Suddenly

Suddenly
After the Sunrise. Suddenly,



“Mungkin aku akan datang lain kali,” ucapnya dengan tersenyum.


“Aku tidak mengenalmu.”


“Kau hanya tidak menyadari. Sampai jumpa, Kai! Kita pasti akan bertemu.”


“Ah, satu lagi. Kalian hanya sebagai pacar. Jadi kau tak sepantasnya marah,” lanjutnya dengan menunjuk ke arahku.


Sky dan Kai saling melihat dengan tatapan yang terheran-heran.


“Bukankah dia salah satu dari orang-orang aneh itu?”


“Tapi, Kai. Mengapa dia tahu soal Rania?”


“Itu yang membuatku berpikir…apa dia orang suruhannya? Aku sama sekali tidak tahu siapa orang itu.”


“Wah, aku tidak mengerti mengapa orang kaya menggunakan cara itu…tapi untuk apa Rania melakukannya, Kai? Bisa-bisanya dia mengatakan hanya sebagai pacar, wah!”


“Apa hormon di dalam tubuhmu ingin mencabik-cabiknya? Kau terlihat menyeramkan dengan mukamu yang memerah.”


“Kai, kau meledekku?”


“Hahaha, tidak. Sudahlah, lupakan.”


Rania dan perempuan itu…


Saling mengenal?


Pikiranku semakin berkecamuk dengan hal yang belum terselesaikan dan kini bertambah lagi dengan pikiran-pikiran lain yang juga berkecamuk.


“Sky…”


“Sky!”


“Hah—ya?”


“Kau masih memikirkannya rupanya?”


“Eh—tidak.”


“Tidak usah mengelak, itu telihat.”


“Iya.”


“Apa yang kau pikirkan?”


“Hmm, selalu ada-ada saja. Entah, tebakanku benar atau tidak.”


“Apa itu?”


“Kalau itu terjadi berarti tebakanku benar.”


“Kalau kau tidak mengatakannya sekarang, itu akan terjadi. Tidak pernah mendengar tetang fakta itu di masa kecil?”


“Iya, pernah. Bukankah itu hanya sebuah bentuk ancaman atas rasa penasaran dan keingintahuan yang besar?”


“Anggap saja aku seperti itu.”


“Itu paksaan, aku tidak mau.”


“Ayolah, Sky!” Kai mendekat di sampingku.


“Hei, kembalilah ke tempatmu.”


“Kau…takut?” Kai semakin mendekat.


“Kembali ke tempatmu atau…”


“Baiklah, aku akan kembali ke tempatku dan mendengar ucapanmu.”


Sky melihat ke arah Kai dengan perasaannya yang campur aduk.


Kai pun seperti tengah membaca pikirannya. Seperti sebelum-sebelumnya yang seolah mengetahui tetapi terkadang Kai juga berusaha untuk menahannya sebelum aku mengatakannya.


“Hmm, kau tidak salah mengenali seseorang di masa lalu, kan?”


“Bukan aku seorang oranh asing yang kau temui, meski anak kecil tak akan mungkin lupa tapi namanya juga ingatan pasti juga terbatas.”


Kai terdiam dengan menggenggam jemari tanganku. Tangannya benar-benar hangat.


Tidak ada banyak bintang di langit yang mulai semakin gelap. Angin yang semula kencang bisa juga sunyi senyap walau sesaat.


Ada juga orang-orang di balkon yang menyapa. Mereka sedang mengobrol dengan banyak orang. Ada juga yang pesta BBQ sampai aromanya tercium menusuk hidung.


“Seperti seharusnya ingatanku dengan orang lain tetapi yang kuingat adalah kau?”


“Sepertinya tidak mungkin terjadi.”


Itu jawaban Kai.


“Lantas apa hubungannya dengan orang aneh itu?” tanya Kai.


“Hmm, entahlah. Apa mungkin dia adalah orang asing yang kau kenal di masa lalu?”


“Sudah kubilang, aku tidak mengenalnya. Apakah ini karena aku tidak bisa mengingat apa pun tentang apa terjadi padaku dengan ulang tahun?”


“Iya, kau tidak salah juga.”


“Apa yang terjadi sebenarnya, Sky? Maafkan aku, maaf tidak mengingatnya. Tapi itu di masa lalu. Sekarang itu yang lebih penting.”


“Sebelum aku mengatakannya. Aku akan mengatakan ingatanku di masa lalu tentangmu, Kai. Hmm, hanya memastikannya.”


“Baiklah.”


“Kau pernah mengatakannya padaku. Kau sangat ingin sebuah perayaan ulang tahun tapi orang tuamu selalu sibuk dan membuatmu kesepian walau di pagi hari kau akan mendapat banyak kado. Itu bukan yang kau inginkan…”


“Kau hanya ingin orang tuamu dan kau berada di rumah dan merayakan ulang tahunmu, apa aku benar? Kau mengatakannya padaku.”


“Sky…”


“Bagaimana kau bisa mengingatnya?”


“Entahlah, aku masih mengingatnya.”


“Mengapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama? Apa kau yakin pernah mengatakannya padaku?”


“Aku mengatakannya padamu, Kai.”


Kai kembali terdiam dengan tatapannya yang kosong.


“Kai…”


“Maafkan aku, Sky.”


“Tidak apa. Anggap saja kau tidak mendengarku saat itu.”


