Suddenly

Suddenly
What happened, happened…



“Akhirnya, dia benar-benar dicampakkan.”


Sabutan untukku di pagi hari.


Bukan hanya satu atau orang tapi semua orang-orang yang berlalu-lalang.


Tidak ada pembicaraan di antara Kai dan aku, maupun Rania.


Hanya saja, Kai menaruh roti bakar dan sekotak susu di depan pintuku dengan tulisan note kecil berwarna kuning. “Setidaknya, aku bisa menerimanya.”


Ya, aku membawanya dan memakannya sambil berjalan. Masuk ke dalam kelas dengan suasana yang bukan pertama kalinya bagi untuk harus berada pada suasana seperti ini.


“Dia memakan dengan cara seperti itu?”


“Aku tidak ingin sepertinya bahkan, aku tak sanggup melihatnya.”


Benar-benar lucu. Orang-orang yang tidak menyukai kita akan selalu mencari kesalahan yang sebenarnya itu hal yang biasa saja tapi bagi mereka itu menjadi masalah seperti…cara makannya menjijikkan atau dia punya cara yang salah atau lagi, dia makan seperti orang yang kelaparan.


Aku hanya duduk dengan mengandalkan tangan kiriku untuk memakannya dengan hati-hati karena bibirku terlalu kering. Bahkan bukankah bisa melihatnya? Tangan kananku masih berada menggunakan gendongan tangan.


Seperti orang yang kelaparan? Bukankah kau makan karena lapar?


“Hai!”


Sebentar…


Hari ini hari…


Hah?


Kelas kuliah umum?


Apa aku salah masuk kelas?


Kai mendekapku dari belakang. Ya, semua menyaksikannya. “Itu membuatku senang. Kau memakannya,” berpindah duduk di sampingku.


“Kau tidak salah kelas,” Kai membaca pikiranku.


“Sudah kuduga, kau tidak tahu hari ini kita satu kelas.”


“Aku tidak mungkin hanya mengatakan permintaan maaf…”


“Sky…”


“Kau ingin membuat tanganku semakin parah?” Kai bersandar pada lengan kananku.


“Ah, iya. Maaf…”


Perhatian orang-orang sekitar semakin menjadi-jadi, saat kehadiran Rania.


Rania tersenyum dan tak kusangkah menghampiriku. “Hai…,” dia menyapaku dengan canggung meski tersenyum padaku. Lalu duduk sisi kiriku.


Pemandangan apa ini? Diapit dua orang populer.


Semua orang tidak hanya semakin menatap tajam tapi juga semakin berisik dengan berbagai ocehan.


“Ah, ini yang dimaksud telah menyelesaikan masalah kalian?”


Kai dan Rania mengangguk.


“Roti bakar itu dari Kai?”


“Itu milikku,” Sky menepis tangan Rania.


“Wah, tak kusangkah dia akan melakukannya padaku. Itu juga milikku, kau tidak ingin berbagi?”


“Kau bisa mengambil semuanya,” Sky menyerahkan semuanya pada Rania.


Entahlah, rasanya hanya ingin diam.


“Hei, itu miliknya!” protes Kai.


“Dia sudah memberikannya padaku,” Rania langsung menghabiskannya.


Kelas dimulai.


Menjadi terasa lama.


Kai mengusap-usap kepalaku berulang kali. Rania berbicara omong kosong dengan suara lirihnya. Sorot mata orang-orang sekitar juga semakin beragam.


“Aku tahu kau hanya ingin diam tapi jangan menghindariku….”


“Biarkan aku saja yang berbicara meski kau mengabaikanku.”


Kai berbisik di telingaku.


Sky mengangguk.


Ucapan Rania tidak ada yang bisa kucerna. Tak ada henti-hentinya berbicara.


Pandangan berubah-ubah. Sesekali melihat ke arah depan. Sesekali melihat ponselku untuk melihat waktu yang berjalan dan sesekali melihat sekitar.


Perutku benar-benar lapar. Menahan amarah…membuat energiku terkuras?


“Kau lapar?” Kai membaca pikiranku lagi dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Ruangan club fotografi.


“Ren!”


“Woy, Ren!”


“Hah, iya?”


“Kau masih memikirkannya?”


“Menurutmu?”


“Hahaha, kau hari ini begitu kacau. Tak bisakah kau bersikap tenang? Sky tidak bermaksud seperti itu, hanya saja itu terlalu tiba-tiba.”


“Iya.”


