
❏ #The Noble
↳ Hari perlombaan #9
Setelah pembahasan lama mereka setuju dengan penawarannya William, ibunya menyetujuinya dan Melody kelihatannya juga ingin cepat bisa membantu keuangan keluarganya. Mereka masih berbicara di sana namun dengan pembahasan yang berbeda, ibunya Melody selalu bertanya kesehariannya karena dia selalu khawatir kepadanya. Karena sudah malam William berpamitan kepada mereka dan ingin pulang ke rumah, saat mau melangkahkan kakinya dia berhenti sebentar.
“William… Terima kasih karena sudah memberitahuku tentang pekerjaan, aku ingin membantu ibu..”
“Tidak apa apa, tante dan kamu juga sudah banyak membantuku.. Besok kamu akan datang?”
“Setidaknya aku harus berterima kasih sesuatu.. Untuk besok, akan aku tanyakan kepada ibu.. Oh iya kamu mau pulang ya.. Maaf mengajakmu berbicara lagi.. Hati hati ya..”
“Sampai besok..”
Melody masuk ke dalam rumahnya dan William melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah, saat sampai di depan rumah dia melihat ke arah bunga yang dia tanam dari lama tersebut. Sudah bisa dia petik dan di bawa ke makam orang tuanya besok, namun dia tidak memetiknya saat itu juga karena takut layu di besok hari. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya dan beristirahat untuk hari ini, seperti biasa dia pergi ke kamar mandinya untuk mencuci kaki dan menggosok giginya.
“.. Besok Nia menginap di sini bukan? Dia juga pulang siang.. Apa aku harus tanya kepada kak Lia dulu..”
Setelah itu William pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menanyakannya kepada kak Lia, sesampainya di kamar dia merasa kedinginan dan langsung saja masuk ke dalam selimut yang ada di atas tempat tidurnya. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada kak Lia.
“Kak.. Nia besok ke sini kan? Besok ada vestival di kampus.. Apa Nia besok masuk?”
Tidak lama pesannya di balas oleh kak Lia.
“Iya.. Ajak Nia ke sana.. Seperti biasa dia pulang jam satu.. Vestivalnya sampai sore kan?”
“Sampai malam sih kak.. Kalau begitu beritahu kepada Nia..”
“Oke.”
William selesai dengan urusan Nia dan sekarang dia ingin membuka pesan grup sekolahnya yang lama, dia melihat banyak pesan yang belum di bacanya. Ada seratus lebih pesan yang belum dia baca, karena penasaran dia mulai membacanya dari atas. Satu persatu dia baca dan setiap pembicaraan teman mereka selalu berubah, dari A ke B dan kembali ke A. Ada beberapa pembicaraan mereka yang membahas orang yang ada di grup tersebut termasuk dirinya, namun karena sibuk dia tidak bisa ikut ke dalam pembicaraan tersebut.
Dia membacanya lagi dan sampailah di mana pembicaraan di grup tersebut mulai serius, yang dimaksud serius oleh William adalah pembicaraan yang dia lihat di grup tersebut mengandung pembahasan tentang kekayaan mereka. Dia membacanya satu persatu dan mereka sudah tidak membicarakan tentang kekayaan lagi, setelah itu pembicaraan mereka sudah kembali ke kehidupan mereka. Orang yang ada di grup tersebut cukup banyak, totalnya mencapai 30 orang di grup tersebut. Namun William hanya dekat dengan beberapa orang di sana, paling banyak di grup tersebut adalah temannya Candy.
“Dulu cuman sepuluh.. Sekarang sudah tiga puluh.. Sudah bisa jadi satu kelas.. Di sini cuman ada Aku dan Melody yang satu kelas ya?.. Ternyata masih ada satu lagi.. Cecile, aku tidak terlalu dekat dengan dia.. Dia bendahara kelas?.. Sedikit ambigu untuk menamainya bendahara di mana siswanya orang kaya semua..”
William tiba tiba mendapat pesan dari seseorang saat sedang melihat orang orang yang ada di grup tersebut.
“Selamat malam.. William bukan?”
