Suddenly

Suddenly
Past



“Apa kau masih menemuinya?”


Suara gemuruh hujan seolah telah menggambarkan suasana rumah yang penuh dengan kegelapan.


“Ayah, bisakah sedikit peduli dengannya? Setidaknya dari lubuk hati Ayah.”


“Kau bilang peduli? Bukankah dia tidak punya orang tua?” Ibu tirinya yang tiba-tiba datang dan menunjukkan kemesraan di depan mata Ken.


“Wah, apa kau tak ingat telah melahirkannya?”


“Ken, jaga mulutmu! Dia Ibumu.”


“Ibu? Apa dia pantas dengan panggilan itu, Ibu?”


“KEN!”


“Apa? Mau memukulku? Seperti Ayah memukul Ibu? Ayah pikir aku tidak tahu. Ibu selalu ada untuk Ayah sampai akhir tapi apa…apa yang dilakukan Ayah? Kesedihan yang Ayah perlihatkan…itu bohong.”


“Tutup mulutmu, Ken! Kau tidak tahu apa-apa. Kau bilang Ibumu itu selalu ada untukku? Nak, kau terlalu dini untuk mengetahui semuanya. Ibumu itu, mencengangkan. Diam-diam menghanyutkan.”


“Pergilah! Bukankah kau harus mencari Adikmu itu?”


“Sky tidak salah apa-apa. Mengapa kau memperlakukannya seperti itu? Kau Ibunya. Apa kau tidak punya kenangan yang bisa kau ingat kembali?”


Ibu tirinya tengah bersiap dengan tangannya.


“Pukul saja tapi kalau kau melakukannya pada Sky, tidak akan kubiarkan.”


“Sebenarnya kau mau apa datang ke sini? Hanya untuk memberi kabar yang tak penting ini? Atau karena kau tidak punya apa-apa?” Ayahnya mendekat dengan cengkeraman tangan di rahang Ken.


“Kenapa? Kau tidak bisa berbicara? Haha…”


“Kau ingin menangis?”


Ayahnya semakin menjadi-jadi.


Ponsel Ken berdering dan ia tahu, Kai pasti menghubunginya.


Air mataku benar-benar menetes di hadapan Ayahku. Entahlah, apakah masih pantas menyebutnya dengan sebutan itu? Ayah?


Ayah mendorongku sampai tubuhku terbentur tembok. Kupikir itu akan menjadi akhir dari semuanya dan membiarkanku tergeletak tanpa diberi uluran tangan.


Satu pukulan mengenai pelipis dan beberapa pukulan yang entah…aku tidak tahu lagi.


Pandanganku tidak kabur dan itu menjadi pertahananku untuk kabur.


Wanita tua itu tidak tahu berharganya memiliki seorang anak yang membuatku…


Ingin selalu melindunginya…


Dengan cara yang benar.


Mereka meninggalkanku tergeletak dengan kesadaran yang entah kudapat dari mana, tak lama bangkit tanpa suara lalu keluar tanpa ragu.


“Ken!”


“Sssst!”


Kai seperti pengganti instingku yang tak berfungsi. Uluran tangan itu datang dari Kai.


Orang itu tak berbicara saat tahu keadaanku. Kai mengambil alih motor yang membuatku muak melihatnya. Pemberian Ayah beberapa hari sebelum Ibu meninggal.


Kai dan aku menginap di tempat Sky sembari menunggu kehadirannya.


“Hei, apa kau tidak jijik mengobatiku seperti ini?”


“Kau tidak lihat bagaimana aku menyembunyikan perasaanku? Bahkan rasanya campur aduk. Entahlah…”


“Kau merindukannya?”


“Apa aku harus menjawabnya?” Kai terlihat kacau.


“Haha, iya itu telihat. Kau merindukannya.”


“Kau diam saja, jangan berbicara! Mulutmu itu hampir robek.”


“Sebenarnya apa yang terjadi?”


“Wah, kau mengajakku bercanda? Kau memintaku untuk diam tapi kau bertanya.”


“Tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin berbicara agar tidak terasa semakin kosong.”


“Kau menyedihkan, Kai.”


“Ken…”


“Hmm?”


“Kau tidak mungkin pernah menyukainya, kan?”


“Siapa maksudmu?” Ken tidak mengerti.


“Adik tirimu, Sky. Kau tidak pernah jatuh hati padanya, kan? Sedikit pun atau cinta pada pandangan pertama misalnya?”


“Hahaha…,” Ken tertawa.


“Sudah kuduga itu tidak akan terjadi.”


“Itu yang kau mau, Kai.”


“Hah?” tatapan tajam Kai ke arah Ken.


“Hei, kenapa kau menatapku seperti itu?”


“Kau seperti mengisyaratkan kalau kau pernah menyukainya atau kau memang menyukainya. Orang dengan kertas itu, apa itu kau?”


“Haha, kau sedang mengarang cerita? Yang benar saja, aku menyukai Adikku sendiri? Hei, aku masih waras. Kau masih kesal karena kertas itu?”


“Apa kau mangatakan yang sebenarnya? Kertas itu menjadi awal pertengkaranku dengan Sky.” Kai mengernyitkan mata dan dahinya.


“Kau mungkin tidak percaya padaku seperti aku yang tidak percaya padamu. Tapi aku tidak se…”


“Cukup! Mulutmu akan benar-benar robek kalau kau terus berbicara. Tapi kuharap itu tak terjadi, aku tidak mau merusak hubungan kalian.”