“Bersemangatlah, Ren? Kau akan telihat seperti ini hadapannya? Kurasa itu akan semakin membuat hubungan baikmu dengan Sky menjadi tidak bisa seperti dulu.”


“Hei, itu hanya asumsimu. Kau belum dengar dari sisi Sky.”


“Bagaimana kau bisa mangatakan seperti itu?”


“Hanya pendapatku saja.”


“Kurasa dia akan mengabaikanku.”


“Sudah kubilang itu belum tentu.”


“Anggap saja seperti itu agar tidak terlalu menyakitkan.”


Pukul 1 siang, kelas selesai.


“Kai, kau mau makan?” tanya Rania.


“Kau—kau bertanya padaku?”


“Iya, siapa lagi. Kau mau makan?”


“Rania, aku tidak mengerti maksudmu. Untuk apa kau bertanya padaku?”


“Iya, aku mengajakmu makan dan Sky boleh ikut.”


“Hei, kau bahkan terdengar hanya mengajakku saja dan kau bilang Sky boleh ikut? Apa kau tidak sadar dengan ucapanmu dengan membaca situasi yang ada?”


“Aku tak peduli dengan omongan orang lain yang tak mendasar,” ucap Rania dan menarik tangan Kai.


“Ada apa denganmu? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau bertingkah seperti seseorang yang menyebalkan.”


“Sky bahkan tak keberatan jika kau dan aku…itu hanya makan siang di kantin. Kau tidak keberatan, kan? Atau mau ikut, Sky?”


Wah!


Mengapa Rania menjadi seperti ini?


Dia benar-benar gila.


Dia benar-benar tidak mengerti atau bagaimana?


Malam itu apa yang terjadi?


Rania memang berubah atau selama ini hanya berpura-pura?


“Aku tahu kau masih menyukainya tapi jangan lakukan itu! Bukankah kau tidak ingin hubungan persahabatanmu dan Kai rusak?”


“Bukankah kau telah merusaknya, Sky? Kau tidak sepadan dengannya. Bukankah seperti itu?” teriak Rania keras.


Rania seperti sedang mengendalikan perhatian banyak orang.


“Siapa yang lebih sepadan bersanding dengan Kai…aku atau dia?” suara Rania lantang.


“Kau, dia kalah jauh darimu. Huuuuuu!”


“Dia tidak ada apa-apanya dibanding denganmu. Kai, sadarlah! Kau salah pilih. Kau rugi besar.”


“Bukankah orang kaya bersanding juga dengan sesama orang kaya? Kalian juga sama-sama populer.”


“Sky, menyerahlah! Kau tidak pantas.”


“Lihatlah! Apa kau masih ingin tetap kekeh?”


“Menyerah!”


“Menyerah!”


“Menyerah!”


“Huuuuuu!”


“Huuuuuu, menyerahlah!”


Aku memutuskan untuk tidak menanggapi kekacauan yang ada karena akan menjadi percuma.


Bukankah mereka akan senang jika aku mereka berhasil menarik perhatianku?


“Aku akan keluar,” ucapku pada Kai.


Kai juga terlihat tenang. Meski sorot matanya tidak begitu.


Langkah kakiku terhenti. Orang-orang itu menghalang-halangiku. “Hei, kau berniat untuk melukai tanganku? Sebelum kau melakukannya lebih baik kau mundur karena kau akan menyesalinya.”


“Hahaha, wah! Bukankah dia tidak tahu malu? Kupikir aku takut padamu,” laki-laki itu mencengkeram rahangku. Memandangku seolah aku berada di bawahnya.


Kai yang berada tak jauh dariku justru tidak bisa menjangkauku. Lautan manusia yang berkumpul tengah menghadang Kai. “Kalau kau menyakitinya, kehidupanmu tidak akan tenang. Lepaskan tangan kotormu…”


BRAK!


Wohooo!


Laki-laki itu lengah dan saatnya bagiku untuk melakukan yang seharusnya.


Menendang tepat pada sasaran.


Ya, benar-benar tepat sasaran.


Laki-laki itu tergeletak lunglai di lantai.


“Kau mau juga? Sudah kubilang aku tidak main-main.”


“Bagaimana dengan ini?” perempuan di hadapanku tersenyum. Senyumannya menyeramkan. Orang itu membawa gunting.


Tangannya akan menarik rambutku. Orang di belakangku mendorongku dengan kuat. Hampir mendekati orang gila dengan gunting di tangannya itu.


Tapi…


Selalu seperti itu.


Tidak berpihak padaku.


...***...