Suddenly

Suddenly
Breakup and Short Hair



“Ah, ponselku…”


Sky baru saja sampai, di sambut dengan pikirannya yang semakin berkecamuk.


Ting tong!


“Haruskah aku kembali saja?” Sky membalikkan badan tetapi pintu itu terlanjur terbuka.


Tidak ada yang berbicara.


Tak seperti biasanya. Kai terlihat lelah. Tetapi saat melihatnya ada di hadapanku, amarah yang ada pada diriku justru semakin menguasai tubuhku.


Benar-benar merindukannya tetapi…


Rania.


“Kau ke mana saja?” Kai menyentuh ujung kepalaku dan melihatku begitu dekat.


“Kenapa kau tidak langsung masuk? Pintu itu selalu terbuka hanya untukmu.”


“Pintu itu juga terbuka untuk Rania,” perasaanku mengatakan itu dan pikiranku juga setuju akan itu.


“Aku melihatnya tadi,” lanjut Sky.


“Sekarang kau yang lebih penting,” Kai menggenggam tanganku dan menutup pintu.


Di sofa itu, ada bantal dengan selimut yang berserakan. Membuat pikiranku tidak mungkin tidak berkelana. Memikirkan yang tidak-tidak.


“Rania…”


“Aku yang tidur di sofa itu. Sky, apa yang sedang kau pikirkan? Kau pikir aku akan melakukannya dengan Rania?”


“Tidak.”


Kai duduk di sisi kiri dan aku duduk di sisi kanan. Duduk dengan di antara jarak.


Tidak saling menatap.


“Di mana ponselku?”


“Oh, hanya ponsel yang kau butuhkan?”


“Kenapa kau terlihat kesal? Ponselku memang ada padamu.”


“Kau tidak memikirkan perasaanku, Sky? Kau pikir aku tidak mencarimu dan kau pikir aku akan setenang yang kau tahu sekarang ini?”


“Kau yang menyuruhku keluar, Kai.”


“Kedatanganku justru memperkeruh suasana.”


“Kau mau ke mana?” Kai menahanku.


“Pulang, aku tidak ingin memulai pertengkaran lagi.”


“Setidaknya mendekatlah padaku,” Kai membuka tangannya seolah akan memelukku.


“Tidak mau, terakhir kau memeluk Rania dan mengusirku.”


“Sky…”


“Di mana ponselku?”


Kai mematung.


“Ah, di situ rupanya,” Sky mengambil ponsel yang berada di atas laci.


“Aku pulang,” ucapku dan langsung berjalan begitu saja.


Tidak semudah itu. Kai rupanya tidak membiarkan itu terjadi. Bukan Kai kalau tidak melakukannya. Tetapi tadinya sempat terpikirkan olehku, kalau Kai hanya diam saja kurasa itu akan menjadi akhir hubungan ini.


Isi kepalaku benar-benar ramai. Hati dan pikiran yang tadinya sehati justru memulai pertengkaran.


Aku kesal dan lebih dari itu tetapi aku juga merindukannya.


Kai memelukku erat. “Aku merindukanmu,” bisiknya.


“Biarkan aku berbicara dengan seperti ini,”ucapnya usai aku berusaha menarik diri.


“Ya.”


“Ayah Rania meninggal. Apa kau tahu sesuatu yang pernah kau lihat sebelumnya? Aku tidak ingin kau melihat itu. Kau pasti tahu bagaimana Rania.”


“Kau mengusirku karena itu?”


“Sky, aku tidak mengusirmu. Tapi…baiklah aku mengusirmu.”


Sky mendongak dan menatap ke arah Kai. “Kau habis menangis?” kedua mata Kai terlihat seperti itu.


“Iya,” sahutnya singkat.


“Haha, benarkah?”


“Sekarang kau bisa tertawa lalu tadi apa?” tatapan Kai semakin mendekat.


“Entahlah, aku tahu kau dan Rania tidak seperti itu. Hanya saja kau membuatku kesal, tapi aku juga…”


“Bolehkah aku menciummu?”


“Di sini,” lanjutnya dengan menunjukkan apa posisi yang Kai maksud.


“Hah?” kedua mataku seketik bergerak cepat dan berkeliling tetapi anehnya, aku melihat ke arah posisi yang Kai maksud.


“Kau akan menciummu…”


Kai mulai mendekat.


Mulai mendekati titik sasaran.


Kedua mata yang bertemu dan saling memejamkan.


Pukul 6 pagi.


“HAH? Bisa-bisanya aku mimpi seperti itu!” teriak Sky dengan suara alarm miliknya yang masih bersuara.


Sky tidak punya pilihan lain selain bergegas untuk bersiap-siap ke kampus meski ia masih membutuhkan untuk memulihkan tenaga.


Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Matanya sembab. Rambutnya juga mulai panjang. “Baiklah, setidaknya masih ada waktu.”


Sky mengambil gunting dan memangkas rambutnya tanpa ragu di hadapan cermin.


Ia melihat dengan seksama. Rambutnya pendek sebahu.


Kelas di mulai pukul 8 pagi. Hari ini, ia harus mengumpulkan banyak tugas selama tidak hadir di kelas.


“Ponselku…”


Ah, iya. Sepertinya aku tidak punya ponsel.


Sky membuka pintu. Dilihatnya pintu di sebelahnya itu. Ada perasaan ingin menekan tombol bell atau langsung masuk begitu saja. Tetapi ia juga tidak ingin melakukannya.


50:50?


Ah, entahlah.


Langkah kakinya mulai melangkah dengan pikirannya tidak ada hentinya berkelana.


