Suddenly

Suddenly
Happy Ending



Tidak tahu kapan kedua mataku mencoba terlelap.


Semalam hujan turun tepat setelah berhasil memadamkan kembang api yang baru saja bersinar.


Lautan manusia itu mungkin akan kecewa karena pesta kembang api harus dihentikan, tapi turunnya hujan menggantikannya.


Suara sorakan menyambut turunnya hujan begitu kencang, mereka menikmatinya.


Seperti tengah melepas beban hidup yang melekat di kehidupan masing-masing.


Kai dan perempuan itu, juga. Perempuan itu berada di pelukannya.


Pukul 8 pagi, hari pertama di tahun baru.


Seluruh ruangannya terlihat rapi dan bersih. Sangat berbeda di tahun sebelumnya. Hari pertama di tahun baru disambut rentetan kapal pecah di mana-mana.


Setelah menghabiskan malam tahun baru, biasanya teman-temannya akan menginap di apartemennya. Bukan hanya Yuta dan Kale, tapi ada beberapa teman satu sekolah yang sengaja jauh-jauh hari sudah merencanakan untuk menghabiskan waktu bersama.


Itu dulu, sekarang?


Sudahlah, kehidupan juga tak peduli apa yang terjadi padamu. Kehidupan akan tetap berjalan meski kau merasa tidak adil itu terjadi padamu.


Aku tidak ingin mendengar bersemangatlah! Kau pasti kuat, semangat! Dan bla…bla…bla…


Semua orang pasti bersemangat dan juga pasti kuat tapi juga ada masanya. Jadi, lebih baik tutup mulut dan biarkan dirimu mendengarkan ceritanya. Bukankah sebenarnya seseorang yang sedang tidak baik-baik saja hanya ingin didengar ceritanya? Daripada harus mendengar omong kosong.


Wah, ada amarah yang membakar di dalam relungku. Rasanya menusuk-nusuk. Belum lagi hormon di dalam tubuhku saat kedatangan tamu, benar-benar berkuasa.


Sky membuka ponselnya.


Tidak ada apa pun.


Kosong.


Sebuah ide sedang mengetuk isi kepalaku, “Sepertinya, liburan kali ini lebih baik tanpa ponsel.”


Sky mematikan daya ponselnya dan mengembalikan ke tempat semula.


“Bioskop.”


Sebenarnya aku sudah memesan tiket jauh-jauh hari tetapi tidak yakin akan datang.


Baru kuputuskan hari ini.


Sebelum hujan tiba, lebih baik berangkat lebih awal.


Faktanya, jarak antara apartemen dengan bioskop tidak begitu jauh.


Tetapi…


Tidak bisa dipungkiri.


Bahwa, aku tidak baik-baik saja.


Sekali lagi, pikiranku ke mana-mana.


Sesuatu yang menganjal semakin tidak terselesaikan di dalam hati dan pikiranku.


Bukankan tidak bisa dibiarkan seperti ini?


Bukankah ini bukanlah sebuah ending yang kau inginkan?


Ke mana perginya dirimu yang selalu jujur dengan perasaanmu?


Bahkan jika itu menyakitkan, itu lebih baik. Setidaknya kau sudah mengeluarkan apa yang ingin kau sampaikan. Ya, perasaan itu.


Sky bertaut dengan ponselnya. Menimbang-nimbang pilihannya.


“Halo, ini Sky.”


“Halo…,” suara yang ingin kudengar membuatku sedikit tenang.


Tetapi…


Terdengar berbeda.


Entah karena perasaanku saja atau memang seperti itu.


Tetapi terdengar seperti seseorang yang tidak ingin berbicara denganmu.


Tatapanku kosong. Film yang kutonton justru menonton diriku yang menyedihkan.


Entahlah, apa aku menyedihkan?


Seharusnya kau tidak melewati batas, Sky.


Malam itu, seharusnya biarkan saja berakhir seperti itu.


Tapi mengapa justru orang itu yang tiba-tiba mendekat?


Bukan kesalahanku saja, kan?


2 jam penuh tidak ada yang kudapatkan. Hanya duduk dengan jiwa yang melayang. Sama sekali tidak tahu film yang kutonton seperti apa jalan ceritanya.


Kai tidak menghubungiku setelah beberapa jam yang lalu, aku mencoba menghubunginya.


Katanya, dia yang akan menghubungiku.


Percakapan yang singkat.


Bahkan apa itu bisa disebut sebuah percakapan?


“Halo, ini Sky.”


“Halo…”


“Aku akan menghubungimu nanti.”


Tut…tut…tut…


Selesai.


Hanya itu saja.


Apa maksudnya?


