Suddenly

Suddenly
Just be Friend



Semua mata tertuju pada para visual kampus. Bagai embusan angin yang mengibaskan rambut mereka yang begitu berkilau. “Itu membuatku geli,” suaranya lirih. Tapi benar-benar terlihat seperti apa yang ia ucapkan.


Rania berada di antara Ken dan Kai. “Ada apa sebenarnya?” Sky beberapa kali mengernyitkan kedua matanya dengan ekspresi mukanya yang akan mengatakan, “Hah?” berulang kali.


Atau, “Apa mereka baik-baik saja?”


Bahkan, ia juga menahan tawa sekaligus membuatnya malu. Untuk apa sengaja mempertontonkan diri agar semua mata tertuju pada mereka.


Ken bahkan tidak menyukai hal seperti itu.


Kai juga.


Pandanganku dengan orang-orang di sekitar jauh berbeda. Yang kulihat hanyalah, “Rania bersama dua budaknya.”


Sky tak peduli, ia membuat jauh pandangannya itu. Melanjutkan menghabiskan makanannya. Bahkan, di hadapannya hanya terlihat manusia-manusia yang mengelili meja para visual itu.


“Bukankah aku harus melakukannya? Hahaha…”


Seperti sebuah pertunjukkan.


Piringnya telah kosong, ia mengembalikannya. Mengambil minumannya dan berjalan dengan langkah kaki yang disengaja, seolah mengulur waktu.


Saat manusia-manusia itu terbagi menjadi 2 jalur. Para visual akan melihatku berjalan membelakanginya.


“Wohooo!” Sky berseru dengan suaranya lirih dan bibirnya yang mengerucut.


“Meski itu hanya perkiraanku. Tapi, itu menyenangkan.”


Semua orang berlarian, seperti tidak ingin ketinggalan. Ada juga yang memandangi dengan tatapannya yang rasanya orang yang menatapku itu lebih pantas diberi tatapannya itu. “Apa kau baik-baik saja? Itu tidak membuatku takut, kau harus lebih melatih ekpresimu. Berhentilah!” aku tahu itu terdengar menyakitkan. Tapi, itu keterlaluan. Mengapa orang-orang masih saja melakukannya?


Orang itu langsung pergi tapi…


Orang itu menendang sesuatu seperti batu dari arah belakangku dan mengenai bagian belakang lututku. “Whoaa! Tendangan yang bagus. Ah, kau anggota club sepak bola?” perempuan itu kembali dengan tatapannya. Tatapannya itu ingin terlihat seperti apa yang dia pikirkan. Tatapannya yang membenci seseorang. Tapi, sayangnya dia tidak bisa mengeksekusi ekspresi yang seharusnya.


Dia menatapku seperti aku menjadi hantunya karena orang itu pematung. Itu melelahkan, apakah kita sedang beradu tatap-menatap? Dan siapa di antara kita yang menangis lebih dulu, itu yang kalah.


“Aku menyerah, kau menang. Bye!”


Wah!


Selalu ada-ada saja.


Ponselku berdering dan siapa lagi kalau bukan Ken.


“Untuk apa?” Sky mengabaikannya.


Pukul 2 siang.


Sky masuk ke kelas dengan begitu tenang dan peduli dengan orang-orang menatapnya.


Bahkan, ia menyadari—berada di kelas kuliah umum. Bertemu dengan Rania dan Kai yang tengah duduk berdua. Ada satu lagi, sepertinya mereka tidak akan terpisahkan. Visual dengan visual. Ken menjadi asisten dosen yang akan mengisi kelas hari ini.


Whoaa! Kenyataan yang jarang terjadi. Ken tidak mau melakukan hal seperti itu. Apa karena? Meski aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Tapi, bolehkan aku mengatakannya kalau itu karenaku? Tidak ada alasan lain selain karena, aku?


“Wah, dia campakkan!” teriak seseorang di kelas menaikkan volume suaranya.


Ken sempat melihatku, entahlah lucu sekali—dia terlihat sibuk.


“Aku melihatmu, bukankah kau yang dicampakkan?” balas Sky dan duduk kursi yang masih kosong. Saat ia duduk, semua menghindar.


“Kau yang dicampakkan. Kau pikir, kau siapa?” ucap laki-laki itu.


Aku tidak mengerti dengan ucapannya. Dia bertanya, aku siapa? Haruskah aku berteriak di telinganya? Kenapa ada laki-laki sepertinya?


“Bukan siapa-siapa,” Sky tersenyum lebar.


“Tidak ada yang mau denganmu.”


