The Noble

The Noble
Episode 21



Tidak beberapa William kembali dari dapur dan membawa makanan untuk diletakan di atas meja mereka berdua, setelah membawa makanan tersebut tanpa menunggu kedua orang tersebu berbicara kepadanya dia langsung kembali ke dapur. Mereka berdua kebingungan karena tingkah laku William yang tidak bisa di tebak, karena merasa kebingungan kak Lia memutuskan untuk mendekat ke tempat mereka dan menjelaskannya. Kak Lia menjelaskan apa yang William perbuat dengan karangannya dia sendiri, mereka dua langsung memakan makanan tersebut setelah mendengar perkataan dari kak Lia. William kembali membawa makanan dan kali ini adalah kue yang dibuatnya tadi.


“Silahkan dinikmati..” katanya.


“Terima kasih nak William.. tapi tidak harus seperti ini..” kata ibunya Melody.


“Tidak apa apa tante.. silahkan dinikmati.. akan kutunggu di meja sana..” katanya dan langsung meninggalkan mereka beruda.


“Boleh juga kamu William.. mentraktir mereka berdua, bahkan kamu sendiri yang melayani mereka dan bahkan memberikan waktu mereka sendirian tanpa ada pelanggan di sini..” kata kak Lia.


“William sudah dewasa.. jadi dia sudah bisa memikirkan orang lain..” kata paman Willy.


“Aku hanya berterima kasih kepada mereka karena meraka selalu membantuku, termasuk ibunya Melody dulu membantu William beradaptasi di lingkungan rumah..” katanya.


“Terus hadiahku mana? Bukannya aku juga sering membantumu..” kata kak Lia.


“Paman juga membantu William.. di mana hadiah paman?” kata paman Willy.


“Ah itu…” jawabnya bingung.


Mereka berdua tertawa bersama, ternyata mereka sedang bercanda kepada William. William menyadari candaan mereka namun juga berpikir bahwa benar mereka membantunya hidup yang sekarang, dia akan memikirkan apa yang harus dia balas untuk mereka nanti saat tiba di rumah.


“Oh iya paman Willy.. alat alatnya yang kumaksud..” tanyanya.


“Tidak masalah.. alatnya ada di mobil paman.. dan tenang saja.. paman akan mengantar mereka berdua pulang..” katanya.


“Terima kasih paman..” jawabnya.


Mereka berdua selesai memakan makanan yang dibawa William termasuk kue butanya, dia menghampiri mereka berdua bersama paman Willy dan kak Lia untuk menanyakan bagaimana dengan makanannya.


“Wah ini enak sekali.. tante tidak pernah memakan masakan seperti ini..” katanya.


“Aku juga.. termasuk kue ini.. ini pasti buatanmu kan William, karena rasanya seperti kemarin tapi lebih enak..” kata Melody.


“Untuk kuenya emang aku yang membuatnya, tapi yang lain yang membuat paman Willy dan kak Lia.” Katanya.


“Terima kasih nak William untuk makanannya dan terima kasih untuk pak Willy dan nak Lia atas makanannya..” katanya.


“Tidak masalah nyonya.. oh iya untuk Melody.. yang William bahas untuk kamu ada di dalam mobil paman.. dan nyonya akan saya antar pulang jika sudah selesai makannya..” kata paman Willy.


“Ah tidak usah pak Willy.. saya dan Melody bisa pulang jalan kaki.. cukup dekat..” jawabnya.


“Tidak apa apa.. ini dari William..” katanya.


Mereka berdua langsung berpamitan kepada kak Lia dan William, mereka keluar dari restoran tersebut dan berjalan menuju mobilnya paman Willy. Paman Willy menyalakan mobilnya dan mengantar mereka berdua kembali ke rumah mereka. Tidak begitu lama paman Willy kembali ke restoran, dia mengatakan bahwa sudah mengantarkan Melody dan ibunya kembali ke rumah mereka dengan selamat. William berterima kasih kepada paman Willy karena mengantarkan teman dan ibunya kembali, paman Willy menyuruh mereka untuk melanjutkan jam istirahat mereka sebelum habis. William berjalan kembali ke dapur dan karena bingung ingin melakukan apa apa pada jam istirahatnya, dia hanya diam di depan mejanya.


“William.. kenapa kamu?” tanya kak Nindy.


“Ah kak.. tidak apa apa.. aku hanya bingung ingin berbuat apa di jam istirahat ini..” jawabnya.


