Suddenly

Suddenly
Feeling of Falling Apart



“Berkemah?”


“Iya dan kalian boleh bawa masing-masing 1 orang.”


Berkemah?


“Membawa masing-masing 1 orang? Apakah nanti ada semacam permainan dengan mengungkit masa lalu? Wah, itu membosankan.”


“Hahaha, itu tidak bisa dipungkiri, Sky. Pasti terjadi.”


“Tidak ada yang berhalangan hadir kecuali mendesak, oke?” ucap Ren.


“Sepertinya aku tidak bisa, Rendra. Kau tak lihat kondisi tanganku?”


“Rendra?”


“Mulai sekarang Sky akan memanggilku Rendra. Penguntit sialan itu mengapa menggunakan nama yang sama denganku?”


“Kau masih punya Kai yang bisa menjagamu. Jadi, tidak ada alasan kau tidak hadir.”


“Ayolah, Rendra! Akhir-akhir ini aku tidak enak badan,” Sky masih berupaya.


“Telingaku terasa aneh saat mendengar nama Rendra.”


“Iya, benar juga. Siapa Rendra itu?”


“Terlalu bagus nama itu. Aku tidak mau memanggilnya Rendra. Sky, cari nama lain selain Rendra.”


“Hei, mengejekku! Namaku memang bagus.”


“Bagaimana kalau, Renren?


“Ya, itu lebih baik.”


“Setuju!”


“Ya.”


“Itu tidak terdengar aneh di telingaku.”


“Oke, Renren.”


“Hei, bukankah itu sama saja hanya mengulang satu kata lagi?”


“Itu akan sama saja. Kalian tetap akan memanggilku, Ren.”


“Tidak apa. Setidaknya menjadi Renren,” jawab Sky.


“Baiklah-baiklah, panggil aku Renren.”


“Wohoooo!”


Pukul 3 sore.


Sky terbangun dengan kondisi kepalanya yang terasa pening.


Kedua matanya membuka samar-samar. Tangan kirinya terasa berat.


Terdengar suara dengkuran yang jelas terdengar.


Kedua matanya sudah mulai melihat dengan jelas.


Kai berada di tangan kirinya. Laki-laki itu tertidur pulas dengan posisi duduk. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore.


“Kai…,” Sky mengusap-usap ujungnya kapala Kai.


“Hmm?”


Tak kusangkah Kai langsung bangun. Tersenyum padaku dan memberikan sebuah kecupan. Tatapannya membuatku tidak bisa berpaling. Hanya melihatnya saja tidak akan membuatku bosan.


“Kepalamu masih sakit? Kau terus mengigau dengan mengatakan itu,” ucapnya.


“Iya, sedikit sakit. Benarkah aku mengatakan seperti itu?”


Kai mengangkut dengan masih menatapku. Lalu duduk di dekatku. “Bagaimana kau bisa jatuh? Kau melamun?”


“Iya, saat menyeberang di keramaian. Tidak terluka serius hanya retak.”


“Sama saja, kau ceroboh.”


Sky hanya tersenyum.


“Maafkan semua kata-kataku.”


“Apa kau tetap bosan denganku?”


“Aku tidak mengatakan seperti itu.”


“Tapi kau sudah mengatakan seperti itu. Bukankah kita harus berakhir, Kai? Kau bosan padaku.”


Kai menahan tanganku. “Sky, bukan seperti itu.”


“Kau sudah mengatakannya, Kai.”


“Kau ingin berakhir begitu saja, Sky?”


“Ya.”


“Baiklah, kita akhiri saja.”


Sky melangkah pergi.


“Kau mau ke mana? Kau pikir semudah itu untuk mengakhiri hubungan?”


Suara langkah kaki Kai terdengar cepat. Tangannya menahan pintu dan membuatnya tertutup kembali.


Lalu berada di hadapanku seolah sedang menghadangku.


Sky juga tidak berpaling dari pandangannya.


Sekarang mereka seperti orang aneh yang saling tatap-menatap tanpa saling mengatakan apa pun.


Begitu lama.


Rasa nyeri di kapalaku tak kunjung usai.


Tidurku terlalu lama bahkan juga melewatkan jam makan pagi dan siang.


Kai semakin mendekat membuat jantungku berdetak seolah berdetak untuknya untuk pertama kalinya.


Berdetak seolah mengakui kau jatuh cinta padanya.


“Apa yang kau lakukan?” Sky melangkah mundur.


“Mencoba mengambil kembali apa yang kumiliki?”


“Kau melihatku seperti sebuah barang?”


“Hah? Kau berharap aku mengambilmu kembali? Bukankah kau sudah mengakhiri semuanya, Sky?”


“Berhentilah bermain-main, Kai!”


“Apa aku terlihat main-main selama ini?”