“Apa kau punya kaca?” aku tidak akan mengbaikannya.


“Kau berangkat dengan terburu-buru?”


“Pantas saja kau dicampakkan.”


Rasanya ingin mengatakannya secara langsung, tapi itu menyakitkan.


Tapi, kenyataannya memang benar.


Laki-laki itu berantakan.


Seperti saat kau baru bangun dan harus pergi ke kampus.


Rambutnya acak-acakkan.


Ada potongan sayur di giginya.


Ada noda tumpahan kuah di bajunya.


Aku memang tidak tahu apa yang terjadi padanya dan sebenarnya tidak perlu berkata seperti itu, tapi aku hanya mengikuti kata hatiku, dan aku justru menyesalinya.


“Lebih baik pikirkan dirimu sendiri,” ucapnya lalu pergi dari hadapanku.


Lebih baik pikirkan dirimu sendiri?


Sepertinya dia kehilangan ingatannya sampai tak menyadari ucapannya sendiri.


Tidak ada yang duduk sekitarku, semua menjauh seolah tubuhku bau aroma yang tidak sedap.


Ken menatap ke arahku dengan senyumannya yang menyebalkan.


Kai berusaha menjauh dari tatapanku, begitu jengan Rania.


Kai dan Ken memang cocok berteman meski mereka seperti kucing dan anjing.


Tapi, bagaimana dengan Rania?


Itu membuatku kaget.


“Hei, kau!”


“Hei, kau!”


“Kau yang beridiri!”


“Apa telingamu bermasalah?”


Jari-jari telunjuk itu, mengarah padaku.


Berdiri dengan memegang microphone.


“Iya?” itu yang keluar dari mulutku.


Semua orang menertawaiku dengan puasnya.


“Apa kau tidak ingin mengikuti kelas hari ini? Kau dari melamun,” ucap Ken.


Entah apa yang ada dipikiran Ken saat ini, ada apa dengannya?


Mempermainkanku?


Sengaja melakukannya untuk balas dendam?


“Saya mendengar semua materi dengan baik,” jawab Sky.


Microphone itu berpindah pada seorang dosen. Ya, sudah dipastikan akan melayangkan pertanyaan untukku.


“Apa yang kau pikirkan apa akan sama dengan orang lain?” itu pertanyaan untukku.


“Jawabannya tergantung…”


“Tergantung siapa orang itu.”


“Kenapa?”


“Bahkan, dengan Bapak bertanya pada saya artinya…Bapak punya 2 opsi. Sama seperti yang Bapak pikirkan atau justru memberi pertanyaan kembali sampai jawaban itu sepen mikiran.”


“Kau boleh meninggalkan tempat, karena kau memang mendengar semua materi dengan baik.”


Wohooo!


“Terima kasih, Pak.”


Sky menundukkan kepalanya dengan tersenyum sebelum meninggalkan tempat.


Pulang dan tidur.


Itu yang kuinginkan hari ini.


Ia berlari dari kampus sampai ke apartemen karena ingin cepat sampai.


“Aku pulang!” tanpa berganti pakaian. Sky telah terlelap.


Tapi ia terus terbangun berulang kali.


Ia tidak sedang mimpi buruk, hanya saja rasanya begitu lelah.


Telinganya mendengar seseorang memanggil namanya berulang kali.


“Sky!”


“Sky!”


“Bangun!”


“Kau harus bangun!”


Kedua matanya terbuka.


Penerangan di kamarnyanya begitu menyakitkan. Ia berusaha berkedip berulang kali, kedua matanya mengganjar. Ia masih ingin melabjutka tidurnya.


“Sky!”


Sky terlihat bingung dengan apa yang ia dengar. Ia bangun dan…


Para visual itu berada di kamarnya.


Sky yang mematung mencubit jemari tangannya di balik selimut.


Itu sakit.


Tapi aku justru menahan reaksiku yang seharusnya.


“Kau temanku, begitu juga dengan Kai dan Ken. Mereka temanku,” Rania duduk di hadapanku dengan jemari tangannya yang menunggu balasan dariku.


Berteman?


Tiba-tiba?


Hah?


Apakah aku bermimpi?


Sky yang masih terlihat kebingungan membuat Kai diam-diam menahan perasaannya.


“Menjauhlah dariku!” ucap Sky lalu melanjutkan ucapannya, “Kalian saja yang berteman, aku tidak. Kalian tahu cara menekan bell, kan?”


“Kita hanya memberi sebuah kejutan,” ucap Rania.


Kurasa…Rania gila.


...***...