Suddenly

Suddenly
Ramen



Belum menjelang pagi perutku sudah mengeluarkan suara gemuruh yang begitu kencang dan berulang.


Kedua matanya juga tak kunjung terlelap kembali. Setelah hari itu, tidurnya semakin berantakan.


“Ramen,” ucapnya.


Ia membuka jendela, langit tentu masih gelap.


Sky bangun, berjalan mengambil hoodie lalu memakainya. Mengambil ponsel dan dompet kecilnya yang ia taruh pada tas selempang kecil yang telah ia pakai.


Tanpa melihat keadaan sekitar, Sky menuruni tangan darurat lalu melanjutkan menggunakan lift saat bertemu seseorang yang kebetulan bertemu dengannya di pagi buta. “Kau tidak pernah takut keluar sendirian?” tanyanya. Dia seorang anak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga yang membuatnya manahan-nahan untuk tidak resign.


“Tidak. Kau juga, tidak takut?” tanyaku padanya. Orang itu harus keluar di tengah malam atau di pagi buta untuk bekerja.


“Terkadang sedikit takut. Tapi, mau bagaimana lagi. Harus seperti ini,” jawabnya.


“Kau bawa semprotan cabai?” tanyaku.


“Hahaha, kau membawanya?” ia pun tertawa dengan menggosok bahunya karena embusan angin yang menusuk saat pintu lift terbuka.


“Tidak, tapi kurasa aku akan memerlukannya. Kau harus hati-hati, ya? Seperti sebelumnya, kau bisa meminta bantuanku,” orang itu pernah memintaku untuk menjemputnya di rumah sakit karena dia tiba-tiba pingsan.


“Kau juga. Apa kau tahu perempuan itu membuatku kesal. Aku melihatnya kemarin, dengan enaknya membuat sampahnya tepat di depan pintuku. Kau bisa mengandalkanku jika perempuan itu terus mengganggumu.”


“Siapa yang kau maksud?” Sky tidak mengerti.


“Perempuan yang bersama pacarmu,” jawabnya.


“Ah, dia.”


“Kau tidak perlu bercerita, tapi aku tahu…kau selalu tahu apa yang terbaik untukmu.”


“Benarkah? Hei, aku tidak bisa seperti ini. Kenapa itu membuatku ingin…,” Sky menarik ujung di kedua matanya.


“Hahaha, aku tidak melakukan apa-apa.”


“Jelas-jelas kau membuatku…,” dengan masih menarik ujung di kedua mata Sky.


“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Kau juga harus berhati-hati,” ucapnya dengan menyentuh ujung kepalaku seolah dia adalah Kakak perempuanku.


“Bye, Kak Yura!”


Seperti yang kutahu sebelumnya. Tapi, tergantung waktunya juga. Ini hari jumat, pagi buta terasa pukul 9 pagi. Semua orang sedang sibuk dengan urusan dunia. Kepalanya menunduk dan tersenyum berulang kali pada para pekerja keras.


Beberapa langkah lagi akan sampai. Apalagi kalau bukan toserba yang biasa ia kunjungi. Kedai ramen yang biasa ia kunjungi tidak buka hari ini, pemiliknya memberi tahuku saat bertemu di jalan kemarin. Tidak hanya itu, dia minta maaf padaku sebelum bertanya. Karena itu membuatnya penasaran. Ya, soal Kai dan Rania. Aku memilih tidak menjawabnya. Tapi katanya, Kai bilang tentang hubungannya yang berakhir.


“Enak,” ucapku saat aroma khas di dalam toserba menusuk hidungku.


Pemilik toserba telah menyadari kehadiranku. “Kenapa saja kau?” sebelum pindah dan kembali lagi, aku belum bertemu dengannya.


“Di toserba,” ucapku dengan tersenyum.


“Kau baik-baik saja?” tanyanya.


“Ada apa dengan semua orang? Apa aku cukup terkenal sampai semua orang tahu tentang apa yang terjadi padaku? Ah, tidak…”


“Aku lupa, orang-orang lebih mengenalnya.”


“Bukankah seperti itu, Bu?”


“Tidak, justru kau yang jauh lebih dikenal. Kau juga yang membuatnya terlihat lebih baik.”


“Mungkin hanya Bu Zang yang mengatakan itu,” balas Sky lalu tertawa.


“Tapi…”


“Bu Zang, baik-baik saja? Ibu terlihat lelah.”


Bu Zang berkaca di balik cermin lalu berbisik di telingaku. “Boleh aku meminta tolong padamu?”


“Pasti jika aku bisa,” ucapku.


“Baiklah, aku akan menghubungimu nanti. Kau mau beli apa?”


“Apa pun, hahaha…”


Sky mulai berkeliling dengan troli belanjanya. “Ramen,” ia mengambil beberapa macam ramen instan.