“Aku tidak mau seperti itu.”


“Tidak apa, Kai.”


Sky melanjutkan ucapannya meski Kai masih merasa bersalah. “Sebenarnya, aku dan orang tuaku selalu merayakan ulang tahun bersama tapi…”


“Tak kusangkah orang-orang dewasa itu sedang bersandiwara.”


“Semakin berlalu dan berlalu, sandiwara itu masih berlangsung.”


“Sampai membuatku muak.”


“Orang tuaku berpisah. Ayahku yang tak tahu berada di mana dan ya, tidak ada lagi…”


“Berulang tahun membuatku muak. Mengingatkanku pada kata-kata manis dan sekaligus kata-kata yang tak seharusnya kudengar dari mulut orang tuaku di masa lalu.”


“Aku sering bermimpi meniup lilin angka 14 dan 15, itu membuatku menangis karena ketakutan akan kematian yang kupikir usiaku akan berhenti di angka itu. Ya, apa yang terjadi membuat semakin berpikir macam-macam dan muak.”


“Entahlah, aku tidak tahu. Sempat terpikir olehku untuk memulai kembali. Tapi…”


“Kau bisa melakukannya. Bolehkah aku membantumu?”


“Jika kau bisa, Kai. Setidaknya jangan memaksakan diri dan juga memaksaku jika belum saatnya.”


“Baiklah, aku akan mencobanya. Maafkan aku, tidak tahu apa-apa dan sampai sekarang pun aku tidak mengerti bagaimana bisa tidak ada dalam ingatanku? Sementara kau tahu tentangku.”


“Seingatku, setelah kau bercerita…kau memintaku untuk bercerita juga. Apa karena ceritaku terlalu panjang dan membuatku tidak fokus?”


“Hei, aku tidak seperti itu. Kau ingat itu, kan? Kalau kau adalah satu-satu orang asing yang kutemui dengan cerita-cerita yang menarik.”


“Iya, kau mengatakannya. Saat itu di dalam pikiranku…apakah kau sedang membual?”


“Hahaha, tidak…itu benar-benar pendapatku dengan tulus.”


“Baiklah, haha.”


“Tapi…”


“Apa, Kai?”


“Entahlah…”


“Kenapa?”


“Ken, membuatku berprasangkah buruk. Bukankah Ken tahu tentang ini?”


“Iya, Ken tahu.”


“Iya?”


“Iya, dia tahu.”


“Hah?”


“Dia tahu, Kai. Memangnya kenapa?”


“Wah, apa yang terjadi sebenarnya?”


“Kau percaya padaku, kan?”


“Tentu, aku percaya padamu, Kai.”


“Wah, bagaimana aku mengatakanya…”


“Apa yang dilakukan, Ken?”


“Ken berkata sebaliknya.”


“Dia mengajakku untuk memberikan kejutan ulang tahun untukmu.”


“Hah, benarkah?”


“Iya.”


Kai menujukkan isi pesannya bersama Ken.


“Apa yang terjadi? Dia tidak mungkin lupa, Kai.”


“Saat kau mulai bercerita…sekaligus memikirkan ucapan Ken.”


“Bolehkah aku menanyakan ini pada Ken?” ucapku.


“Iya, seharusnya kau mengatakannya.”


“Iya.”


“Hmm, Sky?”


“Iya?”


“Aku tidak pernah menyukai Rania. Rania hanyalah seseorang yang sebenarnya perlu kujaga dan kupikir dia tidak akan melewati batas.”


“Maafkan aku, apa yang terjadi di malam itu.”


“Maafkan aku, karena menghilang begitu saja.”


Langit mulai memberikan tanda-tanda dengan memperlihatkan pergantian warna.


Hawa dingin mulai menusuk-nusuk permukaan kulit.


Kedua mata yang terasa menebal.


Perut keroncongan yang membuatku dan Kai tertawa dan…


Matahari tengah menyapa.


Cup!


Tringgg!


Suara alarm telah menggagalkan momen yang tengah terjadi.


“Itu milikmu.”


“Untul apa aku menyalakan alarm?” Kai yang terlihat bingung.


“Hah?”


Kai memeriksa ponselnya. “20 juni?” ucapnya.


“Iya, 20 juni. Ada apa?” ucap Sky.


“Sky…”


“Iya?”


“Kurasa…aku ingat sesuatu.”


“Tapi tidak yakin itu apa,” lanjut Kai.


Ucapan Kai membuatku bertanya-tanya sekaligus membuatku ketakutan tetapi tidak tahu mengapa aku merasa takut hanya karena mendengar ucapannya?


Semua yang ada di masa lalu mengapa selalu berurusan dengan sesuatu yang belum usai?


Kai terlihat sedang berpikir dengan melihat layar ponselnya berulang kali.


“Ada apa dengan 20 Juni?”


“Kau benar-benar tidak ingat?”


“Tidak.”


“Coba kau ingat-ingat lagi. Siapa tahu itu penting.”


“Sudah kucoba tapi benar-benar tidak tahu.”


“Kai, kau harus lebih tenang untuk mengingatnya, Kai.”


“Lupakan saja, percuma aku tidak ingat.”


Sky memeluknya. “Kau pasti ingat.”


“Semoga tapi sedikit membuatku takut.”


“Kenapa?” tanyaku.


“Karena mungkin dari masa lalu.”


...***...