Suddenly

Suddenly
Red cheeks, an uncotrollable heartbeat, and an existing atmosphere…



“Aku menyukainya, Green.”


Green tersenyum padaku. Kedua tangannya melepas genggaman yang berada di kedua tanganku.


“Ya, kau begitu menyukainya. Apa yang akan kau lakukan?”


“Entahlah…”


“Kau pasti akan kembali bersamanya sesegera mungkin,” Green meletakkan telapak tangannya di ujung kepalaku.


“Green…”


Rasanya ingin mendorongnya menjauh. Tatapan Green membuatku…


“Hei, kau ingin berbicara dengan posisi seperti ini?” Sky menundukkan kepalanya.


“Ah, iya.”


Barulah Green duduk dengan jarak yang membuatku lebih nyaman dari sebelumnya.


“Sikapku padamu karena…”


“Aku tidak ingin…”


“Ya, kau tidak ingin menaruh harapan yang aku sendiri sebenarnya tahu. Itu, kan?” sahut Green.


“Maafkan aku, Green. Terima kasih juga, setidaknya aku telah mendengarnya meski bukan di masa lalu. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.”


“Meski bukan di masa lalu?”


“Ya, kau baru saja menjawab perasaanku yang ada di masa lalu.”


“Wah, kupikir kau akan tahu itu.”


“Apa yang kau bicarakan, Green?”


“Di masa lalu dan sekarang perasaanku tidak berubah, Sky.”


“Hah, maksudmu?”


“Iya, di masa lalu aku pun juga menyukaimu dan hari ini.”


“Green?”


Green memalingkan mukannya.


Mengapa seseorang di masa lalu selalu datang terlambat?


Pertemuanku dan Green setelah sekian lama terjadi empat kali termasuk hari ini.


Pertama di pagi hari itu, kedua setelah pertemuan pertama terjadi, ketiga menjadi tetangga barunya, dan keempat hari ini yang masih berlangsung.


Whoaa!!


Benar-benar terjadi di luar ekspetasiku.


Pertemuan kedua…


“Bagaimana kau bertemu dengannya?” teriak Arini.


“Dia mantan pacarku dan apa kau sama sekali tidak ingat dengan seseorang bernama Sky?” tanya Green apa Arini.


“Sky, apa kau ingat dengan seseorang bernama Arini?” Green juga bertanya padaku.


“Anggota osis yang kau banggakan itu. Kau menjebakku, Green?”


“Dia satu sekolah dengan kita, Green?”


“Iya, kau tidak mengenalinya?” Green mengulang bertanyaannya.


“Tidak, kalau aku mengenalnya…sejak tadi sudah mengatakannya.”


“Kau tidak mengenaliku?” Arini meremas bahu kananku.”


“Bagaimana rasanya diposisi seperti itu?” ucap Green yang menepis tangan Arini.


“Hei, kau benar-benar tidak mengenaliku?” Arini kembali menjambak rambutku.


“Tidak, karena Arini yang kutahu tidak seperti itu,” jawabku dan menepis tangannya.


“Jadi, kau sedang memberikan pelajaran pada Arini pada saat itu?” tanya Green di sela-sela pembicaraan tentang pertemuanku dan Green yang baru-baru ini terjadi.


“Hmm, tidak juga. Sebenarnya tidak berniat seperti itu. Tapi karena terbawa suasana jadi membuatku seperti itu.”


“Kau sudah melakukan dengan benar,” ucap Green.


“Hari itu kau memang akan bertemu dengan Arini?”


“Ya, karena perjodohan.”


“Hah? Perjodohan? Kau dengan Arini?” sungguh tak percaya.


“Iya, keluarga kami sedekat itu. Aku tak pernah menyukai apa pun tentang perjodohan dan baru-baru ini resmi batal karena Ayah Arini melakukan kecurangan pada keluargaku.”


“Hah? Apa keluargamu baik-baik saja?”


“Semua baik-baik saja dan diketahui lebih awal jadi tidak ditemukan kerugian yang begitu besar. Meski itu adalah sebuah nominal, kepercayaan adalah segala-segalanya lebih dari apa pun.”


“Tapi Ayah Arini telah mengakui dan ya…”


“Maafkan aku, harus mendengar kabar itu. Bagaimana keadaan Ayah dan Ibumu saat ini?”


“Terima kasih, setidaknya ada seseorang yang tulus seperti kau. Ayah dan Ibuku sempat sakit dan suasana rumah menjadi tidak seperti biasanya. Tapi semua telah kembali normal dan proses peradilan tetap berjalan.”


