
“Hmm?”
Mengetahuinya—ponselku berdering. Terdengar suara nada sambung. Menerimanya tanpa tahu siapa yang menelepon.
Entah, sepertinya matahari belum menyapa atau langit memang tak bersinar.
10 hari lagi, tahun baru akan tiba.
Bodohnya aku, mengiyakan begitu saja.
Benar katanya, pentingnya sebuah tanggal menentukan apa yang kita lakukan.
Selama ini hanya fokus pada momen tanpa tahu tepatnya. Apa dia mengingat semuanya?
Kalau—iya. Ingatannya sangat bangus.
Tunggu!
Bukannya setiap manusia memiliki ingatan yang akan tersimpan selamanya jika itu berarti walaupun akan menjadi samar-samar, setidaknya ingatan itu terus-menerus berputar di dalam pikiran.
Ya, terkadang juga membingungkan dan menjadi tidak pasti atau tergantung.
Kalau diingat-ingat, apa saja yang pernah kuceritakan di masa lalu pada Kai?
Saat itu, Kai dan aku—bocah 6 tahun yang entah mendapatkan kata-kata dari mana yang seolah telah menjadi dewasa.
Ya, dewasa bukan soal usia.
“Hmm?” tidak bisa menahannya. Benar-benar masih mengantuk.
Pukul 2 pagi, 2 jam yang lalu adalah waktuku berpisah dengan Kai. Aku tidak bisa tidur selain tidurku lebih awal dan karena yang terjadi hari ini.
Kasmaran?
Wah, itu membuatku geli.
Apa aku sedang kasmaran?
Hah?
Apa itu kasmaran?
Sadarlah, Sky!
“Hmm?”
Teriak seseorang yang kesabarannya sudah habis, “Bangunlah!” Ken hanya mengatakan itu tapi suaranya menusuk sampai ke dalam telinga yang paling dalam.
“Oh, Ken.”
“Buka pintu sekarang!”
“Hei, kau sudah tahu…”
“Buka pintunya, Sky!” suaranya terdengar serius.
Tut…tut…tut…
Kau tahu rasanya saat kau dipaksa untuk bangun saat kau masih benar-benar siap?
Itu tidak enak.
“Ah, kau merepotkan Ken…”
Sky beranjak dari tempat tidur dengan langkah yang berat. Mukanya pasti berantakan. Rambutnya, apalagi. Kedua matanya pun masih ada lem yang melekat.
“Ken, kau me—repot…”
“Huk…huk…huk…”
“Huk…Ken…Kai?”
Begitu nama Kai kusebut, sorot mata Ken tertuju pada Kai.
“A—da apa kalian…,”
BRAK!
Rambutku.
Mukaku.
Air liurku.
Mataku.
Apa mulutku bau?
Ting…tong…ting…tong…
Ken, sialan!
Ah, Kai melihat semuanya. Sial!
Ponselku berdering, Ken meneleponku.
Sementara di balik pintu.
Sorot mata Ken tak lepas dari tatapan pada Kai.
“Ah, kau orang itu?” Ken serasa ingin memukulnya.
“Ah, kau yang selalu menelepon Sky?” begitu juga dengan Kai.
Ting…tong…ting…tong…
Krek!
“Kalian berdua, masuk!”
Wah…
Kacau, apa itu kentara?
Kalau aku baru saja merias diri?
Tidak juga sebenarnya, hanya gosok gigi dan cuci muka.
“Mengapa dia juga masuk?” Kai maksud Ken.
“Iya, dia juga masuk.”
Kai tersenyum puas.
“Dia siapa, Sky?” sorot mata Kai yang menatap Ken membuatku was-was.
“Kau yang siapa? Pergilah!” ucap Ken.
“Hei, kalian berdua masuk!”
“Tidak, kau yang harus memilih salah satu,” sahut Kai.
“Sky, kau tahu kan pilihan yang tepat?” Ken menggenggam tanganku dan Kai memisahkannya.
“Singkirkan tanganmu itu!” Ken memulai.
Sky menarik tangan dua orang itu dan membawanya masuk ke dalam.
“Mau sampai kapan kalian saling menatap?” Sky semakin was-was.
Mereka, sama-sama populer.
Proporsi tubuh mereka hampir sempurna.
Cara mereka berpakaian tidak diragukan lagi.
Tatanan rambut mereka, bagaimana bisa seperti itu? Whoaaah!
Mereka memakai pakaian casual tapi terlihat keren.
Sedangkan, aku? Hanya memakai celana kedodoran dengan sweater longgar terlihat biasa saja.
“Hei, ini masih pagi. Ada apa sebenarnya?” Sky mencoba menahan rasa kantuknya.
