Suddenly

Suddenly
When My Heart Falls



Rania.


Nama itu terus teriang-iang.


Mencoba untuk mengelabuhi untuk tidak membawanya masuk ke dalam pikiran.


1 jam berlalu, tidak ada satu pun yang kulakukan.


Selain duduk di dekat balkon, apa yang kupakai juga masih lengkap. Tas yang masih melingkar di lengan. Sepatu yang tadinya telah terlepas, jusru kupai kembali.


Ada yang salah pada diriku. Rasanya seperti kehilangan.


Pukul 12 malam.


“Di masa lalu?”


Kai menatap langit-langit kamarnya bersama pikirannya yang menerka-nerka ingatan yang seharusnya ada padanya.


“Mengapa tidak ada yang kuingat?”


“Tidak ada satu pun…”


“Dalam ingatanku.”


Kai kembali menatap ponselnya dan ia baru menyadari…tidak ada satu pun foto yang menunjukkan hubungannya dengan Sky. “Di ponselnya…apakah ada?”


“Ah, tidak! Itu tidak sopan,” dengan cepat Kai menaruh kembali ponsel milik Sky.


“Tapi…”


“Bukankah ada yang namanya mencoba karena penasaran?”


Ya!


Password?


Apa passwordnya?


Selain hanya 6 digit, aku tidak tahu apa pun.


Bepikirlah, Kai!


“Tunggu!”


Ada apa denganku? Mengapa aku seperti…


Seperti tengah mengabaikan perasaanku.


Kai berjalan mendekati pintu karene mendengar suara seseorang yang menekan tombol. Tapi sayangnya pintu itu tak menginginkan seseorang itu masuk.


“Kai, mengganti passwordnya.”


Kurasa dia telah menemukan password yang layak. Haruskah aku menebaknya agar aku bisa masuk?


Tidak aku harus kembali. Bukankah Kai yang seharusnya datang padaku? Ada apa denganmu, Sky? Sadarlah!


Sky yakin dengan angka-angka yang terpikirkan olehnya, hanya saja ia tidak ingin melakukannya.


Tidak ada yang bisa terlelap.


Ponsel Kai terus berdering begitu juga dengan ponsel Sky. Ken menghubungi mereka.


“Bukan hari ini…”


“Bukan hari ini…”


Sky dan Kai mulai terlelap.


Terlelap dengan pikiran yang masih ingin berkelana.


Hampir terlelap tapi…


Ting tong!


Suara bell yang berisik seperti menandakan sesuatu sedang terjadi. Seperti sebelum-sebelumnya di tengah malam.


“Ken?”


Ken terlihat panik dengan wajahnya yang masih dipenuhi dengan luka lebam.


Suaranya yang serak menjelaskan maksud kedatangannya. Membuat seseorang di hadapannya mematung dengan tatapannya yang kosong di tengah malam.


“Apa yang akan kau lakukan?”


“Kau tidak goyah, kan?”


“Hei, kau…”


“Ada apa dengan tatapanmu itu, kau goyah?”


Ken menghampiri dengan kedua tangannya yang mengepal. “Kau goyah?” sekali lagi dengan pertanyaan yang sama.


“Entahlah…”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak tahu, Ken.”


“Kupikir kau ada dipihaknya. Apa kau tahu…aku tidak pernah tidak percaya padamu. Ah, baiklah. Memang salah jika telah menaruh ekspetasi pada seseorang,” Ken menutup raut wajahnya dengan kedua tangannya.


“Bukan…bukan seperti itu, Ken. Hanya…hanya saja.”


“Apa? Katakan saja kalau kau goyah!”


“Ken…”


“Selesaikan apa yang menjadi jawabanmu,” Ken keluar dengan suara pintu yang begitu keras.


Sabtu pagi dengan langit kelabu dan udara sejuk yang cukup membuat tubuhnya menggigil.


Perutnya bergemuruh.


Tidak seperti biasanya, ia kehabisan stockmakanan. Hanya menyisahkan satu buah telur.


“Sore?”


“Tak bisakah pagi ini saja? Aku kehabisan persediaan makanan.”


“Ya, sangat-sangat lapar.”


“Benarkah?”


“Oke, aku akan siap dengan 10 menit.”


Ken menemuiku dengan luka-lukanya yang terlihat jelas. Tetapi itu Ken. Ken tak akan suka jika aku bertanya. Bahkan tanpa bertanya, aku pun sudah tahu.


Ken dan aku, melakukan hal yang sama.


Menaruh harapan meski tahu harapan itu…


Tidak ada.


“Hai!”


“Masuklah.”


“Kenapa kau tidak naik?” tanya Sky yang tampak heran. “Ah, kau malu?”


“Atau…”


“Hmm, lupakan.”


“Kau mau makan apa?” Ken yang tampak terlihat serius.