Mengambil banyak snack yang sebagian besarnya berisi angin dan sisanya berisi makan ringan tidak ada separuh dari isi kemasan.


“Coklat?” Sky mengangguk.


“Ice cream?” tentu tidak akan melupakannya.


“Permen?” sudah pasti.


“Kau telah melupakannya?” suara di belakangnya membuatnya melepas earphone yang Sky pakai.


Rambutnya yang sedikit lebih pendek memperlihatkan rahangnya yg begitu tajam. Bahkan, aku tidak pernah menyadarinya dia akan memiliki raut wajah yang seperti itu.


“Kau telah melupakannya?” Kai mengangkat kaleng minuman rasa buah yang belakangan ini kutinggalkan.


“Kau marah karena kedai ramen tidak buka atau kau marah karena aku makan ramen itu bersama Rania?” Kai mengikutiku dari belakang.


Bu Zang sudah tidak ada di tempat. Pekerja paruh waktu yang menggantikannya.


“Kau belum menyapaku saat kau juga kembali. Bukankah kita bukan orang asing? Kecuali kau sendiri yang membuat jarak,” Kai berdiri di hadapanku.


Sky berbalik dan Kai masih mengikutinya dengan masih berbicara.


“Aku suka rambut barumu. Kau terlihat cocok dengan rambut panjangmu meski rambut pendekmu lebih baik.”


Sky masih bungkam sampai ia justru memasukkan barang yang tak perlu ia beli.


“Sky!”


“Hei, Sky!”


“Kau menghindariku?”


“Kau pikir hanya kau saja yang mencoba untuk tidak peduli, bagaimana denganku? Kau pikir aku bisa melakukannya?”


“Aku tidak bisa melakukannya.”


“Baiklah, kalau kau terus bungkam. Tapi, kau tidak boleh terus seperti ini. Kita harus bicara,” Kai menurunkan posisi badanny untuk melihatku yang melihat ke arah bawah.


Sky berjalan ke arah kasir. Waktu berkeliling di toserba yang selama biasanya dan membuatnya kesal.


“Senang bertemu denganmu,” bisiknya di telingaku lalu keluar dari toserba.


Pekerja paruh waktu itu menjadi fokus ke arah Kai baru saja keluar.


Setelah membayar dan keluar dari toserba. Langkah kakiku terasa berat. Waktu telah menunjukkan pukul 3 pagi. Ia tidak ingin kembali lebih dulu.


Meski kedai ramen tutup. Ia hanya ingin berkeliling.


Tapi begitu sampai, ia justru kembali bertemu kembali dengan Kai.


Kai menyadarinya tapi tidak berusaha untuk mendekat dan berbicara seperti sebelumnya. Membuatku berpikir, apakah aku sedang bermimpi? Di toserba tadi, apakah itu hanya lamunanku saja?


Aroma kwetiau goreng menggodaku untuk membelinya. Aneh, benar-benar aneh. Aku telah membeli banyak ramen, tapi justru berakhir dengan memakan kwetiau?


Kai yang tak kusangkah tidak akan mendekat justru duduk berhadapan denganku. Ia hanya duduk diam dengan susu coklat di tangannya dan fokus pada ponselnya.


Saat makananku datang. Aku pun menganggap, sedang berada di tempat makan dengan banyak orang-orang yang tidak kukenal.


“Iya?” Ken meneleponnya.


“Hmm, tidak.”


“Besok?”


“Oke,” Sky menutup teleponnya dan jemari tangannya mengirim pesan pada Ken.


Ia makan dengan lahap tanpa peduli dengan kehadiran Kai di hadapannya.


“Maaf…,” seorang laki-laki yang terlihat seusianya, tiba-tiba datang padanya.


“Iya?” ucapku.


“Bolehkan aku meminta nomermu?” pintanya.


Apa ini?


Masih ada yang seperti ini?


“Tidak, aku sudah punya pacar,” jawab Sky.


“Dia pacarmu?”


“Bukan.”


“Kenapa kau makan sendiri kalau kau punya pacar dan kalau dia bukan pacarmu, kenapa bersamamu?”


“Apa kau mengenalku?” jawab Sky lalu mengahabiskan sekaligus kwetiau yang masih menyisahkan tiga suap. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya, membayar makanannya, dan pergi.


Kai berjalan di dekatku tanpa berbicara. Sampai benar-benar sampai di depan apartemen.


Bahkan, mengikutiku sampai benar-benar di depan pintu masing-masing.


“Kau punya pacar?” tanyanya.


BRAK!


Sky menutup pintu.


Meletakkan kantung belanjanya begitu saja. Lalu membuat tubuhnya meluncur dan berbaring di atas ranjangnya. Mengangkat selimut sampai tak terlihat. Menutup kedua matanya, mencoba untuk terlelap.


...***...