Perutnya yang lapar menjadi tidak lapar.


“Aku pulang…,” tidak ada yang menyambutnya selain dirinya sendiri.


Ting…tong…


Krek!


“Kai…”


“Bolehkah aku masuk?” ucapnya.


“Masuklah.”


Jantungku berdegup kencang, tidak tahu harus memulai dari mana.


“Sky…”


“Kai…”


“Bukankah kau menghubungiku karena…”


Ting…tong…


Sial!


“Sebentar, Kai…”


Perasaanku tidak enak.


Kalau itu memang benar, firasatku benar.


Ada drama yang menyentuh kehidupanku.


Ting…tong…


Orang itu memencet bell berulang kali.


Sky membuka pintu dan…


Ya, ada drama di kehidupannya.


Perempuan yang bersama Kai ada di hadapanku. Aku tidak mungkin melupakan wajahnya. Dia perempuan itu.


“Hai…,” garis senyumnya benar-benar cantik.


“Hai?” nada bicaraku seperti seseorang yang bingung pada suasana yang canggung.


“Apa Kai ada di dalam?”


Sudah kuduga.


“Iya, kami sedang mengobrol,” jawabku.


“Apa itu penting?” dia berbicara dengan tersenyum tetapi senyuman itu hanyalah topeng. Sorot matanya terlihat jelas, ia berusaha menggertakku.


“Ya, bisa dibilang seperti itu.”


“Bolehkah aku masuk? Kai ada urusan denganku dan orang tua kami.”


Ah, baiklah.


Ada tembok besar yang tengah menghadangmu, Sky.


“Ah…”


Perempuan itu tersenyum dan masuk begitu saja sebelum aku benar-benar mengatakannya.


“Kai…,” perempuan itu mendarat di pelukan Kai.


Tentu, Kai menatap ke arahku lalu berpaling.


“Rania, kenapa kau ada di sini?”


Ah, nama perempuan itu Rania.


“Kau tahu, kan? Aku tidak bisa menunggu lama,” rengek perempuan itu.


Wah, tontonan macam apa ini?


“Kau Sky, kan?” tanya perempuan itu.


Sky hanya mengangguk.


“Kai berbicara banyak hal. Kau teman masa kecilnya, kan? Aku tahu semuanya, hehe.”


“Ah, iya.”


Betapa bodohnya aku, tetapi juga membuatku bingung reaksi seperti apa yang harus kutunjukkan?


“Kami pasangan yang serasi. Kai selalu menjagaku. Dia benar-benar sebaik itu.”


“Kau beruntung,” bukankah aku semakin terlihat menyedihkan?


“Ah, tidak. Kau pasti akan bersama seseorang yang akan menjagamu. Tapi ucapanmu tidak salah. Ah, tidak. Bukan lagi soal beruntung tapi, Kai ditakdirkan bersamaku.”


Membuatku sedikit mual saat mendengar suaranya dan cara dia berbicara.


“Ah, benarkah? Berbahagialah,” di dalam hatiku, aku sedang mengutuk diriku sendiri.


“Kami harus pergi, senang bertemu denganmu.”


Kai tidak berbicara apa-apa. Selain menatap ke arahku dan aku tidak tahu apa arti tatapannya itu.


Kai dan perempuan itu terlihat serasi.


Entahlah, apakah aku masih bisa mengatakannya padanya?


Apa hubungan di antara mereka seserius itu?


Keluarga mereka, sedekat itu?


Tetapi, Kai benar-benar memeluknya.


Wah…


Entahlah…


Rasanya campur aduk.


Semuanya menjadi tiba-tiba di saat aku ingin untuk memulai.


Keputusanku menjadi berganti-ganti dan semuanya kacau.


Semula, aku ingin meninggalkan ponselku dan tiba-tiba berubah pikiran. Terjadilah seperti ini. Kalau aku tidak menghubunginya, apakah akan berbeda cerita?


“Tidak ada yang perlu disesali, Sky.”


“Tidak ada gunanya.”


“Dan kau akan seperti itu, tidak akan ada habisnya.”


“Wah, apa kau baik-baik saja?”


“Tentu, aku tidak baik-baik saja. Haha…”


Mematikan ponsel. Meletakkan kembali ke tempat semula dan memikirkan makanan untuk merayakan apa yang terjadi hari ini.


“Haha, kau gila, Sky.”


Tes…tes…tes…


“Tidak apa, menangislah!”


“Hei, hujan! Kenapa kau tidak datang?” teriak Sky.


Semua orang menginginkan akhir yang bahagia di kehidupannya.


Tetapi terkadang, itu adalah milik orang lain.


...***...