“Kalau kita tidak saling bertemu tidak akan pernah tahu, Green.”


“Aku mengerti bagaimana perasaan Ayah dan Ibumu. Kepercayaan itu segala-galanya.”


“Iya, bahkan aku berterima kasih berulang kali di dalam benakku apa yang terjadi hari ini,” ucap Green dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


“Green, terima kasih.”


Green mengosongkan apartemen sehari sebelum aku pindah. Sama sekali tak ada kabar darinya. Seperti kembali di masa lalu saat itu.


Dalam benakku mengatakan, bukankah lebih baik seperti itu?


Pertemuan juga ada kalanya menyakitkan.


Aku pun juga terlihat sedang berpura-pura padahal sedikit demi sedikit aku pun bisa menyakiti Green. Green pun juga sama, semakin mengelak semakin menyakiti dirinya sendiri.


Bahkan ungkapan perasaan Green padaku juga berbahaya untukku. Perasaanku memang ada pada Kai tapi di saat pikiran kacau itu menyerang juga bisa membuatku terpuruk dan meyakini sudah tidak ada harapan lagi di antara aku dan Kai atau berpikiran Rania sudah bersamanya.


Tapi di hari itu, bayang-bayang Kai menguasai dan terus teriang-iang mempengaruhiku.


“Aku juga…”


“Aku juga…”


“Merindukanmu, Kai. Aku merindukanmu, bolehkah aku mengatakan itu?”


Mereka saling berhadapan begitu dekat.


Tapi…


Kai melangkah mundur begitu juga denganku. Kai masuk dengan suara pintu yang begitu keras dan aku pun melakukan hal yang sama.


Bersembunyi di balik pintu dengan tangan yang masih berada di handle pintu dan…


Kedua pintu itu kembali terbuka secara bersamaan.


Mereka pun bertemu.


Saling berhadapan.


Seperti pertama kali menyatakan perasaan.


Mengakui perasaan yang benar adanya dengan suasana yang hanya mereka yang bisa rasakan.


“Sky…”


“Kai…”


Kai menariknya sampai ke dalam pelukannya yang begitu dalam.


Beberapa detik sebelum pelukan itu terjadi…


Kai yang berada di balik pintu berusaha menghela napas. Jantungnya berdetak kencang. Mukanya semerah udang rebus. Kedua tangannya gemetar dan ia sedang berlatih untuk memeluk.


Sky yang berada di balik pintu menahan tangisannya tidak tumpah sembari menghela napas. Jantungnya berdetak kencang. Mukanya semerah udang rebus bahkan ia berkaca pada cermin di dekat pintunya. Kedua tangannya dingin dan ia memakai lipbalm.


“Maaf, kalian…”


Apa ini?


Mengapa muncul di saat seperti ini?


Kai dan Sky saling menoleh ke arah pengelolah apartemen waktu itu, orang itu tersenyum canggung setelah memihat dua orang berpelukan dengan air mata yang masih menetes.


“Kalian kembali bersama?” ucapnya.


“Iya,” jawab singkat Sky dan Kai kompak.


“Tak kusangkah kalian ternyata bukan hanya saling mengenal. Ada seseorang dari masa lalu yang belum tentu terlambat, bukankah seperti itu? Hahaha…,” ucapnya dengan tertawa lalu naik ke lantai atas.


Cup!


“Kai!”


“Aku merindukanmu,” Kai memelukku erat. Dengan masih memelukku, Kai membuka pintunya dan membawaku masuk ke dalam.


Mereka saling menatap satu sama lain.


Saling menghapus air mata.


“Apa kau mau kuambilkan kursi agar kakimu tidak berjinjit? Haha…,” tawa Kai kembali bisa kulihat.


“Kenapa kau tinggi sekali?”


“Itu karena kau yang pendek.”


“Tidak! Kau yang terlalu tinggi.”


Cup!


Cup!


Cup!


“Haha, apa kau mempersiapkan semuanya? Apa ini? Rasa peach?”


“Hei, jangan membuatku malu!”


“Hahaha, tidak-tidak.”


“Bukankah kita tidak pernah putus?”


“Ya, kau benar. Tapi mengapa kau pindah dan…,” Sky kembali menangis.


“Maafkan aku, Sky.”


Tit…tit…tit…


Krek!


“Kai!”


“Rania?”


“Kenapa kau ada di sini?”


...***...