“Maksudnya kau akan putus dengannya?” ucapan Ken membuat Kai terdiam. “Hei, Kai! Ada apa?”


“Aku tidak akan putus dengannya.”


“Ah, tetapi bukankah perasaan seseorang juga bisa cepat berubah-ubah? Tapi…”


“Ken, kuharap kau juga tidak memikirkan yang buruk tentangku.”


“Haha, baiklah.”


“Jangan tertawa!”


“Aw!”


“Sudah kubilang tutup mulutmu, Ken!”


Pukul 5 sore.


Dari kampus aku berlari begitu kencang. Bahkan hujan belum reda. Baru berjalan beberapa langkah, hujan tiba-tiba turun. Payung yang telah kusiapkan justru tertinggal. Itulah mengapa aku berlari, tetapi bukan itu saja. Ada alasan lain.


Ya, itu dia.


Tanpa ragu seperti ucapan Kai padaku, pintu itu selalu terbuka untukku.


“Kai…”


Terdengar suara Kai yang berbicara. “Itu pasti Ken.”


“Ka…”


Kai mematung dengan raut wajahnya yang seperti baru saja melihat hantu.


Ah, tidak!


Raut wajahnya…seperti orang yang tertangkap basah.


Aku telah menangkap basah seseorang yang kurindukan bersama seseorang yang membuat pikiranku kacau sampai terbawa mimpi.


“Kau kenapa, Rania?” wajah cantiknya babak belur.


“Hei, kau tidak mengoles lukanya dengan pasta gigi, kan?” Kai yang tak berkutik itu sedang membawa pasta gigi di tangannya.


“Ti—dak,” ucapnya dengan suara lirih.


“Serahkan padaku,” aku mengambil alih meski tahu bagaimana Rania melihat ke arahku.


“Kau mau apa?” ucap Rania.


“Bukankah kau perlu diobati? Kau tidak ingin wajah cantikmu itu penuh bekas luka, kan?”


“Kai bisa melakukannya,” Rania merangkul lengan Kai.


“Benarkah?” sorot mataku mengarah pada Kai.


“Tidak, aku tidak tahu. Sama sekali tidak tahu,” ucap Kai.


“Baiklah, aku cuci tangan dulu.”


Kai mengekor di belakangku dan berbisik panjang lebar. “Kau ke mana saja? Maafkan aku. Kau pasti menganggapku telah mengusirmu. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kurus.”


“Selamat ulang tahun, Sky. Meskipun terlambat.”


“Kai, apa kau melupakan apa yang kukatakan di masa lalu?”


“Kau janji tak akan mengatakannya.”


“Sky, apa yang kau maksud itu? Janji? Bukankah sudah berlalu begitu lama, bagaimana aku bisa mengingat semuanya? Katakan padaku, apa yang kau maksud itu?”


“Bukankah sesuatu yang berarti bagi kehidupan kita, ingatan yang tersimpan akan terus teringat?” ucapku.


“Aku benar-benar tidak tahu, Sky. Kau boleh marah padaku, tapi aku benar-benar merindukanmu.”


Sky melihat ke arah Rania dan Kai menyadari itu lalu memberi penjelasan. “Rania bukan apa-apa, Sky.”


“Tapi…kau membiarkannya menyentuhmu. Di hadapanku, Kai. Kau tahu bagaimana perasaanku?”


“Dia hanya…”


“Hanya apa, Kai? Kali ini apa lagi? Dia seolah berniat untuk mengganggu hubungan ini.”


“Jangan asal bicara kalau kau tidak tahu faktanya, Sky.”


“Kau menilaiku seperti itu, Kai?”


“Sudahlah! Aku tidak ingin memulai pertengkaran lagi, Sky. Aku hanya ingin berbicara baik-baik denganmu.”


“Pintu itu kau bilang selalu terbuka untukku, tapi kau membukanya untuknya dan mengusirku.”


“Sky, bukan seperti itu. Kau harus pintar membaca situasi. Aku terpaksa melakukannya untuk melindungimu. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku? Kau menghilang begitu saja. Bukankah kau juga menghindar dari masalah?”


Sky mengabaikan ucapan Kai.


“Kau yakin akan mengobatiku? Kau tidak menaruh racun atau…”


“Jika aku memang berniat jahat, kau tidak ada di hadapanku.”


“Kai, kau dengar…dia mengatakan hal buruk padaku,” teriak Rania pada Kai.


“Ini akan sedikit perih tapi lukamu akan cepat sembuh. Kau boleh membawanya untuk jadi milikmu.”


“Aku tidak menerima barang bekas,” ucapnya.


“Ini baru, aku baru saja membelinya.”


“Sky, apa kau terluka?” Kai langsung mendekat.


“Kenapa kau jadi peduli padanya?” ucap Rania.


“Apa kau sadar dengan ucapanmu itu? Dia pacarku.”


“Selesai. Obati lukamu di pagi dan malam,” Sky beranjak dari tempat duduk.


“Kau mau ke mana?” Kai menahanku.


“Apa kau bisa membuatnya pergi, Kai?”


“Kau tidak bisa melakukannya, kan?” lanjut Sky dan Kai melepas genggamannya.


Berjalan dengan perasaan dan pikiran yang saling berkecamuk.


“Yah, ponselku…”


...***...