
❏ #The Noble
↳ Pengenalan kampus #7
William dan Melody menerima makanan yang dibelikan oleh kak Dea, mereka memakanan makanan tersebut satu persatu sampai tidak ada yang tersisa termasuk minumannya. Setelah itu mereka membicarakan tentang yang tadi terjadi di dalam kelas, kak Dea menceritakan semuanya kepada mereka berdua.
Dia bercerita cukup panjang dan membuat dirinya sendiri kehausan, karena itu dia bangun dari tempat duduknya dan bilang kepada mereka kalau ingin memesan minuman untuk dirinya sendiri. Tidak begitu lama Kak Dea kembali dan duduk di kursinya, dia bercerita lagi tentang teman temannya yang termasuk dalam panitia untuk mahasiswa baru.
“Oh iya, besok kan ada lomba untuk para senior kalian, aku juga ikut hehe.. Apa kalian mau menontonnya?”
“Jam berapa mulainya?”
“Jam delapan.. Tempatnya sesuai jurusan masing masing.. Jadi lombanya nanti di lantai tiga dan empat, di ruang praktik kalian..”
“Bagaimana denganmu Melody?”
“Aku bisa saja menonton, tapi sampai siang hari saja..”
“Tidak apa apa kalau begitu, kita ikut kak.. Aku juga akan pulang siang hari karena bekerja..”
“Kalian beruntung karena aku dapat giliran pagi..”
Setelah semua informasi William dengarkan dari seniornya tersebut, dirinya ingin berkeliling lagi di kampus tersebut untuk mengenal lebih banyak hal yang ada di daerah kampus tersebut. Kak Dea lansung bersemangat dan ingin mengajak mereka, Melody menatap ke padanya dengan rasa penasaran.
“E.. Tapi kita harus ke mana kak Dea?”
“Ke mana ya?... Oh iya aku lupa.. Aku ada latihan sekarang, apa kalian mau menonton latihanku?”
“Kurasa bagus juga melihat senior melakukan praktik..”
“Kalau begitu ayo kita turun ke lantai satu, tepatnya dapur yang ada di lantai satu..”
Mereka bertiga bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke arah tangga yang mereka lalui tadi, setelah itu mereka berjalan ke arah lift berada. Kak Dea menekan tombol liftnya sambil bernyanyi kecil, William dan Melody penasaran dengan praktik yang ada di kampus tersebut.
Setelah menunggu akhirnya pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam lift, lift tersebut mulai turun dan sampai di lantai satu. Kak Dea keluar dari lift sambil menggandeng tangan mereka berdua, setelah itu mereka berjalan menuju ke dapur dan sudah ada beberapa orang di sana.
“Ayo masuk..”
Kak Dea masuk terlebih dahulu ke dalam dapur dan di susul oleh mereka berdua, setelah itu dia menghilang entah berganti pakaian atau mencuci tangannya. Tidak lama kak Dea kembali dan berdiri di posisi mara mahasiswa yang ada di sana, hanya ada satu dosen di sana dan dirinya memerintahkan para senior untuk mulai memasak. Setelah itu dosen tersebut tahu dengan kehadiran mereka dan mendekati mereka berdua.
“Kalian terlihat baru di sini.. Apa kalian mahasiswa baru?”
“Iya chef..”
“Iya saya juga..”
“Bukannya para mahasiswa baru sudah pulang?”
“Kak Dea mengajak kami ke sini chef..”
“Dea ya? Tuh dia tersenyum ke arah sini.. Apa kalian pernah bekerja dibidang ini?”
“Saya belum chef, tapi William sudah..”
“Oh kamu sudah ya? Apa mau ikut memasak bersama, aku ingin tahu kemampuanmu..”
“Eh, yakin chef? .. Masakan saya tidak begitu enak..”
“Tidak apa apa.. Mejanya masih banyak, ikut sana.. Dan yang satu..”
“Nama saya Melody..”
“Kamu kalau mau ikut saja… Kalau tidak duduk saja dan menonton, oh iya bantu saya mencicipi masakan..”
William langsung pergi meninggalkan Melody sedangkan temannya pikirannya kosong karena mendengar perkataan dari chef tersebut untuk mencicipi masakan dari seniornya, William pergi ke ruang ganti dan dirinya melihat banyak seragam untuk chef dan mengambilnya satu untuk dia pakai. Setelah itu dia keluar dan menemui chef tadi, lalu dia berjalan mendekat ke arahnya dan berdiri di depannya.
“Saya siap chef, saya harus membuat apa?”
“Siap chef, saya lupa menanyakan nama anda..”
“Nama saya Gus..”
“Kalau begitu saya pergi chef Gus.”