“Yaa begitu kak.. itu seperti yang lainnya.. hanya eksperiment.. tapi kurasa sisa satu tadi..” jawabnya.


“Kurasa sudah habis.. oh iya bagaimana kalau kamu membuatnya lagi?” tanyanya.


“Kemungkinan tidak ada waktu.. waktu istirahat kita tinggal lima belas menit lagi.. tapi kurasa kita bisa mencoba sesuatu dengan minuman.. bagaimana kak?” Tanyanya.


“Wah boleh tuh.. lalu bagaimana?” katanya.


“Kalian sedang apa..?” tanya kak Lia yang datang tiba tiba dari belakang.


“Ah.. tidak ada kak.. cuman mengobrol biasa..” jawabnya.


“Ohh begitu.. kukira apaa.. nikmati waktu kalian..” katanya sambil duduk di kursi yang berada di depan mejanya.


William berbisik kepada kak Nindy dengan obrolan mereka tadi, mereka berbicara secara pelan pelan dan tanpa harus mengungkapkan emosi mereka. Mereka takut jika ide mereka akan di dengar oleh kak Lia, karena ide mereka lumayan mudah jadi tidak membutuhkan waktu. Alarm dapur berbunyi dan menandakan bahwa jam istirahat sudah selesai, para pekerja kembali ketempatnya termasuk William. Restoran dibuka kembali dan tamu pemesan lantai kedua datang , paman Willy mengantarkan mereka ke tempatnya. Beberapa saat paman Willy kembali ke dapur dan memberika beberapa pesanan kepada yang lainnya dan dia langsung pergi dari dapur. Mereka yang menerima pesan tersebut langsung mengerjakan pekerjaan mereka, William pun juga ikut kebagian dan diawasi oleh kak Nindy. Jam sekarang menunjukan pukul tujuh, dan waktunya Restoran tersebut tutup. Para pekerja beristirahat sebentar sambil membersihkan restoran, William bersama kak Nindy membersihkan dapur bersama.


“Jadi bagaimana dengan tadi.. apakah besok kita bisa membuatnya?” tanya kak Nindy.


“Okee.. besok kita buat kak.. jam istirahat kita langsung membuatnya..” jawabnya.


“Kalian mau membuat apa pada jam istirahat?” kata kak Lia dari belakang mereka yang saling berbisik.


“Ah.. tidak apa apa kak.. membuat jam istirahat dengan menyenangkan..” kata William.


“Hehe begitulah kak Lia..” kata kak Nindy.


“Jelaskan… tidak usah ada yang ditutupi..” katanya.


“… baiklah.. besok kami ingin membuat sesuatu minuman pada jam istirahat..” jawab William.


“Minuman apa..?” tanya kak Lia.


“Hanya mencoba coba saja..” kata kak Nindy.


Mereka membicarakan idenya kepada kak Lia, kak Lia hanya diam saja sambil mendengarkan mereka berbicara. Dia paham dengan ide mereka, karena sudah malam kak Lia menyuruh mereka untuk pulang ke rumah mereka masing masing. Karena tidak mau di marahi oleh ketua mereka, akhirnya kedua orang tersebut membersihkan tangan mereka dan langsung keluar dari restoran. Mereka berpisah karena jalan rumah saling berbeda, kak Nindy dan William saling berpamitan dan saling berjalan ke rumah masing masing. William berjalan dengan keadaan lelah namun juga menyenangkan, saat dia sedang berjalan tiba tiba Melody menyapanya.


“William.. selamat malam.. oh iya terima kasih buat tadi siang..” katanya.


“Oh Melody.. selamat malam.. ohh tidak apa apa..” jawabnya.


“Aku berterima kasih kepadamu.. maka aku tidak mau menghentikanmu.. karena kelihatanya kamu lelah..” katanya.


“Hahah.. sudah biasa.. baiklah aku pulang duluan.” Katanya.


William melanjutkan untuk pulang kerumahnya, sampailah di rumahnya. Dia mengecek keadaan sekitar dan nampak normal, dia mengambil kuncinya dan membuka pintunya. Dia masuk kedalam sambil menyakan lampu depannya, Karena lelah William memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di sofanya sesaat. Sambil beristirahat dia mencoba membuka ponselnya, dia mengecek tidak ada apa lalu menutupnya. William sangat ingin beristirahat, dia berjalan ke kamarnya. Sampai di dalam dia langsung tidur di kasurnya, terlelaplah dia di kasurnya sampai pagi mendatang.