Ada apa dengannya?


“Kau baik-baik saja, kan? Kau tidak seperti biasanya atau karena…”


“Ah, maaf…kau mau makan apa, Ken?”


“Tidak. Tidak ingin membahasnya.”


“Foto…”


“Iya, itu ibuku. Ini miliknya.”


“Ah, Keen tidak akan mengusikmu jika itu milik Ibumu?”


“Ya.”


“Wah, jadi semua yang Keen punya sebenarnya milik Ibumu?”


“Hei, kau tidak ingin membahasnya tetapi kau…”


“Hei, bukan seperti itu. Itu hanya membuatku penasaran. Bagaimana bisa kau keluar dengan tangan kosong, ternyata seperti itu.”


“Bukankah kau juga seperti itu? Kau juga keluar dengan tangan kosong, Sky.”


“Tidak juga.”


“Sudahlah, lupakan mereka! Kau mau makan apa?”


“Wah, Ibumu benar-benar menyiapkan semuanya untukmu, Ken. Seolah akan tahu itu akan terjadi.”


“Sky!”


“Iya, maafkan aku. Terlalu banyak bicara, hehe.”


“Apa yang kau inginkan, Ken?”


“Hei, mau sampai kapan kita akan seperti ini? Ternyata benar-benar fakta. Bagaimana nanti kalau aku punya pacar, bisa-bisa mati kelaparan?”


“Baiklah-baiklah, ramen.”


“Lagi?”


“Terserah kau saja, Ken.”


“Ramen,” ucap Ken.


“Ken!”


“Hahaha.”


“Ken, sepertinya aku tidak bawa ponsel.”


“Kau mau mengambilnya atau langsung saja?”


“Mengambilnya. Tunggu sebentar, ya.”


“Jangan lama-lama,” ucapnya.


Perutnya yang lapar semakin meronta-ronta. Langkah kakinya begitu besar. “Di mana aku meletakkannya?”


Entahlah, apakah karena beberapa hari tanpa ponselku?


Atau hanya penyesuaian?


“Di mana?”


Benar-benar kacau. Ia perlu menata ulang setelah pulang nanti.


“Ah, itu dia.”


Ponselnya tenggelam bersama tumpukan selimut dan pakaian keringnya yang berserakan.


“Halo, ada apa? Aku segera turun, Ken.”


“Bicaralah yang jelas, aku tidak bisa…”


Apa ini?


Perasaan apa ini?


Perasaan yang bagaimana yang bisa menjelaskan momen yang sedang terjadi?


Kai.


Ada di hadapanku.


Mencoba mengingatnya tetapi kembali dengan keraguan yang semakin tidak jelas.


Selain kedua mata yang bertemu. Perasaan yang tak terdefinisi ini…


Entahlah.


Ada yang terjadi?


“Aku akan sampai sebentar lagi,” suara Sky lirih dengan tatapannya yang tak berpaling.


Tatapan hangat itu…


Tidak ada di kedua matanya.


Membuatku ingin menarik jauh-jauh.


Seperti sebuah penolakkan.


Terasa asing.


Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Atau tidak berarti apa-apa.


Meski kenangan itu ada.


Bahkan tengah berpusat saat ini, berputar di dalam benakku. Tetapi semakin merasuk…semakin terasa asing.


Meski tak berpaling. Ada sorot matanya yang hilang.


Sebelum melihat punggungnya berlalu, lebih baik melihatku berlalu dengan kedua mataku yang juga berpaling.


Bagiku, melihat seseorang berlalu dan memperlihatkan sisi belakang yang sedikit demi sedikit berlalu dan benar-benar menghilang…itu menyakitkan.


“Kau benar-benar ingin bertemu denganku?” ada garis senyuman di wajahku, sebelum berlalu dan berpaling.


Kai menatap ponsel yang ia genggam dan memasukkannya kembali pada kantung jacketnya.


Benar-benar telah berlalu.


“Hei, kenapa kau lama sekali? Lihatlah, langit semakin gelap.”


“Kita tidak akan kehujanan, Ken. Kau berlebihan.”


“Haha, kau benar juga.”


“Apa kau senang?”


“Bagaimana denganmu?”


“Hmm…”


“Hmm?”


“Ya, seperti yang kau tahu, Ken.”


Ken menatap ke arah luar apartemen dengan tetesan air hujan yang mulai jatuh sedikit demi sedikit lalu mengaburkan padangannya. “Berangkat?”


“Ya.”


Pandangannya yang kosong mulai terisi dengan tetesan air hujan yang juga memantulkan raut wajahnya yang terlihat cukup sudahmenggambarkan perasaannya.


Menjadi awal dan akhir, membuatku tidak mengerti. Apakah aku terlalu cepat mengakui bahwa telah jatuh cinta?


...***...