“..Baru juga ingat, dia muncul tiba tiba.. Iya Cecile? Ada apa?”
“Oh kamu masih ingat aku ya? Aku kira lupa.”
“Seharusnya aku yang bertanya, kukira orang yang butuh pinjaman uang..”
“Hehe, mana ada yang bisa lupa dengan orang paling pintar di kelas?”
“Tidak, kamu hanya menahan diri.. Aku tahu.. Eh, aku tidak sedang membahas ini.. Aku mau tanya, kamu masih bekerja di tempatmu setelah lulus sekolah? Atau kamu lanjut kuliah?”
“Aku dua duanya..”
“Cecile” adalah anak dari orang tuanya yang memiliki beberapa perusahaan di kota tempat tinggal William, orang tuanya memiliki berbagai macam perusahaan dan juga memiliki salah satu bank terbesar di kota tersebut. Walaupun begitu dia tidak pernah mengeluarkan uang yang besar untuk ke hidupannya, dia selalu meminta sesuatu kepada ibunya jika ingin membelinya. Cecile diberi tanggung jawab suatu perusahaan kecil dan setiap minggu dia harus pergi ke sana untuk mengurus pekerjaannya, dari sanalah dia mendapat uangnya sendiri.
William pernah di ajak olehnya ke sana karena dia tahu kemampuannya, walaupun hanya sekali dia sangat terbantu dengan bantuannya. Makanya dia bilang kalau William murid terpintar di kelasnya dan tahu betul tentang kemampuannya, namun Cecile lebih hebat karena hanya satu kali bantuan dia bisa menjalankan tugasnya sampai sekaran tanpa bantuan William lagi. Dia sering bertanya kepadanya harus berbuat apa jika ada masalah ke depannya dan dia langsung tahu harus berbuat apa jika di beri beberapa saran saja.
Kini Cecile bertanggung jawab penuh untuk mengurus perusahaan yang diberikan oleh orang tuanya, makanya dia selalu sibuk dan jarang sekali muncul di dalam grup sekolahnya. Seperti William yang hanya mengirimkan satu dua pesan di grup tersebut dan setelah itu hilang dari sana, Cecile seperti dia juga karena sama sama menyukai pekerjaannya dan tidak mengeluh sama sekali.
“Main ke tempatku lagi, kamu cuman sekali ke sini..”
“Mungkin lain kali.. Kamu tahu kalau aku sibuk
bekerja..”
“Iya sih, tapi kamu kuliah di mana?”
“Rahasia.. Perusahaanmu ada di kampusku juga..”
“Eh benarkah? Aku cari tahu nanti..”
“Kamu kira aku tidak? Ada seribu lebih tempat yang menjalin kerja sama dengan perusahaanmu..”
“Hehe..”
Setelah pebicaraan mereka yang lama akhirnya selesai dengan perpisahan lagi, William bilang ke Cecile kalau dia ingin tidur. Namun dia mau membuka pesan yang masuk ke ponselnya terlebih dahulu sebelum dirinya tidur, masih banyak yang harus dia baca. Satu persatu pesan sudah dia baca dan sekarang sudah jam sepuluh malam, masih ada pesan di grup kelasnya yang belum dia baca dan dirinya ingin membaca semuanya.
“.. Candy lagi, foto kampusnya.. Keren ya? Bisa begitu.. Hehehe.. Candy, kampusmu bagus ya? Ada kuenya tidak?”
Pesannya langsung di bahas karena ada kata kue di dalamnya.
“Williammmm, di sini tidak ada kue yang lebih enak dari buatanmu…”
“Kasihan.. Aku tadi saja makan dua kali..”
“Jahat kamu ya, besok aku ke sana.. Awas saja..”
“Besok aku pergi… Makan kue.. Hehehehe..”
“Ihhhh, awas ya..”
Setelah itu William mengirim pesan kepada paman Willy untuk meminta ijin libur karena harus membawa Nia ke kampusnya, mungkin saja kak Lia sudah meminta ijin untuknya. Karena sudah malam dia memutuskan untuk mengakhiri bermain ponselnya dan memasang tidur di kasurnya, dia menutup matanya dan langsung terlelap tidur.
─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─