“Kau mempermainkanku baru-baru ini bersama Rania. Kalian berpelukan. Mengabaikanku. Bahkan, kalian benar-benar terihat seperti pasangan yang sebenarnya.”


“Jadi, kau cemburu? Rania dan aku memang seperti itu dan sedekat itu. Ah, jadi selama ini kau berpura-pura baik-baik saja? Nyatanya banyak yang kau pendam.”


Sky terdiam menatap ke arah Kai.


“Itu membuatku lelah,” Kai melewatiku.


Tidak ada jawaban dari Sky.


Sky berjalan mundur sampai mendekat pada Kai. Memutar badannya menghadap Kai dengan posisi kepalanya yang menunduk dan juga kedua matanya yang tertutup.


“Kau mau apa?” Kai mengintip di sela-sela helai rambutku yang menutupi mukaku.


Tiba-tiba…


Itu membuatku gila dan…


Mengakui hubunganku dan Kai benar-benar aneh.


Kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Kapalaku menempel di dadanya dengan suara isakan tangisku yang tiba-tiba mendorongku untuk menangis tanpa alasan yang pasti.


Kai membalas pelukan itu begitu erat. Lalu mendongakkan kepalaku. Menghapus air mataku dan…


Ya.


Itu tejadi.


Saat jarak pandang itu terjadi maka itu juga akan terjadi.


Kai memelukku kembali setelah itu terjadi.


“Kau aneh,” ucap Kai.


Sky tidak menjawab.


“Kau tidak ingin berbicara?”


Tidak ada jawaban lagi.


“Sky, hei!”


“Aku mencium bau-bau aneh…”


“Dari rambutku.”


Sky melepas melukannya dan membuka pintu untuk keluar.


“Mau ke mana?”


“Mandi,” jawab Sky dengan tanpa ekpresi.


“Hahaha, iya rambutmu bau.”


Tapi Kai menarik tangannya dan mengecup kepalanya. “Aku bohong,” ucapnya padaku.


“Kau juga bau dan juga aneh.”


BRAK!


Sky membuka pintu kembali.


“Sky?”


“Sabtu di minggu depan apa kau punya waktu luang?” tanya Sky.


“Ada apa?”


“Club fotografiku akan berkemah dan aku bisa mengajakku untuk ikut denganku. Apa kau bisa?”


“Hmm…”


“Tidak bisa.”


“Tidak bisa? Kau ada janji?”


“Iya, ada janji…sudah lama juga membuat janji itu.”


“Kau mau ke mana?”


“Hari itu ulang tahun, Rania.”


Rania?


Wah!


Setelah dibawa terbang sekarang dibiarkan terjatuh.


“Oh, baiklah.”


Sky menutup pintu kembali.


Perasaannya kembali bergejolak hanya mendengar satu nama yang terucap dari mulut Kai dan terjadi lagi, lagi, dan lagi.


Seperti tidak pernah usai. Memberikan sebuah jarak agar saling menjauh.


Perasaan kalutku terus menghantuiku sampai hari berkemah tiba.


“Hei, sudah kubilang kalian boleh membawa seseorang untuk ikut serta,” ucap Renren yang melihat muka-muka anggotanya saja.


“Kau sendiri apa kau juga bawa seseorang?”


“Tidak karena memang tidak ada.”


“Hahaha, tidak perlu sejelas itu…kau menjadi terlihat menyedihkan.”


“Hei!”


“Sky, ada apa denganmu? Kau lebih diam dari biasanya. Kenapa kau datang sendiri?”


Kiya menarik Renren begitu juga para anggota yang lainnya, lalu mereka berbicara diam-diam. “Hei, tutup mulutmu! Biarkan dia bersenang-senang bersama di sini dan melupakan sejenak soal Kai.”


“Apa mereka putus?”


“Tidak.”


“Hei, pelankan suaramu itu!”


“Ada yang terjadi dengan mereka?”


“Kai merayakan ulang tahun Rania.”


“Ah, karena mereka memang berteman dekat?”


“Ya, bahkan keluarga mereka saling kenal.”


“Wah, aku tidak tahu bagaimana perasaanku jika aku menjadi Sky.”


“Akhir-akhir ini hubungan mereka tak sebaik biasanya. Kau sadar tidak? Sky juga tak seceria biasanya.”


“Jadi…itu yang menuntun kalian untuk tidak mengajak siapa pun bersama kalian?”


“Iya, aku mengingat apa yang dilakukan Sky padaku. Dia begitu baik padaku.”


“Bukankah dia seharusnya lebih bahagia?”


“Hei, jangan membuatku menangis! Huwaaahhh…”


Sky menangis dan mereka menertawainya.


“Hei, kenapa kalian menertawaiku? Huwaaahh…”


“Ayo, kita bersenang-senang!”


...***...