanya benda benda lain yang harus di bersihkan.


“William..”


“Iya kak Lia?”


“Ke atas..”


“Tapi bersih bersihnya?”


“Sudah ada orang yang mengambil..”


Kak Lia mengajak William untuk naik ke atas, karena tidak mau kena marah maka dia ikut ke atas. Saat di atas dia melihat pemandangan yang indah di mana tempatnya sudah tertata rapi, dia langsung saja mendekat ke semua benda yang ada di sana dan mengeceknya. Satu persatu dia periksa dan semua membuatnya semakin takjub, lalu William menanyakannya kepada kak Lia.


“Sudah jadi semua dan sesuai dengan ideku..”


“Tentu saja.. Paman Willy setuju denganmu..”


“Cepat sekali ya.. Kukira akan memakan waktu yang lama..”


“Itu karena paman Willy mengerjakan banyak orang.. Apalagi mereka bisa bekerja dua puluh empat jam, untung saja daerah ini jauh dari pemukiman.. Jadi tidak ada yang terganggu.”


“… Begitu ya.. Lalu kapan akan di buka?”


“Mungkin senin akan di buka?”


“Wah.. Lalu pekerja barunya?”


“Tanya paman Willy saja..”


─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─