
Kai terus melihat ke arah ponselnya.
“Kau ingin menghubunginya?”
“Percuma tidak bisa,” jawab Kai.
“Kai, ini ulang tahunku. Tak bisakah kau fokus padaku saja?”
“Tapi aku terus memikirkannya.”
“Aku tidak pernah melihatmu seperti ini, apa yang ada pada Sky sampai membuatmu menjadi seperti ini?” tanya Rania.
“Dia tidak perlu membuktikan perasaannya—kepadaku atau orang lain.”
“Bukankah perasaan harus juga diucapkan? Seperti apa yang kulakukan padamu, Kai.”
“Karena kau menaruh penilaian padanya yang membuatmu pada akhirnya menjadi salah paham, kau akan menganggap dia tidak pantas dicintai seseorang sepertiku yang kau tahu,” jelas Kai.
“Apa dia bermain curang sampai membuatmu bertekuk lutut?”
“Kau harus menemukan seseorang yang tepat agar bisa merasakannya.”
“Apa Sky orang yang tepat bagimu?”
“Ya.”
“Kau sadar dengan ucapanmu, Kai? Ucapanmu itu juga bisa mengkhianatimu.”
“Maaf, ucapanku tidak akan berubah baik dulu dan sekarang ini. Aku bukanlah orang yang tepat untukmu, Rania.”
“Kau orang yang tepat untukku, Kai. Kita saling mengenal bahkan orang tua kita…apa itu tidak cukup?”
“Ran…”
“Kai, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa terus berpura-pura baik-baik saja. Kau dan Sky hanya baru berpacaran…”
“Bukankah kau dan Sky juga bisa putus?” lanjut Rania.
Kesabaran Kai serasa diuji.
Makanan yang mereka pesan seperti tidak ada artinya, berakhir dengan berbincangan yang begitu alot dan menguras kesabaran.
Kai tidak tahu lagi harus bagaimana memberikan penjelasan pada Rania.
Pikirannya yang kacau dipenuhi dengan bayangan wajah Sky yang terus memintanya untuk meninggalkan tempat dan pergi menyusulnya seperti memberinya sebuat kejutan.
Tapi disatu sisi, ia tidak ingin merusak hari spesial teman kecilnya itu dengan janji yang pernah ia buat sebelumnya. Meski itu di masa lalu, janji tetaplah janji.
“Apa kau akan terus merayakan ulang tahunku selanjutnya? Setidaknya bisakah kau melakukan itu untukku?”
“Dan merayakan ulang tahunmu, Kai. Waktu itu, jika aku tidak melewatkan ulang tahunmu…apa akan terbeda cerita, Kai? Misalnya…aku menjadi pasanganmu dan kau tidak akan bertemu dengan Sky?”
“Kalau pun aku tidak bertemu dengan Sky. Itu juga tidak akan terjadi, Rania.”
“Apa kau tidak mengingat momen-momen kebersamaan kita yang terjadi selama ini, Kai?”
“Aku selalu mengingatnya bagaimana hubungan kita, Ran. Tapi…aku tidak bisa memenuhi semua ekspetasimu padaku. Begitu juga dengan perasaanku. Bagiku, kau Rania…teman masa kecilku dan sampai kapan pun di mataku kau akan selalu seperti itu.”
“Kenapa kau tidak menyukaiku, Kai?”
Wah!
Bertemu dengan Rania, sama saja sedang menguras energiku.
Bagaimana caranya agar bisa membuatnya mengerti?
Atau garis besarnya…bisa menerima kenyataan.
Sulit bagiku untuk mengatakan yang sebenarnya agar dia bisa membuka mata karena aku tidak ingin benar-benar menyakitinya.
“Ran, kau bisa bertemu dengan orang lain yang membuatmu merasakan yang bisa kau rasakan saat ini.”
“Orang itu kau, Kai. Sudah kubilang, aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Hanya kau orangnya, Kai. Kau satu-satunya yang membuatku bahagia. Kau juga yang membuatku tidak kesepian. Kehilangan Ayahku sama halnya dengan kehilangan sosok laki-laki di kehidupanku.”
“Ran, kau bisa berkeluh kesah padaku tapi, aku tidak bisa menerima perasaanmu. Sekarang kau mungkin masih bisa mendengar kata-kataku yang seperti ini tapi aku tidak bisa menjamin, jika kau terus seperti ini…kau bisa tersakiti karena ucapanku.”
“Aku tidak peduli, Kai. Ini keinginanku. Bukankah jatuh cinta juga menyakitkan?”
“Bukan seperti itu, Ran. Kau tidak bisa menjalani hanya sepihak.”