“Apa apa? Kalian yang ada apa?” Ken yang tampak kesal.
“Ah, di kampus?” Kai yang selalu tetap santai.
“Wah, kau telah menguras kesabaranku. Kau cuma ingin main-main, kan?” Ken pasang muka selayaknya sedang menjadi seorang Kakak lelaki.
“Aku serius,” jawab Kai.
“Aku juga serius,” hanya ingin menyelesaikannya. Kepalaku terlalu berat untuk menonton perdebatan di antara mereka.
“Sky, kau bercanda, kan?”
“Ken, kau tahu, kan?” Sky melihat ke arah Ken dan Ken pasti tahu apa arti tatapan itu.
“Ah, ternyata seperti ini. Baiklah…,” Ken tidak bisa berbuat apa-apa.
Ken berjalan ke arah dapur. “Kau ingin membuat sarapan, Ken?”
“Iya, bukankah kita kedatangan tamu?”
“Ah, anggap saja iya. Tapi kau terlihat kesal. Apa kau kesal?”
“Tidak. Apa aku harus tersenyum seperti ini?” Ken menunjukkan ekspresi mukanya yang terlihat dipaksakan.
Sky tersenyum dan menghampiri Ken.
“Kau mau ke mana?” Kai menahannya.
“Sky, kau duduk saja bersamanya,” pinta Ken.
“Tapi…”
Ada apa dengan raut wajahnya?
Ken terlihat sedih.
“Sky…”
“Iya, Kai?”
“Kau masih mengantuk, ya? Haha…”
“Kau pikir?” benar, aku tidak sanggup lagi menahannya. Ini terlalu dini bagiku untuk bangun.
“Hei, kalian berdua!”
Seketika Kai dan Ken, saling melihat satu sama lain.
“Kalian benar-benar gila! Wah, pantas saja kedua mataku seperti tidak terima. Sekarang jam 4 pagi?” Sky menggelengkan kepalanya seolah menyadarkan dirinya sendiri.
Itu artinya aku hanya tidur beberapa jam saja.
“Sky…,” tanpa disengaja Kai dan Ken sama-sama saling memanggil.
“Hei, kau mengikutiku?”
“Kau yang mengikutiku.
“Kai…Ken…”
“Iya?” jawab Kai dan Ken kompak.
“Apa yang kalian tunggu?”
“Hei, bukankah mukanya menyeramkan?” bisik Kai pada Ken.
“Apa kau tidak berubah pikiran?” bisik Ken.
“Tidak. Aku sangat menyukainya,” jawab Kai to the point.
“Ahh, benarkah?” Ken dengan nada mencibir.
Benar-benar sebuah kebodohan. Ada apa dengan mataku? Kurasa aku tidak salah melihatnya. Langit memang tidak begitu cerah tapi dalam penglihatanku, sekitar pukul 6 pagi.
“Untuk apa kalian datang ke sini dan tak ada yang memberi tahuku kalau…”
“Hahaha…,” Kai dan Ken kembali kompak.
“Wah, rasanya ingin marah tapi…”
Sky berbicara dengan kedua mata yang setengah terbuka dan tangannya yang menyentuh dahi.
“Pergilah!”
“Pergi, kau!” Ken menunjuk ke arah Kai.
“Kalian berdua,” Sky membuka pintu dengan gestur tangannya yang menyuruh Kai dan Ken untuk keluar.
“Sky, apa kau tidak takut terlihat seseorang kalau ada dua laki-laki yang baru saja keluar dan…”
“Dan kau dibicarakan banyak orang-orang tua.”
Kai dan Ken saling membual.
“Ah, baiklah.”
Napas panjangku, menghentikan pertahananku…kau kalah telak, Sky.
Liburan di hari pertamaku diawali dengan kehadiran Ken dan Kai yang benar-benar membuatku lebih repot dari biasanya.
Mereka tak ada henti-hentinya memulai sebuah pertengkaran yang sepele tapi selalu saja berlanjut.
Rasa kantuk yang tadinya begitu besar, sekarang tidak ada lagi.
Sky, Ken, dan Kai.
Mereka menonton film bersama dengan posisi Sky berada di tengah, Kai di sisi kanan, dan Ken di sisi kiri.
“Ah, pantas kalian tidak mirip,” celetuk Kai.
“Kau berisik sekali,” bisikku pada Kai.
“Maaf,” Kai mencubit pipi kananku.
“Singkirkan tanganmu!” Ken lansung menepisnya.
“Diam atau pergi?” ancam Sky.
Seketika menjadi sunyi.
Mereka sedang menonton film yang penuh dengan adegan romantis.
...***...