Dia meninggalkan temannya bersama chef Gus, setelah itu William memilih mejanya. Karena banyak dirinya menjadi kebingungan, dia melihat ke arah kak Dea dan memutuskan untuk memilih tempat di sampingnya karena masih kosong. Setelah itu dia pergi ke ruangan alat dan bahan, William membawa semuanya yang dia perlukan. Setelah itu dirinya menaruh semuanya di atas mejanya dan bersiap siap untuk memasak, namun kak Dea yang ada di sampingnya sadar dan berbicara kepadanya.
“Loh William?”
“Halo kak?”
“Kenapa kamu pakai seragam itu, membawa alat dan bahan masakan juga..”
“Oh tadi chef Gus bilang kalau aku boleh masak.. Hehe, kak Dea membuat apa..”
“Heh… Seperti biasa chef Gus, baguslah kalau begitu aku bisa melihat kemampuanmu.. Aku mau masak apa? Rahasia..”
Setelah mendengar kata rahasia William langsung bersemangat dan memasang muka serius, kak Dea terkejut melihat mukanya dan melanjutkan pekerjaannya. William langsung saja membuat masakannya secara hati hati dan tepat agar hidangannya nanti bisa di nikmati orang, apalagi orang yang memakan hidangannya adalah dosennya yang akan mendatang, semua orang fokus dengan pekerjaannya dan selama satu jam mereka selesai dengan hidangan masing masing.
“Sudah satu jam.. Selesai, tidak ada tangan yang yang bergerak.. Kamu bawa ke sini..”
William selesai dengan hidangannya dan sudah menaruhnya rapi di sebuah piring termasuk kak Dea, namun dia menyembunyikan hidangannya dari juniornya tersebut. William hanyam menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, chef Gus mulai menyicipi makanan dari mahasiswanya satu persatu termasuk temannya di depan. Dia tertawa karena pertama kali melihat Melody tidak percaya diri, hampir semuanya sudah di cicipi dan diberi masukan oleh oleh chef Gus namun temannya hanya diam saja.
“Sekarang punya Dea.. Bawa ke depan..”
Kak Dea membawa makanannya ke depan, setelah di depan chef Gus dia membuka tutup makanannya. Tercium bau yang enak sampai di hidungnya William. Chef Gus mulai menyicipinya dan setelah itu memberitahu bagaimana hasilnya.
“Bagus, enak.. Kamu boleh kembali, selanjutnya tinggal terakhir ya.. William.”
William membawa makanannya ke depan dan para seniornya terkejut karena mahasiswa baru ikut memasak di dalam kelas praktik mereka, setelah sampai di depan dia menaruh makanannya di atas meja dan mundur beberapa langkah ke belakang. Chef Gus mengambil alat makannya dan mulai menyicipi hidangan milik William tersebut, namun dia berhenti memakan makanannya setelah satu suapan.
“Hm.. Kalian semua maju dan cicipi hidangan ini.. Saya ingin tahu bagaimana tanggapan kalian..”
Semua senior kebingungan termasuk kak Dea, karena sudah mendapat perintah mereka maju ke depan dan mulai mengambil satu suapan. Semua orang termasuk kak Dea terdiam dan mulai mengambil satu suapan lagi, Melody kebingungan dan mulai mengambil satu suapan. Dia terdiam setelah memakan satu suapan dari hidangan William.
“Bagaimana.. Tidak kurang dan tidak lebih, ini enak.. Ini yang paling bagus dari kalian semua.. Namun karena dia belum masuk kelas jadi poin tertinggi milik Dea.. Tingkatkan..”
“Terima kasih chef..”
Setelah itu chef gus berterima kasih kepada William dan pergi meninggalkan dapur tersebut bersama para senior lainnya terkecuali kak Dea yang masih tinggal di sana, setelah semua pergi dia langsung menanyakannya kepada William.
“Bagaimana kamu membuat hidangan seperti ini.. Aku tahu kalau makananku sudah bagus, tapi buatanmu..”
“Rahasia..”
“Ih.. Kasih tahu.. Melody apa kamu tahu?”
“Itu sih tanya William kak.. Dia kalau membuat sesuatu akan seperti ini, tapi William.. Ini bukannya waktu itu pernah kamu buat, tapi aku merasakan ada yang kurang..”
“Oh itu karena ada bumbu khusus buatanku, aku tidak bisa membuatnya di sini karena memakan waktu..”
“Jadi hidanganmu belum sempurna tapi sudah seenak ini!!!! Kasih tahu aku rahasianya…”
“Tidak bisa, itu melanggar aturan tempat kerjaku..”
“Huhu.. Aku sudah menyempurnakan kemampuanku selama dua tahun ini tapi kalah denganmu…”
“Mungkin karena William mulai dulu dari kak Dea..”
“Begitu ya..”
─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─