“Aku bisa melakukannya.”
“Ran…”
“Aku bisa melakukannya, Kai.”
“Kau akan terluka, Ran. Berhentilah!”
“Kau tidak bisa membuatku berhenti menyukaimu, kau tidak punya hak untuk itu!”
“Kalau kau tidak bisa berhenti menyukaiku setidaknya, jangan pernah merusak hubunganku dengan Sky seperti berbuat sesuatu yang membuatku justru menjadi kecewa.”
“Kau mencurigaiku, Kai?”
“Apa kau tahu apa yang terjadi pada 20 Juni? Apa kau tahu itu?”
“Tidak, aku hanya bertanya dan mengingatkan.”
“Aku tidak tahu apa pun.”
“Ya, kuharap kau tidak tahu apa pun.”
“Apa kau mendengarnya dari Tyana?”
“Tidak. Kau mencurigainya?” Kai menatap tajam pada Rania. Mendengar nama Tyana membuatnya berpikiran yang tidak-tidak seperti menaruh kecurigaan yang berlebih.
“Tidak. Aku tidak bergitu mengenalnya.”
“Tidak begitu mengenalnya? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu?”
“Aku tidak ingin membahasnya. Aku hanya ini membahas kita berdua,” Rania menggenggam tangan Kai.
“Jangan lakukan itu, Rania!”
“Kenapa? Bukankah itu hal yang biasa bagi kita berdua? Dengan kau yang sekarang sedang menjalin sebuah hubungan…membuatmu merubah sikapmu padaku?”
“Setidaknya kau tahu batasannya, Ran. Aku tidak ingin kau salah mengartikannya dan justru semakin menyakitimu.”
“Sudah kubilang aku tidak peduli, Kai. Aku ingin kau tetap menjadi Kai yang selalu melewatkan waktunya untukku.”
Berbincangan panjang ini seperti tidak akan menemukan jalan terang. Sebagaimana pun ia menjelaskan, Rania akan kekeh dengan pendiriannya.
“Aku tetap akan menyukaimu, Kai.”
Itu yang terbesit di dalam pikiranku.
Teriang-iang.
Berputar berulang kali.
Seperti CD player yang sedang diputar.
Terdengarnya suara bell, sekaligus menambah daftar panjang kekhawatiran yang sedang ia pikirkan seusai melihat postingan yang berada di portal kampus.
“Kai, apa kau sudah melihatnya?”
Foto-foto di malam itu, sukses menggiring opini semua orang yang bahkan tidak tahu fakta yang terjadi.
“Bukankah itu membuatmu senang?” spontan keluar dari mulutku.
“Mereka terlalu penasaran dengan hubungan kita yang sebenarnya. Tapi, bagaimana dengan Sky?”
“Wah? Kau bersungguh-sungguh mengatakannya?” Kai yang terheran-heran dengan ucapan Rania.
“Iya. Bukankah itu yang kau harapkan…untuk tidak merusak hubungan kalian?”
“Ucapanmu bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi. Dengan kau datang padaku hari ini, justru semakin berburuk keadaan.”
Terdengar seseorang yang hendak masuk.
“Sky?”
Sky masuk dengan raut wajahnya yang membuatku bertanya-tanya.
“Selesaikan masalah kalian,” ucapnya setelah mengambil tas dari kamarku dan berlalu.
Masalah kalian?
Mengapa itu menjadi masalahku dan Rania?
“Lihatlah! Dia terlihat baik-baik saja,” ucap Rania seenaknya.
“Kau lebih baik pulang,” ucap Kai.
“Bukankah, kita harus menyelesaikan masalah kita? Seperti ucapannya,” Rania melingkarkan tangannya di lengan Kai.
Kai menghindar dengan cepat.
Sky tiba-tiba masuk kembali.
“Ups! Kau hampir ketahuan,” bisik Rania.
Sky sama sekali tidak menatapku. “Abaikan saja aku! Aku hanya mengambil barangku,” ucapnya.
Kai menghampirinya. “Kita perlu bicara.”
“Dengan mengusirnya?”
“Setidaknya pikirkan lebih dahulu sebelum berbicara,” lanjut Sky.
“Perkemahan…begitu menyenangkan?”
“Kau bertanya padaku?” Sky seperti malas berbicara denganku.
“Kai! Kita belum selesai bicara,” teriak Rania.
“Selamat menikmati waktu berdua,” ucap Sky pada Kai sebelum meninggalkan tempat.
Rania menghampirinya dan berkata, “Sebenarnya aku telah melakukan kesalahan yang mungkin akan membuatmu bukan hanya marah tapi…”
...***...