Pagi itu matahari lebih terik daripada biasanya, sepertinya tidak akan turun hujan. Tapi tidak tahu lagi.


Ia melewati apotek dan Kak Grace menyapanya dengan memberi semangat. Galf juga ada. Dia melambaikan tangan dengan senyuman yang dia punya.


Kupikir Kak Grace juga tinggal dengan Galf, ternyata tidak.


Kak Grace akan menikah beberapa bulan lagi dan ya, kata Galf Kakaknya itu mengusirnya.


Mengusirnya?


Mengingatkanku akan…


Ah, sial!


“Sky…”


“Eh, hai!” Sky menoleh pada sumber suara. Ternyata Airi, anggota club fotografi.


“Kudengar kau sakit? Sekarang kau sudah baik-baik saja, kan?”


“Tidak apa. Hei, harusnya kau bilang jadi kau tidak perlu ikut serta mengerjakan project.”


“Hei, tidak bisa begitu. Walaupun aku tidak ada di tempat, aku harus tetap membantu kalian. Aku akan ke sana setelah kelas selesai, ya.”


“Sampai ketemu di sana, nanti! Eh, Sky…”


“Ada apa?”


Airi berbisik di telingaku. “Apa kau bertengkar dengan Kai?” lalu ia melihat ke arahku dengan seksama. “Kau potong rambut. Wah, kau tidak putus darinya atau tidak dicampakkan, kan? Itu tidak benar, kan?”


“Tidak.”


“Tidak? Apa maksudnya?”


“Tidak putus tapi, entahlah.”


“Hah?”


“Begitulah.”


“Ah, tapi memang dia terlihat menyebalkan.”


“Kau sedang mendukungku?” ucapku.


“Hei, dia memang menyebalkan.”


“Hahaha, tapi kau tidak salah.”


“Wah, bukankah kau sedang berbicara dibelakangnya, Sky? Haha…”


“Bukankah itu faktanya?”


“Hei, kau harus masuk kelas, haha…”


“Sampai ketemu nanti, Airi! Terima kasih sudah menghiburku.”


“Haha, bukan apa-apa. Sampai ketemu nanti!”


Suasa di dalam kelas membuatku kembali merasakan kejadian yang sudah-sudah setelah hanya beberapa hari tidak masuk kelas.


Seperti merasakan diperhatikan banyak orang, seolah semua sedang pasang mata untuk menatapku atau menilaiku.


“Apa mereka putus? Lihatlah, dia memotong rambutnya…”


“Kurasa mereka benar-benar berakhir.”


“Kai benar-benar terlihat frustasi dan kau tahu apa? Dia mencari keberadaannya. Apa mereka akan segera berakhir?”


“Tapi mengapa Kai harus terlihat frustasi?”


“Aku mendengarnya,” sahutku pada mereka, orang-orang yang berbicara dengan terang-terangan saat kehadiranku ada di dekat mereka.


“Rambutmu bagus?” ucap salah satu dari mereka.


“Terima kasih,” dengan tersenyum.


Kai mencariku?


Kai terlihat frustasi?


Lalu bagaimana dengan Rania?


Entahlah, setelah kembali ke rutinitas yang biasanya juga berulang dan akan seperti itu. Kali ini terasa ada sesuatu yang kurang dalam diriku.


Apa itu soal Kai?


Tetapi tidak semuanya harus soal cinta yang membuat hari-harimu lebih menyenangkan, tetapi tetap membutuhkan cinta…entahlah mengapa menjadi rumit?


Jika itu rumit, apa itu cinta?


Wah, rasanya ingin mengetuk kepalaku sendiri agar aku lebih fokus.


Ting!


“Sky, rapat hari ini batal. Tidak ada siapa-siapa di ruang club, semuanya pulang. Mungkin besok.”—Airi


“Ah, yang benar saja. Aku baru sampai,” dan benar. Ruang club kosong.


“Pon…”


“Kau tidak punya ponsel, Sky.”


Sky tidak tahu harus pergi ke mana. Jarak kampus dengan arah pulang tidak ada apa-apa. Berjalan sebentar pasti sudah sampai. Tapi, sebenarnya ia tidak ingin pulang.


“Apa kau tersesat?”


Sumber suara itu…


“Galf…”


“Hai…”


“Hai, Sky! Kau mau ke mana?”


“Hmm, entahlah.”


“Ah, ternyata kau pacarnya.”


“Apa maksudnya?”


“Kai, dia pacarmu, kan?”


“Kau mencari tahu?”


“Hei, aku tidak bermaksud seperti itu.”


“Iya, dia pacarku. Kenapa kau jadi panik? Tenang, aku tidak berpikir seperti itu.”


“Apa kau sudah berbaikan?”


“Hei, tidak ada topik lain? Kalau kau terus membahasnya…artinya kau ingin ikut campur.”


“Baiklah, apa Kai…”


“Galf!”


“Haha, baiklah.”


“Apa kau mau pulang?”


“Iya, kau?”


“Aku akan menemanimu pulang,” ucapnya.


“Kenapa?”


“Bukankah kita searah?”


“Iya, benar tapi…”


“Tapi?”


“Tidak, itu akan menjadi salah paham. Terima kasih sudah bertanya, Galf.”


“Tunggu, Sky!”


“Apa kau putus dengannya?”


“Ah, karena rambut pendekku ini maksudmu?”


“Aku masih bersama dan…”


“Galf…”


“Kurasa aku tidak bisa menjadi temanmu.”


Sky berjalan meninggalkan Galf yang masih mematung.


Langkah kakinya seolah memberinya petunjuk di mana ia seharusnya melangkah dan sampai pada tujuan.


...***...